CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 17 Kesepakatan


__ADS_3

Masih di rumah baru Sarah,


Malam ini, Ersan tidak rewel dan menangis lagi seperti biasa waktu di kontrakkan. Bahkan, waktu siang hari, Sarah mendapati putranya sudah tertidur diatas karpet dengan mainan yang berserakan disampingnya. Ia membaringkan putranya, yang sudah tertidur setelah memberinya ASI, mendaratkan kecupan sebelum keluar.


“Aaaa...” teriaknya, melihat sosok pria berdiri di depan kamarnya. “Kamu mengagetkanku.”


“Maaf, aku sudah mengetuk pintu tapi kamu tidak menjawab.”


“Mungkin, aku tidak mendengarnya, karena sedang menidurkan Ersan.”


Keduanya berjalan beriringan menuju ruang tengah, lalu duduk saling berhadapan. Ervan meletakkan secarik kertas diatas meja, Sarah melirik ketika kertas itu mendarat. SURAT PERJANJIAN, itulah yang tertangkap kedua maniknya.


“Bacalah, aku sudah memasukkan syarat yang kamu minta dan aku tetap memberikan kompensasi seperti janjiku.”


Sarah meraih kertas itu, membacanya dengan cermat.


Yang bertanda tangan di bawah ini:


Pihak pertama : Ervandara Nugrah


Pihak Kedua    : Tamara Maharani


Akan mengabulkan syarat yang diajukan oleh pihak Kedua, berupa:


1.      Mengakui Anak pihak kedua sebagai anak kandung secara hukum, meski kontrak sudah berakhir.


2.      Memberikan kompensasi berupa biaya hidup dan tempat tinggal.


3.      Tidak ada sentuhan fisik, selama menjadi istri pihak pertama.


4.      Pihak pertama akan melindungi pihak kedua, jika perjanjian mereka diketahui pihak ketiga.


Sedangkan, Pihak kedua akan memenuhi permintaan pihak pertama, yaitu:


1.      Berperan sebagai kekasih dan istri setelah pernikahan.


2.      Kontrak pernikahan berlangsung satu tahun.


Setelah membacanya, Sarah meletakkan kembali diatas meja dan langsung menandatanganinya.


“Baiklah, aku akan memberikannya kepada Tirta dan besok kamu dapat mengambil salinannya.” Meraih surat perjanjian, lalu memasukannya dalam tas.


“Sekarang, apa yang harus aku lakukan?”


“Apa Alan sudah memberitahumu peran yang akan kamu jalani?”


“Hemm.” Menganggukkan kepala.


Pikiran Sarah melintasi waktu,


“Kamu harus menjadi sarah?” Alan menatap dengan serius.


Sarah? Itu namaku, Sebenarnya, kenapa aku harus berperan menjadi diriku?


“Siapa sarah, dokter?”

__ADS_1


“Sarah adalah nama gadis yang akan kamu perankan. Kamu hanya perlu mempelajari identitasnya.” Alan memberikan kertas selembar yang berisi identitas Sarah.


“Dokter, bisa menceritakannya lebih terperinci padaku? Tentang hubungan Pak Ervan dengannya?” Bertanya setelah membaca sekilas informasi dalam secarik kertas itu.


“Mereka bukan sepasang kekasih, tepatnya hanya atasan dan bawahan. Ia dulu bekerja di anak perusahaan Kota XX. Ervan melakukan kesalahan padanya karena mabuk, hingga gadis itu hamil. Cerita selanjutnya, Kami menemukannmu, melalui putramu yang berwajah mirip dengannya. Lalu, Ervan mengenalimu tapi sayangnya kamu membencinyasampai saat ini. Itulah, naskahnya.”


Kembali ke Ervan dan Sarah,


“Kamu harus menghapal, identitas sarah dengan baik. Karena mungkin saat ini, ayahku sudah mencari tahu tentangnya. Aku akan mengatur pertemuanmu dengan orang tuaku, untuk saat ini ibuku masih di rumah sakit.”


Tentu saja, aku akan menghapal dengan sebaik mungkin tentang diriku.


“Baiklah, saya akan melakukannya dengan baik.”


“Ingat, jangan melakukan kesalahan didepan mereka. Aku tidak akan mentolerirnya.”


"Tapi, apa aku boleh bertanya? Kenapa harus Aku harus menggantikan wanita itu? Kenapa kamu tidak mencarinya, jika memang mengandung anakmu?"


Jawablah, aku ingin tahu, apa kamu memilki penyesalan terhadapku.


"Itu hanya naskah. Sekalipun, wanita itu benar ada, Itu bukan urusanmu."


Ervan memperhatikan wajah Sarah yang tiba-tiba berubah sedih, senyumnya pun memudar.


"Hoh," jawab Sarah singkat.


"Sekarang, kita perlu bertukar informasi?"


"Informasi apa?"


Sarah menautkan alisnya.


Aku akan menceritakan dengan lengkap, hingga membuatmu ternganga. Cih.


"Aku datang ke kota, untuk mencari ayah putraku. Sebenarnya, aku belum menikah, waktu itu aku berbohong, maaf."


Ervan membisu, karena ia pun sudah tahu tentang hal itu.


"Kami sudah bertemu, tapi ia tidak mengenalku. Ia sudah banyak menyakitiku, tapi bagaimana bisa, ia melupakanku."


"Dia tidak mengenalmu? Pria bajingan itu?"


Sarah menggangguk


"Aku berusaha mendekatinya bersama putraku, tapi ia berkata bahwa aku perempuan rendahan dan hampir menaparku."


"Pria brengsek, kamu berhenti bertemu dengannya. Laki-laki sialan itu, tidak pantas menjadi ayah putramu. "


Kini Ervan merasa geram, mengepalkan tangan, ingin mendaratkan pukulannya pada pria brengsek yang ada dalam cerita Sarah.


Dia brengsek, bajingan dan sialan. Hah, kamu sendiri yang memaki. Bukan aku.


"Tapi, bagaimana pun, dia ayah dari anakku. Dulu, waktu putraku sakit, aku berharap ia datang membantuku membayar, tagihan rumah sakit. Tapi, aku hanya dapat hinaan, bahkan ia meminta sejumlah uang padaku."


Sarah kembali menyindir Ervan, tapi sayangnya yang disindir sama sekali tidak merasa.

__ADS_1


"Lalu kau memberikannya?" tanya Ervan tidak terima, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Sarah. "Kenapa kau begitu bodoh? Beritahu aku, dimana pria iblis itu, aku akan membunuhnya."


Ervan benar-benar emosi mendengarnya, bahkan sampai bangkit dari duduknya. Sementara, Sarah hanya tersenyum samar.


Dia ada di depanku. Aku ingin lihat bagaimana kau membunuh dirimu sendiri.


"Aku akan mengenalkanmu, nanti. Sekarang ini, aku akan fokus pada kesepakatan kita."


"Baiklah, tapi jika nanti kita tidak sengaja bertemu pria iblis itu, beritahu aku. Mengerti!"


Sarah mengangguk, lalu kembali bertanya.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku tidak memiliki sesuatu yang spesial untuk dibicarakan. Aku hanya akan menceritakan tentang orang tuaku."


Kita memang tidak memilki hubungan spesial. Tapi, aku ingin melihat apa ada penyesalanmu selama ini


"Ayahku orang yang tegas dan tidak suka dibantah. Meski, aku sering melakukannya. Ibuku orang yang suka memaksa."


"Memaksa dalam hal apa?"


"Semuanya, sesuai kemauannya. Tapi, aku orang yang tidak suka diatur."


Kalau hal itu, aku juga tahu dari wajahmu.


"Orang tuaku, memiliki standar dalam memilih menantu mereka. Dan sebenarnya, kamu sama sekali, tidak masuk kategori."


"Memangnya, kategori seperti apa?"


"Semuanya, tentang keluargamu, pekerjaan dan pendidikan."


Apa kau bangsawan atau pangeran? Kenapa begitu pemilih?


"Lalu, apa kita berhenti sekarang?"


"Tidak. Aku sudah memutuskannya. Masalah mereka, biar aku yang tangani."


Sarah, hanya membisu. Pembicaraan mereka, membuatnya merasa bosan.


"Sudah malam, aku harus pulang. Ingat, apa yang aku katakan padamu."


Ervan melangkah pergi, setelah kembali menekankan ucapannya.


Setelah, Ervan meninggalkan rumah dengan peringatan yang diucapkannya, Sarah masuk dalam kamar. Duduk ditepi ranjang, meraih sebuah bingkai foto diatas meja nakas.


Sebuah potret wanita, berambut pendek, tapi memiliki wajah yang sama persis dengannya. Di puncak hidungnya, memilki tahi lalat, yang menjadi perbedaan keduanya.


“Kakak, aku sudah menemukannya. Tunggulah, sebentar lagi.” Meraba wajah dalam foto, menatap hingga air matanya menetes. Lalu, mendekap bingkai foto dalam pelukannya.


Tamara adalah nama kakaknya, yang selama ini banyak berkorban untuknya. Membiayai


pendidikannya hingga sarjana, tanpa mempedulikan pendidikannya sendiri yang


sebatas SMA. Gadis itu, bekerja membanting tulang menggantikan tugas ayahnya yang meninggal, saat mereka baru saja lulus sekolah. Meletakkan mimpi dan cita-citanya pada adiknya, berharap keduanya dapat hidup dengan baik, jika adiknya berpendidikan tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.

__ADS_1


Tapi, harapan tak sesuai kenyataan. Takdir manusia tidak ditentukan olehnya sendiri,


Tamara menelan pil pahit, saat mengetahui Sarah adiknya hamil tanpa suami. Bahkan, pria yang notabene adalah atasan adiknya, lari dari tanggung jawab. Pria itu dengan angkuhnya, melemparkan selembar cek, memecatnya dari pekerjaan karena tidak ingin perbuatannya terbongkar.


__ADS_2