
“Pak, wanita itu pergi. Kami sudah mencarinya di kontrakkan, tapi ia sudah pergi siang tadi. Kami masih mencari jejaknya.”
“Baik, kalian harus menemukannya,” jawab Tirta.
“Baik, Pak.”
Sambungan pun terputus, Tirta dan Alan menatap Ervan yang sudah sangat frustasi. Pria itu, mengacak rambutnya, sambil merutuki diri yang salah mengambil tindakan. Ia menghela napas dengan kasar, lalu melempar gelas ke atas lantai.
“Sial,” teriak Ervan dengan wajah yang memerah.
Tirta dan Alan, hanya terdiam tidak berani berkomentar. Keduanya, menatap Ervan yang bangkit meninggalkan mereka menuju kamar tidur, sampai disana terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras.
“Dia benar-benar akan merusak semua pintu rumahku,” tukas Tirta.
“Aku harus pulang,” ucap Alan yang perlahan bangkit dari duduknya.
“Kamu mau meninggalkanku sendiri bersamanya? Apa kamu tidak lihat, dia sangat menakutkan?” resah Tirta karena suasana rumahnya begitu mencekam.
“Lalu, kamu mau mengajakku mati bersama? Tidak aku tidak mau, sebaiknya aku segera pergi.”
Alan berjalan dengan bersusah payah, sebab Tirta yang menarik tangannya seperti merengek kepada ibunya yang akan pergi meninggalkannya. Baru beberapa langkah, pintu kamar terbuka, keduanya membeku, melihat sosok menakutkan menatap tajam didepan pintu kamar.
“Alan, Tirta, temani aku tidur,” perintahnya, lalu kembali masuk kamar.
Alan dan Tirta saling menatap, mengakhiri drama mereka, berjalan dengan gontai menyusul masuk dalam kamar, seperti sudah memasrahkan hidup.
Masih di aparteman Tirta,
Tirta dan Ervan menikmati sarapan dalam keheningan, sedangkan Alan sudah lebih dulu pergi ke rumah sakit. Sampai, saat ini belum juga ada kabar tentang Sarah, membuat Ervan semakin uring-uringan. Dering telepon, menghentikkan kegiatan mereka, secepat kilat Ervan menggeser tombol hijau.
“Pak, kami sudah menemukannya.”
“Kirimkan alamatnya, sekarang.”
“Baik, Pak.”
Ervan menyudahi sarapannya, menyambar jaketnya, lalu berjalan meninggalkan Tirta yang masih menikmati sarapan.
“Cepatlah,” teriaknya saat berada diambang pintu.
Secepat kilat, Tirta melahap sarapannya, ia tersedak karena tidak mengunyahnya dengan baik. Ia meneguk air putih, mendorong makanannya agar cepat sampai ditujuan. Ia pun langsung berlari menyusul pria yang membuat hidupnya seperti di neraka.
Di parkiran, Tirta mendengar suara klakson yang terus berbunyi, memerintah agar ia berlari dengan cepat. Tak jauh, sosok Ervan menatap tajam, seperti memarahinya. Tirta kembali berlari dengan mendengus kesal dan memaki dalam hati. Pria tidak berperasaan itu, telah membuatnya berolahraga saat makanannya masih dalam perjalanan.
__ADS_1
“Aku rasa seperti mau muntah,” ucap Tirta saat duduk dikursi kemudi dan memasang sabuk pengaman.
Ervan tidak merespon, ia sibuk menatap ponsel, mengerakkan bibirnya lalu meletakkan ponsel begitu saja.
“Jalan,” perintahnya dengan dingin.
Sepanjang perjalanan, pendengaran Tirta di penuhi dengan kata-kata umpatan, keluhan dan teriakan yang berasal dari kursi penumpang. Pria dibelakangnya, terus mengoceh tanpa alasan yang jelas. Saat keduanya tiba di alamat yang dituju, kata-kata Ervan semakin pedas, apalagi saat mereka harus berhenti didepan gang sempit.
“Kenapa wanita itu harus tinggal disini? Begitu banyak perumahan bagus, kenapa dia memilih tinggal di tempat seperti ini?” keluhnya sambil membanting pintu mobil.
“Apa kau tidak bisa diam? Kenapa kau terus mempermasalahkan hal yang bukan urusanmu?” ujar Tirta yang mulai diliputi kemarahan sejak pagi hari.
“Kau sedang memarahiku, TIRTA?” ucap Ervan dengan menekan kata terakhirnya.
“Maaf, sepertinya roh halus di tempat ini merasukiku. Sebaiknya, kita cepat pergi,” ujar Tirta melangkah secepat mungkin masuk dalam gang.
Ervan memperhatikan keadaan sekitar, rumah yang berhimpitan, dengan parit yang dipenuhi genangan air. Ervan menutup hidungnya saat melewati bak sampah yang berserakan dan dihinggapi lalat yang berterbangan. Tak lama, langkah kaki mereka berhenti disebuah rumah petak yang ukurannya sangat kecil. Tirta mengetuk pintu yang terbuat dari papan tripleks, sambil memberi salam.
“Ya, tunggu sebentar.”
Derit pintu terdengar, saat sosok wanita menggendong putranya membuka pintu. Ia membulatkan mata, melihat salah satu pria yang tidak ingin dilihatnya, berdiri dihadapannya. Dengan refleks, ia kembali menutup pintu rumah, tapi sebuah tangan kekar menahannya.
“Biarkan aku masuk,” paksa Ervan, sambil mendorong pintu rumah.
Sarah yang tidak mampu menandingi kekuatan pria itu, akhirnya membiarkannya masuk dengan terpaksa.
Sarah membisu.
“Aku minta maaf, atas kejadian waktu itu. Aku terlalu emosi dan tidak dapat mengendalikan diriku. Tolong, maafkan aku.”
Sarah masih tetap membisu, menatap tanpa ekspresi di wajahnya. Ucapan pria dihadapannya seperti tidak terdengar olehnya, ia hanya terus menatap.
“Apa kamu memaafkanku?” tanya Ervan dengan nada lembut.
“Apa Anda tahu, permintaan maaf tidak akan mengobati sebuah luka dan tidak akan mengubah apapun. Sebuah kata yang terlontar, tidak bisa ditarik kembali, meskipun kita memohon maaf,” ucap Sarah sarkastis
“Jadi, maksudmu, kamu tidak memaafkanku?”
“Saya sudah memaafkan Anda. Jadi, silahkan pergi, saya butuh ketenangan.”
“Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku,” tekad Ervan.
"Untuk apa, Anda membutuhkan kata maaf dari saya? Bukankah terakhir kali, Anda mengatakan kalau sudah berubah pikiran?"
__ADS_1
"Dengarkan aku. Aku benar-benar menyesal, tolong beri aku kesempatan. Tolong, maafkan aku."
Sarah tidak menjawab, ia berjalan masuk kamar, membaringkan putranya, yang sudah tertidur.
Di ruang tengah, dua orang pria duduk dengan alas seadanya. Tidak ada kursi maupun meja di ruangan itu, hanya terlihat dapur beserta pernak-perniknya dan kamar mandi yang bersatu menjadi satu ruangan tempat mereka duduk.
Ada rasa tidak nyaman, saat Ervan memperhatikan seluruh ruangan, bahkan saat menengadahkan kepalanya, satu bola lampu menggantung diatas, yang cahayanya mungkin tidak menerangi seluruh bagian rumah. Disisi lainnya, terlihat atap yang sudah bocor ditandai dengan masuknya sinar matahari di beberapa titik. Rumah ini benar-benar tidak layak huni, pikirnya, lalu melirik Tirta yang ternyata juga melakukan yang sama dengannya.
Pukul 12 siang, matahari sudah berada dipuncak teriknya. Ervan dan Tirta mulai gerah kepanasan, apalagi di rumah itu sama sekali tidak memiliki penyejuk ruangan maupun kipas angin. Ervan mengibasi tangannya, meski gerakannya sama sekali tidak menghilangkan rasa gerah yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Dari dalam kamar, terdengar jerit tangis seorang anak yang memenuhi rumah, suara sang ibu yang menenangkannya sama sekali tidak menghentikkan tangisnya.
“Dia kenapa?” tanya Ervan yang menerobos masuk tanpa permisi.
“Entahlah, aku juga tidak tahu,” jawab Sarah yang masih menggendong putranya sambil mengusap rambut putranya..
“Mungkin dia kepanasan.” Ervan menyambar sebuah buku dan mengipasi Ersan.
Tapi sayang usahanya, tidak membuahkan hasil. Anak itu masih terus menangis, sampai akhirnya ia memuntahkan susu yang baru saja diminumnya.
“Oh, Tuhan. Kamu kenapa, Nak?” panik Sarah begitu juga Ervan.
“Berikan dia padaku, kamu kemasi barang, ikut aku ke rumah sakit.”
Sarah langsung mengikuti arahan Ervan tanpa membantah, apalagi putranya kembali muntah untuk kedua kalinya, dengan isak tangisnya yang belum juga reda. Setelah berkemas, ketiganya keluar menyusuri gang, Ervan memeluk erat putranya, membenamkan kepalanya di bahu. Entah, mengapa ia merasa sangat cemas, ia berulang kali mengelus punggung putranya yang masih menangis.
“Sabar, sayang. Papa antar kamu ke rumah sakit,” ucapnya tanpa sadar.
Saat mobil mereka terlihat di ujung gang, Tirta segera berlari mendahului mereka, membuka pintu mobil. Lalu, mengendarai dengan kecepatan tinggi, karena sepertinya anak itu semakin kesakitan didengar dari jerit tangisnya. Ditambah, sepanjang perjalanan ia kembali muntah, membuat Ervan merelakan jaketnya.
“Tirta, cepat!” perintah Ervan yang semakin panik dan cemas.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Ervan langsung turun, berlari masuk dalam ruang UGD. Para dokter langsung menyambutnya, melakukan penanganan dengan sigap. Ervan seketika panik, saat jarum infus masuk dalam urat nadi anaknya yang begitu kecil. Tanpa sadar air matanya jatuh, saat anak itu merintih lalu memanggilnya Papa.
“Papapapa,” celotehnya disela-sela tangisnya.
“Iya sayang, ini Papa,” jawabnya lalu mendaratkan kecupan. Tanpa sadar, tindakannya ini sudah membuat para dokter saling menatap satu sama lain.
“Ehm,” Tirta berdehem, membuat para dokter kembali fokus.
Setelah diberi obat, Ersan mulai tertidur, ia kelelahan karena menangis dan menahan rasa sakit yang melilit entah dimana.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ervan kepada salah satu dokter Anak.
__ADS_1
“Dia mengalami gangguan pencernaan, biasanya ini terjadi jika ia memakan sesuatu yang tidak bersih. Anak diusia seperti ini sering memasukkan benda apa saja dalam mulutnya, apalagi ketika ia merangkak.,” terang dokter.
Ervan langsung saja menatap tajam Sarah menyalahkan dengan sorot matanya. Ia kembali berpaling ke arah dokter, meminta membawa putranya diruang perawatan VVIP.