
Pulang sekolah, tepatnya saat matahari sudah diatas kepala. Mobil yang menjemput Ervan dan Alan melaju, menuju sebuah kawasan pertokoan dipusat kota.
Tuan muda kecil sedang dalam mode serius. Ia bahkan tidak menggubris Alan, yang sedang mengoceh.
"Itu, apa, Alan?" tunjuk Ervan, pada kotak kue dipangkuannya dan beberapa paper bag, dibawah kakinya.
"Ini dali penggemal mu, ada cinta, suan dan semua-muanya."
"Esok, kamu dan adik balu, belbagi itu."
Alan mengangguk paham. Mulai besok, dia harus berbagi semua makanan dan barang-barang yang didapatkannya, dengan Tirta.
Mereka sudah tiba. Ada mobil lain, yang terparkir disana.
"Papa," panggil Ervan.
Alan menundukkan kepala pada presdir dan ayah Ervan membelai rambutnya dengan lembut. Ia merasa gemas dengan Alan, yang terus mengikuti putranya.
"Ayo, masuk." Presdir menggandeng kedua anak itu, disisi kiri dan kanannya.
Disana, sudah ada ibu Tirta duduk, dengan Tirta diatas pangkuannya. Ibu itu menunduk dengan pipi yang basah.
"Ini putraku. Katanya, dia menyukai roti, buatan Anda." Presdir duduk diseberang kursi, dengan kedua anak yang mengapitnya.
"Terima kasih, Tuan muda. Sungguh, saya sangat berterima kasih." Ibu Tirta terus menangis. Entah bagaimana caranya, ia harus mengungkapkan rasa terima kasihnya, selain kata.
"Putraku, menginginkan anak Anda, bersekolah dan menjadi temannya. Itupun, jika Anda setuju."
Ervan menatap ayahnya. Apa tidak langsung memaksanya saja?
"Tuan. Kami hanya orang kecil dan tidak punya apa-apa. Bagaimana kami harus membalas kebaikan kalian? Sungguh! Kami tidak bisa memberikan apa-apa, selain kebaikan dan ketulusan."
"Aku mau, Tilta."
Zia meneguk jusnya yang dingin. Entah mengapa, kisah Tirta membuatnya menangis. Alan yang memperhatikannya, memberikan Zia tissu.
"Kamu kasihan padanya?"
"Aku tidak menyangka, jalan yang dilaluinya sangat sulit."
__ADS_1
"Tirta orang yang cerdas dan jenius. Waktu itu, dia hanya diam memperhatikan kami. Tapi, ternyata diusianya yang sama denganku. Ia sudah bisa, mencerna semuanya."
Yah, Tirta saat itu, hanya membisu. Menatap mereka dengan bergantian. Lalu, tatapannya fokus pada, Ervan dan Alan.
"Terima kasih, Tuan, Tuan muda." Tirta tidak cadel. Ia turun dari pangkuan ibunya, berdiri tegap, lalu menundukkan kepala.
Ervan tersenyum. Bergeser menatap ayahnya.
Presdir sendiri tahu, mengapa putranya menginginkan Tirta. Ia sadar, jika putranya kesepian dan membutuhkan teman bermain. Meski, di sekolah ia sudah memiliki teman. Tapi, tidak satu pun, yang membuatnya tertarik.
Putranya lebih banyak dikerumuni, bocah perempuan. Kadang ia enggan ke sekolah, sekalipun pergi, ia akan pulang dengan ratusan keluhan dan protes pada kedua orang tuanya
Hingga, akhirnya Alan hadir dan membuatnya kembali bersekolah seperti biasa. Bahkan, Alan lebih banyak tinggal di rumah Ervan, dari pada di rumah orang tuanya.
Terjalinlah, ikatan diantara ketiganya. Ibu Tirta mulai mengelola toko roti, pemberian presdir. Meski begitu, ibu Tirta bersikeras akan menyewa toko itu, saat usahanya berjalan. Tirta sendiri, akan mulai bersekolah besok bersama Ervan dan Alan. Presdir sudah menyediakan kebutuhan Tirta, mulai dari pakaian hingga perlengkapan sekolah. Ia juga sudah membayar uang sekolah hingga lulus.
Keesokan harinya, seperti biasa supir dan pengawal pribadi, akan menjemput Alan di rumahnya. Lalu, melanjutkan perjalanan menjemput Tirta.
"Selamat pagi, tuan muda." Tirta menundukkan kepala pada Ervan. "Selamat pagi, Tuan Alan."
Ia juga menundukkan kepala pada Alan.
Dua bocah itu, tertawa terpingkal-pingkal. Tirta seperti orang tua, yang mirip dengan sekretaris ayah Ervan.
Tirta membagikan mereka roti buatan ibunya. Seperti biasa, Ervan dan Alan menerima tanpa sungkan. Ketiganya masuk dalam mobil, menuju sekolah.
"Hei, hei, belbalis yang lapi," perintah Ervan, yang langsung disambut semua murid dalam kelas.
"Kenalkan, ini, Tilta. Dia adik keci ku dan juga sekletalisku."
Semua murid bertepuk tangan, menyambut Tirta.
"Lalu, Alan, bagaimana?" Salah satu murid bertanya.
"Alan, adik dua ku dan juga doktelku."
"Hahahahaha ....." Suara Zia memenuhi ruangan. Bisa-bisanya, bocah umur lima tahun, sudah memperkenalkan sekretaris dan dokter pribadinya.
Alan juga tertawa, ketika mengingat momen itu. Padahal, itu hanyalah ucapan Ervan saat kecil, seharusnya mereka tidak menanggapinya. Tapi, justru mereka menganggapnya serius. Alan yang tidak mau menjadi dokter, karena melihat kesibukan kedua orang tuanya, menjadi berubah pikiran.
__ADS_1
Ia belajar dengan keras, dan mengikuti les, meski tanpa diminta. Tirta yang cerdas, juga menjadikan Ervan sebagai tujuan hidupnya. Sekretaris atau apapun, yang penting bersama Ervan.
Waktu terus bergulir, tanpa terasa. Tiga sahabat, yang berjanji terus bersama, semakin tumbuh besar.
Setelah lulus sekolah tingkat menengah, mereka melanjutkan sekolah tingkat atas. Karena memiliki wajah yang tampan, ketiganya selalu menjadi pusat perhatian. Tapi, Ervan lah, yang selalu menjadi idola dan Alan yang selalu menjadi perisainya.
Tirta sendiri, tidak peduli dengan wanita. Ia memiliki sifat yang sama dengan Ervan. Ia lebih banyak belajar, untuk mendapatkan beasiswa.
Di tahun kelulusan mereka, ketiganya dirundung duka. Ibu Tirta berpulang, karena kecelakaan.
Bukan hanya, Tirta yang menderita karena kehilangan. Tapi, ketiganya. Seorang ibu, yang mereka anggap seperti ibu kandung. Ibu yang selalu memberikan roti dan menyiapkan makanan, setiap kali mereka datang.
"Ibu, hiks, hiks." Tirta menangis dalam pelukan dua sahabatnya.
Presdir dan Nyonya besar, ikut hadir, bahkan mengurus pemakaman ibu Tirta.
Setelah kelulusan sekolah, ketiganya pun berpisah. Alan melanjutkan pendidikan di sekolah kedokteran diluar negeri. Ervan yang merupakan seorang penerus, harus mengikuti pendidikan yang sudah dipersiapkan kedua orang tuanya. Tirta sendiri, mendapat beasiswa diluar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Meski begitu, mereka tetap berkomunikasi.
"Wah, kisah kalian seperti dongeng." Zia merasa kagum. Ia terus menatap Alan, sembari tersenyum.
"Lalu, kapan kalian bisa bertemu kembali?"
"Aku masih bisa bertemu Ervan, setiap akhir semester. Tapi. Tirta tidak. Ia tidak penah pulang, selama tiga tahun."
"Dia pasti sibuk belajar."
"Benar. Dia hanya fokus belajar. Itulah, mengapa dia sangat polos dan tidak mengenal wanita."
"Hah! Apa?"
"Ah, tidak apa-apa. Hahaha, ...."
Alan tertawa, mencoba menghindari kecanggungan, karena ucapannya yang keceplosan.
"Setelah, itu apa yang terjadi?"
"Yah, setelah Ervan diangkat menjadi CEO, Tirta sudah menyelesaikan pendidikannya. Presdir langsung menjadikan Tirta sekretaris Ervan, karena memang pada awalnya kursi itu, sudah milik Tirta."
"CEO sangat dingin dari tatapan mata dan wajahnya. Aku tidak sangka, dia punya sifat malaikat."
__ADS_1
Yah, malaikat pencabut nyawa, mungkin.
Dia baik bagai malaikat, tapi saat narsisnya kambuh, entah dia cocok disebut apa. Menyebalkan saat dia sedang pamer, dan membuat emosi, saat ia mengomel sana sini, tidak jelas. Lebih parahnya, saat ia marah dan tak terkendali, pria itu menghancurkan barang, meski bukan miliknya.