
Tiga hari sudah terlewati. Hari ini, hari yang lumayan sibuk untuk semua orang. Untung saja, cuaca sangat cerah, seolah mendukung segala aktivitas.
Sejak hari itu, hubungan Zia dan Alan semakin membaik. Sering bertukar kabar dan mengobrol di rumah sakit. Bahkan, kemarin keduaya menikmati makan malam disebuah restoran.
Pagi ini, terlihat beberapa orang sedang mengeluarkan barang dari apartemen Alan. Pria itu, mengawasinya secara langsung. Ditangannya, memegang sebuah ponsel. Setiap berdering, ia akan membaca pesan masuk dengan senang hati.
Ah, seminggu, ia pergi untuk menenangkan hati dan berusaha ikhlas. Kini ia dapat menikmati buah keihlkasannya. Tapi, sepertinya, ia harus berterima kasih ada orang yang sudah seenaknya, menerobos apartemennya. Si gunung es, yang seolah sudah membuat satu kebaikan untuknya.
"Bulan madu, sih bulan madu. Apa harus mematikan ponselnya?"
Alan berdecak kesal. Sudah tiga hari, Ervan tidak bisa dihubungi. Sekali pun sambungan telepon, pria itu tidak mau mengangkatnya. Ia hanya mengirim pesan singkat, tidak ingin diganggu.
Apartemen Alan, sudah terlihat kembali seperti semula. Orang-orang yang tadi mengeluarkan barang-barang, sudah berpamitan. Ia duduk sembari mengedarkan pandangan.
"Ah, akhirnya!" Menarik napas panjang."
Alan menyambar jas putihnya, diatas sofa. Ia sudah hampir terlambat untuk bekerja. Didepan pintu, ternyata Zia sudah siap untuk mengetuk pintu.
"Kamu datang?"
"Aku ingin pergi bersamamu."
Alan segera menarik tangan Zia. Berjalan bersama masuk dalam lift.
Jika ditanya, perasaan Zia. Sebenarnya, ia juga bingung, dengan hubungan mereka, yang terjalin begitu saja, seperti air mengalir. Baik Alan, maupun dirinya, sama sekali tidak mengungkapkan perasaan masing-masing. Walau, Zia tahu perasaan Alan padanya.
Seperti sepasang kekasih, pada umumnya. Mereka makan malam, nonton bioskop, bahkan jalan-jalan. Tapi, untuk mengatakan cinta, keduanya belum mengatakan apa-apa.
"Kamu membawa banyak tas," ujar Alan yang membuka pintu mobil untuk kekasihnya.
"Oh, ini tas bekal untukmu dan ini untukku."
Alan sudah tersenyum lebar. Ia memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil.
"Kenapa repot-repot, kita bisa makan dikantin? Aku tidak mau kamu lelah, sebelum bekerja."
"Tidak apa. Aku suka memasak, selagi sempat aku akan melakukannya."
"Terima kasih."
Mobil keluar dari basement, menuju jalan raya. Alan membisu, fokus dengan lalu lintas. Walau otaknya, sedikit memikirkan hal lain.
Bagaimana kalau aku melamarnya? Apa tidak terlalu cepat? Tapi, jika dipikir, hubungan kami ini sangat tidak jelas. Apa aku memberikannya kejutan saja?
Yah, begitu saja, Alan bergumam, tanpa terdengar oleh Zia.
"Bagaimana dengan barang-barangku?"
__ADS_1
"Sudah beres. Uangnya sudah ditransfer. Aku akan memberikannya padamu, siang nanti, karena tadi belum sempat."
"Baguslah. Aku lega mendengarnya. Kamu tidak perlu memberikan uangnya, dari awal aku sudah memberikannya pada CEO. Tapi, dia memberikannya padamu, jadi itu milikmu."
"Bagaimana mungkin, itu adalah milikmu."
"Aku tidak membutuhkannya."
"Kalau begitu, kita makan malam saja."
"Hahaha, boleh."
Ditempat berbeda, seseorang yang membuat satu kebaikan tanpa sengaja. Masih bermalas-malasan diatas tempat tidur. Tiga hari, ia habiskan di perkampungan. Jalan-jalan, melihat kesibukan di persawahanan. Menikmati pemandangan dn menghirup udara segar. Kadang, mereka pergi ke makam, untuk berziarah. Sore hari, Ervan akan duduk dibawah pohon, menikmati secangkir kopi dan pisang goreng. Ia betah disini, bahkan sudah terlihat seperti warga lokal.
Bukan hanya itu, ia membantu Sarah membersihkan halaman depan, menanam sayuran dan buah. Kadang, ikut ke sungai untuk melihat warga yang menangkap ikan. Tapi, kegiatan semacam itu, hanya sekali, Ervan lakukan. Bukan tanpa alasan, karena ternyata banyak para gadis, menghabiskan hari disungai dengan mandi atau mencuci pakaian.
Saat pulang, ia sudah mengajukan protes pada Sarah.
"Kenapa mereka mandi disungai? Apa mereka tidak punya air dirumah?"
"Punya. Tapi, disungai, kita bisa bercengkrama dengan teman dan tetangga."
"Kamu juga sering mandi dan mencuci di sungai?"
"Iya. Waktu kecil hingga sekolah, aku paling sering mandi disungai, bersama teman-temanku."
Ervan tidak menjawab, ia seperti sedang kesal.
"Hmm," jawab Ervan singkat. "Peluk."
Sarah menurut saja, agar Ervan segera bangkit. Acara peluk-pelukan, cium-ciuman, yang memakan waktu hampir setengah jam.
Ervan bangkit, untuk mandi. Sementara, Sarah sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya. Untung, ia tidak perlu mengemas pakaian, karena Ervan mengatakan akan menyimpan pakaian mereka disini. Sewaktu-waktu, mereka datang lagi.
Keduanya, duduk di meja makan. Hanya ada nasi goreng, dengan telur ceplok dan ayam goreng suwir diatasnya. Segelas teh hangat, menjadi pelengkap.
"Apa kerja kerasku, sudah berbuah?"
"Berbuah? Apanya?" Sarah masih melanjutkan makan.
"Kamu sudah hamil?"
Uhuk, uhuk. Sarah tersedak, langsung menyambar air putih putih. Baru tiga hari, ia mengurungnya dalam kamar, berturut-turut setiap malam. Apa akan secepat itu?"
"Tidak mungkin secepat itu. Ah, sudahlah. Cepat makan."
"Begitu, yah. Padahal, aku dulu cuma melakukannya sekali."
__ADS_1
Sarah tidak merespon, karena percakapan mereka akan menjadi panjang dan bisa membuat kepulangannya menjadi terancam gagal.
Sarah sudah duduk di mobil, menunggu Ervan mengunci pintu dan menutup pagar.
"Kamu mau mampir dimakam?" tanya Ervan yang sudah menghidupkan mesin mobil.
"Nanti saja. Aku mau datang dengan membawa si kecil."
"Baiklah. Ayo, berangkat."
Perjalann dimulai. Ervan lebih banyak bicara, bertanya ini itu, yang sebenarnya tidak penting. Sarah menjawab saja, untuk menghilangkan kebosanan.
Drt drt drt.
Sarah mengangkat sambungan telepon. Menyetel dalam mode speake,r agar ia dan suaminya dapat mendengarnya.
"Kau dimana?" Suara yang sangat familiar, bahkan si pemilik suara yang sering menelpon mereka tanpa mengenal waktu.
"Dijalan. Kenapa? Kau kesepian?" Suara tawa Ervan yang terdengar mengejek.
"Hah." Tirta menghela napas. "Pulanglah. Alan sekarang mengabailanku."
"Kenapa? Dia masih marah?"
"Bukan itu. Dia dan dokter Zia berpacaran."
Tidak ada suara tawa, yang biasa Ervan lontarkan. Pria itu, tampak bingung, harus merespon. Karena terlalu mendadak dan tidak mengerti, alur ceritanya.
"Bukannya, mereka sedang bermusuhan?"
"Pulang sajalah, nanti aku ceritakan. Kau juga kenapa ponselmu, selalu saja mati, bahkan tidak mau membalas pesanku!"
"Aku sedang membuat bayi."
Tut. Tirta sudah mematikan sambungan telepon begitu saja. Ervan mendengus.
"Kenapa kau mengatakan itu padanya?"
"Kenapa?" Ervan malah balik bertanya. "Tidak salah, kan? Aku juga tidak berbohong, iya. Kan!"
Kau memang, tidak berbohong. Tapi, apakah harus mengatakan itu pada Tirta? Sarah sudah ingin berteriak. Tapi, ditahannya, karena sedang malas untuk berdebat.
Perjalanan mereka masih panjang dan Ervan masih bercerita. Sarah hanya mendengarkan. Kadang merespon jika ditanya.
Ervan berhenti didepan penjual, pinggir jalan. Mereka menjual jagung yang baru dipetik dan buah rambutan.
"Manis," ujar Sarah yang mencoba buah rambutan. Lalu, membuka kulitnya untuk Ervan.
__ADS_1
"Benar. Manis."
Perjalanan kembali dilanjutkan, dengan buah rambutan sebagai cemilan.