
Perjalanan selama tiga jam, Sarah tiba di terminal bus, kota kelahirannya. Ia masih harus naik angkot, menuju desa tempat tinggalnya. Sekarang, sudah jam sembilan malam, tidak ada satu pun angkot di terminal.
Sarah memilih, berjalan kaki menuju sebuah penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh. Ia mampir membeli makanan, di sebuah warung tenda di pinggir jalan.
"Mamamama...."
"Iya, sayang. Kita tidur disini malam ini."
Sarah menaruh tas dan kopernya diatas lantai. Berjalan memeriksa kamar mandi, sambil menggendong si kecil.
"Cukup, nyaman." Lalu, merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Tunggu, disini. Mama buatkan susu."
Si kecil kembali tertidur, setelah menghabiskan susunya. Sedangkan, Sarah menikmati makan malamnya. Hanya ada lauk tahu dan tempe, ditemani irisan mentimun dan sambal. Sangat sederhana, tapi ia menghabiskannya tanpa mengeluh.
Ia meneguk air minum dalam botol, menarik napas sembari menghapus air matanya yang jatuh.
Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Bukankah dari awal, aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini.
Sarah menguatkan hatinya, menepis kesedihan yang menghampiri. Ada rasa tak rela, saat kakinya melangkah keluar dari rumah.
Sudahlah, aku tak bisa kembali lagi, gumamnya, lalu naik diatas tempat tidur.
Pagi sudah tiba, matahari masih tampak malu-malu. Sarah sudah bangun sejak subuh, karena si kecil mulai rewel.
"Oh, sayangku. Tenanglah, Nak."
"Papapapa...."
Si keci masih menangis, disela-sela isaknya, ia terus memanggil papa. Sarah terhenyak sesaat, hatinya seperti tertusuk duri. Rasa perih menjalar diseluruh tubuh.
"Maafkan, Mama. Karena, tidak bisa mengabulkannya."
Sarah ikut menangis, meski suara tangisannya dikalahkan oleh sang anak.
Si kecil terdiam dari tangisnya, menatap sang ibu terisak didepannya.
"Papapapa..."
__ADS_1
Sarah memeluk putranya, mungkin sang anak sudah terbiasa dengan kehadiran Ervan. Karena setiap malam, Ervan lah yang mengurusnya. Bahkan, kadang si kecil tidur diatas tubuh ayahnya.
Sarah memberikan botol susu, yang diterima putranya meski masih menangis. Saat ia meminumnya, Sarah masuk dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya.
Tidak lama, hanya beberapa menit saja. Ia mandi secepat mungkin untuk menghemat waktu.
Pagi dengan sinar matahari yang masih menghangat, Sarah berjalan kaki, menuju kembali ke terminal bus. Disana, sudah banyak mobil angkot, yang parkir mencari penumpang.
Ia sudah mendapatkan angkot, menuju desa, tempat tinggalnya dulu. Hanya 20 menit perjalanan saja, ia mulai disambut dengan hijaunya pepohonan. Hamparan sawah, dipinggir jalan, dengan padi yang mulai menguning dan tanaman jagung yang masih hijau.
Sarah berhenti diperkuburan umum, yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari rumahnya. Ia kembali berjalan kaki, mendorong koper melewati banyaknya kuburan.
Langkah kakinya semakin dekat, air matanya pun sudah tidak terbendung. Ia sesekali berhenti, terisak, menatap makam keluarganya yang sudah tampak.
Tiga gundukan tanah, yang ditumbuhi rerumputan yang kecil. Makam ayah, ibu dan kakaknya, berdampingan. Seperti saling menjaga satu sama lain, diatas sana.
"Ayah, ibu, aku datang," isaknya, "Aku membawa cucu kalian."
Sarah memegang batu nisan ayah dan ibunya bergantian.
"Maafkan, aku. Hiks ... hiks ... aku seharusnya, ikut bersama kalian."
Si kecil terdiam sejak tadi, ia mencabuti rumput di makam sang kakek, sembari bercoleteh entah dengan siapa.
Sarah beralih ke makam, sang kakak, tepat disamping makam ibunya. Mengusap batu nisan, seolah sedang membelai rambut kakaknya.
Waktu itu,
"Gugurkan!"
"Kak, anak ini tidak bersalah. Biarkan aku membesarkannya."
"Membesarkannya? Kamu tidak dengar, orang-orang membicarakanmu. Kalau anak itu lahir, mereka akan semakin menghinamu."
"Kak, kita pindah saja dari tempat ini. Lagi pula, rumah ini sudah bukan milik kita lagi."
"Kemana? Kita akan kemana Sarah? Kakak sudah mengumpulkan semua gajimu dan gaji kakak. Kita akan menebusnya bulan depan. Kita tidak bisa pergi, makam orang tua kita ada ditempat ini."
"Maafkan, aku, Kak. Tapi, aku tidak ingin mengugurkannya. Aku akan mencari pekerjaan baru."
__ADS_1
"Sarah, tidak ada perusahaan yang akan menerimamu lagi. Laki-laki itu sudah mempermalukanmu, seluruh kota pasti sudah tahu. Gugurkan anak itu, dengan begitu kamu masih bekerja apa saja, meski bukan di perusahaan."
Sarah terdiam, mencerna ucapan sang kakak. Bekerja apa saja, kalimat yang ditanggapinya dengan gurat kesedihan. Apa aku harus bekerja serabutan? Di kota ini mungkin sudah tidak ada harapan untukku, tapi aku masih bisa pergi ke tempat lain.
"Aku akan pergi dari sini, Kak. Aku akan mencari pekerjaan di kota lain."
"Sarah, jika kamu bersikeras ingin membesarkannya, pergi cari laki-laki itu. Cari ditempat ia berasal, kakak tahu kamu pasti mengetahui keberadaannya. Jika ia tetap, menolak tanggung jawab, temui orang tuanya. Jika mereka melakukan hal yang sama, gugurkan anak itu!"
Tamara masuk daam kamar, mengambil tas.
"Kak Tama, mau kemana?"
"Aku akan menemui, wanita rentenir itu. Kita harus mengambil kembali tanah milik orang tua kita."
"Kak jika uangnya belum cukup, kita gunakan cek pemberian laki-laki itu."
"Tidak, Kakak tidak akan menggunakan uang laki-laki itu. Temui orang tuanya dan lemparkan cek di wajah mereka."
Tamara pun keluar rumah dan saat itu adalah hari terakhir, Sarah melihat saudara kembarnya.
Para terangga mengatakan, kalau dia bunuh diri karena stress. Menabrakkkan diri, saat truk melintas. Sarah tidak percaya akan hal itu, tapi tetap saja kematian kakaknya adalah karena kesalahannya.
Sehari, setelah kakaknya dimakamkan. Sarah diusir oleh warga sekitar. Rumah orang tuanya pun, sudah menjadi milik rentenir, meski ia bersedia untuk membayarnya.
"Kak, maafkan aku. Aku selalu menyusahakan dan tidak mendengarkanmu." Masih mengusap batu nisan itu. "Ini adalah keponakanmu." Meraih tangan si kecil, untuk ikut mengusap batu nisan. "Aku sudah menemui orang tuanya dan mereka menerimaku, tapi ..." Sarah menangis pilu, bibirnya kelu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Maaf, Kak. Maafkan aku."
Sarah menangis, air mata yang terus menetes jatuh, menjadi saksi penyesalannya. Dalam pikirannya, terus berandai-andai. Bahkan, memikirkan, jika waktu kembali ke masa itu.
Cukup lama, ia berada di perkuburan, sampai terik matahari mulai terasa perih menerpa wajahnya.
Tiba-tiba, rasa terik tertutup dengan sebuah payung diatas kepalanya. Sarah mendongakkan. kepala, melihat pria yang selalu mengikuti ayah mertuanya.
"Nona, Anda baik-baik saja?"
Sarah tahu siapa dia dan tentu saja tujuan pria itu, mencari keberadaannya.
"Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Baiklah, saya akan membawa Nona kembali. Tuan besar sangat panik, begitu juga dengan nyonya yang merasa bersalah. Dan tuan muda, sepertinya mulai kembali tidak waras sepeti sebelumnya, bahkan mungkin lebih parah."
Sarah menatap Daniel dengan alis mengerut, ia sudah tahu sifat Ervan. Tapi, hubungan kewarasan Ervan dengan kepergiannya.