
Sesuai janji Alan, akan memperkenalkan Zia pada keluarganya. Kebetulan, hari ini, orang tua Alan datang berkunjung. Mereka punya agenda, menemui presdir untuk meminta maaf, atas kesalahan putrinya seminggu yang lalu. Meski, presdir, tidak mempermasalahkannya. Tapi, keduanya merasa tidak enak hati.
"Ibu, jangan lupa, direstoran untuk makan malam." Alan mengingatkan, saat hendak pergi bekerja pagi ini.
"Tunggu, sebentar!"
Ayah memintanya duduk disofa.
"Kenapa, Yah? Aku harus segera pergi."
"Siapa wanita itu?" tanya Ayah langsung.
"Dia teman kerjaku, seorang dokter bedah. Keluarganya_"
"Ayah, akan terima, selama di berasal dari keluarga baik-baik. Kau mengerti, kan, maksud Ayah?"
"Iya, aku mengerti. Tapi, ayah jangan khawatir. Dia berasal dari keluarga baik-baik dan cukup terpandang."
"Ya, sudah. Jam tujuh malam, kita bertemu. Sekarang, ayah dan ibu, akan ke rumah presdir."
Alan mengangguk. Ia berpamitan, sebelum keluar rumah.
Dirumah sakit. Sepasang sejoli, yang sedang dimabuk asmara, bertemu diam-diam. Yah, mereka masih merahasiakan hubungan keduanya.
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Papa, mama, akan datang. Jangan khawatir."
"Baiklah.Kita bertemu jam tujuh malam. Jangan kekhawatirkan apapun. Ibuku orang yang lembut. Ayahku agak pendiam, tapi dia orang yang baik."
"Aku mengerti."
Mereka berpisah, tanpa ada kiss bye, seperti biasa.
Di kediaman, Ervan.
Orang tua Alan telah tiba. Mereka disambut langsung Mama Ervan dan cucunya yang dalam gendongannya.
"Silahkan, masuk."
"Terima kasih, Nyonya."
"Hei, jangan formal begitu. Kita bukan baru pertama kali bertemu."
Orang tua Alan tertawa. Seperti, biasa Mama Ervan orangnya tampak selalu santai.
"Dia sudah besar. Sangat mirip dengan ayahnya," puji Ibu Alan, yang mengusap pipi si kecil.
"Benar. Cucuku tampan. Tapi, aku minta mereka menambah anak lagi."
Mereka terbahak. Lalu, berjalan masuk rumah. Sudah ada Sarah, yang meletakkan minuman diatas meja.
"Ini, menantuku. Kalian, sudah pernah bertemu, bukan?"
"Tentu. Maafkan, kami. Waktu itu, tidak menyapa."
"Tidak apa-apa, Paman, Tante."
Sarah duduk disamping ibu mertua. Disofa lain, orang tua Alan, juga duduk berdampingan.
"Bagaimana dengan putrimu?"
__ADS_1
"Kami sudah mengirimnya, diluar negeri. Dia akan kuliah disana, sampai selesai."
Mama menurunkan cucunya, yang meliuk-liuk ingin turun. Sarah mengikuti langkah, putranya yang berlarian.
"Kami ingin meminta maaf pada Anda dan presdir. Kami sangat malu, tentang Alina."
"Tidak apa. Lagipula, Tirta sudah seperti putra kami."
"Mengenai, Tirta. Apa dia sudah menikah?"
"Tentu saja, belum. Anak itu, sibuk bekerja. Kenapa? Kalian tertarik menjadikannya menantu? hahahaha... "
"Bukan itu. Kami hanya heran pada Alinna, yang terobsesi padanya. Bahkan, sebelum pergi. Dia memberi pesan pada kakaknya. Agar menjaga Tirta, untuk tidak menikah."
"Hahahha... " Tawa mama langsung pecah. Mungkin, sebentar lagi, dia akan punya menantu baru.
"Kami sebenarnya, juga ingin bertemu dengannya, untuk meminta maaf."
"Kalian tunggulah, disini. Siang nanti, mereka akan pulang."
Mereka kembali mengobrol. Membicarakan anak-anak mereka. Dan tentang Alan, yang akan memperkenalkan calon istrinya.
"Dia seorang dokter bedah."
"Wah, keluarga kalian semakin lengkap. Dokter anak, Forensik, ahli bedah, dan dokter mata. Belum lagi, saudara kalian."
"Terima kasih, Nyonya. Ini semua berkat Anda dan keluarga."
"Jika Alan punya anak perempuan, aku akan menjodohkannya dengan cucuku. Dan cucu perempuanku nanti, aku jodohkan dengan anak Tirta kelak."
Yah, Mama Ervan, bahkan sudah merencanakan pernikahan cucu-cucunya. Padahal, si kecil belum dewasa dan cucu khayalannya, bahkan belum lahir.
Pukul satu siang, Ervan dan presdir, sudah tiba dirumah. Sebenarnya, Tirta ingin langsung pulang, setelah mengantar mereka. Tapi, langkahnya tertahan, saat pelayan memintanya ikut masuk. Katanya, perintah Nyonya.
"Kalian sudah lama?" Izzam memeluk ayah Alan.
"Lumayan."
"Ya, sudah. Kita makan siang dulu. Baru lanjut mengobrol. Tirta kamu juga ikut."
Semuanya, berjalan menuju ruang makan. Kecuali, Ervan yang langsung berbelok menuju tangga. Ia punya hal penting, dikamarnya.
"Ayo, duduk."
Disana, sudah ada sarah yang duduk menyuapi si kecil.
Belum juga, memulai. Suara langkah kaki, sambil berteriak memanggil dengan manja.
"Sayang. Kamu dimana? Sayang, sayang. Suamimu pulang."
"Apa sih, Van. Teriak-teriak."
"Sarah dimana, Ma?"
"Kamu tidak melihat istrimu, sudah duduk di sana." Mama menunjuk dengan sorot mata.
Yang ditunjuk, hanya tersenyum tidak bersalah.
Ervan langsung duduk, disamping sang istri. Dan disebelahnya, Tirta duduk tanpa bersuara.
"Kau sariawan?"
__ADS_1
Tirta hanya melotot, sebagai jawaban.
"Ayo, makan." Izzam mempersilahkan kedua tamunya, untuk memulai.
Para orang tua, menikmati makanan, sambil mengobrol ringan. Ervan sedang mode manja, hanya meletakkan piringnya diatas meja, menunggu Sarah melayaninya.
Tirta sedng dalam mode malu dan gugup, hanya mengambil satu sendok nasi dan lauk pauk.
"Kau sedang diet?" tanya Ervan dengan suara nyaring.
Seketika, semua sorot mata, menatap Tirta.
"Hahaha... " Tertawa sumbang. "Aku masih kenyang."
"Kenyang dari mana? Kau, kan belum makan seharian."
Tirta mulai mengumpat dalam hati. Ervan, sialan, tutup mulutmu, aku mohon.
"Iya, Tirta. Jangan sungkan. Mereka adalah calon mertuamu," timpal Mama.
Uhuk, uhuk!
Tirta menyambar gelas didepannya. Glek, glek, glek, sampai setengah gelas. Kini ia tahu, dari mana sifat Ervan diturunkan. Ibu dan anak dengan sifat sama, suka membully orang.
"Sudah, sudah. Jangan mengganggunya." Izzam menengahi.
Kembali makan dengan tenang. Hanya, terdengar suara Ervan dan putranya, yang mengobrol kepada wanita yang sama.
Acara makan siang sudah selesai. Para orang tua, kembali ke ruang tengah, termasud Tirta. Ervan sendiri, jangan tanyakan dia. Ada hal penting, yang harus ia lakukan dalam kamar, bersama sang istri.
"Nak, Tirta. Om dan Tante, ingin meminta maaf, atas perlakuan Alinna."
"Iya, Om. Tidak apa. Saya mengerti, dia belum dewasa."
"Baguslah. Terima kasih, atas pengertianmu. Om dan Tante, lega mendengarnya."
"Dia anak baik. Kan aku susah bilang. Jadi, bagaimana, mau menjadikannya menantu?"
Tirta menahan napas. Ervan punya pengganti dirumah, jika ia tidak ada. Sumpah, sifat mereka sangat mirip.
"Mama, apaan, sih?"
"Papa, jangan mengganggu rencana Mama. Jika Tirta menikah dengan Allina, dan punya anak. Mama akan menjodohkannya dengan cucu kita."
What? Mata Tirta melebar. Apa-apaan, si nyonya ini? Rencana masa depan, tapi mengorbankannya. Tunggu! jika anakku kelak dijodohkan dengan cucunya. Oh, No! Sifat ibu dan anaknya saja, sudah bikin emosi. Entah, bagaimana cucunya kelak.
"Hahaha... Nyonya bisa saja. Belum tentu, Nak, Tirta mau sama Alinna."
"Dia mau, iya, kan Tirta?"
Yang ditanya siapa, yang menjawab siapa. Tirta hanya tersenyum.
"Mama. Umur Tirta, jauh dari Alinna. Lagi pula, Alinna, kan sedang kuliah. Masih terlalu lama, jika Tirta mau menunggu."
Alhamdulillah, masih ada orang yang otaknya masih waras disini. Tolong, presdir, selamatkan aku dari istrimu. Cukup putramu, yang melakukannya.
"Iya, Nyonya. Masih terlalu lama, jika Nak, Tirta harus menunggu."
Bagus, bagus, terima kasih om, Tante. Tolong sadarkan, si nyonya itu!
"Bagaimana kalau mereka menikah sekarang?"
__ADS_1