
Mulailah Alan bercerita. Pertemuan awalnya dengan Ervan. Turun temurun, keluarganya menjadi dokter pribadi keluarga itu. Mulai dari kakek, nenek, orang tuanya, paman dan bibinya, hingga ia sendiri.
Alan yang masih kecil, selalu mengikuti orang tuanya bekerja. Karena belum sekolah, jadi ia dengan bebas mengikuti mereka.
"Lalu?" Zia meletakkan sendoknya.
"Aku bertemu Ervan, saat umurku masih lima tahun." Alan tergelak. "Umurnya masih lima tahun. Tapi, sifat angkuhnya ternyata sudah tumbuh dari janin."
Keduanya, tertawa. Apalagi, Alan yang mengingat momen itu.
"Hei, hei, bocah," panggil Ervan, dengan wajah kurang bersahabat. Ia tidak menyukai orang asing, yang berkeliaran dalam rumahnya. "Kamu capa? Kenapa berada di lumahku? Bahkan, tidak membei salam padaku."
Alan yang waktu itu, belum paham, hanya melongo.
"Kamu tidak dengal? Ck, ck." Ervan menggelengkan kepalanya. "Nama?"
"Alan," balas bocah itu, yang masih menatapnya bingung. "Kamu?"
"Aku bossnya. Panggil aku, bos."
"Bos," ujar Alan dengan anggukan kepala.
Semenjak itu, Alan memanggil Ervan bos. Bahkan, Ervan meminta orang tua Alan, untuk menyekolahkan Alan, ditempat yang sama dengannya.
Setiap pagi, Ervan akan menjemput Alan di rumahnya. Pergi bersekolah dengan supir dan pengawal pribadi.
"Dia adikku," ujar Ervan pada teman-teman sekelasnya. "Jadi, jangan ganggu dia, mengelti."
"Mengelti, bos," jawab mereka dengan kompak.
Zia tergelak, sampai meneteskan air mata. Tidak disangka, sifat Ervan yang bossy, sudah terbentuk sejak anak-anak.
"Terus, apa yang kalian lakukan di sekolah?" tanya Zia, yang dilanda rasa penasaran.
"Ervan memiliki banyak penggemar wanita. Dan disitulah, aku berperan untuk menyingkirkan mereka."
"Hah!"
Di sekolah, murid perempuan, membuat Ervan kesal setengah mati. Itulah kenapa, ia meminta Alan, bersekolah ditempatnya.
"Elvan, aku bawa kue." Bocah perempuan itu, memberikan kotak kuenya.
"Aku alelgi," jawabnya sembari melanjutkan langkah.
"Aku tidak kasih colkat, Elvan. Kemalin, kamu bilang alelgi coklat."
"Sekalang, aku alelgi kue."
Bocah perempuan itu, tampak kecewa. Ia sudah berusaha membuat kue, meskipun bukan buatannya sendiri.
"Bial, aku makan." Alan menyambar kotak kue itu. "Aku akan buat, Elvan makan."
Bocah perempuan itu, tampak girang. Menyalami Alan beberapa kali.
__ADS_1
Alan pun, menjadi penyelamat para penggemar Ervan. Ia yang akan selalu menerima hadiah, hingga makanan dan berpura-pura, jika Ervan menerima hadiah mereka.
"Elvan, bilang. Kuemu enak dan manis, dia suka. Tapi, besok, jangan buat lagi. Dia bosan."
"Lalu, apa?"
"Emmm, bawa buku celita banyak-banyak."
"Apa Elvan suka aku?" Tatapan bocah perempuan itu, seperti mengiba, membuat Alan tidak tega berkata jujur.
"Suka, tapi Elvan bilang, kamu jangan dekat-dekat. Dia tidak mau, ada olang yang melihatnya."
Begitulah, Alan, yang akan mengatakan itu, pada mereka setiap hari. Dia memberi para bocah perempuan, harapan palsu. Hingga akhirnya, ia yang harus dikerumuni setiap hari. Menanyakan perasaan dan hadiah yang mereka berikan. Dan dari situlah, Alan selalu berkata-kata manis, untuk menyenangkan mereka.
"Jadi, kau selalu menggombal setiap hari, karena terbiasa? Hahahaha, lucu sekali!" Entah mengapa, mendengar itu, Zia tidak marah, justru merasa lucu.
"Mungkin," jawab Alan dengan ikut tertawa sumbang.
"Lalu, bagaimana dengan pak sekretaris?"
Alan menghela napas, sejenak. Tirta adalah seseorang yang berbeda dari mereka berdua. Bocah polos itu, hidup bersama ibunya yang menjual roti buatannya sendiri. Mereka hidup dikontrakkan yang sempit.
Senyum di wajah Zia pun, pudar. Mendengar itu, ia menjadi sedih sekaligus penasaran.
"Kami bertemu, Tirta, tanpa sengaja. Saat itu, tengah hujan deras. Aku dan Ervan berada dalam mobil, ketika pulang sekolah. Di lampu merah, kami melihat seorang ibu berjualan dengan pakaian basah. Tak jauh, dibawah pohon, anaknya menunggu dengan selembar plastik membungkus kepalanya, agar tidak basah. Ervan memanggil dan membeli semua dagangannya."
"Apa seperti itu? Aku tidak tega, mendengarnya." Zia sudah meneteskan air mata.
Alan melanjutkan kisah mereka, bertemu Tirta. Bocah jenius dengan hidup yang berbeda, dari mereka.
"Kami membeli semuanya," ujar pengawal pribadi Ervan, yang duduk disamping kemudi. "Berapa?"
"Lima puluh ribu, Tuan," ujar wanita itu, dengan menahan dingin disekujur tubuhnya.
"Ini." pengawal Ervan, memberikan sejumlah uang berwarna merah. Dan itu, tentu saja, atas perintah Ervan.
"Ini terlalu banyak, Tuan."
"Tidak apa-apa. Pulanglah, ini sedang hujan deras."
"Terima kasih, tuan. Terima kasih banyak, tuan."
Mobil pun melaju, sementara Alan dan Ervan masih memperhatikan bocah itu.
"Ini, Tuan muda." Pengawal pribadi, memberikan bungkusan plastik, berisi roti.
Ervan mengambil dua dan memberikannya satu pada Alan. Sisanya, ia berikan pada supir dan pengawalnya.
"Ini masih banyak, Tuan muda."
"Beikan saja, bibi-bibi di lumah."
Bibi-bibi di rumah, menunjuk pada pelayan yang bekerja di rumahnya.
__ADS_1
"Enak, aku suka. Alan?"
"Suka, bos."
"Besok, lewat sini lagi, paman."
"Iya, Tuan muda."
Esok pagi, mereka kembali melewati jalanan yang sama. Tapi, sayangnya, wanita yang menjual roti kemarin tidak terlihat.
Tiba di sekolah, Ervan melihat wanita itu, berjualan diseberang jalan. Tentu saja, ia selalu membawa anaknya.
"Tuan muda, Anda mau kemana?" Pengawal pribadi Ervan, mencegat ketika Ervan dan Alan akan menyebrang.
"Aku mau bei loti."
"Biar, aku saja. Tuan muda tunggu disini bersama supir."
"Tapi, panggil bibi na datang."
"Iya, Tuan muda."
Pengawal pribadi Ervan, menyebrang jalan. Terlihat ia membantu, membawa dagangan wanita itu.
"Ini, Tuan muda kami. Dia ingin membeli roti ibu."
"Terima kasih, Tuan muda. Silahkan, Anda mau yang mana?"
"Dia, namanya capa?" Tunjuk Ervan pada seorang bocah, dalam gendongan ibunya.
"Dia Tirta, Tuan. Dia anakku." Wanita itu menurunkan putranya.
Ervan memanggil pengawalnya untuk mendekat. Ia membisikkan sesuatu, tampak sang pengawal terkejut mendengarnya.
"Tapi, Tuan muda. Sudah saatnya, jam sekolah."
Ervan tidak menjawab. Ia hanya melotot, yang berarti tidak suka perintahnya ditolak.
Sang pengawal, menelpon presdir. Menyampaikan tentang perintah tuan muda.
"Van, papa tidak suka kamu membolos. Papa akan membantunya, tapi kamu tetap bersekolah."
"Janji?"
"Janji, sayang. Papa janji. Sekarang, Ervan masuk sekolah. Biar bibi itu, paman yang mengurusnya."
"Oke, telima kasih, papa."
Sambungan terputus, Sang pengawal bernapas lega, setelah Ervan mengembalikan ponselnya.
Alan dan Ervan, masuk halaman sekolah. Supir dan pengawal, membawa wanita itu, sesuai arahan presdir.
"Jadi, ibu itu dibawa kemana?" Keduanya kini, duduk disofa dan melanjutkan cerita, yang kisahnya masih sangat panjang.
__ADS_1
"Kamu percaya, jika anak lima tahun itu, memberikannya sebuah toko roti, dengan imbalan Tirta menjadi anak buahnya?"
"Hahahaha .... " Zia tergelak. Apa benar Ervan sampai segitunya?