CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 51. Terpesona pada pandangan pertama


__ADS_3

Ervan dan dua sahabatnya, sudah dipersilahkan masuk dalam rumah. Ketiganya duduk diruang tamu, dengan posisi saling bersebelahan. Sementara, si pemilik rumah duduk dihadapan mereka.


Dokter Zia mengenal Tirta, karena pria itu sering terlihat bersama direktur rumah sakit. Sedangkan, Alan, jangan tanyakan lagi. Zia, bahkan tidak ingin menatap wajahnya.


"Anda siapa?" tanya dokter Zia, kepada Ervan. Karena diantara, mereka bertiga, dia terlihat sangat asing.


"Aku Ervandara Nugrah," balas Ervan dengan nada dingin dan wajah datar. Sifat aslinya hanya terlihat oleh sahabat dan sang istri. Untuk orang lain, sifat dan raut wajahnya akan berubah 180 derajat.


Zia tersentak, ia mengetahui nama itu. Pemilik gedung rumah sakit, tempatnya bekerja. Pria yang banyak dibicarakan, oleh para dokter wanita. Zia pikir, dia berwajah tua, tak disangka dia masih muda dan sangat tampan. Dingin, dan tak tersentuh. Tipe pria yang membuat para wanita bertekuk lutut padanya


"Maafkan, saya, Tuan. Saya tidak mengenali, Anda." Zia menundukkan kepala. Tapi, dalam hati mencoba mencerna situasi.


"Tidak apa."


"Dia lumayan," bisik Ervan pada Alan.


Alan yang biasa banyak bicara dan sering memberi solusi, lebih banyak diam. Ia hanya memperhatikan pujaan hatinya, dalam keheningan. Wajah cantik sesuai tipe idealnya, tidak menggubrisnya sama sekali. Ia seperti tidak terlihat, olehnya.


"Maaf, Tuan. Anda perlu apa, datang jauh ke tempat ini?" Zia mengangkat wajah, setelah berusaha menguasai diri. Pria didepannya, terlalu tampan dan sulit untuk tidak menatapnya.


"Jual rumah ini, kepadaku!" jawab Ervan dengan langsung, tanpa bertele-tele.


"Apa?" Kali ini, Zia justru menatap Alan, seolah meminta tolong padanya. Yang ditatap, tidak merespon, hanya membisu.


"Rumah ini adalah milik orang tua istriku. Aku ingin mengembalikan padanya. Aku harap, dokter Zia mau membantuku."


Zia bingung. Ia baru membeli rumah ini, dua bulan yang lalu. Ia juga baru menyelesaikan renovasi, jika dipikir ia baru tiga kali datang ke rumah ini. Selain itu, kalimat yang tertangkap dalam pikiran Zia. Rumah istriku. Ternyata, sang CEO sudah menikah. Entah mengapa, membuatnya sedikit kecewa.


"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu. Saya hanya membelinya, dari teman saya."


"Kalau boleh tahu, dokter Zia yang bekerja di kota, kenapa mau membeli rumah dipedesaan?"


Suara dingin, tapi membuat Zia terpesona.


"Saya menyukai ketenangan. Tuan."


Ervan menyerahkan semua pada Tirta. Ia tidak mau menghabiskan banyak waktu, karena sebentar lagi, langit mulai gelap. Ia merindukan istrinya. Ervan berjalan menuju teras, duduk disana, memperhatikan pemandangan.

__ADS_1


"Dokter Zia, seperti yang dikatakan tuan Ervan. Apa Anda bisa membantunya? Kami akan membeli harga tiga kali lipat."


Zia melirik teras rumah, berharap sang CEO, masuk kembali dalam rumah. Ia tidak menyadari, gerak-geriknya diperhatikan oleh Alan.


"Maaf, Tuan. Bisa beri saya waktu untuk berpikir? Saya baru membeli rumah ini. Bahkan, saya belum sebulan menempatinya."


Tirta tidak langsung menjawab. Ia keluar menemui Ervan, lalu kembali masuk.


"Dokter Zia. Kami memberikan waktu seminggu, semoga saat itu, Anda sudah mengambil keputusan."


"Terima kasih, Tuan. Bagaimana saya akan menghubungi Anda?"


"Katakan saja, pada Alan. Dia orang kepercayaan CEO."


Setelah, mengatakan itu, Tirta langsung keluar. Ia menemui Ervan, berbicara sebentar, lalu berjalan masuk mobil.


"Aku tidak menyangka, bisa melihatmu disini," ujar Alan, tapi hanya mendapatkan tatapan sinis dari Zia.


"Silahkan pergi, dokter Alan. Tidak ada yang perlu kita bicarakan."


"Dokter Alan. Aku mengenalmu dengan sangat baik. Wajah tampan dan rayuanmu, pada semua perawat dan dokter disana, tidak mampan padaku. Kau hanyalah bajingan yang menebar pesona dan mencampakkan setelah selesai."


"Apa maksudmu?" Alan emosi, tidak terima dengan ucapan Zia. Dia memang sering merayu dan menggombali mereka, tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Dia juga tidak pernah mengajak mereka untuk berkencan. Rayuannya hanya sebagai lelucon belaka.


"Sudahlah, dokter Alan. Silahkan pergi dan jangan menggangguku!" usir Zia. Bahkan, ia sudah bangkit berdiri diambang pintu.


"Sepertinya, ada kesalahpahaman." Alan keluar dari rumah. Berjalan lurus, tanpa menoleh kebelakang.


"Bagaimana? Apa sukses?" tanya Ervan yang dilanda penasaran, karena Alan begitu lama bertahan disana.


"Tidak. Dia membenciku, entah apa alasannya."


Tirta menyalakan mesin mobil. Mereka mulai bergerak, meninggalkan tempat ini. Apalagi, langit sudah mulai gelap.


Sementara, Zia sudah menutup pintu rumahnya. Membaringkan tubuhnya, sambil menerawang. Wajah tampan Ervan menghiasai pikirannya. Tersenyum malu-malu, membayangkan sesuatu yang tidak pantas.


Dia memang sudah menikah, tapi apa salahnya, jika ia mengaguminya. Sang CEO memang banyak dibicarakan, para dokter disana. Apalagi, salah satu dokter yang pernah menangani nyonya besar. Tak henti-hentinya, ia memuji dan membicarakannya, hingga membuat Zia penasaran.

__ADS_1


Hari ini, tak disangka, Ervan duduk dan berbicara dihadapannya. Dia memang sangat tampan. Sifatnya yang dingin dan cuek, menjadi nilai tersendiri bagi Zia. Pria yang tidak tersentuh dan sulit ditaklukan, adalah sebuah tantangan.


Zia mengambil ponselnya, menelpon saudara sepupunya yang seorang perawat. Dia adalah dulu perawat yang bekerja ditempat, Zia. Tapi, ia mengundurkan diri dan bekerja disebuah klinik.


"Halo, kak."


"Kamu sedang apa?"


"Tidak ada. Aku hanya sedang membereskan kamarku."


"Aku sudah bertemu dengan kekasihmu. Dia membuatku muak."


"Apa dia merayumu? Dokter Alan seorang playboy, kak. Jangan tergoda, olehnya."


"Siapa yang tergoda, aku masih waras. Dia memang bajingan. Dia mulai mengejarku."


"Kak," teriak gadis itu, dari balik telepon.


"Jangan khawatir, aku memiliki pria yang aku sukai. Dia lebih sempurna dan tentunya lebih baik darinya."


"Siapa?"


"Nanti saja, jika kami sudah jadian. Sudah dulu, aku mau membereskan pakaianku."


Sambungan terputus. Ia kembali membaringkan tubuhnya. Wajah Ervan menari-nari diatas kepalanya. Entah mengapa, pria itu membekas dalam pikirannya, padahal mereka baru bertemu.


Zia menggelengkan kepalanya. Menghalau pikiran yang bisa membuatnya, menjadi orang ketiga.


Jangan bodoh, Zia. Dia sudah menikah! Hati Zia memperingatkan.


Apa salahnya? Di tampan dan sempurna. Dekati dia, jika dia tidak menolak. Itu kesempatan, untukmu. Sisi hati Zia, yang lain, ikut berbisik.


Diperjalanan pulang. Ervan duduk bersandar dengan mata terpejam. Ia kelelahan, hingga memilih untuk tidur. Tirta masih fokus dengan jalanan didepannya. Sementara Alan, masih tenggelam dalam pikirannya.


Ia masih mengingat ucapan Zia padanya. Ia bingung, kenapa wanita itu membencinya. Mereka baru bertemu. Bahkan Alan, yang belum sempat berkenalan padanya, sudah mendapat tatapan sinis. Wanita itu, mengibarkan bendera perang, tanpa tahu apa sebabnya.


Selain itu, Alan juga teringat sikap Zia pada Ervan. Wanita itu, terus menatap sahabatnya. Seolah mencari perhatian.

__ADS_1


__ADS_2