
Sore hari pukul empat, tiga orang pria berjalan menyusuri pusat perbelanjaan. Mereka sepakat, untuk membawa sesuatu yang disukai Sarah. Meski, tidak tahu benda apa itu, mereka hanya menerka dengan menggunakan insting.
"Apa tidak ada sesuatu yang terlintas di kepalamu tentang suatu benda yang disukainya?"
Ervan menghela napas, lalu menggeleng. Ia mana memperhatikan hal itu. Apalagi, ia tidak memiliki perasaan, untuk peduli hal semacam itu.
"Bagaimana dengan makanan atau kue?"
Tirta menunjuk sebuah restorant jepang.
"Entahlah, aku tidak tahu. Seingatku, di rumah ia tidak pilih-pilih makanan."
Mereka menghela napas bersama, merasa bingung dan kesal yang bercampur aduk. Jika wanita lain, mungkin mereka akan sepakat membawa perhiasan.
"Bagaimana jika kita mencari untuk putramu dulu?"
"Baiklah."
Mereka masuk dalam toko mainan. Lagi-lagi, ketiganya menghela napas. Memperhatikan banyaknya mainan, bukan bingung untuk memilih tapi, si kecil sudah memiliki jenis mainan yang sama.
Ketiganya keluar dengan tangan kosong. Berjalan tanpa mengatakan apa-apa.
"Kak Ervan."
Mereka menoleh ke sumber suara. Gadis dengan tinggi semampai, rambut hitam lurus dibawah bahu. Ia tersenyum sambil melangkah maju.
"Siapa?" Ervan bertanya sambil mengerutkan alis. Gadis yang menyapa seperti sangat mengenalnya, sementara ia tidak memilki bayangan apapun dalam ingatannya.
"Aku Clarissa, Kak. Masa Kak Ervan lupa."
"Clarissa?" Terdengar pernah mendengarnya entah dimana. Tapi, ia mengangkat bahu, tidak mengenalnya. Tirta maju selangkah, lalu berbisik.
"Aaa, Clarissa. Aku ingat sekarang!" Ervan melangkah pergi, tidak peduli dengan gadis yang sok akrab dengannya, padahal mereka cuma sekali bertemu.
"Kak Ervan, sedang apa disini?" Risa mengikuti langkah Ervan.
"Bukan urusanmu!"
Gadis itu tidak menyerah, ia masih terus berjalan mengikuti langkah tiga pria didepannya.
"Aku dengar Kak Ervan sudah menikah dengan cleaning servis."
Ervan berhenti mendadak, menatap Clarissa dengan tajam.
"Lalu?"
"Aku hanya merasa dia sangat beruntung bisa menikahi kakak." Risa membalas tatapan Ervan, tidak ada rasa takut. "Mama bilang, kalau istri Kakak pergi dari rumah. Apa itu benar?"
"Dengar, Clarissa. Kita tidak seakrab itu, untuk mengetahui kehidupannku. Bahkan, untuk saling menyapa."
__ADS_1
"Hahaha.... Kakak lucu sekali. Kenapa marah? Aku hanya bertanya dan jika kakak butuh bantuan aku bisa membantumu."
"Tidak perlu. Sekarang, pergilah. Jangan mengikutiku!"
Pergi! Tidak akan! Ini kesempatan bagus, untuk menaklukanmu.
Clarissa menyerigai licik, menatap Ervan yang sudah berjalan jauh darinya.
Waktu mereka sudah terbuang percuma, karena meladeni gadis itu. Hari sudah gelap dan ketiganya belum membeli apa-apa. Ketiganya sudah meluangkan waktu untuk mencari hadiah. Karena besok malam, mereka akan mengunjungi Sarah.
"Sekarang, bagaimana?"
Alan berhenti, duduk dibangku kayu, untuk mengistirahatkan kedua kakinya.
"Entahlah, aku bingung."
"Dari pada membeli hadiah, kenapa tidak mengajaknya makan malam atau kita bertiga menyiapkan makan malam di apartemen."
Ide briliant Tirta, meluncur begitu saja dari mulutnya. Padahal, ia hanya asal berbicara, karena sudah kelelahan mengelilingi semua toko.
Seketika Alan dan Ervan merangkulnya, tersenyum sambil menjitak kepalanya.
"Kau pintar sekarang!"
"Kalau begitu, kita berbelanja makanan besok sore, sebelum pergi."
"Sepakat."
Alan dan Tirta duduk bersebelahan, sedangkan Ervan duduk seorang diri. Mereka sibuk membaca buku menu makanan yang akan mereka pesan.
"Kak, aku gabung, yah!"
Tanpa menunggu ijin dari Ervan, Clarissa sudah duduk disampingnya.
"Pergi, aku tidak mengijinkanmu duduk disampingku."
"Kak, tolonglah. Sekali ini saja, aku takut, pria yang disana terus menatap dan mengikutiku."
Mereka menoleh ke arah yang ditunjukan Risa dengan sorot mata. Pria botak dan sudah berumur, menatap meja mereka.
"Ya, sudah. Duduk dan nikmati makananmu."
"Terima kasih, Kak."
Pelayan membawa pesanan makanan mereka.
Clarissa yang sudah memesan lebih dulu, menunggu mereka untuk makan bersama.
Ervan melahap makanannya tanpa menoleh atau menggubris gadis disampingnya. Clarissa yang dari tadi mengajaknya mengobrol, tidak menyerah, meski Ervan seperti tidak menganggapnya ada.
__ADS_1
"Kak, antar aku pulang, yah!"
"Kau punya mobil, jadi pulanglah sendiri."
"Tapi, Kak, ...."
Sorot mata Risa kembali menunjuk pria botak, yang seolah ikut menunggu mereka pergi.
"Tirta, Alan, kalian pulang duluan. Aku akan mengantarnya"
"Mana kunci mobilmu?"
Risa menyerahkan kunci pada Ervan, lalu masuk dalam mobil. Ervan menatap kedua sahabatnya, yang sudah pergi. Tanpa segaja, kedua maniknya menangkap pria botak yang ternyata masih mengikuti mereka sampai diparkiran.
"Kak, aku tinggal di apartemen, bukan di rumah papa."
"Hmm."
Sepanjang jalan, Clarissa menatap dengan intens pria disebelahnya. Begitu tampan dan sempurna, sayang jika hanya menatap tanpa menyentuhnya. Dan lebih disayangkan, jika hanya menjadi teman tanpa memilikinya.
Otak Clarissa mulai bekerja, rencana singkatnya mulai tersusun, sejak secara tidak sengaja bertemu Ervan. Pria yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Sosok Ervan menjadi tipe ideal baginya, tampan, kaya raya dan tentu saja posisinya bisa mengalahkan semua teman sosialitanya.
Mobil dibelakang mereka, masih terus mengikuti. Ervan berbelok, mobil itu mengikut. Ervan menambah kecepatan dan perlahan mobil itu mulai tidak terlihat.
"Turun."
"Kak, bisa temani aku. Tolonglah, sekali ini saja. Aku masih takut, pria itu sudah mengetahui tempat tinggalku dan sudah beberapa terus mengikutiku."
"Kau sudah tahu, tapi tidak memberitahu polisi atau orang tuamu."
"Aku sudah pernah melapor, tapi tidak cukup bukti untuk memenjarakannya. Aku mohon, cukup antar aku sampai didepan pintu saja."
Ervan membuang napas, kesal pada tingkah Clarissa. Gadis polos dengan wajah tidak berdosa. Ingin pergi begitu saja, nuraninya menentang keras, apalagi ia teringat akan perbuatannya ada Sarah dimasa lalu. Ia tidak ingin kejadian itu menimpa siapapun, termaksud Clarissa, meski mereka sama sekali tidak dekat.
"Ya, sudah."
Ervan turun lebih dulu, lalu disusul Clarissa. Gadis itu, ingin meraih tangan Ervan menggenggam seperti pasangan. Tapi, ia harus bersabar, karena tidak ingin Ervan membenci dan menjauhinya.
Baru saja mereka masuk lift, seseorang ikut masuk ke dalam. Pria botak beserta tiga temannya. Clarissa ketakutan dan bersembunyi dibelakang tubuh Ervan.
Mereka menekan lantai yang sama, lantai tujuh tempat apartemen Clarissa. Ervan masih bersikap tenang, karena keempat pria tersebut hanya terdiam, tidak melakukan apa-apa.
Pintu lift terbuka, keempat pria itu keluar lebih dulu, lalu disusul Ervan dan Clarissa. Entah mengapa, mereka menuju arah yang sama. Clarissa memegang tangan Ervan, bahkan dengan suasana yang begitu tepat, ia menempelkan tubuhnya.
"Kak, aku takut," bisiknya.
Ervan tidak menjawab, ia merasa risih dengan tubuh Clarissa yang menempel.
"Kak." Langkah Clarissa berhenti, tatkala menatap pria itu membuka pintu kamar apartemen yang tepat berada di depan apartemen miliknya.
__ADS_1
Sebelum menghilang dari balik pintu, pria itu mengedipkan mata lalu menyeringai dengan licik didepan mereka.