CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 35 Suasana menakutkan


__ADS_3

Di perusahaan, Ervan berjalan bersama Tirta dibelakangnya.


Hari ini, dia sangat menakutkan. Tirta bergumam sambil kedua kakinya terus melangkah. Sejak menjemput Ervan di rumah, pria itu sama sekali tidak bersuara. Hanya terdengar suara pintu yang dbanting dengan keras, hingga mobil ikut bergetar. Lebih baik, ia berteriak setiap hari, dari pada membisu seperti ini. Tirta hanya bisa melirik Ervan, saat mereka sudah didalam lift.


Lift terbuka, mereka melangkah bersama masuk dalam ruangan. Saat Ervan duduk di kursinya, Tirta mulai membacakan jadwal hari ini.


Kenapa tidak menjawab, paling tidak katakan sesuatu. Tirta menatap wajah Ervan. Atau bicaralah dengan kata favoritmu, meskipun hanya hemm. Tirta kesal sendiri dengan Ervan yang terus menutup mulut, hingga membuat suasana seperti mencekam.


Pria itu, tidak mengangguk untuk mengiyakan tidak juga menggelengkan kepala. Ia hanya menatap lurus, Tirta sampai merinding. Karena, tidak dapat membaca mimik wajah Ervan saat ini, hanya ada satu kalimat yang terucap dalam hatinya, siapapun bantu aku keluar dari ruangan ini.


Ingin rasanya ia menangis, karena tidak tahu harus berbuat apa. Serba salah, semua hal dalam pikirannya. Ingin keluar, pasti salah. Tapi, jika ia berdiam diri saja, sepertinya lebih salah.


Paling tidak, katakan sesuatu. Aku tidak mengerti tatapan matamu saat ini. Begitulah, kalimat yang ingin keluar dari mulut Tirta.


Hampir setengah jam berlalu, Ervan masih membisu dengan mata terpejam. Bersandar diatas kursi, tanpa mempedulikan Tirta yang masih menunggu perintah.


Ah, pada akhirnya aku harus mengalah dengan membuka mulutku.


"Van, rapat segera dimulai."


Tidak ada jawaban, ia hanya mengubah posisi dengan melipat kedua tangannya di dada.


Tirta menghela napas panjang, entah apa maunya! Pikir Tirta.


"Ya, sudah. Aku akan membatalkannya."


Tirta keluar dari ruangan, tepat didepan pintu, ia bertemu sekretaris presdir yang hendak masuk dalam ruangan CEO.


"Tuan muda, bagaimana?"


Lagi-lagi, Tirta menghela napas panjang, sebelum menjawab.


"Dia terus membisu. Rapat hari ini, akan dibatalkan."


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Daniel mengetuk pintu, sebelum melangkah masuk.


Dilihatnya, Ervan duduk bersandar, mata terpejam, seolah tidak memiliki semangat hidup.


"Tuan muda."


Daniel menyapa, tapi masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada jawaban, bahkan tidak ada gerakan sekalipun.


"Saya sudah menemukan, nona Sarah."


Ia membuka mata, sontak bangkit mendekati Daniel.


"Katakan, dimana? Aku akan menemuinya."


"Di apartemen, yang diberikan presdir sebagai hadiah pernikahan. Tuan muda, tunggu!"


Daniel mencegat langkah Ervan yang langsung melesat pergi.

__ADS_1


"Ada apa? Aku harus menemuinya."


"Tuan muda, silahkan duduk dulu. Ada beberapa hal yang harus Anda ketahui."


Ervan menurut, meski sudah tidak sabar.


"Sebaiknya, Anda jangan bertemu dia sekarang. Nona Sarah meminta waktu untuk berpikir. Anda tahu betul, apa yang sudah dialaminya."


Ervan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tersadar, karena tidak tahu bagaimana menghadapi wanita itu. Begitu, banyak kesalahan yang dia lakukan dan permintaan maaf tidak akan cukup, melupakan semua kesalahannya.


"Tapi, bagaimana jika ia pergi lagi?"


"Tuan muda tidak usah khawatir. Saya mengirim cukup banyak pengawal, untuk menjaga dan memantau mereka. Presdir berpesan, sebaiknya Anda mulai memikirkan bagaimana membangun kembali hubungan kalian."


"Terima kasih. Aku mengerti."


Daniel menundukkan kepala, sebelum melangkah pergi.


Ervan mondar-mandir dalam ruangan, bertolak pinggang, sesekali berteriak frustasi. Ia meraih ponselnya.


"Ke ruanganku, sekarang!"


Kembali, melakukan hal yang sama. Pikirannya serasa penuh sesak, dengan berbagai pertanyaan di kepalanya. Apa yang harus aku katakan? Apa aku langsung meminta maaf? Ah, tidak! Itu terlalu canggung. Apa aku membawa makanan kesukaannya? Ah, sial. Aku tidak tahu apa yang disukainya.


"Ada apa ka ...." Ervan langsung menarik tangannya, "Hei, kita mau kemana?" Langkah Tirta terseret, menuju parkiran.


"Kita akan kemana?"


"Turun!"


"Hah?"


Tirta masih bingung, ia diseret menuju tempat ini. Sekarang, pria yang menyeretnya tanpa dosa memintanya turun.


Ervan sudah menarik Tirta, keluar dari mobil. Ia duduk dibalik kemudi.


"Naik."


Tirta menghela napas, jika hanya hanya ingin berganti posisi, kenapa tidak mengatakannya dengan jelas.


Mobil sudah melaju dengan kencang, Tirta sampai menutup mata dan berdoa dalam hati. Jika ingin mati, kenapa harus mengajakku. Apa didalam kubur, kamu ingin mengobrol denganku. Tirta kesal sendiri, tapi tidak punya keberanian untuk membuka mulut.


Mobil sudah berhenti, Tirta membuka mata beriringan dengan hembusan nafas kelegaan.


"Ini, dimana?"


Tirta yang hanya menutup mata sepanjang jalan, kebingungan dengan keberadaanya sekarang. Sementara, Ervan sudah berjalan pergi meninggalkannya.


"Hei, tunggu!"


Tirta mengejar, saat Ervan masuk dalam lift.


Mereka sudah tiba, Tirta masih menoleh kiri kanan. Seperti tidak asing dengan apartemen ini.

__ADS_1


Ah, pantas saja. Aku merasa tidak asing.


Tirta akhirnya sadar, setelah melihat Alan membuka pintu apartemennya.


Si bodoh ini, apa susahnya bicara. Ia masih kesal dengan Ervan yang seharian terus membisu.


Mereka sudah duduk di sofa, Alan juga sudah menyiapkan botol soda dan cemilan diatas meja. Ia sudah tahu, suasana hati Ervan sedang tidak bagus. Jadi, ia memilih menunggunya untuk membuka mulut dan mengatakan niatnya kemari.


"Bantu aku!"


Dua kata, akhirnya keluar juga.


"Bantu apa?"


"Daniel sudah menemukan Sarah. Aku ingin menemuinya, tapi tidak tahu, harus mengatakan apa padanya."


Sudah satu kalimat yang terucap. Alan dan Tirta menghela napas lega. Keduanya, berpkir Ervan akan terus membisu sampai wanita itu kembali.


"Sebaiknya, biarkan dia menenangkan diri dulu dalam sehari. Setelah, itu kamu boleh pergi."


"Lalu, apa yang harus aku katakan. Aku ingin meminta maaf, tapi aku yakin tidak semudah itu."


Alan membuka botol soda, memberikannya pada Ervan. Sepertinya, pembicaraan mereka, akan sangat panjang dan tak berujung.


"Kamu harus tetap meminta maaf. Apapun yang dikatakannya, cukup dengarkan. Ia akan mengeluarkan semua kesedihan kekecewaanya, dihadapannmu."


"Lalu?"


"Jangan menyela, biarkan dia mengeluarkan semua bebannya, sekalipun ia memakimu." Alan meneguk sodanya. "Setelah itu, peluk dia. Aku yakin dia akan membalasnya dan menangis."


"Wow, sangat dramatis!" sela Tirta, yang mendapatkan tatapan melotot dari keduanya.


"Tapi, bagaimana jika ia tidak membuka pintu?"


Alan berpikir. Benar juga, hal pertama yang seharusnya mereka bahas, adalah bagaimana jika Sarah mengusirnya sebelum masuk rumah.


"Kalau begitu, kami akan ikut bersamamu. Aku akan membujuknya."


"Jika ia masih menolak?"


"Dobrak saja pintunya!" Lagi-lagi, Tirta menyela.


Alan dan Ervan mengabaikannya, Tirta si polos yang tidak mengerti apa-apa, selain bekerja.


"Kita pergi besok malam. Ingat, malam!"


"Kenapa?"


Ervan kebingungan dengan waktu yang ditentukan Alan.


"Karena malam adalah suasana yang begitu romantis."


Tirta menjawab, dengan suasana malam dan terangnya bulan dalam imajinasinya.

__ADS_1


__ADS_2