CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 6 Gara-gara Tirta


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, samar-samar Ervan mendengar tangisan bayi yang begitu lirih. Ia membalikkan tubuhnya, tapi tangis bayi itu semakin mengganggu tidurnya. Perlahan ia membuka matanya yang masih terasa berat.


“Sial! Anak siapa itu?” Ervan kembali mengubah posisi tidurnya, lalu berteriak dengan kerasnya. “Bik Inah, suruh anak itu diam!”


Tidak ada jawaban yang terdengar di telinga Ervan, yang ada hanyalah tangisan bayi yang seakan memecahkan gendang telinganya. Ervan bangkit dari posisinya dengan perasaan marah, ia hendak mencari asal suara itu, yang ternyata berada tepat disampingnya.


“Anak siapa ini? Siapa yang menaruhnya disini?” ucap Ervan yang belum sepenuhnya mengumpulkan kesadarannya.


Ervan mengedarkan pandangannya, mencari orang tua anak itu, sedetik kemudian ia tersadar akan keberadaannya. Ia mengusap wajahnya, lalu tersenyum sekilas menertawakan kebodohannya. Lalu mengambil anak itu, membawa dalam pelukannya dan mencoba menenangkannya walaupun tidak berhasil.


“Apa kamu lapar? Mari kita, bangunkan paman-pamanmu!” Ervan memajukan langkahnya, mendekati dua pria yang masih tertidur pulas, meski dalam posisi terlihat tidak nyaman.


“Bangun!” Ervan menendang kaki Alan.


“Apa? Kenapa?” ucap Alan yang sebagian nyawanya masih berada dalam mimpi.


“Dia lapar.”


“Siapa?”


“Anak ini lapar, cepat lakukan sesuatu!”


“Anak? Kau sudah punya anak?” tanya Alan lagi, yang membuat Ervan mendaratkan pukulan diatas kepalanya.


“Auch,” rintih Alan.


“Kau sudah sadar?”


Alan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat, agar Ervan membiarkannya sejenak mengumpulkan nyawanya. Ia lalu perlahan merenggangkan tubuhnya, seolah mengisi energi agar segera tersadar dari mimpinya. Setelah merasa baik, Alan mengguncang tubuh Tirta dengan perlahan sambil menyebut namanya.


“Tir, Tirta, bangun!” Tidak ada reaksi, Alan kembali mengguncang tubuh Tirta dengan kuat. Lalu, berteriak keras disamping telinganya.


“Tirta, banguunn.”


“APAAAAA??” jawab Tirta dengan suara yang tidak kalah nyaringnya, bahkan memenuhi ruangan.


PLAK, PLAK,


Dua pukulan beruntun mendarat diatas kepalanya, membuatnya tersadar secepat kilat. Tirta mengelus kepalanya, sambil meringis kesakitan. Ia menengadahkan kepalanya, melihat dua pria di hadapannya, masih menatapnya dengan mata melotot.


“Maaf,”


“Alan buatkan dia susu dan kamu Tirta, carikan dia popok dalam tas ibunya,” perintah Ervan setelah melihat kedua sahabatnya sadar sepenuhnya.


Tirta mengaduk isi tas, mengeluarkan kaleng susu dan botol susu, lalu menyerahkannya pada Alan. Tirta lalu kembali, mengambil popok dan memberikannya pada Ervan.

__ADS_1


“Kamu yang mengganti popoknya.”


“Aku? Kenapa harus aku?” protes Tirta.


“Karena aku, bosnya.” Jawaban singkat yang membuat Tirta terdiam seribu bahasa.


Ervan membaringkan anak itu diatas sofa dalam keadaan masih menangis. Tirta membuka celana anak itu, hingga popoknya terlihat. Tirta kebingungan, ia beberapa kali membalik tubuh anak itu, lalu kembali mengatur posisinya.


“Sebenarnya, kamu mencari apa?” geram Ervan.


“Aku tidak mencari apa-apa, aku hanya bingung, bagaimana cara membuka popok ini,” jawab Tirta dengan polosnya.


“Kau tidak liat, model popoknya mirip celana. Kau tinggal menurunkannya. Apa kau tidak pernah menjadi bayi?”


“Ah, baiklah. Aku mengerti,” jawab Tirta, mengabaikan kalimat terakhir Ervan kepadanya. Ia lalu perlahan menurunkan popok bayi. Tapi, baru saja menyentuh popoknya. Tirta kembali menoleh ke arah Ervan.


“Tapi, bagaimana jika PUPnya berserakan?”


“PUP? Maksudmu itu?”


Tirta mengangguk, membuat Ervan kembali berpikir. Ia lalu memalingkan wajahnya kepada Alan, hendak meminta bantuan. Tapi, sepertinya pria itu memiliki kesulitan sendiri, karena ia terlihat sibuk membaca tulisan pada kaleng susu. Ervan kembali menatap popok celana itu, yang seperti kotak besi yang penuh dengan kata sandi yang susah untuk dipecahkan.


“Pak.”


Samar-samar terdengar suara serak wanita memanggil mereka dengan lembut tapi setengah berbisik. Sekujur tubuh Tirta tiba-tiba merinding, ia menoleh kepada Ervan mencoba memastikan pendengarannya. Tapi, tampak wajah Ervan biasa saja, seperti tidak mendengar apa-apa.


“Pak.”


“HANTUUU.....,” teriak Tirta dengan histeris.


“Apa? Mana?” panik keduanya.


Ervan dan Alan tersentak. Ervan kelimpungan karena panik, tidak sadar menggendong anak itu, seperti hendak berlari menyelamatkan diri. Sedangkan, Alan menjatuhkan kaleng susu, hingga mengenai ujung jari kakinya. Apalagi, Alan hanya menggunakan alas kaki sendal..


“I ... itu,” tunjuk Tirta ke arah ranjang pasien.


Ervan dan Alan menoleh bersama ke arah yang di maksud Tirta. Wanita dengan rambut tergerai panjang dan acak– acakan sebagian menutupi wajahnya. Wanita itu menunduk, lalu menyelipkan rambutnya dibelakang telinga. Ia perlahan mengangkat wajahnya, membalas tatapan tiga pria dihadapannya.


“Maafkan saya, Pak." Wanita itu menunduk.


Ervan dan Alan tidak menjawab, mereka hanya kembali menatap Tirta denganl melotot karena keduanya merasa malu. Tirta hanya terkekeh, lalu menutup mulutnya.


“Maaf, aku pikir hantu.”


Sarah merapikan rambutnya yang berantakan, mengikatnya dengan asal, ke belakang. Lalu, kembali menatap mereka. Ia terbangun setelah mendengar suara, seperti seseorang yang sedang berdebat satu sama lain. Sempat kebingungan tentang keberadaannya, ia tersadar setelah melihat sekretaris dan atasannya sedang berusaha mengganti popok bayinya. Ia merasa tak enak hati, merepotkan dua orang yang paling disegani di perusahaan tempatnya bekerja.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Bisa berikan anak saya, biar saya mengganti popoknya.”


“Oh, baiklah.” Ervan memberikan anak itu pada ibunya, di susul Tirta yang memberikan popok ganti.


Kedua pria itu dengan cermat, memperhatikan sarah mengganti popok anaknya. Seperti seorang ibu, yang memberikan contoh kepada putranya cara mengganti popok kepada cucunya. Melihat itu, Alan tersenyum geli, karena pikiran itu terlintas dalam kepalanya.


“Oh, seperti ini caranya membuka popok,” ucap Tirta tanpa sadar, membuat Sarah menahan tawa.


Setelah mengganti popok, anak itu mulai berhenti dari tangisnya, meski belum sepenuhnya. Sarah berniat memberikan ASI, karena putranya pasti kelaparan karena belum memberikan ASI dari semalam. Tapi, ia bingung dan merasa segan untuk mengeluarkan suaranya. Apalagi CEO perusahaannya terkenal dengan sifat dingin dan tempramen.


“Ma ... maaf, Pak. Saya mau memberinya ASI,” ujar Sarah memeranikan diri tanpa berani menatap wajah dua pria disampingnya.


Tirta tidak menjawab, dengan cepat ia langsung melangkah pergi, meninggalkan Ervan yang masih berdiri tegak. Sarah mengangkat wajahnya, menatap Ervan, yang tak kunjung beranjak dari tempatnya. Ingin kembali bersuara, tapi merasa takut, ia pun beralih menatap Alan, yang pada saat itu tengah menatap ke arah mereka. Sarah meminta tolong dengan menunjukkan raut wajahnya yang kebingungan. Mengerti hal itu, Alan langsung menarik lengan Ervan untuk meninggalkan tempat itu.


“Apa?” tanya Ervan yang tidak mengerti karena Alan menarik tangannya tiba-tiba.


“Kau tidak dengar, dia mau memberikan ASI untuk anaknya?”


“Terus kenapa? Berikan saja.”


“Kau ini bodoh atau tidak waras, bagaimana mungkin ia memberikan ASI jika kau terus berada di dekatnya?”


“Memangnya kenapa, jika aku di sana? Bukankah hanya meminum susu saja?”


“Ap ... apa? Waaahh, aku bisa gila menghadapi pria bodoh sepertimu.” Alan bertolak pinggang. “Apa kau suaminya? Atau kau tidak pernah meminum susu dari ibumu?”


“Maksudmu ...?” Menjeda kalimatnya, saat dalam pikirannya terlintas sesuatu. “Ah, sial.”


Ervan melangkah cepat meninggalkan ruangan itu dengan wajah memerah, disusul Alan yang menahan tawanya. Di depan pintu kamar, Tirta sedang menunggu kedatangan mereka. Alan merangkul bahu Tirta sambil tergelak.


“Tirta, hahaha... Apa kamu tahu, Ervan mau melihat anak itu meminum susu dari ibunya?” Alan tergelak.


“Hahaha...., pantas saja dia tidak mau bergerak saat aku pergi. Rupanya, dia penasaran. Hahahaha...,” imbuh Tirta dengan gelak tawa yang membuat air matanya keluar.


Ervan menatap keduanya dengan kesal, lalu beranjak pergi. Ervan menyusuri lorong rumah sakit, tidak ada siapapun sepanjang kakinya melangkah. Hanya terdengar langkah kaki dan kedua temannya yang menyusul dari belakang sambil menertawakannya.


“Sudah puas?” tanya Ervan setelah tiba halaman depan rumah sakit, mengambil posisi duduk di bangku kayu.


“Jangan marah, Van. Kami merasa, kau itu sangat unik. Mau mengajak wanita itu menikah, tapi tidak tahu apa-apa tentang wanita,” ledek Alan.


“Sudah, hentikan!” ucap Ervan, “besok, aku akan membuat wanita itu menikahiku.”


“Hah? Secepat itu?” tanya alan


“Bukankah kamu terlalu terburu-buru?” tambah Tirta.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, dengan acara perkenalan dan berkencan. Ikatan kami hanya kontrak, tidak lebih.”


__ADS_2