
Pukul lima sore, Sarah baru saja terbangun. Mengerjapkan mata, pandangannya berkeliling dalam kamar yang sepi. Ia merenggangkan tubuhnya sesaat, lalu bangkit dari atas tempat tidur.
"Segarnya," ujar Sarah, setelah membasuh wajahnya dalam kamar mandi.
"Kamu sudah bangun?" Ervan menepuk sofa disampingnya. "Duduklah, ada yang mau aku bicarakan."
Sarah menurut, duduk dengan mengambil jarak aman.
"Masalah bulan madu, cari alasan yang tepat untuk menundanya."
"Aku akan memikirkannya," jawab Sarah singkat.
"Orang tuaku akan mendengarkanmu. Jadi, sebelum mengatakan pada mereka, beritahu aku dulu."
"Baiklah."
"Ambil ini." Ervan menyodorkan dua kartu debit. "Gunakan untuk keperluanmu dan anak kita. Mulai besok, kamu tidak boleh bekerja. Masalah akta kelahiran, minggu depan akan terbit."
"Terima kasih." Sarah menerimanya dengan sedikit tersenyum. Apalagi, Ervan sudah sering mengucapkan kalimat 'Anak kita'.
"Hmm."
Pukul tujuh malam, makanan sudah tersaji diatas meja. Berbagai hidangan yang menggugah selera.
Sarah, Ervan duduk bersebelahan, putra mereka duduk dengan kursi bayi yang sudah disediakan. Papa dan mama, duduk menghadap anak dan menantunya.
"Malam ini, biarkan cucu Mama tidur bersama kami. Lagi pula, ini malam pertama kalian. Jadi, Mama akan memberi kalian waktu pribadi, untuk membuat cucu lagi."
Uhuk ... uhuk ...
Ervan tersedak, saat baru saja meminum air. Ia melirik sarah yang menepuk punggungnya.
Katakan sesuatu, jangan hanya menepuk punggungku.
Ervan menggesek kaki Sarah, sebagai isyarat.
"Maaf, Ma. Tapi, cucu Mama masih menyusui, jadi masih harus tidur bersama kami."
Sarah mencoba menjawab.
"Ah, iya Mama lupa." Sarah dan Ervan lega, tapi keduanya kembali lesu. "Nanti dia minum susu saja, Mama sudah membelikankannya susu."
"Jangan, Ma. Kasihan, dia harus minum susu. Lagi pula, Mama pasti kelelahan karena harus bangun ditengah malam," timpal Ervan.
"Apa susahnya membuat susu ditengah malam. Papamu kan ada, dia yang akan membuatnya."
Izzam menatap istrinya, saat bagian tersulit diserahkan padanya.
"Tapi, ..."
"Sudah, jangan tapi-tapi. Mama sudah memutuskan. Mama ingin, rumah ini menjadi sangat ramai dengan banyaknya cucu."
Sarah bersusah payah menelan makanannya. Dia sudah terbiasa, dengan kehadiran Ervan diatas tempat tidur mereka. Tapi jika hanya berdua, maka cerita selanjutnya mungkin akan berbeda. Meski, dalam kontrak tertulis jelas, tapi siapa yang dapat menahan bisikan setan. 😊
Makan malam pun usai, semuanya masih berkumpul diruang tengah, menemani si kecil yang menghamburkan mainannya.
"Alangkah, bagusnya, jika ia punya teman bermain. Mama ingin cucu perempuan."
__ADS_1
Mama kembali bersuara, yang entah mengapa terdengar, seperti sedang memprovokasi.
"Mama ini, cucu kita baru sepuluh bulan. Nantilah, jika ia sudah berjalan."
"Pa, sudah deh. Jangan ganggu hayalan, Mama." Mama beralih pada menantunya. "Sarah, besok ikut Mama, ya. Kita belanja buat si kecil. Setelah itu, kita makan siang."
"Iya, Ma."
Cukup lama, mereka berbincang. Sampai, akhirnya keempatnya masuk dalam kamar masing-masing. Si kecil pun, sudah dalam pelukan kakeknya.
Didalam kamar, Sarah dan Ervan sudah mengganti baju tidur. Keduanya, terlihat bingung saat mengambil posisi tidur.
Sudahlah, Sarah. Hanya tidur, cukup tutup matamu.
"Aku akan tidur, matikan lampunya."
Ervan lebih dulu naik, memeluk guling dengan posisi membelakang. Kemudian, Sarah ikut menyusul. Baru saja akan memejamkan mata, Ervan memutar tubuhnya.
"Tamara, apa kamu sudah bertemu si bajingan itu?"
Si bajingan itu ada didepanku, asal kamu tahu.
"Belum. Bisa kamu mundur sedikit?"
Sarah mendorong kepala Ervan yang terlalu dekat dengan wajahnya.
"Aku tidak akan memakanmu. Aku punya selera sendiri. Tidak sepertimu, yang mau saja menyerahkan tubuhmu pada pria brengsek itu."
Bolehkah aku memukulnya? Tanganku sudah benar-benar gatal.
Sarah tidak menjawab, karena tidak ingin berdebat saat sudah malam. Ia meraih guling dan tidur membelakangi suaminya.
Tidak ada jawaban, Ervan kembali memutar tubuhnya.
Dalam suasana gelap dan sunyi, kedua pasangan itu, mencoba memejamkan mata. Berulangkali mengubah posisi tidur, hingga tak sengaja saling bersentuhan.
"Kamu sengaja? Bukankah kamu sedang marah?"
Sarah masih tidak menjawab, ia hanya memutar bola matanya. Ervan mengambil guling dan membuat pembatas diantara mereka.
"Jangan melewatinya! Kau paham!"
"Cih, jika saja Mama tidak mengeluarkan sofa dari kamar, aku sekarang pasti sudah tidur nyenyak."
"Kamu pikir, aku sudi tidur seranjang denganmu. Aku juga terpaksa."
"Kalau begitu, aku pindah."
Sarah bangkit, dengan kesal. Baru selangkah, sebuah tangan meraih pinggangnya hingga kembali mendarat diatas tempat tidur.
"Jangan macam-macam kamu. Ini malam pertama kita, jangan buat keributan."
"Keributan? Aku rasa ini wajar saja. Bukankah aku kekasih yang kamu campakkan? Dan saat ini aku masih membencimu."
"Jangan bermain peran, saat kita hanya berdua. Aku tidak mau orang tuaku terbangun dan mendengar omong kosongmu."
"Kalau, begitu turun dari atas tubuhku."
__ADS_1
Ervan menyeringai licik, perlahan mendekatkan wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Sarah panik dan membuang pandangannya. "Cepat menyingkir."
"Ini malam pertama kita sayang."
"Ka ... kau, jangan lupakan perjanjian kita. Kau juga sudah berkata tidak berselera padaku."
"Aku berubah pikiran. Lagi pula, mama ingin memiliki cucu banyak, tidak masalah jika kita menambah satu lagi."
BUGH,
Sarah membenturkan kepalanya didahi Ervan, hingga pria itu langsung bangkit sambil meringis.
"Mampus. Jangan coba-coba berpikir, untuk merayuku."
"Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius." Ervan memegang dahinya, yang perih. "Kau begitu galak, menjadi seorang wanita."
Ervan kembali meraih guling, mengatur posisi bantalnya yang agak sedikit mendekat ke arah Sarah. Ia tidak ingin bermimpi buruk lagi, meskipun sejak ia tidur seranjang dengannya, mimpi buruk itu seperti sirna.
"Aku akan tidur, lebih baik pejamkan matamu dan jangan banyak bergerak."
Sarah tidak menjawab, ia mengambil guling, lalu tidur membelakang. Tanp menyadari posisi Ervan yang begitu dekat dengannya.
Tengah malam, Sarah merasa sesak, tubuhnya serasa dihimpit dan ditekan seseorang.
"Uh, panas."
Sarah menggeliat, perlahan mengerjapkan mata. Sontak membelalak, saat kepalanya bersandar di dada bidang suaminya.
"Kau memelukku, bajingan lepaskan aku!"
Goyang-goyang, tapi tubuh Sarah terkunci karena dipeluk layaknya guling. Tangan Ervan mengunci pinggang dan kakinya mengunci kaki Sarah.
"Lepas."
"Jangan pergi, Sarah. Maafkan aku!" igau Ervan.
Sarah berusaha mengangkat kepalanya, tampak mata Ervan masih terpejam.
"Dia menggigau."
"Cih, aku bisa pingsan jika begini terus. Lepaskan, aku."
Kembali menggoyangkan tubuhnya, sampai kepala Sarah membentur dagu suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?" Ervan melepaskan pelukannya.
"Aku? Bukankah aku yang harusnya bertanya? Kau membuatku sesak, karena memelukku."
"Memelukmu?" Ervan terkekeh. "Aku masih waras, hingga harus memelukmu."
Sialan! Laki-laki ini, bisa membuatku hipertensi.
BUGH
Sarah melemparkan bantal, hingga mendarat sempurna di wajah suaminya. Lalu, kembali tidur.
__ADS_1
"Kau, ...."