CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 28 Sarah atau Tamara


__ADS_3

Sore hari, Sarah dan ibu Ervan duduk di atas karpet ruang tengah. Mereka terlihat antusias. melihat si kecil yang sedang belajar berdiri. Kaki kecil itu berdiri dengan kokoh, saat mencoba melangkah, ia kembali terjatuh diatas karpet.


Ibu Ervan duduk di depan cucunya, mengulurkan tangan, agar si kecil meraih tangannya. Di belakang si kecil, Sarah siaga menjaga anaknya, agar tidak terjatuh kebelakang.


"Ayo, sayang, kesini, satu langkah lagi."


Menampakkan lesung pipinya, si kecil tersenyum. Mencoba melangkah dengan tangan yang sudah siap, meraih tangan sang nenek.


Pemandangan ini, turut diperhatikan Ervan dan ayahnya yang baru saja tiba.


"Sedikit lagi, sayang. Ayo, satu langkah lagi."


Mama terus mundur, saat si kecil berhasil melangkahkan kakinya. Sampai, satu, dua, tiga langkah, berhasil dilaluinya.


"Yeeh, berhasil."


Semuanya bertepuk tangan. Izzam dan Ervan berjalan maju, memeluk si kecil dan menciumnya.


"Jika sudah berjalan, kita akan bermain bola di depan."


Si kecil bertepuk tangan, sambil tersenyum. Membuat mereka gemes.


"Ikut, aku," bisik Ervan.


"Ma, kami keatas dulu."


Sarah mengikuti langkah suaminya menuju kamar.


"Ada apa?"


"Aku sudah mengatakannya ditelpon. Kamu sudah memikirkannya?" Membuka kancing kemeja satu per satu.


"Belum."


"Belum?" Bajunya sudah terlepas, bertelanjang dada, sambil berjalan ke arah sang istri yang membuang muka.


"Ka ... Kau mau apa?" Berjalan mundur hingga membentur tembok, wajahnya merona.


Lucu juga, melihatmu ketakutan.


Kedua tangan Ervan mendarat di dinding, mengunci tubuh Sarah. Memajukan tubuhnya, hanya beberapa inci saja, bibir mereka bertemu.


"Kenapa? Kita sekarang sudah menikah. Apa salahnya?"


"Kita sudah membuat kesepakatan. Jangan lupakan itu."


"Aku berubah pikiran."


"Emm..."


Bibir mereka beradu, Ervan memeluk erat pinggang sang istri. Larut dalam nafsu, menurunkan kewasapadaan.


Bugh!


"Aaah...," jerit Ervan, setelah Sarah mendaratkan salah satu lututnya. "Kau kejam!"


Terduduk dengan memegang juniornya.


"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan menyentuhku!"

__ADS_1


"Apa kau tidak bisa bicara baik-baik? Kau menghancurkan masa depanku." Terus meringis kesakitan, kedua tangannya masih belum berpindah tempat.


Sarah tidak menjawab, ia berjalan ke dalam kamar mandi. Menyiapkan air untuk sang suami.


"Bersihkan tubuhmu!"


Menutup pintu, lalu pergi begitu saja.


Setelah makan malam usai, mereka berkumpul diruang keluarga seperti biasa.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam Daniel."


Izzam bangkit menuju ruang kerja, disusul Daniel. Sementara, Ervan hanya menatap tanpa curiga. Karena, sang ayah tidak membicarakan perihal gosip yang beredar, Ervan berpikir ayahnya tidak mengetahui.


"Kau sudah membawanya?"


"Sudah, Tuan."


"Baiklah. Lanjutkan jangan ada yang dilewati."


Daniel membuka sebuah map, membuka perlembar sebelum membaca.


"Tuan muda kembali tepat Tamara bunuh diri dihadapannya."


"Bunuh diri? Gadis itu bunuh diri." Izzam tersentak.


"Benar, Tuan. Tapi, alasan dia bunuh diri tidak diketahui. Mungkin, hanya nona Sarah yang mengetahunya dengan pasti."


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Jadi, Ervan merasa bersalah karena itu. Dia menolak semua wanita karena kematian wanita itu yang dipikirnya adalah Sarah."


Izzam mengusap wajahnya dengan kasar.


"Benar, Tuan. Tuan muda trauma."


Daniel menyerahkan foto Tamara, gadis berwajah persis dengan menantunya. Hanya rambut pendeknya saja, yang membedakan mereka.


"Mereka terlihat sama persis. Lanjutkan."


"Tuan muda sempat mengunjungi makamnya, sehari setelah pemakaman dan Nona Sarah diusir dari tempat tinggalnya oleh warga sekitar. Dia dianggap sebagai pembawa sial dan hamil diluar nikah."


Izzam merasa bersalah dengan kehidupan menantunya. Ia menghela napas panjang.


"Bagaimana kami harus menebusnya?"


"Tuan, saya merasa kedatangan nona Sarah memiliki tujuan khusus."


"Aku tahu. Dia pasti ingin balas dendam. Tapi, aku memakluminya. Minta orangmu untuk terus mengawasinya."


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Izzam bersandar, menautkan kedua tangannya. Pikirannya menerawang, akan kehidupan menantunya dimasa lalu.


"Hidupmu sangat sulit, tapi kamu menutupinya dengan baik."


Di kamar, ibu Ervan memainkan ponselnya, sekedar bertukar informasi dengan teman sosialitanya.

__ADS_1


"Aku dengar putramu, sudah menikah dengan cleaning servis. Pantas saja, kamu tidak mengundang kami."


Ibu Ervan membelalak, berani sekali menghina menantuku, gumamnya. Cleaning servis? Siapa yang cleaning servis. Jika temannya itu berada didepan, mungkin ia akan meneriakkan kalimat itu.


"Jeng Rena, jangan sembarang bicara. Menantuku lulusan sarjana dan dia bekerja di anak perusahaan kami."


"Aduh, sepertinya jeng Sandra, sudah tertipu. Suamiku memberitahuku, di perusahaan bahkan sudah menyebar. Menantumu, Tamara adalah cleaning servis."


Teman sosialitanya, bahkan mengirimkan foto Sarah bersama Ervan dan foto Sarah saat menjadi cleaning servis.


Ibu Ervan membelalak, menutup mulutnya yang tidak percaya. Tangannya bergetar, saat menatap sosok menatunnya dengan seragam cleaning servis.


Ia menggelengkan kepala, mencoba menolak kenyataan. Memegang kepala yang terasa pusing dan membaringkan tubuhnya yang mulai goyah.


"Tidak, itu tidak mungkin. Cucuku sangat mirip dengan Ervan dan Izzam juga sudah menyelidikinya. Pasti ada yang salah!"


Akal sehatnya mencoba melawan perasaan yang diambang keraguan. Ia menarik napas panjang, menenangkan hatinya yang terguncang.


Apa mungkin, Izzam sudah mengetahuinya dan menyembunyikannya dariku? Masih terus menerka-nerka dalam hati. Tapi kenapa? Apa karena aku terlalu menginginkan seorang cucu? Tidak, aku tidak ingin membesarkan seseorang yang bukan darah daging putraku.


Aku harus memastikannya. Mama masih tenggelam dalam pikirannya, tanpa menyadari sang suami sudah duduk disampingnya.


"Kamu memikirkan apa?"


"Sejak kapan kamu duduk disitu?" Mama mengelus dadanya, karena sempat terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar.


"Aku sudah memanggilmu, tapi kamu tidak mendengarnya. Memangnya, apa yang kamu pikirkan?"


"Papa," Sandra menatap suaminya dengan intens. "Apa kamu memyembunyikan sesuatu?"


"Menyembunyikan, apa?" Izzam menolak menatap mata istrinya.


Benar dugaanku.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau jujur. Tapi, kenapa Daniel datang kemari?"


"Bukankah Daniel setiap hari datang ke rumah. Kenapa kau mencurigainya?"


"Ya, sudah aku mau tidur. Matikan lampunya!"


Mama menarik selimut sampai menutupi lehernya. Berkata ingin tidur, nyatanya kedua matanya masih terbuka sempurna ditambah dengan pikiran dan rencananya esok hari.


Ia terus berguling kesana kemari, bangkit meraih gelas diatas nakas, lalu kembali memejamkan mata.


Aku bisa gila, gumamnya yang masih mencari posisi tidur. Disebelahnya, sang suami sudah terlelap tanpa ada beban sedikit pun.


Aku ingin sekali menendangnya sampai terjatuh.


Rasa penasaran sudah berubah menjadi emosi yang terpendam. Jika bisa memutar waktu, ia ingin detik itu juga matahari sudah terbit.


Mama menatap jam dinding yang menggantung.


"Kenapa baru jam sepuluh?" pekiknya, tanpa sadar. Tapi, orang disebelahnya sama sekali tidak terganggu.


Mama meraih ponselnya, membaca kembali pesan yang dikirim teman sosialitanya.


"Tamara? Namanya, Tamara tapi kenapa wajahnya begitu persis dengan Sarah." Mama baru menyadarinya sekarang.


"Sebenarnya, ada apa ini? Dia ini, Sarah atau Tamara?"

__ADS_1


Mama terus bertanya seorang diri, tanpa ada seseorang yang memberinya jawaban. Hingga, ia bertekad untuk membuktikannya sendiri.


__ADS_2