CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 23 Pernikahan


__ADS_3

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, pernikahan Ervan dan Sarah yang diadakan dikediaman Izzam Anugrah. Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri kerabat dekat.


Pernikahan sederhana menurut orang tua Ervan, tapi bagi Sarah pernikahan ini terbilang mewah untuknya.


Dekorasi pelaminan didominasi bunga berwarna putih dengan kuntum besar. Jejeran kursi dengan warna yang sama, menambah kesan tersendiri. Suara alunan musik ikut, memeriahkan suasana.


Jantung Sarah sedikit berdebar, tatkala menatap pantulan dirinya pada cermin. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri, walaupun hanya sebatas ikatan kontrak belaka.


Menggunakan gaun pengantin berwarna putih, Sarah duduk disamping suaminya. Melirik sesaat, wajah tampan Ervan dengan balutan jas yang melekat ditubuhnya.


Setelah ijab kabul. Tidak ada rona bahagia di wajah kedua mempelai, seperti yang biasa terlihat pada pengantin umumnya.


Keduanya hanya saling melempar senyum dengan canggung. Ditambah dengan pikiran mereka yang berlabuh ditempat yang berbeda.


Setelah saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing, Ervan mendaratkan kecupan di dahi Sarah.


Cantik. Itulah kata yang keluar dari dalam hati Ervan. Memandang dengan intens mempelai wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.


"Ayo, saatnya menyambut tamu kita yang berada diluar."


Keduanya hanya mengangguk senyum. Saling menggenggam tangan dengan mesra, keduanya melangkah menuju pelaminan.


Bukankah hanya mengundang kerabat saja. Tapi, kenapa sebanyak ini.


Sarah menghentikkan langkahnya sesaat, mengedarkan pandangan pada tamu yang duduk menunggu kedatangan mereka.


"Ada apa?"


"Tidak ada. Aku hanya kaget melihat tamu sebanyak ini."


"Mereka semua keluargaku, meski ada beberapa kerabat jauh."


Melihat kedatangan pengantin, para tamu menjadi antusias. Ada yang mengabadikan lewat kamera ponsel mereka. Ada juga yang hanya tersenyum sambil bertepuk tangan.


Contohnya, kedua jomblo yang duduk dibelakang, jauh dari pandangan kedua mempelai. Biasanya, para tamu menghadiri pesta dengan menggandeng pasangan masing-masing. Tapi, tidak berlaku bagi keduanya.


Alan dan Tirta datang bersama, seperti pasangan. Duduk memojok berduaan sambil menikmati hidangan.


"Tirta," panggil Alan yang hanya dijawab dengan tatapan mata. "apa kau tidak memiliki pasangan untuk diajak?"


"Kau sendiri? Bukankah semalam kau yang memaksaku menemanimu?"


"Haah." Alan menghela napas. "Lihat, si brengsek itu. Diantara kita bertiga, dia seperti gunung everest dan sekarang sudah menikah mendahului kita berdua."


"Lebih baik dia cepat menikah, aku tidak mau menemaninya tidur seumur hidupku. Apalagi, ia memiliki banyak aturan, saat aku mau memejamkan mata."


"Hahahha ... Kau benar. Menurutmu apa yang akan terjadi padanya malam ini? Hihihi..."


Alan tergelak, berimajinasi dengan malam pertama Ervan.


"Dia tidak akan menyentuhnya," tukas Tirta.


"Tidak, aku yakin sesuatu pasti akan terjadi. Kau pikir pria dan wanita berada dalam satu selimut, tidak akan terjadi apa-apa."


"Itu jika mereka punya perasaan. Sementara yang di depan sana, kau tahu sendiri bagaimana."


"Tirta, kau harus belajar lebih giat. Meskipun tidak memiliki perasaan, kau pikir bisa tidur nyenyak, dengan adanya seseorang yang menggodamu diatas tempat tidur."

__ADS_1


Tirta berhenti mengunyah, pandangannya beralih pada sepasang mempelai yang tengah sibuk menyalami para tamu, dengan memasang senyum palsu di wajah mereka.


"Tidak, aku yakin si gunung es itu tidak tertarik padanya."


"Kau mau taruhan?"


"Taruhan?"


"Iya, jika aku menang, aku bisa meminta apapun padamu. Jika kau kalah, kau juga bisa meminta apapun padaku."


"Tidak, aku tidak mau. Bagaimana jika kau menang, lalu meminta apartemen dan mobil mewah."


PLAK, Alan menjitak kepala Tirta.


"Kau pikir aku rentenir atau perempuan matre."


"Baiklah, ayo taruhan. Aku yakin mereka tidak akan melakukan apa-apa."


"Kau yakin?" tanya Alan. Sebelum mengatakan pendapatnya. "kalau aku, mereka pasti akan melakukannya, meski bukan malam ini."


"Sepakat."


Keduanya saling bersalaman, sebagai tanda perjanjian yang sah.


Alunan musik semakin menambah kemeriahan, meski para tamu mulai meninggalkan tempat, satu persatu.


Sarah yang mulai terlihat lelah, mendekati putranya yang kini berada dalam pengawasan pengasuh.


"Apa dia menangis?" tanya Sarah, setelah memeluk si kecil.


"Tidak, Nona. Dia hanya sedikit rewel, karena meminta makanan."


Sarah mendaratkan kecupan, lalu melangkah menghampiri ibu mertuanya yang tengah asik bercengkrama dengan seseorang.


"Sarah," panggil mama. " kenalkan, ini saudara Mama."


Sarah mengulurkan tangan, setelah menyebut namanya.


"Bulan madu nanti, datanglah berkunjung ke rumah."


"Bulan madu?"


Sarah menatap ibu Ervan, dengan bingung.


"Iya sayang. Kalian akan bulan madu minggu depan. Mama sengaja tidak memberitahu, sebagai kejutan hadiah pernikahan."


Mama terkekeh, memperhatikan raut wajah menantunya.


"Memangnya, rumah Tante di mana?"


"Tante tinggal diluar negeri, setelah menikah. Karena, suami Tante orang asing. Lihat sana!"


Tante Mila, menunjuk seorang pria asing yang tengah duduk bersama ayah Ervan. Pria dengan perawakan tinggi dan berkulit putih.


"Kamu harus datang, Tante menunggu kalian."


"Iya, Tante terima kasih."

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Acara pernikahan telah lama usai satu jam yang lalu.


Sarah baru saja, membersihkan tubuhnya. Kini ia sekarang, berada di kamar Ervan.


"Kamu sudah mandi?"


"Iya." Sarah menjawab tanpa memandang wajah suaminya.


"Tunggu aku, kita keluar bersama menemui keluargaku."


"Baiklah."


Ervan melangkah masuk kamar mandi. Sementara, Sarah membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, memejamkan mata sesaat sambil menunggu suaminya selesai.


CEKLEK, pintu kamar mandi terbuka.


Hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Ervan berjalan dengan rambut yang masih basah dan aroma sampo yang menyeruak.


"Dia tidur?"


Menatap sang istri yang sudah terlelap, dengan posisi memeluk guling.


"Baiklah, kali ini aku membiarkanmu."


Ervan menggunakan kaos dan celana pendek, menutup pintu kamar dengan perlahan. Lalu, berjalan menuruni anak tangga.


Di ruang tengah, kedua orang tuanya duduk berdampingan di temani beberapa orang yang jarang berkunjung ke rumah mereka.


Saudara ibu yang tinggal diluar negeri dan sang paman, saudara ayah yang terlalu sibuk padahal mereka tinggal di kota yang sama.


"Mana istrimu ,Van?"


"Dia tertidur, Ma. Mungkin kelelahan."


"Ya, sudah biarkan saja."


Ervan mengambil posisi duduk, disamping ibunya.


"Paman tidak menyangka, rupanya kau sudah punya anak. Aku pikir, kamu tidak akan menikah, melihat sikapmu yang begitu dingin. Hahahaha...."


Suara tawa menggelegar memenuhi ruangan. Ervan hanya tersenyum kikuk.


"Anakmu baru berumur sepuluh bulan. Mungkin jika aku datang tahun depan, rumah ini akan dipenuhi tim keseblasan."


Kembali tertawa, begitu juga dengan orang tua Ervan.


Ya, ya, berimajinasilah kalian! Aku tidak akan menyentuhnya.


Ibu menepuk, paha putranya yang hanya tertegun.


"Ibu sudah memberitahu Sarah, tentang rencana bulan madu kalian di kanada."


"Kapan?"


"Minggu depan. Papa sudah mempersiapkan semuanya kalian bisa langsung berangkat."


"Baiklah."

__ADS_1


Aku harus mencari alasan agar tidak berangkat kesana.


__ADS_2