
Turun dari bukit, mereka sudah berada ditempat mobil terparkir. Ervan membersihkan pakaiannya, dari debu dan rumput yang menempel.
"Ah, sialan! Semua gara-gara, Alan. Lihat saja, jika dia pulang nanti."
Masih terus menyalahkan Alan, yang sama sekali tidak tahu, apa yang sedang terjadi.
"Hei, kau. Pulang sana, bereskan apartemen Alan dan potong rambutmu. Kenapa kalian suka sekali memelihara rambut, saat kuliah. Apa kelihatan keren?"
Sekarang, giliran rambut sepupu Alan yang kena semprot. Padahal, tidak ada yang salah. Dengan model rambut sepupu Alan, hanya saja ia tidak menyisirnya.
"Baik, Kak."
Karena sudah terlanjur datang, sekalian Ervan mengunjungi makam orang tua sang istri. Ia ingin melihat bagaimana kondisi makam, yang sudah diperbaiki.
Sepupu Alan sudah pergi. Ervan dan Tirta kembali melanjutkan perjalanan, yang kira-kira sekitar 10 km lagi.
Ervan terus mengoceh, dengan inti permasalahan yang sama. Menyalahkan Alan, yang mematikan ponsel dan sepupunya yang gondrong itu.
"Kenapa juga ponselnya rusak? Apa dia membantingnya karena wanita itu? Cih! Dasar bodoh, benda berharga dibuang begitu saja, karena wanita." Lagi-lagi mengomel, tidak jelas. Padahal, dia dulu melakukan yang sama.
Tirta menepikan mobil, didepan sebuah warung.
"Kenapa?" tanya Ervan.
"Aku haus, mau beli air mineral."
"Aku juga."
Tirta mengangguk, lalu turun dari mobil. Tak lama, ia kembali dengan dua botol air mineral.
Keduanya, meneguk, hingga menyisakan setengah botol.
"Kenapa kau sangat diam, hari ini?" Ervan merasa aneh dengan sekretarisnya yang membisu, sejak turun dari bukit.
"Aku sedang malas berdebat, denganmu." Tirta terus melaju.
"Kenapa?"
"Karena kau selalu benar dan aku salah," jawab Tirta, yang akhirnya langsung pada inti permasalahan dari diamnya.
"Maksudnya?"
Entah Ervan pura-pura tidak mengerti atau memang sama sekali tidak tahu, maksud ucapan Tirta, yang sebenarnya sudah menyinggungnya.
Tirta hanya menghela napas. Pria dibelakangnya, sudah berubah. Dia lebih cerewet sejak menikah dan sifat angkuhnya, bertambah perseribu persen.
Dijawab pun, percuma. Karena seseorang yang sedang seminar, diluar kota atau dia yang akan kena getahnya.
"Kau sedang menstruasi, Tirta? Kenapa kau sangat sensitif? Istriku saja tidak sesensitif dirimu!"
Oh, Tuhan. Kuatkan aku! Gumam Tirta. Dia lelah, membuang energi untuk menjawabnya. Terlebih lagi, dia sedang kesal.
"Diamlah, kita sudah sampai." Tirta menepikan kendaraan.
__ADS_1
Keduanya kembali berjalan kaki, menuju pemakaman. Tampak ramai, dengan beberapa peziarah yang datang.
"Selamat siang, Kek."
Sang kakek, mengernyitkan alisnya. Seolah tidak mengenal mereka.
"Siapa?"
Benar saja, dia tidak ingat. Mungkin faktor umur atau mungkin banyaknya peziarah yang sering datang.
"Saya suami Sarah, yang minggu lalu, meminta makam keluarga istri saya diperbaiki."
"Oh, ya, ya. Saya ingat. Makamnya sudah selesai, diperbaiki dua hari yang lalu."
Sang kakek berjalan lebih dulu, sambil bercerita, bagaimana ia meminta tukang untuk memperbaiki makam.
"Bagaimana?" tanya si kakek.
Makam dengan kondisi lebih bagus dari sebelumnya. Gundukan tanah yang bersih, dengan batu-batu putih diatasnya. Tak lupa, pinggir makam dibatasi, dengan keramik berwarna putih, serta keramik berwarna hitam, dengan tulisan berwarna kuning keemasan, sebagai penanda pemilik makam.
"Yah, ini lebih baik."
Tirta memberikan amplop putih kepada si kakek, sebagai upah dan untuk tukang yang mengerjakannya.
"Terima kasih. Saya akan memberikan upah pada tukang."
Ervan hanya mengangguk, lalu duduk berjongkok, dipinggir makam.
Ervan menengadahkan kedua tangannya, membaca doa dalam hati. Tirta juga melakukan hal yang sama, sambil mengikuti Ervan yang mengusap wajahnya.
Mereka tidak langsung beranjak pergi. Ervan berpindah ke sisi makam orang tua Sarah. Makam ayah dan ibu, yang bersebelahan. Yang mana, posisi makam sang ayah mertua berada ditengah.
Ervan menyentuh batu nisan, sang ayah mertua dan bergantian batu nisan sang ibu mertua. Ia memejamkan mata, sesaat.
Assalamuallaikum, ayah, ibu. Aku Ervan, menantumu. Maaf, jika aku baru bisa berkenalan dengan benar, kepada kalian. Kalian pasti membenciku, karena telah melukai putri kalian. Tolong, maafkan aku. Perbuatanku yang bejat dan tak termaafkan, aku baru menyadarinya. Tapi, aku berjanji pada kalian. Aku akan membahagiakan Sarah dan tidak kekurangan apapun, dalam hidupnya. Aku tidak membiarkan, ia menitikkan air mata lagi.
Ayah, ibu, restui kami. Aku akan menebus dosaku, seumur hidup, dengan membahagiakan putri kalian.
Berbahagialah, diatas sana. Aku akan terus mendoakan kalian.
Ervan menghapus air matanya, sebelum bangkit.
Lihat dia! Dia menangis, setelah mengakui kesalahannya pada orang tua Sarah. Cih, tapi tidak pernah merasa bersalah padaku. Apalagi mau mengakuinya, hingga meneteskan air mata. Mungkin, dunia akan kiamat, jika ia melakukan itu. Tirta sibuk berkomentar, dalam hati. Ia membuang muka, saat Ervan menatapnya balik.
"Kau mengatakan sesuatu?" selidik Ervan, dengan mata elangnya.
"Tidak. Memangnya, aku bilang apa? Kau pasti salah dengar, dengan burung-burung sekitar sini."
"Ah, tidak. Aku yakin dalam hatimu, pasti mengatakan sesuatu." Ervan memajukan wajahnya, menelusuri raut wajah sang sektetaris. "Apa kau sedang memakiku, Tirta?"
Apa dia punya indra keenam, yang bisa membaca pikiran? Kenapa dia begitu sensitif?
"Hei! Apa yang sedang kau bicarakan? Jangan sembarang menuduhku!. Sebaiknya, kita cepat pergi, sebelum sore. Aku lapar dan belum makan siang."
__ADS_1
Tirta bergegas pergi, berlari kecil menjauhi Ervan. Sepertinya, kemampuannya bertambah satu. Selain cerewat dan sombong, ia bisa membaca pikiranku.
Sebelum, meninggalkan area perkuburan. Keduanya, berpamitan pada si kakek dan mengucapkan terima kasih.
"Apa kalian akan kembali ke kota?"
"Iya, Kek. Saya mengucapkan terima kasih, karena sudah membantu."
"Tidak apa, itu sudah menjadi pekerjaan saya, disini. Tapi, kapan Sarah akan datang? Aku dengar si dokter itu, sudah menjual rumahnya pada kalian?"
Tirta dan Ervan sling menatap. Dokter Zia, belum mengatakan apa-apa, kepada mereka.
"Kakek tahu dari mana?"
"Kemarin, si dokter itu datang. Katanya, dia akan mengangkat barang-barangnya hari ini."
"Be-benarkah?" Ervan seolah tidak percaya, drngan kabar ini. "Terima kasih, Kek. Kami akan kesana."
Ervan segera berlari kecil, dibelakangnya Tirta ikut menyusul.
"Cepat, cepat!" perintah Ervan.
"Sabar, sabar. Kau tidak lihat, banyak alang-alang disini," gerutu Tirta, yang kesulitan memutar haluan.
Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, dalam hitungan menit mereka sudah tiba. Sebuah mobil pick up berwarna hitam dan dua orang pria, tampak kesulitan mengangkat barang. Dari teras rumah, tampak dokter Zia mengawasi mereka.
"Selamat siang, dok." Sapa Tirta.
Dokter Zia menoleh, tersenyum pada keduanya. Tapi, sorot matanya, seolah sedang mencari seseorang.
"Kamu mau pindah?" tanya Ervan, pura-pura tidak tahu.
"Sebenarnya, saya mau menghubungi, Anda. Tapi, saya tidak mengetahui nomor ponsel Anda, Tuan. Jadi, saya berpikir untuk mengosongkan rumah ini, terlebih dahulu."
"Kenapa tidak memberitahu, Alan? Kamu bisa meminta padanya."
"I-itu, ...."
Tirta menyiku Ervan, matanya melotot.
Kenapa kau mengatakan itu, bodoh?
Ervan, ikut melotot, dengan mulut komat kamit tidak jelas.
Memangnya, kenapa bodoh? Aku mau tahu, isi hati wanita ini.
Tirta tidak mau kalah, ia membalas dengan memonyongkan bibirnya.
Kau tahu, apa, sialan?
"Kalian kenapa?" tanya Zia. Yang dari tadi memperhatikan keduanya, yang terus bergumam, tidak jelas.
"Ah, tidak apa-apa," kompak keduanya menjawab.
__ADS_1