
Langit sudah menggelap, lampu-lampu jalanan sudah menerangi sisi jalan. Padatnya lalu lintas, menandakan mereka sudah memasuki perkotaan. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan, membuat Ervan terbangun.
"Sudah sampai?"
"Sebentar lagi."
"Ah, kenapa lama sekali? Aku merindukan istriku."
Cih, lihat pria tidak berperasaan itu! Bisa-bisanya memamerkan kegalauannya, dengan santainya. Dua pria jomblo yang berada bersamanya, hanya bisa mengumpat dalam hati.
Ervan meraih ponselnya, menelpon sang istri. Kata-kata manis dan suara manja, membuat Tirta dan Alan bergidik. Jika boleh, mereka ingin menurunkan pria yang tidak punya hati ini, dijalanan. Suara kecupan pada ponsel, membuat keduanya ingin muntah.
"Kalian iri, kan?" Dengan bangganya, ia menertawakan sahabatnya. "Makanya, cepat menikah sana."
Sok-sokkan pamer, padahal jika saja tidak bertemu Sarah, untuk nikah paksa. Ia pasti masih menjomblo, dengan naasnya.
Tirta membelokkan haluan, masuk dalam halaman rumah. Ervan sudah tidak sabar, dengan senyum, yang membuat dua sahabatnya ingin merobek wajahnya yang terkesan, menyindir mereka.
Di teras rumah, Sarah sudah menunggu. Ervan berlari keluar mobil. Dengan, tangan terentang ingin memeluk.
"Stop! Kamu bau, masuk mandi sana."
Ervan berhenti mendadak.
"Buahahahahaa....."
Alan dan Tirta sudah ingin pingsan, saking lucunya melihat wajah Ervan yang ditolak mentah-mentah. Ervan menatap mereka tajam. Dia malu, tapi tidak bisa membantah sang istri.
"Selamat malam, kakak ipar."
Kakak ipar? Ervan melotot. Kenapa mereka?
"Selamat malam, adik-adik," balas Sarah.
What??
"Kami, permisi untuk pulang."
"Kalian tidak masuk?"
"Tidak perlu, kakak ipar. Ini sudah malam."
"Sudah, sudah." Ervan menarik tangan istrinya. "Biarkan mereka pulang. Hush, hush." Mengibaskan tangannya, mengusir dua sahabatnya seperti kucing.
Mendapat perlakuan, seperti itu. Alan dan Tirta, justru ikut masuk rumah.
"Kenapa kalian masih disini?"
"Kami berubah pikiran."
Keduanya duduk diruang tengah, tanpa dipersilahkan. Disana ada, si kecil yang menghamburkan mainannya diatas karpet, ditemani pengasuh.
__ADS_1
"Babababa," celotehnya menyambut dua orang, yang sudah akrab dengannya.
"Van, mandi sana!" usir Sarah, karena sang suami ikut duduk bersama mereka.
"Tidak, aku mau disini."
"Mandi atau tidur sendiri!" ancam Sarah.
Dengan cepat, pria itu bangkit. Ia langsung beranjak pergi, memelototi Alan dan Tirta, yang menertawakannya, sebelum menghilang.
"Kalian pasti lelah. Silahkan minum!"
Diatas meja, pelayan sudah meletakkan dua cangkir teh dan beberapa potongan kue diatas piring.
"Terima kasih."
Mereka terdiam cukup lama. Bahkan, teh dalam cangkir sudah habis. Tirta masih mengajak si kecil bermain.
"Kakak ipar, apa boleh aku bertanya?" ragu Alan. Yang sebenarnya, dari tadi ingin membuka mulut.
"Ada apa?"
"Sebenarnya, wanita itu menyukai apa?" Alan lebih baik, menanyakan ini pada Sarah, daripada kedua sahabatnya. Sarah seorang wanita, pasti lebih paham.
"Kamu menyukai seseorang?"
"Iya. Tapi, tidak tahu mengapa, ia membenciku. Padahal kami baru bertemu dan sudah menatapku dengan sinis."
"Mungkin, dia mendengar sesuatu yang buruk tentangmu."
"Pertama, rubah sifatmu. Sifat humorismu pada semua orang, mungkin membuatnya muak. Kamu harus menjaga jarak, dengan wanita lain. Kedua, dekati dia, tanpa peduli dengan penolakannya. Kamu harus sering memberinya perhatian, meski perhatian kecil saja. Lebih bagus tiap hari dan tiap waktu. Kamu juga harus memberinya kejutan."
"Tapi, bagaimana jika ia menolak semua itu dan terus membenciku?"
"Adik ipar, dengarkan aku. Jika semua yang kamu lakukan membuatnya muak. Maka, tanpa sadar, ia akan membuka mulut dan mengatakan, kenapa ia membencimu."
"Benarkah? Lalu?"
"Lakukan itu, selama dua bulan. Setelah itu, berhentilah dan mulailah mengabaikannya."
"Kenapa?" Alan semakin penasaran, dengan ucapan Sarah.
"Kamu akan lihat sendiri nanti, bersabarlah."
Alan menghabiskan segelas air putih. Ia mendadak haus, karena merasa gugup. Ia tidak pernah memberi perhatian atau kejutan pada wanita manapun. Selama ini ia hanya menggombal, tapi untuk bersenang-senang, dalam artian, membuat mereka tertawa bersama. Semua perawat dan teman-temannya tahu, selama ini rayuannya hanya lelucon belaka.
"Ada lagi?" tanya Sarah, karena Alan hanya membisu.
"Aku bingung,.perhatian seperti apa yang diinginkan wanita?"
"Mudah saja. Cukup kirim pesan, tanyakan kabar dan ingatakan dia tentang makan, pekerjaan, apapun itu. Kejutannya, cukup berikan dia bunga atau barang yang disukainya. Tapi, jangan barang mahal, karena akan menganggapmu buaya. Aku menyarankanmu, membawakan bekal makanan. Tapi, jangan memberikannya langsung, cukup letakkan saja."
__ADS_1
"Waah, kakal ipar. Kamu sungguh hebat."
Keduanya menoleh, ternyata Tirta, yang sudah lama mendengarkan percakapan mereka.
"Shuuuttt." Alan menempelkan jarinya dibibir. "Ini rahasia kita, jangan sampai si gunung salju itu mengetahuinya."
"Baik, baik." Tirta ikut bergabung, padahal pembicaraan sudah hampir selesai.
"Kapan aku bisa mulai?" tanya Alan lagi, yang sudah tidak sabar.
"Malam ini. Kamu sudah bisa mengirim pesan basa-basi. Tapi, siapa wanita itu?"
"Dia rekan kerjaku. Tapi, baru bergabung di rumah sakit."
"Hooo, baguslah."
"Kalian sedang membicarakan apa?"
Ketiganya, menoleh. Ervan dengan wajah masam, menatap mereka. Pria itu, terlihat segar dengan rambutnya yang masih basah. Ia menarik tangan sang istri, untuk menjauh.
"Rambutmu, masih basah, sayang."
"Aku buru-buru." Menoleh dengan cepat. "Kenapa kalian masih disini? Pulang sana!" usirnya.
"Kami belum makan malam," jawab Alan, yang masih enggan untuk bangkit.
"Makan sendiri, dirumahmu. Sekarang, beras sedang mahal dan sembako juga harganya naik. Pulang sana!"
What?? Alasan macam apa itu? Seperti, emak-emak, yang terus memantau harga pangan. Lalu, pulang mengomel pada penghuni rumah.
"Nona, makan malam sudah siap." Pelayan menghampiri Sarah.
"Baik, terima kasih."
Tanpa peduli, mereka sudah duduk di meja makan. Mereka hanya berempat, karena orang tua Ervan sedang ada acara diluar.
Alan dan Tirta, sudah memindahkan lauk dipiring. Sementara, Ervan menunggu sang istri, mengambilkan untuknya.
Dasar manja! Ambil sendiri, kenapa?
Alan memutar bola matanya, pemandangan didepannya, membuat kedua matanya mendadak sakit. Acara suap-suapan, yang dilakukan pasangan ini, membuatnya ingin melempar piring.
"Aku lelah hari ini, sayang!" ujar Ervan, yang lalu membuka mulut untuk disuapi.
Lelah? Dasar pencari muka. Kerjanya hanya duduk, tidur, makan, suruh ini dan itu, sekarang bilang lelah. Aku yang menyetir tidak selelah, wajahnya sekarang.
Tuhan, bolehkah aku melemparkan piring diwajahnya? Kenapa sifat buruknya yang lalu, lebih nyaman dari pada saat ini?
Suara rengekkan, seperti bayi dan manjanya yang melebihi putranya, membuat Alan dan Tirta ingin muntah. Ervan sedang pamer kemesaraan. Tidak peduli, dengan mata sahabatnya, yang sudah ingin keluar dari tempatnya, saking lebarnya mata mereka melotot.
"Kau tidak lelah, seperti itu? Putramu saja makan sendiri dan kau minta disuap!"
__ADS_1
Alan yang muak, akhirnya buka suara. Bahkan, menunjuk si kecil yang sedang duduk, dengan nasi memenuhi wajahnya.
"Kau iri? Hahahaha, bilang saja, kau iri, kan?"