CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 16 Rumah baru


__ADS_3

Papa masih terus menemani istrinya di rumah sakit. Wanita yang sudah setengah abad itu, sudah membaik tapi dokter belum mengizinkannya pulang. Setelah terbangun, ia terus mencari Ervan meminta penjelasan, tapi putranya tidak pernah menunjukkan batang hidungnya.


“Apa papa yang melarang Ervan kemari? Mama ingin bertanya, Pa.”


“Ma, kita tidak perlu bertanya lagi kepadanya. Ia menceritakan kejadian itu pada sahabatnya, tapi tidak dengan kita. Itu artinya, ia mengkhawatirkan keadaan Mama. Meskipun, kita memaksanya untuk jujur, ia tidak akan menceritakan keseluruhannya.”


“Jadi, kita harus bagaimana, Pa?” Menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


“Papa, sudah meminta Daniel mencari tahu. Sekarang, mama istirahat.” Membelai kepala istrinya dengan lembut.


Di kamar lainnya, Tirta duduk dihadapan Sarah dengan selembar kertas bermaterai di atas meja. Sarah belum juga menandatanganinya, ia masih membaca isi perjanjian itu dengan cermat.


“Maaf, Pak sekretaris, saya tidak membutuhkan tawaran yang diberikan Pak Ervan, saya hanya akan mengajukan satu syarat.”


“Apa itu?” penasaran melanda jiwa, padahal dalam surat perjanjian pihak Sarah sangat diuntungkan.


“Saya ingin Pak Ervan mengakui putra saya sebagai anaknya, secara hukum, meski kontrak kami berakhir.”


Aku pikir Cuma Ervan yang gila, ternyata calon istrinya lebih tidak waras.


“Baik, saya akan menyampaikannya. Ada lagi?”


“Itu saja, setelah siap saya akan menandatanganinya.”


“Baiklah, Nona Tamara. Kalau begitu saya permisi.” Mengambil kembali surat perjanjian,memasukkannya dalam tas, lalu berjalan hingga menghilang dibalik pintu.


Setelah, Tirta pergi. Sarah menyandarkan bahunya, mengingat kembali isi perjanjian yang memang menguntungkan baginya. Kompensasi, biaya hidup, rumah dan modal usaha, tapi bukan itu yang membuatnya tertarik. Ia hanya butuh dokumen yang sah, akta lahir putranya, yang menyatakan Ervan sebagai ayahnya. Dengan itu, ia bisa


langsung pergi tanpa memikirkan status anaknya kelak.


Pintu ruangannya kembali diketuk, menoleh, saat dokter yang merawat putranya masuk bersama dua orang perawat dan seseorang yang sering mengunjunginya, padahal mereka tidak memilki hubungan, dokter Alan.


Dokter anak, memasang stetoskop di perut putranya. “Apa dia masih muntah semalam?”


“Tidak lagi, dok.” Sarah memperhatikan gerakan dokter.


“Ia bisa pulang hari ini, saya sudah meresepkan untuk obatnya di rumah. Silahkan tebus di apotik.” Kembali menggantungkan stetoskopnya, lalu menatap dokter Alan yang hanya memakai kaos karena tidak bertugas hari ini. “Apa dia istrimu, dokter Alan?”


“Tidak, mana mungkin. Dia kerabatku, aku diminta mengantarnya pulang.” Alan menggerakkan kedua tangannya.


“Hahaha, aku pikir dia istrimu. Baiklah, aku pergi dulu.”


Sarah mulai membereskan barangnya, sedangkan Alan, menemani seorang perawat membuka jarum infus Ersan yang masih tertidur.

__ADS_1


“Apa sudah siap? Aku akan mengantarmu pulang ke rumah.” Mendekat setelah, perawat itu menyelesaikan tugasnya.


“Rumah siapa, dokter?” Sarah kembali bertanya, dengan menatap Alan.


“Apa Tirta tidak memberitahumu? Mulai hari ini, kamu akan tinggal di perumahan yang sudah disiapkan Ervan dan tentu saja itu atas namamu.”


“Tapi, barang-barang saya, masih berada dikontrakkan.”


“Kamu tidak perlu memikirkannya, Tirta sudah mengatur semuanya.”


Alan Meraih tas, lalu berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Sarah yang harus menggendong putranya. Di depan pintu ruangan, Alan menghentikkan langkahnya, membuka pintu perlahan, melongokkan kepalanya. Mengintip, itulah yang dilakukannya sekarang.


Merasa aman, ia mengendap-mengedap, ingin rasanya memiliki ilmu peringan tubuh, agar langkah kakinya tidak terdengar. Dengan degup jantung yang tidak karuan, ia terus melangkah sambil menoleh kanan kiri, seperti seorang pencuri yang berusaha kabur.


“Sebenarnya, apa yang sedang dilakukannya?” Gumam Sarah, melihat Alan yang berjalan didepannya, seperti tidak ingin terlihat oleh seseorang.


Tiba di parkiran, Alan mempercepat langkahnya menuju mobil. Haaa, akhirnya! Gumamnya merasa lega setelah berhasil masuk mobil dengan selamat. Di sebelahnya, Sarah menyusul masuk dengan putranya yang sudah terbangun.


“Maaf, dokter saya belum mengambil obat di apotik. Bisa tunggu sebentar?”


“Baiklah, berikan dia padaku. Aku akan menjaganya.” Meraih Ersan, mendudukannya dalam pangkuan.


“Terima kasih, dokter.” Sarah membuka pintu mobil dan melangkah pergi.


“Tunggu, kau mau menangis?” Mengangkat dan mendudukannya di kursi sebelah. “Jangan lakukan, batalkan niatmu itu.”


“Huuuuaaaa.... Mamama,” tangisnya dengan melihat ke arah luar.


“Tunggu sebentar.”  Menepuk kedua tangannya, hingga Ersan menatap arahnya. “Ambil ini.” Memberikan uang seratus ribuan. Tapi, sayangnya, anak itu masih terus menangis. “Kau tidak menyukai uang? Atau kamu merasa kurang?” Kembali menambahkan.


Ersan terdiam, memegang uang kertas seratus ribuan dua lembar, ia menatap Alan dengan air mata yang membasahi pipinya.


“Kenapa menatapku? Kau tersinggung?


Obrolan mereka terhenti saat pintu mobil terbuka, Ersan memeluk ibunya dengan tersenyum, lalu menoleh menatap Alan seolah sedang mengadu akan perbuatan dokter itu padanya.


“Terimakasih, dokter sudah menjaganya.”


“Tidak apa-apa. Kita berangkat sekarang.”


Mobil mereka memasuki kawasan perumahan elit, di pintu gerbang masuk, mobil terhenti sejenak, memperlihatkan kartu akses masuk, lalu kembali berkendara. Tak lama. Alan memasuki halaman rumah yang berlantai dua. Sarah menatap takjub, saat kedua kakinya berpijak diatas rerumputan.


Alan mengajak masuk, setelah mengambil barang dari mobil. Membuka pintu rumah, memperlihatkan kemewahan di dalamnya. Cat rumah yang didominasi warna putih, sofa berwarna abu-abu tampak serasi dengan lampu yang menggantung berwarna senada.

__ADS_1


“Kamu bisa memilih kamar yang kamu mau. Tapi, Ervan berpesan agar kamu memilih lantai satu. Cukup berbahaya, jika kalian tinggal dilantai dua.”


Sarah mendengarkan, sambil berkeliling. Ia mendudukkan Ersan di karpet, dengan sebuah TV berlayar besar di depannya. Ia kembali berkeliling, kali ini menuju dapur yang merupakan tempat penting baginya.


“Besok, pelayan rumah akan datang membantumu dan malam ini, Ervan akan datang.” Mendengar nama pria itu disebut, Sarah menghentikkan langkahnya menoleh pada Alan yang berdiri dibelakang.


“Ap ... apa dia akan tinggal bersama kami? Terbata karena pikirannya langsung tertuju pada pernikahan.


“Kalian memang akan tinggal bersama. Tapi, sepertinya tidak di rumah ini.”


“Maksud dokter?”


“Kamu bisa menanyakannya sendiri. Sekarang, aku harus pergi. Berkelilinglah.”


Alan Berjalan pergi, tapi langkahnya menghampiri Ersan yang sedang duduk bermain dengan sebuah bola golf, yang entah dimana ia mendapatkannya..


“Hei, urusan kita belum selesai, kamu memiliki utang 200 ribu padaku. Kapan kamu akan membayarnya?” Alan berbaring, agar anak itu dapat melihat wajahnya.


BUGH


“Aaaaa ....” Alan terbangun setelah bola golf mendarat di atas matanya. Perih, Alan mengedipkan kedua matanya beberapa kali


“Kau dendam padaku?” Alan duduk berhadapan dengan satu tangan menutup matanya. “Apa kau benar-benar tersinggung?"


Ersan tertawa dengan gemesnya, menampakkan lesung pipinya yang membuat Alan ingin memeluknya. Alan merentangkan kedua tangan, tapi tertahan karena Ersan menggerakkan kedua tangannya dengan bola golf dalam genggamannya.


“Kau mengancamku dengan bola itu?” Alan kembali melanjutkan obrolan absurd mereka, yang entah mengapa membuatnya senang.


“Kau yang berutang padaku, tapi kau yang lebih galak? Ck, kau tidak boleh mengambil sifat darinya, atau semua wanita akan menjauhimu.”


“Bababaaba....” celotehnya menjawab Alan.


“Baba?” Alan mengernyitkan dahinya. “Maksudmu, es boba? Aku akan membawakannya nanti. Sekarang, aku harus pergi. Beri aku ciuman, tidak, aku yang akan menciummu. Ummah.” Pergi dengan melambaikan tangannya beberapa kali.


Alan menyudahi obrolan mereka yang tanpa di sadarinya, terdengar oleh Sarah yang dari tadi menggelengkan kepalanya.


“Apa dia sudah gila? Kenapa bisa mengajak Ersan mengobrol seperti orang dewasa?”


Suara deru mesin mobil, terdengar dari halaman dan perlahan menghilang setelah Alan meninggalkan halaman rumah. Sarah kembali berkeliling, dengan mengajak putranya masuk sebuah kamar yang didalamnya dipenuhi dengan mainan. Mata Ersan berbinar, bahkan menggerak-gerakkan tubuhnya meminta diturunkan.


“Baiklah, sayang. Bermainlah, Mama akan membereskan pakaian kita dan menyiapkan makan siang.” Sarah melangkah pergi dengan membiarkan pintu terbuka lebar.


Sarah masuk kamar yang bersebelahan dengan kamar bermain anaknya. Ia membuka tirai jendela, agar sinar matahari dapat masuk. Berjalan membuka lemari yang sudah terisi pakaian, membuka pintu lainnya, terdapat pakaian anaknya. Sepertinya, Ervan memilih kamar ini untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2