
Mobil baru saja memasuki halaman rumah, Ervan turun setelah berkendara seorang diri,
tanpa Tirta yang selalu bersamanya. Sebelum memutuskan kembali ke rumah, ia berdebat panjang dengan sekretretaris yang mulai membangkang menurutnya. Alasan ini dan itu, serta panjang lebar, yang akhirnya disinilah sekarang ia berada.
Melangkahkan kaki untuk masuk dalam rumah. Dari teras rumah, terdengar tawa ayah dan ibunya, yang sedang bercengkrama entah dengan siapa.
“Apa ini? Mereka masih mengundang Clarissa?” bergumam sendiri, dengan langkah yang enggan masuk.
“Selamat sore, Pa, Ma.” Ervan berjalan langsung, menyapa tanpa menoleh hingga tak memperhatikan keberadaan Sarah disana.
“Van. Apa kamu tidak ingin menyapa putramu?”
“Putra?” Masih tidak menoleh. “Aku ingin istirahat dulu.” Kembali melangkah.
“Pa..pa..pa..pa.” Suara yang terdengar familiar, menghentikan langkahnya. Menoleh, melihat Ersan berada dalam pangkuan ayahnya. Dan di samping ayah, seorang wanita duduk dengan menundukkan wajahnya. Jantung Ervan seperti berhenti berdetak beberapa saat, karena keterkejutannya.
DEG,
Tamara!
“Kenapa kamu berada disini?” Pertanyaan yang ditujukan untuk wanita disamping ayahnya.
“Papa yang membawa mereka ke sini, mau sampai kapan kamu menyembunyikan mereka.”
Ervan mematung, bingung harus menjawab, semua terlalu mendadak dan diluar dugaannya.
“I ... itu ....”
“Duduk dan ceritakan, apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu menyembunyikan mereka?”
Ervan melirik Sarah, entah apa yang sudah diceritakan wanita itu pada orang tuanya.
“Aku masih menunggu waktu yang tepat, lagi pula Tama ..., maksudku Sarah masih belum
memaafkanku.” Kembali melirik Sarah yang hanya membisu.
“Wajar saja, dia membencimu. Setelah, apa yang kamu lakukan padanya, kamu malah
melemparkan cek dan memecatnya.” Kali ini Mama bersuara mewakili menantunya.
Ervan menunduk dan menduga-duga dalam pikirannya.
“Kamu naiklah beristirahat, malam nanti kita akan membicarakan pernikahan kalian.”
Ervan berjalan pergi, masih melirik Sarah disana. Tapi, yang dilirik tidak membalas, sibuk meladeni ibu yang masih mengajaknya bercerita.
Dalam kamar, Ervan meraih ponselnya menghubungi dokter spesialis cinta.
“Alan, dia disini. Aku harus bagaimana?” paniknya.
“Siapa? Bicara lebih jelas. Kenapa kau begitu panik? Apa Bapak presiden berkunjung di rumahmu?”
“Wanita itu disini! Kenapa kau terus saja bercanda?” Berteriak dengan mengarahkan
ponsel pada bibirnya.
“Wanita? Maksudmu Tamara? Kenapa dia berada di rumahmu? Apa dia langsung memainkan perannya tanpa kehadiran
sutradara?”
__ADS_1
“Ayahku yang membawanya. Dia mungkin mengikutiku selama ini, tapi ada yang aneh.”
“Apa itu?”
“Dia mengatakan pada orang tuaku, bahwa aku sudah melemparkan cek dan memecatnya waktu itu. Aku sama sekali tidak pernah mengatakan itu padanya, bahkan dalam naskahmu tidak tertulis seperti itu. Apa kamu yang memberitahunya diam-diam?”
“Kenapa kau selalu curiga padaku? Aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya. Aku hanya memintanya untuk mempelajari identitas Sarah.”
“Lalu dari mana dia mengetahui hal itu?”
“Kau bertanya padaku? Aku bertanya pada siapa? Sudahlah, aku akan menghubungi Tirta. Kau berperanlah sebaik mungkin seperti dalam naskah. Jangan mengecewakan penulis sepertiku, dengan aktingmu yang kaku seperti pendatang baru.”
TUT, Sambungan terputus.
Ervan berdecak, meletakkan ponselnya diatas tempat tidur, lalu berjalan masuk dalam kamar mandi.
Di kamar sebelah, Sarah baru saja membersihkan diri, menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Duduk didepan cermin, menatap pantulan wajahnya. Meraih hairdryer, mengeringkan rambutnya.
CEKLEK, pintu terbuka
Sarah menoleh, menatap pria yang mematung lalu kembali menutup pintu dengan keras.
“Ah, sial,” umpatnya yang terdengar oleh Sarah.
Sarah kembali menoleh ke arah cermin menatap tubuhnya yang hanya menggunakan handuk, lalu kembali memekik dengan menutup mulutnya. Ia berlari mengunci pintu kamar dan menyambar pakaiannya yang berada diatas tempat tidur.
Sementara Ervan, sibuk wara-wiri dalam kamar. Menyentuh bibirnya, dengan terus
mondar-mandir. Sejak kedatangan wanita itu, jantungnya seperti akan melompat keluar. Ia meraih ponselnya, hendak mengadu. Tapi, kembali meletakkannya.
“Tidak, dia pasti akan menertawakanku.”
“Van, sekarang Papa dan Mama tidak akan membicarakan masa lalu kalian. Saat ini yang
terpenting, kalian harus segera menikah. Apalagi, anak kalian sudah berumur 10 bulan.”
Keduanya mengangguk.
“Sarah.” Papa menatap. ”Apa kamu masih membenci anak Papa?”
Sarah menggeleng.
“Lalu, ada yang kamu inginkan?” Papa kembali bertanya.
Dengan ragu, sarah menjawab
“Saya hanya ingin pernikahan kami sederhana saja.”
“Baiklah, kalau itu maumu. Dua minggu lagi, kalian menikah. Papa akan mengurus
segalanya.” Papa kembali bertanya. “Apa kamu memiliki keluarga yang akan menjadi walimu?”
Sarah hanya tertunduk, lalu menggelengkan kepalanya.
Mama memeluk menantunnya. “Sekarang, kami adalah orang tuamu. Kamu adalah putriku.”
Tolong jangan terlalu baik kepadaku, aku sama sekali belum memaafkan putramu.
***
__ADS_1
Sarah duduk bersandar diatas tempat tidur, disampingnya Ersan sudah tertidur dengan
nyenyak.
CEKLEK, pintu terbuka.
Ervan berjalan, ikut duduk di hadapan sarah.
“Aku ingatkan. Jangan terlalu dekat dengan orang tuaku, kita menikah hanya kontrak. Jangan biarkan perasaan ibuku terikat padamu.”
“Lalu, aku harus bagaimana? Bicara kasar padanya, atau bermuka masam?”
“Apa kamu masih marah padaku? Kenapa nada bicaramu seperti masih dendam padaku? Pertama kali, kita bertemu, sikapmu tidak seperti ini.”
“Karena kamu yang mengubah bagaimana aku harus bersikap. Aku berpikir, kamu hanya pria dingin dan tidak peduli. Tapi, kamu sangat kasar.”
Ervan bangkit dengan kesalnya, ia selalu kalah jika beradu mulut dengan wanita ini.
Bukannya melangkah meninggalkan kamar, Ervan memutari sisi ranjang, baring disamping putranya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Sarah menatap heran dengan pikiran yang menduga-duga.
“Tidur.”
“Ti ... tidur? Disini? Bersama kami?” Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Sarah yang terdengar syok dan tidak terima.
“Hei, aku hanya tidur, tidak bermaksud apa-apa, seperti dalam pikiranmu. Lagi pula, aku
tidak tertarik dengan tubuhmu.”
Tidak tertarik? Tapi, kau menghasilkan anak denganku.
“Kenapa kamu tidak tidur di kamarmu saja? Kenapa harus di sini?” Sarah masih memprotes.
“Ini rumahku, aku bisa tidur dimana saja.”
Ervan memeluk guling dengan memegang jari-jari putranya. Tidak peduli, wanita yang
didepannya memprotes dengan wajah yang masam.
“Tolong pergilah, jika tidak aku yang akan mencari kamar lain?”
“Apa kamu tidak bisa tidur saja, ini sudah larut. Memangnya, kenapa jika aku bersama
kalian? Aku kan tidak memelukmu, anak kita juga akan jadi pembatas.”
“Bukan itu maksudku?” Sarah mendengus kesal. “Aku selalu memberinya ASI, jika ia
terbangun malam hari.”
“Ap ... apa? Maksudmu yang itu?” Otak kecil Ervan berputar, kata ASI seperti pernah
terdengar di telinganya. “Ehem, kalau itu, aku akan balik belakang dan menutup mataku.”
Sarah hanya ternganga, pria ini sangat keras kepala. Kenapa begitu sulit mengusirnya
keluar dari kamar, apalagi alasannya hanya untuk tidur bersama mereka.
__ADS_1