
Tengah malam. Masih dirumah sakit.
Setelah tertangkap basah, oleh Tirta. Alan berpikir untuk pulang saja. Tapi, sebelum itu, ia harus melakukan sesuatu untuk wanitanya.
Yah, memesan makanan dan segelas kopi. Tidak hanya untuknya, melainkan dengan petugas lainnya yang sedang jaga.
Alan tidak langsung memberikan kepada mereka, melainkan menitipkannya pada salah satu perawat.
Pagi menjelang, seperti biasa. Alan mendapat shift pagi, selama seminggu. Ia sudah sarapan dan jas kebesarannya sudah rapi.
Sebelum berangkat, ia kembali mengirim pesan yang sama seperti kemarin.
Baiklah, hari ini sudah hari kedua, gumamnya sambil keluar apartemen.
"Kau sedang apa?" Tersentak dengan sosok yang berdiri didepan pintu. Sorot matanya tajam.
"Kenapa kau menelpon istriku?"
Oh, Tuhan! Ternyata, perkara telpon-telponan belum selesai. Ervan bahkan datang sepagi ini, hanya untuk menanyakan hal yang sama.
"Aku sudah bilang hanya konsultasi padanya. Apa istrimu tidak memberitahumu?" kesal Alan lama-lama. Sampai, segitunya si gunung es ini cemburu.
"Sudah. Tapi, aku masih penasaran kepadamu? Kenapa pada istriku? Kenapa bukan kepadaku?"
Jengah, Alan kembali masuk. Duduk disofa, dengan melambaikan tangan kepada Ervan. Ia harus menyelesaikannya hari ini, pikirnya.
"Dengarkan aku, otak koslet. Aku menyukai Zia dan Sarah adalah wanita yang bisa memahami sesama spesies mereka. Untuk itu, aku bertanya padanya, hal-hal yang disukai wanita. Kenapa aku tidak bertanya padamu? Karena aku sudah tahu jawabannya. Jangankan wanita lain, kesukaan istrimu saja kau tidak tahu. Puas!"
Kalimat panjang lebar, Alan uraikan dengan sangat jelas. Berharap, si gunung es ini mengerti dan segera pergi.
"Kau meledekku? Aku sangat tahu, semua yang disukai istriku."
Siapa yang tahan, jika dikatakan seperti itu. Meskipun, fakta, tapi siapa yang mau mengakui. Semua akan menjawab, mengetahui semua tentang istri mereka.
"Ya, ya, aku tahu, sekarang keluarlah!" usir Alan. Ia tidak ingin terlambat, hanya karena masalah sepele dan tidak jelas.
"Aku sangat mengetahui kesukaan istriku."
Sudah didorong keluar dari apartemen, Ervan masih mempertahankan argumennya.
"Aku tahu. Tolong, pergilah! Aku bisa terlambat."
Hari apa ini? Kenapa Alan merasa sangat sial? Si gunung salju, bukannya pulang justru mengiikutinya ke rumah sakit.
"Aku mau melihat wanita itu. Kamu pikir, aku tidak bisa, mempelajari spesies mereka. Aku juga bisa memberikanmu, konsultasi. Jadi, jangan pernah menelpon istriku lagi." Ervan menegaskan kalimat terakhirnya.
Yah, siapa juga yang akan menelpon istrimu lagi. Jika akhirnya, hanya membuatku dalam kesulitan, gumam Alan. Sebenarnya, ia ingin meneriakkan kalimat itu, tapi ia sedang malas berdebat.
Lebih-lebih pikirannya, sudah melangkah jauh. Zia yang tertarik pada sahabatnya. Meski Ervan sudah menikah dan mengetahui sifat si gunung es ini. Tapi, perasaan khawatir tetap menggelitik hatinya.
__ADS_1
Tiba diparkiran, ternyata Tirta sudah ada disana lebih dulu. Alan sudah turun, membiarkan Ervan berjalan lebih dulu. Mereka sedang didepan publik, jadi ia harus tahu dimana posisinya.
"Kenapa kalian harus berada disini?" bisik Alan kepada Tirta, yang melangkah bersamanya mengikuti Ervan.
"Dia tidak puas dengan jawaban Sarah. Jadi, ia ingin membuktikannya sendiri."
Cih. Memang, dia mau membuktikan apa? Sepertinya, julukan Ervan bertambah menjadi si kepala es batu.
"Dia shift pagi, kan?"
"Hmm." Singkat Alan menjawab.
Ketiganya berpisah, dokter Alan menuju IGD, sementara Ervan dan Tirta, menuju ruangan direktur.
Direktur rumah sakit, menyambut keduanya. Bingung, tentu saja. Untuk apa, si pemilik gedung datang sepagi ini, apalagi tanpa pemberitahuan.
"Selamat pagi, Tuan. Maaf, saya tidak mengetahui kedatangan Anda."
Mengangguk sekilas, Ervan sudah duduk disofa. Sebenarnya, ia juga bingung mau melakukan apa, disini. Karena kecemburuan yang tidak berdasar, ia bertindak diluar kewarasannya.
Sementara, direktur rumah sakit, juga lebih bingung. Karena, mau membicarakan apa. Semua baik-baik saja, pikirnya.
"Ada yang, Anda perlukan, Tuan?"
"Beritahu, dokter Zia. Untuk, menemuiku."
"Baik,, Tuan."
Ervan keluar, setelah berbasa basi. Membuat janji untuk malam ini.
"Bagaimana hebat, kan?"
Ervan minta dipuji, seolah telah melakukan hal besar.
"Iya, hebat," puji Tirta, yang tidak ingin berdebat.
"Baguslah. Sekarang, buat reservasi untuk sebentar malam."
Dirumah skit, Alan sudah bekerja seperti biasa. Melakukan pemeriksaan, pada pasien sebelum masuk diruang perawatan.
Seperti biasa, pagi ini, ia mulai merubah sikapnya. Ia lebih banyak diam dan fokus pada dokumen diatas meja. Biasanya, jika senggang, ia akan terus merayu dan menggombali, perawat dan rekannya.
"Kamu tidak ingin menceritakan mimpimu?" Rekannya menghampiri, dengan duduk dihadapannya.
"Mimpi, apa?" Alan masih menunduk membaca dokumen.
"Alan, apa kau sakit? Kau berubah sangat drastis. Kau membuat kami kesepian, jika kau hanya diam."
Alan mendongak, menatap rekannya. Pandangannya bergeser, pada para perawat yang seolah menunggunya untuk menjawab. Diamnya, Alan seperti membuat mereka menjadi bosan. Apalagi, jika pasien mulai sepi.
__ADS_1
"Aku ingin berubah."
"Kenapa?" Mereka semua tersentak dan bertanya bersamaan.
"Ada seseorang yang tidak menyukai sikapku!"
"Siapa?" tanya mereka lagi, yang dilanda rasa penasaran.
"Seseorang."
"Iya, siapa? Apa dia tidak tahu, kalau kamu hanya bercanda? Lagi pula, sikapmu sudah diketahui semua orang. Kenapa dia mempermasalahkannya?" Suara rekan Alan meninggi. Seseorang, yang dimaksud Alan membuatnya emosi. Jika seseorang itu, berada didepannya. Ia ingin berteriak didepan wajahnya.
"Sudahlah, jangan mengangguku."
"Tunggu! Apa itu seorang wanita?" tebak rekannya.
"Hmm." jawab Alan singkat.
"Hahahaha, kau jatuh cinta?" Rekan Alan, terpingkal dengan hebohnya. "Katakan, siapa? Biar aku membantumu, menjelaskan padanya."
"Tidak perlu. Pergi sana! Kau mengangguku!"
"Aku tidak akan pergi. Cepat katakan!"
"Kau mau tahu?"
"Iya, sangat."
"Hah!" Alan menarik napas panjang, seolah begitu berat mengatakannya. "Baiklah, ini rahasia." Alan berbisik ditelinga rekannya.
"APA???" teriak Rekan Alan dengan menggelegar. Bahkan, semua sorot mata, tertuju pada mereka berdua.
"Kau kenapa, berteriak?" Alan memukul kepala rekannya.
"Kau serius?" Bukannya menjawab, rekannya kembali bertanya. Bahkan, mimik wajahnya tergambar jelas. Jika ia, masih tidak percaya, Alan menyukai wanita seperti itu.
"Dengar, ini rahasia mengerti. Jika kau membukanya, aku akan membiusmu dan membedah mulutmu."
"Oke, oke. Aman!"
Rekannya menarik jari-jarinya, dibibir. Isyarat, dia akan tutup mulut.
Drama membuka rahasia, sudah selesai. Mereka kembali bekerja seperti biasa. Alan mengambil ponselnya disaku, mengirim pesan yang tidak pernah ia lupakan, setiap menitnya.
Kamu sudah selesai? Apa operasinya lancar? Istirahatlah! Aku meletakkan jus buah dimejamu.
Alan menatap lama ponselnya. Berharap, sebuah balasan, yang nyatanya tak kunjung ada. Padahal, pesannya sudah terbaca.
"Tidak, apa. Aku belum menyerah. Kakak ipar, bilang sebulan. Aku akan mencobanya sebulan dan melihat hasilnya seperti apa."
__ADS_1
Memasukkan kembali ponselnya dan kembali bekerja. Urusan cinta bisa belakangan, tapi nyawa pasien diatas segalanya.