CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 25 Dua jomblo yang kepo


__ADS_3

Pagi hari saat sarapan, Ervan duduk berhadapan orang tuanya.


"Mana istrimu?"


"Dia sedang mandi, Pa."


"Benarkah, jadi semalam kalian sudah membuat cucu?"


Uhuk ... Uhuk...


Ervan kembali meminum airnya, setelah sempat tersedak.


"Mama, apaan sih? Cucu Mama masih kecil, untuk apa buru-buru, menambah."


"Kamu ini."


Mama kembali melanjutkan sarapannya dengan perasaan kesal. Tak lama, Sarah ikut bergabung.


"Pagi, Ma, Pa. Maaf terlambat."


"Tidak apa, Mama mengerti, kamu pasti kelelahan, kan semalam."


Sarah menatap Ervan, tidak mengerti.


"Ayo, sarapan," ajak Papa Ervan.


Sarah menatap ayah mertuanya, tampak wajah yang belum berkeriput itu seperti kurang tidur.


"Apa Papa tidak tidur semalam?"


Ervan ikut menatap wajah ayahnya, sementara Papa hanya menghela napas, mengingat kejadian semalam.


"Mamama..."


Si kecil terbangun, menangis mencari ibunya. Sementara kedua orang disampingnya masih tenggelam dalam mimpi.


Si kecil masih menangis, bahkan menepuk-nepuk wajah ayah Ervan, hingga akhirnya terbangun.


"Ada apa, sayang kamu lapar?"


Papa mengguncang tubuh istrinya. "Ma, bangun. Cucu Mama lapar."


"Lapar? Ya, sudah. Pergi ke dapur sana."


Papa terdiam sesaat, apa istrinya masih bermimpi dan mengigau. Ia kembali mengguncang tubuh istrinya, kali ini cukup keras.


"Mama, bangun. Cepat!"


"Apa sih, kalau Papa lapar ke dapur sana." Mama menjawab tanpa membuka mata, bahkan tangisan cucunya seperti tidak terdengar.


Papa frustasi, apalagi kedua matanya sangat terasa berat. Ia mengangkat si kecil, mendaratkan diatas kepala istrinya.


"PAPA...."


Istrinya bangkit, kesal, saat sesuatu menimpa wajah dan membuatnya kesulitan bernapas.


"Bagus, jika kamu sudah sadar. Cucumu bangun dan dia sepertinya lapar."


Mata mama yang tadi berkilat-kilat, emosi. Tiba-tiba menghilang begitu saja, saat suara tangisan si kecil akhirnya terdengar dipendengarannya.


"Oh, sayangku." Mendaratkan kecupan, lalu beralih menatap suaminya. "Papa, buatkan dia susu."

__ADS_1


"Aku?"Papa menunjuk dadanya.


"Iya, kamu. Kenapa keberatan? Kamu dulu tidak membantuku merawat Ervan. Sekarang, kamu harus membantuku merawat cucu kita."


"Aku akan meminta pengasuh."


Aaaaa.....!! Mama menarik rambut suaminya.


"Buat sendiri, sekarang kamu harus menebus kesalahanmu dimasa lalu."


Akhirnya, malam itu Izzam membuat susu, mengganti popok dan menidurkan si kecil. Sedangkan istrinya, hanya menonton, bertolak pinggang sambil memerintah.


"Malam ini, si kecil akan tidur kembali bersama kalian atau berikan saja pada pengasuh."


"Tidak boleh," bantah Mama. "Cucu keduaku sedang dalam perjalanan. Si kecil akan tidur bersama kita selama seminggu."


Papa menatap anak dan menantunya, meminta bantuan dengan sorot mata mengiba.


"Ma." Ervan menatap ibunya. "Biarkan, si kecil tidur bersama kami. Kasihan, jika ia harus minum susu. Nanti, dia kembali tidur bersama kalian."


"Iya, Ma. Nanti Air susu Sarah, menggumpal. Sakit," timpal Sarah.


Mama tampak berpikir, masuk akal juga menurutnya. Ia akhirnya mengalah, dengan syarat, mereka harus bergantian tidur bersama si kecil.


Drama sarapan pagi, akhirnya selesai juga. Setelah, mengecup anak dan istrinya, Ervan masuk dalam mobil, bersama Tirta.


"Kau menciumnya?" Pertanyaan pertama yang didengar Ervan, saat mesin mobil baru saja dihidupkan.


"Itu hanya akting, kau tidak lihat, ayah dan ibuku, memperhatikan kami dari teras."


"Ohh, jadi kalian terus berakting sepanjang hari jika berada dirumah?" tanya Tirta lagi, saat mobil mulai meninggalkan gerbang rumah.


"Tirta, lama-kelamaan, kau sudah seperti Alan. Begitu penasaran, tentangku."


Tidak menjawab lagi, Tirta kembali fokus pada jalananan didepannya. Masih pagi, entah mengapa sudah semacet ini.


Hampir satu jam, mereka terjebak dijalan raya. Keduanya tiba di perusahaan. Berjalan tanpa menghiraukan para karyawan yang menyapa atau sekedar tersenyum.


"Apa jadwalku?"


Ervan membuka dokumen yang sudah berada diatas meja.


"Hari ini, kita akan rapat dengan para direktur dan dewan direksi, mengenai rencana ekspor kita keluar negeri."


"Hmm, baiklah." Menjawab tanpa mengangkat wajah. Kedua matanya, sibuk membaca dokumen didepannya.


Setelah selesai, mereka berjalan menuju ruang rapat yang sudah menunggu kedatangannya.


Cukup lama, pembahasan terjadi. Apalagi, tiap negara tujuan memiliki syarat tertentu tentang produk makanan ekspor.


Ervan kembali masuk dalam ruangannya dan tentu saja masih bersama Tirta. Di dalam ruangan, tampak Alan duduk diatas sofa, ditemani secangkir kopi yang masih beruap.


"Sedang apa, kamu disini, dokter Alan?"


Ervan duduk bergabung, begitu juga dengan Tirta yang selalu menempel padanya.


"Aku sedang bosan dan tidak tahu harus kemana. Jadi, aku datang mengunjungimu."


Alasan yang dibuat-buat, padahal raut wajahnya, sudah tertulis jika memiliki maksud tertentu.


"Aku sedang sibuk, jangan mengangguku."

__ADS_1


Ervan meminum kopi milik Alan, tanpa permisi. Sementara, si pemilik gelas kopi tidak peduli. Ia merapatkan tubuhnya, sambil tersenyum penuh arti.


"Apa terjadi sesuatu semalam?"


Dan benar saja, kalimat itu akhirnya keluar. Kalimat yang sudah diduga Ervan sebelumnya. Pria kesepian ini, ingin menggosipkan malam pertamanya.


"Kenapa kalian berdua sangat penasaran?"


"Tidak, kami tidak penasaran, hanya ingin tahu saja."


"Bukankah, itu sama saja."


Ervan menjauhkan posisi duduknya dari Alan.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakannya. Berarti, semalam memang terjadi sesuatu dan kamu malu mengakuinya, iya, kan?"


"Sesuatu apa? Tidak terjadi apa-apa. Kami hanya tidur."


Begitulah yang terjadi kata Ervan, walaupun sebenarnya banyak drama yang terjadi malam itu.


"Kalian hanya tidur? Dalam selimut yang sama? Aku tidak percaya jika kau tidak memeluknya."


"Aku juga tidak percaya," tambah Tirta. "pagi ini, dia mencium kening Tamara." Tirta menunjuk Keningnya.


Alan bersemangat, informasi yang sangat penting keluar dari mulut Tirta yang polos.


"Hahaha, kamu menciumnya. Berarti, semalam pasti terjadi sesuatu."


Ervan ternganga, tidak percaya. Kenapa ia harus memiliki teman penggosip. Jika dia wanita, mungkin wajar baginya. Tapi, didepannya, pria tulen yang mengaku playboy tapi, kesepian dan tidak laku.


Begitu juga dengan Tirta, yang sebenarnya polos tapi entah mengapa seperti tertular sifat dari Alan.


"Kami hanya pura-pura, karena disana ada ayah dan ibuku."


Alan tampak kecewa, lalu kembali bersemangat.


"Jika didalam kamar apa kalian masih berpura-pura?"


Alan mengangkat salah satu alisnya, menggoda Ervan untuk bicara jujur. Ia butuh jawaban, agar bisa menang taruhan dari Tirta.


"Alan, jangan memancingku. Aku muak melihat wajahmu. Dari pada, menggangguku, lebih baik kau pergi atau cari pacar sana."


Masih tidak mau mengaku, rupanya. Tidak, tidak boleh. Aku harus menang.


Ah, aku tahu!!


"Sepertinya Tamara membohongiku. Ya, sudah aku pergi."


Cepat panggil aku, cepat.


"Memangnya dia bilang apa?"


Alan tersenyum menang


Kena kau! Hahaha...


Tertawa dalam hati, tapi raut wajah tidak berubah. Sebisa mungkin, mempertahankan mimik wajahnya.


"Dia bilang, semalam kau mencumbunya. Memeluknya secara paksa."


"Apa?" Ervan membelalak, tidak terima. "Aku tidak mencumbunya. Aku memang memeluknya, tapi tidak sengaja. Karena aku sudah tertidur."

__ADS_1


Hahahaa, akhirnya mengaku juga. Meski, jawaban Ervan belum memuaskan Alan, tapi setidaknya sahabatnya perlahan ada kemajuan.


__ADS_2