
Pulang dari kediaman Ervan, Alan sedang berguling-guling diatas tempat tidur. Ia mengetik sesuatu dalam ponselnya, lalu kembali menghapus.
Bingung, kalimat apa yang bagus untuk ia sampaikan. Akhirnya, ia memilih sesuai saran Sarah.
Selamat malam. Kamu sudah makan? Kami baru saja tiba.
Lama menunggu, pesan itu sudah dibaca, tapi tidak dibalas.
Alan hanya pasrah, ia akan terus melakukan ini, sampai ia lelah dan menyerah.
Bertemankan sepi, Alan berselancar didunia maya. Mencari sesuatu, yang ia akan berikan pada Zia besok.
"Ah, benar. Ia shift malam, besok. Apa aku membawakannya selimut?"
Jika Ervan mendengarnya, mungkin ia sudah ditertawakan. Begitu pintar memberi nasehat, giliran mendapatkan hal serupa, otaknya blank.
Siapa yang butuh selimut, saat wanita itu bekerja.
"Bunga?" pikir Alan. "Tapi, untuk apa memberikanya bunga malam-malam." Bertanya sendiri, dan ia menjawabnya sendiri.
"Sebaiknya, aku bertanya pada kakak ipar."
Tersambung, tapi belum diangkat.
"Kenapa kamu menelpon istriku? Kamu mau mati, ya?"
Kenapa juga, dia mengangkat telepon istrinya. Alan berdecak, sangat kesal dengan si bucin ini.
"Aku mau bertanya tentang sesuatu."
"Katakan saja, padaku."
Sungguh keras kepala, dia sungguh tidak akan membiarkannya berbicara pada Sarah.
"Van, aku ada sesuatu yang penting. Aku ingin konsultasi pada kakak ipar."
"Kamu pikir istriku, seorang psikolog."
Tut. Sambungan terputus.
"Dasar, pencemburu!" teriak Alan dengan bibir merapat diponselnya.
Mau tidak mau, ia harus memikirkannya sendiri.
Apa, ya? Bagusnya, apa, ya? Pertanyaan yang terus diulang-ulang, sampai ia lelah dan tertidur, karena tidak mendapatkan jawaban.
Pagi menjelang, pria yang semalam terus berpikir. Pagi ini, ia melanjutkannya kembali, sambil sarapan.
Roti bakar dengan secangkir kopi. Tangannya sibuk menjelajah dunia maya. Dari semalam, belum ada satu pun jawaban, yang membuatnya puas.
"Ah, bikin pusing. Kenapa semuanya hanya bunga dan bunga? Apa tidak ada yang lain? Untuk apa, memberikanya bunga malam-malam. Kami, dokter shift malam, sangat melelahkan. Menahan kantuk dan lapar.
Tunggu! Itu dia."
Alan bangkit. Tertawa puas, seperti orang yang memenangkan undian. Dengan semangat, ia menghabiskan sarapan.
__ADS_1
Jas putih, sudah melekat ditubuhnya. Rambut disisir rapi dan stetoskop menggantung dilehernya. Seperti biasa, ia akan menyapa sambil tersenyum, kepada petugas lainnya. Tapi, ada yang beda. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan menjadi ritualnya, saat ia baru datang, mengedipkan mata, kepada para perawat.
"Selamat pagi, dokter."
"Pagi. Ada pasien baru?"
"Belum ada, dokter."
Wah, benar ada yang beda. Biasanya, ia akan membicarakan sesuatu yang membuat mereka, tertawa dipagi hari. Itulah, kenapa dokter Alan sangat dekat dengan rekan-rekannya, karena sifatnya yang humoris. Rasa penat, seketika terlupakan dengan leluconnya yang mencairkan suasana..
"Alan, kau sakit?" Salah satu rekan seprofesi, akhirnya membuka suara. Biasanya, pria ini akan menceritakan mimpi anehnya, setiap pagi.
"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Tidak, kamu hanya seperti berbeda dari kemarin. Ada sesuatu?"
"Tidak ada, aku hanya lelah."
Rekannya mengangguk, menepuk bahunya sebelum pergi. Alan mengeluarkan ponselnya, kembali mengirim pesan, pada sang pujaan hati.
Selamat pagi. Apa kamu sudah tiba? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu lelah?
Pesan terkirim, tapi masih centang satu. Alan kembali mengirim pesan lainnya.
Jangan lupa istirahat dan minum vitamin. Pasti lelah, setelah perjalanan jauh.
Ponsel kembali dimasukkan dalam saku. Sudah waktunya, bekerja, masalah pribadi, harus ia kesampingkan dahulu.
Ditempat berbeda, Zia baru tiba diapartemen. Ia berangkat pagi sekali, bahkan matahari belum terbit. Ia harus beristirahat, sebelum shift malamnya.
"Cih, sok perhatian!" Meletakkan ponselnya dengan asal.
Ponselnya kembali bergetar. Lagi-lagi, dari nomor yang sama.
"Sungguh membuatku muak. Sebenarnya, apa maunya? Kamu kira, bisa membuatku luluh dengan perhatianmu. Lucu sekali."
Zia memilih tidur kembali, karena diperjalanan tadi, ia masih sangat mengantuk.
Sudah pukul delapan malam. Masih ada satu jam, pergantian shift. Zia sudah siap, ia juga sudah makan malam, sebelum berangkat.
Diperjalanan, ia kembali menerima pesan dari nomor yang sama.
Jangan lupa makan malam, sebelum berangkat. Pakai, baju tebal karena sedang hujan.
Apa dia tidak lelah? Zia membuang ponselnya, dikursi belakang. Tanpa diberitahu pun, ia sudah tahu. Pria itu, sudah membuatnya emosi, sejak semalam.
Tiba dirumah sakit, keadaan cukup sepi. Karena biasanya, keramaian hanya terjadi dipagi hari.
Zia sudah duduk, membaca beberapa laporan diatas meja.
"Dokter, ini."
Asistennya meletakkan kotak kue dan botol minuman.
"Dari siapa?" Zia mengerutkan alisnya, dalam hati ia mulai menebak.
__ADS_1
"Dokter Alan."
Benar! Lagi-lagi, dia.
"Tidak. Buat kalian saja, aku masih kenyang."
"Benarkah? Terima kasih, dokter."
Sang asisten membuka kotak kue, memanggil beberapa perawat yang sedang jaga, untuk makan bersama.
Mau menyogokku, dengan sekotak kue? Mimpi! Zia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara, dokter Alan yang dari tadi memantau mereka, sedikit kecewa. Usahanya sama sekali, tidak dihargai. Tapi, ia tidak akan menyerah semudah itu, apalagi ini baru sehari.
"Kau mengintip?" Suara yang tiba-tiba muncul, membuat Alan terlonjak.
"Kenapa kau ada disini? Kau membuatku jantungan." Setengah berbisik, Alan menarik tangan Tirta untuk pergi.
"Aku sedang menjenguk seseorang. Tadi kau sedang mengintip siapa?" tanya Tirta lagi.
"Kau gila, kenapa aku harus mengintip?" kilah Alan.
"Tapi, aku melihatmu."
"Ah, sudah-sudah, kau membuatku pusing." Alan berjalan keluar, lebih dulu. Lari dari Tirta, adalah jalan terbaik.
"Bukannya, kau shift pagi? Kenapa masih disini?"
"Kenapa kau sangat penasaran? Apa kau istriku, harus melapor padamu?" ketus Alan.
Tirta masih mengikuti langkah Alan, sampai keduanya duduk dibangku taman.
Sepertinya, Alan sedang sensitif, pikir Tirta.
"Oh, iya. Tadi pagi, Ervan bertanya padaku. Kenapa kau menelpon istrinya semalam?"
Tadi pagi, Tirta dihujani pertanyaan yang membuatnya pusing. Kenapa juga Ervan bertanya padanya. Tidak menanyakannya langsung pada Alan. Apalagi, Ervan mengomel tanpa henti, membuat Tirta semakin pusing.
"Aku hanya ingin konsultasi," jawab Alan.
"Dia sudah berkata begitu. Tapi, kenapa?"
Habis sudah, kata-kata Alan. Apa jawabannya tidak membuatnya puas? Kenapa harus ada alasan lain. Padahal, ia sudah berkata yang sebenarnya. Menelpon Sarah, sepertinya membawa masalah untuknya.
"Ah, sudahlah. Pulang sana! Kenapa ia terus menanyakan hal itu?"
"Kau sendiri tidak pulang?"
Demi Tuhan! Ervan dan Tirta adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Rasa ingin tahu, yang melebihi siapapun dan tidak gampang mempercayai alasan, yang terdengar tidak masuk akal.
"Tirta, aku mohon pulanglah! Berhenti bertanya. Ibuku saja tidak pernah bertanya, sepertimu."
"Ya, sudah aku pulang. Aku tahu, kau pasti mau melanjutkan yang tadi, kan?" Tirta sudah bangkit.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Mengintip."