
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mereka tiba di perusahaan. Ervan dan Tirta melenggang masuk tanpa membalas sapaan para karyawannya. Jangankan membalas sapaan memberi senyum saja tidak, keduanya terlalu tidak peduli. Mereka juga mengabaikan pujian yang para karyawati yang setiap hari didengarnya.
“Apa mereka tidak bosan mengatakan hal yang sama setiap harinya,”
Tirta membuka pintu ruangan, tanpa mempedulikan ucapan Ervan yang seperti angin lalu baginya. Tirta mulai membacakan jadwal Ervan hari ini, setelah CEO itu duduk di kursi kebesarannya.
“Pindahkan Jadwalku bertemu klien minggu depan dan juga untuk ke kantor cabang di kota XX beritahu direktur Jean untuk menggantikanku.”
“Baiklah, kalau begitu hari ini, kita akan rapat dengan direktur keuangan dan direktur pemasaran. Mengenai hasil penjualan produk baru kita.”.
“Hmm,” jawabnya singkat. Lalu melangkah pergi menuju ruang rapat.
Butuh tiga jam untuk Ervan menyelesaikan rapat bersama para direktur. Mendengarkan respon pasaran mengenai produk baru dan mendengarkan penjelasan direktur keuangan yang menjabarkan keuntungan yang diperoleh. Dan hal lainnya, yang membuat Ervan melonggarkan dasinya.
“Ada apa?” Menatap Tirta, yang tampak gelisah ingin menyampaikan sesuatu padanya.
“Nyonya ada didalam ruangan bersama seorang gadis.” Seketika Ervan menghentikan langkahnya tepat didepan pintu ruangannya.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang, Tirta. Kamu tidak lihat, kita sekarang berada di depan pintu neraka dan malaikat didalam sana, sedang menunggu kita.”
“Maaf, aku juga baru tahu. Sekarang bagaimana?”
“Tentu saja, kita harus belok arah mencari pintu surga.” Secepat kilat berlari menuju lift meninggalkan Tirta yang masih mematung.
“Hei, tunggu, aku.” Berlari menyusul.
Lift membawa mereka di lantai basement, Tirta dan Ervan secepatnya masuk dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Kedatangan ibu Ervan membuat mereka kalang kabut seperti menghindari rentenir yang datang menagih utang.
“Ervan, ibumu menelpon,” Tirta memberikan ponselnya, tanpa memalingkan wajahnya karena fokus pada lalu lintas yang padat.
“Halo, ma. Sekarang, aku lagi diperjalanan menuju kota S. Aku akan pulang 3 hari lagi. Apa mama diperusahaan?” Berpura-pura kaget, seolah tidak tahu apa-apa. “Maafkan aku, aku tidak tahu. Tirta juga tidak mengatakan apa-apa padaku. Baiklah, aku tutup dulu.” Menjawab begitu saja, menyelamatkan diri dengan mengorbankan sekretarisnya.
“Kamu menjelekkan namaku, Ervan?” Tirta mendengarkan pembicaraan Ervan, karena pria itu sengaja menaikkan volume suaranya.
“Maaf, aku tidak punya pilihan. Kamu tenang saja, ibuku tidak akan mencarimu sampai tiga hari ke depan.”
“Kau,” Tirta mengendarai dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Tidak memilki tempat tujuan, Tirta mengendarai mobil menuju rumah sakit. Entah alasan apa yang akan mereka gunakan untuk mengunjungi wanita itu. Karena, mereka tidak memiliki hubungan apapun selain atasan dan bawahan.
Tok...Tok...Tok...
Tirta mengetuk pintu, lalu perlahan masuk setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan. Ervan melangkah bersama Tirta, menatap sekeliling, ternyata wanita itu tidak sendirian. Mereka melupakan soal pengasuh dan perawat pribadi untuk wanita itu.
“Selamat siang, Pak,” sapa Sarah
“Siang,” jawab Ervan, lalu menatap pengasuh dan perawat itu beragantian, “bisa tinggalkan kami berdua.”
“Baik, Pak.” Keduanya segera pergi bersama Tirta.
Sarah hanya kebingungan, kenapa CEOnya hanya mau berdua saja dengannya? Apa ada hal penting, yang harus dibicarakan? Tapi, itu tidak mungkin. Keduanya tidak seakrab itu sampai harus berbicara berdua. Mereka hanya atasan dan bawahan saja, apalagi ia hanya seorang cleaning servis, posisi yang sangat tidak diperhitungkan.
Apa dia sudah mengetahui identitasku? Tapi, itu tidak mungkin karena aku menggunakan nama kakak.
“Ada apa, ya, Pak?” tanya Sarah dengan suara bergetar.
“Ayo, menikah,” ucap Ervan dengan gamblang.
“Ap ... apa? Menikah?”
“Iya, menikah. Sebaiknya, persiapkan dirimu segera.” Ervan menekankan kalimatnya seolah tidak menerima kata penolakan.
Menikah denganku? Kenapa begitu tiba-tiba?
“Maksud Bapak, Bapak mau menikah dengan saya?”
Bertanya untuk memastikan pendengaran dan pikirannya yang berkeliaran kemana-mana. Pria dihadapannya dapat dikatakan terlalu sempurna untuknya, kekayaan berlimpah, keluarga terpandang dan menjadi satu-satunya pewaris
keluarganya yang konglomerat. Meskipun, ia sendiri memiliki tujuan tapi, ia tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah.
“Iya. Memangnya siapa lagi, kita hanya berdua di sini.”
Ervan berjalan menuju sofa, duduk tanpa berdosa setelah menjatuhkan bom atom pada pikiran wanita itu. Ia duduk menghadap ke arahnya, melipat kedua tangannya di dada, menunggu jawaban yang akan menyelesaikan permasalahannya.
“Maaf, Pak. Saya tidak ingin salah paham dengan maksud Bapak kepada saya. Karena, ini terlalu tiba-tiba dan saya tidak ada hubungan dengan Bapak, selain atasan saya.”
__ADS_1
Ervan melambaikan tangannya, memanggil wanita itu datang duduk disampingnya, tanpa mempedulikan tiang infus masih menggantung disana.
“Kamu tidak salah paham, saya sedang mengajak kamu menikah. Untuk alasannya, ya, saya hanya ingin menikah. Itu, saja.”
Gila ni, orang. Ngajak nikah tidak pakai alasan.
“Maaf, Pak. Sa ....”
Menundukkan pandangannya, menghindari tatapan pria yang duduk disampingnya yang terlihat mengintimidasi. Meski, sudah mempersiapkan mentalnya, tapi ia tetap saja gugup. Pikirannya kembali mengingatkan akan tujuan yang ia harus raih dan saat ini kesempatan sedang terbuka lebar untuknya. Sarah kembali melanjutkan ucapannya,
setelah menguatkan batinnya yang bergejolak.
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima lamaran Bapak yang terlalu mendadak. Lagi pula, saya tidak punya perasaan kepada Bapak dan saya yakin Bapak juga begitu.”
“Perasaan? Maksudmu cinta?” Sarah mengangguk. “Saya memang tidak memiliki perasaan itu."
"Lalu kenapa, Bapak mau menikah dengan saya?" Memberanikan diri menatap kedua manik atasannya, meski masih terasa gugup.
Ervan membalasa tatapan wanita disampingnya, mengangkat tangannya, mengelus wajah Sarah dengan lembut. Perlahan tangannya mengusap bibir ranum yang sudah lama menggoda dan menantangnya untuk mendekat.
Kenapa wajahmu begitu sangat familiar?
Sarah membisu, membiarkan tangan Ervan bergeliliya di wajahnya, dengan degup jantung yang mulai tidak beraturan. Ingatan masa lalu, menampar akal sehatnya, membuat ia memalingkan wajah.
Kau menolakku? Ervan menyeringai, menatap wajah itu berpaling darinya.
Ervan menurunkan tangannya, memundurkan posisi duduk untuk menjauh.
"Saya memang tidak memiliki perasaan khusus. Saya mengajakmu menikah, karena sebuah alasan yang belum bisa saya katakan sampai kamu menerima lamaran saya."
"Bukankah, Bapak harus memberitahu saya alasan, agar saya dapat mempertimbangkan keinginan Bapak untuk menikahi saya?"
"Kamu tidak perlu, mempertimbangkannya. Saya hanya ingin mendengar kamu mengatakan 'Iya'!"
"Bapak memaksa saya?" Tamara meninggikan suaranya.
"Iya, karena kita menikah hanya kontrak, bukan sungguhan seperti dalam pikiran kamu."
__ADS_1
Sarah membelalak, kontrak, kontrak, kontrak, kata itu langsung menancap di akal sehatnya.