
Ervan sudah tiba di restoran yang Tirta maksud. Ia mencari pria itu dan dari jauh ia sudah menemukannya dan ternyata tidak sendiri.
"Kalian, sudah seperti pasangan. Kemana-mana selalu berdua." Ervan menarik kursi duduk didepan Alan dan Tirta.
"Siapa bilang kami hanya berdua. Lihat disekitarmu, disini kita punya banyak tim."
"Mana orangnya?"
"Arah jam sembilan."
Ervan menatap jam tangannya terlebih dahulu, memastikan arah jam.
"Hahaha ... kau tidak bisa jadi detektif, jika arah jam saja tidak tahu."
"Kalian yang sok detektif, berbelit-belit saja."
"Husss, diam. Itu Clarissa! Hei, Ervan tutupi wajahmu, kau bisa dikenali."
"Ah, baiklah." Mengambil topi dan masker, lalu menggunakannya.
Tirta mengarahkan anak buahnya, melalui earphone. Mereka berpencar, berpura-pura menjadi pelanggan dan pelayan restoran.
"Semuanya, bergerak. Paket sudah tiba," jelas Tirta.
Alan meminum jus melalui sedotan, memperhatikan sekitar.
Sekitar 20 menit, mereka mengintai. Sampai Clarissa meninggalkan tempat bersama pria itu.
"Kita mengikutinya?"
"Tidak perlu, biar mereka yang melakukannya."
Ervan kembali membuka topi dan maskernya.
"Bagaimana dengan Sarah? Apa dia sudah kembali?" Tirta menyodorkan segelas jus yang baru saja diantar.
"Sudah, tapi dia sedang marah sekarang. Clarissa ternyata sudah menemuinya dan memperlihatkan bukti, kalau aku tidur bersamanya."
"Ada video??" Tirta antusias. "Apa aku boleh melihatnya?"
Plak.
Alan sudah mendaratkan pukulan diatas kepala.
"Wajah dan cara bicaramu, sungguh mengganggu. Apa kau begitu penasaran?"
"Aku hanya mau memastikan itu asli atau editan."
"Cih! Alasan."
Tirta memeriksa pesan, yang baru saja masuk dalam ponselnya. Ia membaca sekilas, lalu meminum jusnya sampai tandas.
"Kita pergi!"
"Sekarang??"
"Hmm." Tirta memberikan ponselnya pada Ervan. Lalu, berjalan pergi.
__ADS_1
Alan sudah duduk dibelakang kemudi, Tirta duduk disamping dan Ervan tentu saja di kursi belakang. Ia sebagai pemimpin mereka berdua, mendapatkan kursi kehormatan.
"Apa mereka masih disana?"
"Iya, mereka masih menunggu perintah."
Alan menambah kecepatan, saat lalu lintas sepi. Satu jam mereka tiba, disebuah, kota perbatasan. Tidak ada gedung menjulang tinggi ditempat ini, hanya ada jejeran ruko yang sepertinya sudah sangat lama. Sebagian diantaranya sudah tertutup, menyisakan papan nama toko saja.
Ketiganya keluar mobil, sudah ada dua orang anak buah yang menunggu kedatangan mereka.
"Tempat apa, ini?" Ervan mengedarkan pandangan.
"Toko itu adalah tempat servis elektronis. Pria botak itu menunjukkan tempat ini."
"Kalian menangkapnya?"
"Ia, Tuan. Kami sudah mengamankannya. Setelah, ia dan wanita itu berpisah didepan restoran tadi. Pria botak tadi mengatakan membawa rekaman video ditempat ini untuk diedit.
Ervan menatap toko yang bercat putih itu. Ia belum mau melangkah, masih terus memikirkan cara yang lebih efektif dan tidak banyak membuang waktu.
"Bagaimana, Tuan?"
"Ayo, masuk."
Ervan berjalan didepan, dibelakangnya sudah ada Tirta, Alan dan dua anak buahnya.
Didalam tampak sepi, tidak ada pelanggan. Beberapa elektronik tampak terbongkar diatas meja. Ada juga diatas lantai, seperti kulkas dan mesin cuci.
Seorang pria yang tampak masih muda, sibuk mengutak atik sebuah tv, berlayar datar diatas meja. Ia tidak menyadari, kedatangan Ervan dan yang lainnya.
"Permisi."
"Ada apa? Tuan-tuan, mau servis elektronik?"
Tirta maju selangkah, memperlihatkan video yang berasal dari ponsel Ervan.
Pria muda itu membeku, seketika mukanya pias. Obeng ditangannya, jatuh tergeletak diatas lantai.
"Kalian siapa?"
"Kau yang melakukannya?" Tirta sudah mengubah setelan wajahnya, dingin dan mengintimidasi.
"Saya tidak mengerti maksud, Anda," kilahnya, dengan berjalan mundur, tapi langkahnya membentur peralatan yang berserakan dibawah kakinya.
Ervan merasa jengah, langsung memperlihatkan sebuah cek di tangannya.
"Aku tidak ingin membuang waktu. Berapa dia membayarmu? Aku akan menggandakannya dua kali lipat, asal kau mengikuti perintahku."
Dengan cepat, pria muda itu melangkah maju, meski masih menjaga jarak.
"Baik, Tuan. Aku yang melakukannya, dia membayarku 30 juta. Aku masih menyimpan video aslinya."
"200 juta dan ikut aku?"
"Ya, ya, saya mau, Tuan."
Ervan berjalan pergi, sementara anak buahnya membawa si tukang servis itu.
__ADS_1
"Kita akan kemana, Van?"
Alan kembali mengemudikan mobil, sesekali melirik kendaraan yang mengikuti mereka.
"Rumah," jawabnya singkat dan jelas. "Tirta, hubungi orang tua Clarissa, katakan aku akan tanggung jawab. Beritahu, agar mereka membawa serta wanita itu."
"Baiklah."
"Satu lagi, suruh anak buahmu membawa pria itu di rumahku. Kita akan mempertemukan mereka disana."
Tirta mengangguk dari kursi depan, meraih ponselnya untuk segera menjalankn perintah. Disampingnya, Alan masih diposisi yang sama, sebagai pengemudi. Mereka kembali menempuh perjalanan yang sama dan jaraknya lebih jauh, karena harus menuju langsung di kediaman Ervan.
Sementara, di kediaman Clarissa perdebatan sengit kembali terjadi.
Ayah Clarissa yang mendapat telepon dari sekretarisnya, dengan antusias menyampaikan kabar bahagia itu kepada putrinya. Ibu yang mendengar itu, kembali berdecak kesal.
"Ma, Ervan mau tanggung jawab, itu adalah hal bagus untuk putri kita."
"Papa sudah gila! Bagaimana mungkin, membiarkan anak kita menjadi istri kedua. Dia bisa habis di rumah itu."
"Mama. Kita kan belum tahu bagaimana Ervan memutuskan hal ini. Sebaiknya, kita pergi kesana untuk mendengarkannya langsung."
"Tidak, aku tidak mau bertemu dengan siluman rubah itu."
Mama masih terus bertahan dengan argumennya. Bagaimana mungkin ia kembali menginjakkan kaki disana? Wanita yang sudah mencakar wajahnya, seperti kucing liar.
"Mama, Risa mohon, Ma!" Clarissa memelas, ia bahkan bersujud di kaki ibunya. "Risa mencintai, kak Ervan. Jika nanti Risa hamil, tante Sandra pasti menerimaku!"
"Iya, Ma. Sebaiknya, kita kesana dan mendengarkannya secara langsung niat Ervan." Ayah menimpali.
Mama menghela napas kasar, wajahnya belum juga tersenyum. Tapi, sudah menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
"Terima kasih, Ma."
Mereka pun bersiap-siap menuju di kediaman Ervan. Clarissa menggunakan baju terbaiknya dan memoles make up yang cukup tipis. Sebagai, senjata untuk menarik perhatian Ervan dan calon ibu mertuanya. Ia akan menunjukkan sosok wanita lembut dan polos.
Berbeda, dengan sang ibu yang berdandan layaknya wanita kelas atas. Ia menggulung rambutnya dengan penjepit. Kali ini, rambutnya tidak akan dijambak lagi. Ia memasang cincin dengan ukuran berlian yang cukup besar.
"Hah! Kali ini aku akan merontokkan gigimu, jika kau macam-macam."
Fira melebarkan pungung tangannya, menatap cincin itu.
Setelah selesai, ia keluar kamar dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.
"Kamu sudah siap, sayang?" Fira menatap suaminya yang hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana dengan panjang selutut. Di ujung kaki, tampak sendal jepit sebagai alas kaki pria paruh baya itu.
"Papa!" teriaknya. "Papa mau ke pasar? Kenapa berpakaian seperti ini?"
"Ma, kita bukan ke pesta atau pertemuan formal. Kita hanya disana palingan lima menit baru pulang."
Ayah Clarissa sudah berjalan keluar menuju halaman, meninggalkan sang istri yang masih menatap tajam.
Clarissa sudah ikut turun, menggandeng tangan ibunya.
"Kamu juga, kenapa berpakaian seperti ini? Apa sekarang sedang musim dingin? Apa diluar ada salju?"
"Apa sih, Ma. Nggak usah protes!!"
__ADS_1
Clarissa melepaskan tangannya, ia berjalan keluar menyusul sang ayah. Sementara, ibunya hanya menatap dengan perasaan kesal.