CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 9 Hanya kontrak


__ADS_3

"Bukankah, Bapak harus memberitahu saya alasan, agar saya dapat mempertimbangkan keinginan Bapak untuk menikahi saya?"


"Kamu tidak perlu, mempertimbangkannya. Saya hanya ingin mendengar kamu mengatakan 'Iya'."


"Bapak memaksa saya?" Sarah meninggikan suaranya.


"Iya, karena kita menikah hanya kontrak, bukan sungguhan seperti dalam pikirankamu."


Sarah membelalak.


"Hanya kontrak? Jadi, memang Bapak tidak memiliki perasaan kepada saya?"


Ervan terkekeh mendengarnya, cinta? Sejak kapan, cinta menjadi tolak ukurnya dalam melamar wanita ini? Jika ia memiliki sedikit saja perasaan, tentu dia tidak akan mencampakkan gadis itu begitu saja. Sampai saat ini, ia belum menemukan seorang gadis yang pantas untuk mendapatkan cintanya.


“Tentu saja, saya tidak memilki perasaan itu. Saya mengajakmu menikah hanya untuk sebuah bisnis yang akan menguntungkan kita berdua.”


“Bisnis? Maksud Bapak apa?”


“Aku menginginkanmu menjadi istriku, karena wajah anakmu yang mirip denganku. Kita hanya akan menikah secara kontrak, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan. Sebagai gantinya, bersikaplah sebagai kekasih yang aku campakkan untuk meyakinkan kedua orang tuaku.”


Sarah tersenyum getir, ia terlalu berprasangka baik pada pria dihadapannya. Pikirannya sudah membumbung jauh ke atas awan, kembali terhempas dengan keras diatas tanah. Ia berpikir waktu dua tahun dapat mengubah seseorang, ternyata tidak, Ia tidak berubah, ia masih sama seperti dulu, selalu lari dari tanggung jawab. Sarah menatap Ervan, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.


Kali ini, kau yang akan berlutut kepadaku


Sarah bangkit dari posisi duduknya, mendorong tiang infus, lalu perlahan naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya. Ia membelakangi Ervan, memilih putranya yang sedang tertidur pulas.


“Kamu kenapa? Kamu menolak?” tanya Ervan yang masih duduk di sofa memperhatikan Sarah berjalan meninggalkannya tanpa ada jawaban.


“Maaf, Pak. Kepala saya agak pusing, jadi mau berbaring sebentar. Mengenai tawaran bapak, saya akan memikirkannya.”


“Baiklah, saya akan kembali besok.”


Ervan pergi meninggalkan ruangan, tanpa mendapatkan jawaban yang diinginkannya, ia harus menunggu sampai matahari terbit esok hari. Sedangkan, Sarah  tentu saja sengaja mengulur waktu lebih lama, membuat Ervan memohon pertolongannya. Setelah lari dari tanggung jawab dan membuat hidupnya menderita, ia datang mengajaknya menikah begitu saja, tanpa ada permintaan maaf. Jangan mimpi, Sarah terus berdengus kesal dalam hati.


Ervan berjalan bersama Tirta, menemui Alan yang sedang bertugas di UGD. Dari kejauhan, Alan tampak santai, tidak pasien saat ini, ia hanya sibuk menggombali para asistennya.


“Ikut, aku.”


Ervan menarik tangan Alan, tanpa menunggu persetujuan pemiliknya. Langkah Alan terseret mengikuti langkah kaki Ervan yang membawanya entah ke mana.


“Ada apa? Kenapa kalian berdua selalu menggangguku?” protes Alan.


“Dia menolakku.”


“Siapa yang menolakmu? Wanita itu? Wanita itu menolakmu? Hahaha....”


PLAK


Pukulan keras mendarat di lengannya. Alan mengusap lengannya yang terasa berdenyut, menatap Tirta yang menertawakannya dan memeloti Ervan yang selalu saja memukul tubuhnya.

__ADS_1


“Kenapa kau selalu memukulku? Kau seperti ayahku tapi kau lebih kejam. Ayahku hanya memukulku setahun sekali. Tapi, kau, kau melakukannya setiap hari, bahkan 3x sehari.”


“Alan, diamlah.” Tirta menunjuk wajah Ervan dengan sorot matanya, saat ini pria dingin itu tidak ingin bermain-main.


‘Ehm’ Alan kembali dalam mode serius memperbaiki intonasi suaranya. Lalu, kembali melanjutkan pembicaraan mereka.


“Memangnya apa yang kamu katakan padanya? Kamu tidak langsung mengajaknya menikahkan, Ervan?”


“Aku langsung mengatakan akan menikah dengannya dan secara kontrak.”


“Shit, pantas saja dia menolak. Kamu pikir kamu sedang mengajaknya berbelanja, ini menikah Ervan. Apa pelajaran kemarin tidak masuk dalam kepalamu? Bagaimana dengan rumus yang aku ajarkan padamu?”


“Itu terlalu bertele-tele bagiku dan aku tidak mau membuang waktu.”


“Ya, sudah terserah kamu saja. Jangan lagi datang menggangguku, aku lebih baik mengajar seekor burung untuk berbicara daripada mengajarimu.”


Alan pergi begitu saja dengan kesal, waktu dan tenaganya terbuang sia-sia. Dia sudah memberikan nasehat kepada Ervan, tapi si kepala batu karang itu tidak pernah mendengarkannya. Melakukan dengan caranya sendiri, setelah gagal ia datang meminta bantuan.


Keesokan harinya....


Tirta menjemput Ervan di kediamannya,pagi ini ia akan menagih jawaban Sarah padanya. Selama perjalanan, terdengar Ervan yang bergumam menyusun kalimat yang akan disampaikannya. Berlatih berkali-sambil dengan gerakan tangannya yang mengiringi setiap kalimatnya. Sampai di RS pun, Ervan masih terus bergumam. Entah kalimat apa yang disusunnya sampai begitu panjangnya.


Tok...Tok...Tok...


Sebelum melangkah masuk, Tirta menahan lengan Ervan, mengingatkannya tentang ajaran Alan kepadanya.


“Selamat, siang Pak,” sapa Sarah yang tengah menggendong putranya.


“Papapapa,” celoteh Ersan yang menatap ayahnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


“Iya, sayang. Ini Papa.”


Ervan langsung saja menjawab, sambil mencuri pandang untuk melihat reaksi wanita yang berdiri didepannya. Tapi, sayangnya wanita itu ternyata sedang memainkan ponselnya.


Sial, mau mempermainkanku rupanya?


Mata Ervan berkilat-kilat, mengeluarkan api kemarahan, Rahangnya mengeras, tatapannya terkunci pada seorang cleaning servis berani yang mempermainkannya. Jika bukan desakan orang tuanya, ia sama sekali tidak sudi mengajaknya menikah apalagi mengurus anaknya yang bukan darah dagingnya. Wanita itu, hanya beruntung karena putranya memiliki paras persis dengannya. Ervan mengepalkan tangannya sembari berjalan lalu berhenti tepat dihadapan Tamara.


“Kau sedang apa?” Dengan intonasi rendah, menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya.


“Oh, maaf Pak. Saya Cuma membalas pesan ibu Wina, karena sudah tiga hari saya membolos kerja. Apa Bapak sudah lelah, biarkan saya mengambil Ersan.”


“Ersan? Namanya Ersan?” tanya Ervan yang ternyata baru mengetahui nama anak wanita itu, padahal keduanya sudah bersama selama tiga hari.


“Iya, namanya Ersan Anugrah.”


Cih, bahkan namanya mirip denganku.


Ervan mengabaikan Sarah ia memberikan Ersan kepada pengasuhnya, lalu menyuruh mereka meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


“Kita perlu bicara?”


“Bicara apa, Pak?” Berpura-pura bodoh adalah senjata paling ampuh, pikir Sarah


“Jangan bertele-tele dan membuang waktuku. Sekarang, apa jawabanmu?”


“Maaf, Pak. Saya belum membuat keputusan, beri saya waktu seminggu lagi.”


“Seminggu? Kau sedang bermain tarik ulur denganku?”


Ervan menarik tangan Sarah dengan kasar, menghempaskannya keatas sofa, tanpa memperdulikan jarum infus yang masih menancap di urat nadi wanita itu. Meraih dagu Sarah, mencengkam dan menatapnya tajam.


“Dengar, aku tidak suka bermain-bermain kucing-kucingan. Kau wanita yang beruntung mendapat tawaran menikah dariku dan kau seharusnya berterima kasih. Aku tidak mau menunggu sedetik saja, sekarang apa jawabanmu?”


Sarah hanya terkesiap mendapat perlakuan kasar, air matanya menetes dari pelupuk mata tanpa disadarinya, rasa perih dari jarum infus yang menancap terabaikan olehnya. Jadi, inilah kamu yang sebenarnya, memaksakan kehendak dan berlaku kasar jika tidak sesuai keinginanmu. Batin Tamara terus berteriak menelan kekecewaan.


“Maaf, saya tidak bisa menerimanya.”


“Beri aku alasan!” Ervan masih belum melepaskan cengkamannya dan tidak mempedulikan air mata yang mengalir di pipi wanita itu.


“Saya tidak ingin menipu keluarga, Bapak.” Sarah menjawab sembari menghapus air matanya.


Ervan melepaskan cengkamannya, duduk disamping Sarah dan kembali menatapnya tajam, meski kedua manik wanita itu menolak bersitatap dengannya.


“Hanya satu tahun, setelah itu kita bercerai. Aku akan menanggung seluruh biaya hidupmu dan setelah kita berpisah, saya akan memberikan kompensasi untuk biaya sekolah anakmu. Masalah orang tuaku saya akan yang menyelesaikannya, kamu cukup melakukan peranmu. Apa itu cukup?”


Satu tahun? Jangan mimpi!


“Bagaimana jika orang tua Bapak, melakukan tes DNA? Saya tidak mau masuk penjara, Pak.”


“Saya sudah bilang, saya yang akan mengurusnya. Kamu meragukanku?”


Ervan menjawab dengan tegas, menutupi kegelisahan hatinya karena pikirannya belum sampai ke tahap itu. Orang tuanya mungkin akan memenjarakan Sarah, karena penipuan meski ia sendiri yang memaksa wanita ini.


“Tapi, bagaimana jika Bapak gagal meyakinkan mereka atau bagaimana jika Bapak sedang ke luar kota?” cecar Sarah yang tidak akan membuat semuanya terasa mudah untuk Ervan.


“Saya harus menjawab berapa kali? Kamu cukup fokus pada peranmu saja, saya akan menjamin, apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi.”


Sial, Kenapa pikiran wanita ini berkeliaran sampai ke arah sana? Bahkan, aku belum memikirkannya.


“Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak bisa menerima tawaran, Bapak. Saya orang kecil, tidak punya siapa-siapa, saya hanya mempunyai anak. Jika saya masuk penjara, bagaimana dengannya?” lirih Sarah yang membuat pernyataanya semakin menyedihkan.


Ervan terdiam, meraih botol minuman di atas meja, meneguknya dengan cepat, membasahi kerongkongannya yang mengering. Ia kembali meletakkannya, sambil memperhatikan Sarah yang menunduk.


“Saya berjanji, itu tidak akan terjadi. Kita akan membuat perjanjian yang akan menjadi bukti kalau saya yang memaksamu. Bagaimana?”


Sarah terus menunduk tidak menjawab. Pikirannya terus berkelana mencari kalimat balasan, untuk menolak. Ia tidak ingin secepat itu menerima tawaran Ervan, pria itu harus memohon kepadanya dengan berlutut.


“Baiklah, saya akan memberi kamu waktu sehari lagi. Jadi, pikirkan baik-baik.”

__ADS_1


Ervan akhirnya menyerah, berjalan meninggalkan wanita itu yang terus menggantungnya. Kini, ia harus kembali menunggu jawaban yang diinginkannya.


__ADS_2