
Pintu apartemen terbuka, Sarah menatapnya dingin. Ia bahkan tidak menyapa atau mempersilahkannya masuk. Wanita itu, langsung pergi menuju dapur.
"Apa terjadi sesuatu?" Ervan meraih tangannya. Tapi, Sarah menghempaskannya tanpa menjawab.
"Ada apa? Apa kau sedang marah?" bertanya dengan lembut, sembari meraih kembali tangan itu.
"Apa kau orang yang seperti itu?" Menatap tajam. "Selalu lari dari tanggung jawab, setelah melakukan kesalahan?"
"Apa maksudmu? Jangan membuatku bingung!"
Sarah menghempaskan kembali tangan Ervan.
"Siapa Clarissa? Apa kau juga tidur dengannya? Setelah, itu pergi begitu saja."
Ervan mengumpat dalam hati, ternyata wanita licik itu, lebih cepat darinya. Padahal, ia sudah sengaja datang, tanpa ke perusahaan lebih dulu.
"Ikut aku pulang, biar ibuku yang menjelaskannya padamu. Kau bisa bertanya sesuka hati padanya."
"Untuk apa?"
"Agar kau bisa memilih siapa yang bisa kamu percaya. Aku didepanmu, tapi tidak bisa meyakinkanmu."
Akhirnya, Sarah mengikuti ucapan Ervan. Tidak ada gunanya, menghindari masalah, ia harus menghadapainya sesulit apapun. Dan benar, ia tidak bisa mempercayai Ervan, setelah apa yang pernah dialaminya.
Sarah sudah memasukkan barang-barang si kecil dan miliknya. Lalu, bergegas keluar bersama sang suami yang membawa tas mereka, sementara ia menggendong putra mereka.
"Di rumah agak kacau," ujar Ervan tanpa menoleh, masih fokus dengan lalu lintas didepannya.
"Maksudmu?"
"Kamu akan lihat sendiri, tapi aku harap tolong percaya pada ibuku. Jangan mudah mempercayai orang lain, yang belum benar."
"Tapi, aku melihat videomu."
Ervan mengerem mendadak, lalu menepikan mobilnya dengan cepat.
"Video apa?"
Sarah belum mau menjawab, ia merasa jijik untuk mengatakannya.
"Kalian bersama di apartemen dan melakukan itu."
"Kamu yakin itu aku?" Ervan menunjuk dada miliknya. "Tapi, aku tidak menyentuhnya. Ia membuka baju dan menawarkan diri, tapi aku pergi meninggalkannya karena merasa jijik."
"Lalu, apa yang kalian lakukan diatas sofa?"
"Sofa?" Ervan berusaha mengingat. "Aku menurunkan tali baju dan membuka bra miliknya. Lalu, ...."
__ADS_1
Plak.
"Akh!" Ervan memegang pipinya, yang terasa perih.
"Sudah seperti itu, tapi masih mengatakan tidak menyentuhnya. Laki-laki normal, tidak akan menolak jika ditawarkan seekor ikan."
"Aku memang tidak menyentuhnya, aku hanya menghancurkan harga dirinya. Ia sudah siap untuk tidur bersamaku, tapi aku mengatakan untuk menawarkannya pada tetangga didepan kamar apartemennya."
"Kau pikir aku bodoh, bisa percaya akan hal itu."
"Aku bersumpah. Aku sama sekali tidak menyentuhnya."
Sarah tidak menjawab, ia menghapus air matanya yang sudah jatuh begitu saja tanpa disadarinya.
Ervan memukul kemudi, amarahnya meletup-letup ingin keluar. Bagaimana caranya, wanita itu merekam mereka? Apa ia sudah menyiapkannya dari awal? Dasar sial! Umpat Ervan, yang kembali memukul kemudi.
"Aku akan membuktikannya padamu, kalau aku tidak menyentuhnya." Kembali mengemudi.
Keheningan menemani mereka sepanjang jalan, Sarah membisu sambil terisak. Sementara, Ervan masih fokus dengan pandangan lurus didepan.
Tidak lama, mereka sudah tiba. Keduanya, melangkah masuk. Sarah menghentikkan langkah, suara perdebatan terjadi didalam sana. Ia menoleh, menatap suaminya yang wajah biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ayo, masuk! Abaikan yang terjadi didalam sana."
"Kamu, bawa masuk putraku."
Ervan menggenggam tangan Sarah, berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara, pelayan tadi sudah berlari masuk lebih dulu.
"Dasar, siluman rubah."
"Kau siluman ular," balas Sandra yang balik menunjuk ibu Clarissa.
Suara langkah kaki masuk dalam rumah, mereka menoleh.
"Wah, wah ... menantu cleaning servismu sudah pulang. Coba aku lihat!" Maju beberapa langkah. "Putriku lebih cantik dan berkelas. Dia." Menunjuk Sarah. "Hahaha, sama sekali dibawah standar."
Ibu Clarissa tertawa dengan nada mengejek. Sementara, diatas kepala Sandra sudah seperti asap yang mengepul. Sarah maju mendekati ibu mertuanya, tersenyum, mengabaikan hewan buas disebelahnya.
"Ma, aku pulang." Sarah memeluknya. "Ma, wajahmu kenapa?" Sarah memegang wajah ibu mertuanya.
"Tidak apa, sayang. Ini hanya goresan kecil saja, kucing liar dengan cakar pendek dan rata, tidak bisa melukai wajahku. Masuklah, istirahat saja. Jangan pedulikan wanita ular itu."
"Aku juga tidak peduli padanya. Emosi membuat kulitku cepat keriput. Mama harus ke dokter nanti, kucing liar banyak membawa virus dan bakteri." Sarah menoleh ke arah ibu Clarissa, memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Mau menyindirku, kau belum bisa, menjadi lawanku!
"Kalian yang virus dan bakteri! Ibu Clarissa menunjuk-nunjuk, tidak terima.
__ADS_1
"Kau yang virus dan berbakteri, pantas saja begitu tipis dan rata." Sandra tidak mau kalah.
"Sudah, Ma. Jangan emosi." Sarah menenangkan ibu mertuanya.
"Ya, dengakan menantumu yang penipu itu. Kasihan, mungkin kau terlalu bodoh, hingga mudah sekali ditipu."
Sarah berhenti, menyeringai sesaat lalu menoleh.
Apa penipu? Siapa yang penipu? Aku baru mau meredakan amarah kalian, tapi malah menghinaku. Wah, si tante ini benar-benar, meminta mulutnya diremas.
"Aduh, tante. Apakah sangat memalukan putrimu ditikung oleh cleaning servis? Dia cantik, berkelas, berpendidikan, tapi sayang tidak mampu melawan cleaning servis sepertiku. Mungkin, dia harus banyak belajar." Sarah mengibaskan rambutnya.
"Hahaha, kau sangat percaya diri dan tidak tahu malu."
Hooo, masih kuat rupanya!!
"Aku pikir, Tante salah bicara. Yang tidak tahu malu, itu adalah mengejar pria yang sudah beristri, menawarkan diri, seperti wanita tidak laku. Hahahaha......"
Rasakan! Mau melawanku, kau butuh seorang ahli!
"Kau benar sayang, dia mungkin sudah tidak laku diluar sana. Apanya yang cantik, jika hanya bisa merebut milik orang. Aduh, kasihan ya!"
Ibu Clarissa kehabisan kata-kata, dua wanita dikubu yang sama menertawakannya. Dua lawan satu, tidak sepadan. Ia kalah, meski hanya beradu mulut. Ia menoleh ke arah suaminya, yang ternyata hanya duduk memperhatikan mereka, tanpa berbuat apa-apa, bahkan asyik menikmati secangkir teh diatas meja.
Dasar, laki-laki sialan. Aku sudah ditertawakan, malah asyik minum teh.
"Dengar, Sandra. Karena, putramu tidak mau bertanggung jawab. Aku akan membawa ini dipengadilan. Kita lihat, apa kau masih bisa tertawa. Aku akan melihatmu jatuh dan datang mengemis padaku."
"Ya, ya. Silahkan saja! Kami tidak takut."
"Cih, berbahagialah dengan menantu cleaning servismu itu. Jika perusahaanmu jatuh, aku akan senang memberinya pekerjaan sebagai pembantu di rumahku."
"Terima kasih banyak, Tante atas tawaran dan kebaikannya. Tapi maaf, aku tidak berminat."
"Benar-benar memuakkan!"
Aku yang lebih muak dan mual. Enak saja, mengataiku cleaning servis!
"Papa, ayo, pulang!"
Ayah Clarissa yang masih menikmati secangkir teh, langsung bangkit.
"Tuan Izzam, kami permisi. Sepertinya, kita harus bertemu berdua saja lain kali dan membahasnya."
"Baiklah, saya tunggu kabarnya. Mungkin, kita harus mempertemukan putri Anda dan Ervan. Anda tahu betul, kita berdua tidak bisa mempercayai begitu saja."
"Saya mengerti. Kami permisi."
__ADS_1
Orang tua Clarissa pun akhirnya benar-benar pergi.