
Ibu dan ayah Clarissa baru saja tiba di rumah. Wajah ibu masih kesal, bahkan sepanjang jalan tadi, hanya terdengar ocehan dan makian untuk Sandra. Belum juga reda amarahnya, putrinya sudah menyambut dengan rentetan pertanyaan.
"Ma, bagaimana? Kak Ervan mau tanggung jawabkan? Kapan kami menikah?"
"Diam!" Ibu melotot, saking kesalnya dengan Clarissa. Gara-gara putrinya, ia harus bermain cakar-cakaran dengan Sandra.
"Ma, wajah Mama kenapa? Apa yang terjadi?"
"Ini semua gara-gara kamu. Pokoknya, Mama tidak mau kamu menikah dengan Ervan. Mama tidak mau punya besan seperti ibunya."
"Apa?" Menoleh pada ayahnya. "Papa, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku tidak boleh menikah dengannya? Lalu, bagaimana nasibku?"
"Dengar, Mama. Kamu tidak boleh menikah dengannya. Mama akan menuntut dan membuat mereka semua dalam penjara."
"Mama! Kenapa mama seperti itu? Bagaimana denganku? Bagaimana jika aku hamil? Aku mau kak Ervan menikahiku!"
Plak.
"Hamil? Seharusnya, kamu memikirkan itu dari awal. Mama akan menjodohkanmu, masih banyak pria diluar sana yang akan menerimamu."
"Tapi, Ma, ...."
"Cukup! Mama tidak mau dengar lagi."
Ibu Clarissa pergi, masih dengan kesalnya. Sementara, Clarissa jatuh terduduk diatas lantai. Sia-sia semua usaha yang dilakukannya. Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa malah jadi seperti ini?
"Risa, dengarkan papa. Kamu sebaiknya ke kamar, biar mama dan papa mengurusnya."
"Tapi, Pa. Bagaimana bisa papa membiarkan keluarga Ervan tidak bertanggung jawab? Dia menodaiku."
"Papa tahu. Papa akan kembali bertemu dengan mereka. Papa akan meminta Ervan bertanggung jawab, bagaimana pun caranya. Dia harus menerimamu meski ia sudah menikah."
"Terima kasih, Pa."
Senyum Clarissa kembali mengembang.
Pertengkaran kembali terjadi di kamar ayah dan ibu. Dua orang yang berbeda pendapat, saling melempar argumen. Ibu marah-marah, sementara ayah masih bersikap tenang.
"Papa, sudah gila! Mau ditaruh dimana muka mama, jika anak kita jadi istri kedua. Dia akan dicap jadi pelakor, mengganggu rumah tangga orang lain. Papa mau, mama cepat mati, karena mendengarkan omongan orang."
"Ma, apa sih! Kenapa bicara seperti itu? Ervan harus tanggung jawab. Dia sudah menyentuh putri kita."
__ADS_1
"Dia masih bisa tanggung jawab dengan masuk penjara."
"Lalu, bagaimana jika putri kita hamil Ma? Apa Mama nggak mikir?"
"Dia cukup menikah dengan orang lain. Pokoknya, mama hanya ingin mereka semua masuk penjara."
Ayah menarik napas, sang istri sangat keras kepala. Pertengkaran dengan Sandra hari ini, membuat ibu Clarissa ogah memiliki hubungan dengan mereka.
"Mama, tenang dulu. Coba pikirkan! Jika kita melapor pada polisi, yang ada nama keluarga kita ikut tercoreng. Semua orang akan tahu, apa yang menimpa Clarissa. Mama pikir, masih ada pria yang mau menerimanya. Sekalipun, teman-teman mama dan papa, tidak akan ada yang menginginkan putra mereka memungut sampah bekas."
Mama membisu, entah dia sedang memikirkan ucapan suaminya atau mencari kalimat untuk membantah.
"Lalu, mama harus bagaimana, Pa?" Mama tidak mau mereka menikah. Ervan itu sudah punya istri dan mama tidak mau punya besan seperti Sandra. Yang ada nanti, Clarissa habis digebukkin di rumah itu. Dua perempuan sialan itu, pasti menggunduli putriku!"
Lagi-lagi, ayah menarik napas. Ia juga menjadi bingung dengan masalah putri mereka. Tidak ada solusi yang tepat, untuk menyelesaikannya. Semua perkataan, istrinya ada benarnya juga. Putrinya yang malang, serumah dengan istri pertama dan mertua yang tidak menyukainya.
"Nanti, papa akan menemui Izzam di perusahaannya. Mama, tenangkan Clarissa."
"Baiklah, tapi ingat, Pa. Tidak ada pernikahan, titik."
Ayah Clarissa, akhirnya keluar kamar. Ia harus kembali ke perusahaan.
***
Tak jauh berbeda, dengan yang terjadi di rumah Clarissa. Tapi, pertengkaran yang terjadi melibatkan dua pasangan keluarga yang bernaung dalam rumah yang sama. Tapi, tiga pihak berpendapat yang sama dan menyalahkan pihak satunya, sebagai pelaku dan tersangka.
"Katakan, apa kamu menyentuhnya?"
"Papa, harus berapa kali aku menjawab. Ervan sama sekali tidak menyentuhnya."
"Jangan bohong. Kamu pikir, Mama buta. Orang tua Clarissa membawa bukti video."
"Mama, sumpah. Ervan hanya melakukan itu tidak lebih."
Plak.
"Hanya itu? Kamu bilang. Siapa yang akan percaya? Kamu pikir dengan sumpah, semua orang akan percaya. Hah!"
"Ervan, pokoknya Papa tidak mau tahu. Jika kamu masih tidak mengaku, maka buktikan! Kami butuh bukti."
Diserang dari segala arah, Ervan hanya pasrah membiarkan dua orang tuanya, terus menghujami dengan pertanyaan dan tuduhan.
__ADS_1
"Oke, tunggu sebentar lagi. Ervan sudah mencari bukti."
Setelah cukup tenang. Sandra mendekati menantunya.
"Sarah, kamu jangan khawatir. Apapun, yang terjadi kamu tetap menantu mama. Jika Ervan bersalah, Mama akan menendangnya keluar dari rumah."
"Apa? Mama, aku putramu."
"Diam! Jangan berdrama, keluar sana cari bukti. Jangan pulang, kalau belum mendapatkannya."
Ervan menganga, dalam sekejap ia sudah dibuang karena kehadiran istrinya disana. Sang ibu lebih mencintai menantunya dari pada anaknya sendiri.
"Papa harus ke perusahaan." Izzam menatap tajam putranya. "Kamu tidak perlu kembali ke sana. Cari bukti untuk menyelesaikan semua. Jangan datang ke perusahaan, jika kamu belum mendapatkan apa-apa."
Ancaman yang sama, keluar dari mulut papa. Ada apa ini? kenapa mereka berdua sangat kompak memojokkan ku? Jika tidak pulang dan kembali ke perusahaan. Aku harus kemana?
Papa sudah pergi, sementara Mama dan Sarah, juga meninggalkan Ervan. Keduanya, menuju kamar tempat si kecil berada.
"Sarah." Mama menggenggam erat tangan menantunya. "Maafkan, Mama karena sudah menampar dan mengusirmu. Maaf, karena mama tidak percaya padamu."
"Sudahlah, Ma. Sarah juga minta maaf. Sarah ingin hubungan keluarga kita kembali seperti dulu lagi."
Keduanya berpelukkan, saling menangkan hati dan pikiran. Setelah, pertengkaran terjadi, kini ada maaf-maafan.
Berbeda dengan pria yang duduk seorang diri di ruang keluarga. Setelah disudutkan dan disalahkan, ia ditinggalkan begitu saja. Ancaman dua orang tuanya, membuatnya gusar. Apalagi, Tirta belum memberi kabar apa-apa. Mau tidak mau, ia harus keluar dari rumah mencari bukti yang diinginkan orang tuanya. Jika harus menunggu Tirta, ia bisa kena semprot sang mama, karena ia hanya duduk menunggu.
"Bagaimana?"
"Aku sudah mendapatkannya, tapi itu belum cukup kuat. Aku masih harus mencari pria botak itu."
"Katakan, kau ada dimana? Aku akan kesana membantumu. Tanganku gatal ingin memukul orang."
"Cih! Kau hanya ingin datang, memukul orang baru pergi. Lalu, aku yang harus repot menyelesaikannya."
"Sudah, katakan saja! Kenapa kau sangat berisik seperti ibuku."
"Baiklah, datanglah. Di restoran xx, aku sedang mengintai sekarang."
"Kau seorang diri?"
"Datang saja, kenapa terus menerus bertanya? Kau menghabiskan pulsa dan waktuku."
__ADS_1
Sambungan terputus, Ervan menyambar kunci mobil, lalu berlari keluar rumah.