
Ervan sudah tiba di rumah, berjalan dengan malas. Seharusnya, pagi ini ia sedang membujuk sang istri untuk pulang bersamanya.
Kakinya sudah berjalan hingga di ruang tengah. Sorot mata tertuju padanya, memandang dengan geram dan amarah. Ervan tidak peduli, dia sangat malas untuk mendapat ceramah dipagi hari. Didepannya, orang tua Clarissa, masih menatap dengan tajam.
"Duduk!" perintah papa.
Ervan menghela napas, duduk dengan malas dan begitu santai. Seolah tidak terjadi apa-apa dan memang tidak ada apa-apa, pikirnya.
"Ada apa?"
"Ada apa? Dengan santainya, kau berkata seperti itu." Ibu Clarissa bangkit, menunjuk Ervan. "Apa yang sudah kau lakukan pada putriku? Kau harus tanggung jawab."
"Memangnya, dia kenapa? Apa hubungannya denganku?"
"Ervan, saya yakin kamu bukan pengecut. Kau sudah merenggut kesucian putriku. Jadi, kami meminta pertanggung jawaban. Jika kamu menolak kami akan mengambil jalur hukum." Ayah Clarissa, masih bersikap tenang.
"Aku tidak menyentuhnya dan aku tidak akan tanggung jawab."
Ervan bangkit, tapi dengan cepat sang ayah mencegat langkahnya.
"Van, dengar Papa. Ini masalah serius, jika sampai diendus media, perusahaan kita akan disorot oleh pemegang saham."
"Lihat, putramu, jeng. Waktu itu menolak putriku mentah-mentah, sekarang dia malah melakukan hal tidak senonon di apartemen putriku."
Semenjak kedatangan orang tua Clarissa. Sandra hanya membisu sambil terisak. Bukan memikirkan nasib mantan calon menantunya dulu, melainkan Sarah dan juga cucunya. Mama takut, jika Sarah akan benar-benar pergi meninggalkan Ervan.
Ibu Clarissa yang terus berkoar-koar didepannya, sama sekali tidak digubris olehnya Tapi, perkataannya kali ini membuat darah Sandra mendidih.
"Aku rasa putri jeng, yang kecentilan dan merayu putraku. Mungkin saja, dia merayu lebih dulu."
"Apa? Hei, jangan memfitnah putriku!"
Pertengkaran emak-emak kalangan sosialita pun dimulai. Adu mulut sambil menunjuk-nunjuk. Ibu Ervan sudah maju selangkah, begitu juga Ibu Clarissa, mereka siap beradu kekuatan.
"Ma, hentikan." Para pria menenangkan pasangan mereka masing-masing.
"Jeng, jaga mulutmu!"
Masih terus beradu mulut, bahkan ibu Ervan sudah menjambak rambut wanita didepannya.
"Mama, lepas!"
Izzam melerai, tapi malah mendapat jurus mencakar kucing liar, begitu juga ayah Clarissa. Pertengkaran wanita, sungguh merepotkan dan berbahaya.
Ervan hanya menonton sambil menyilangkan kedua tangannya. Menggelengkan kepala, sembari berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Ambil semua CCTV, di apartemen Clarissa dan restoran tempat makan malam waktu itu."
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Suara dibalik telepon terdengar begitu sangat santai.
"Nanti aku ceritakan, tidak usah menjemputku, aku akan berangkat sendiri."
"Terima kasih, mengatakan itu. Karena, aku baru saja tiba di perusahaan."
Sambungan terputus begitu saja. Ervan langsung bersiap diri, memilih jas yang akan digunakannya pagi ini.
Di lantai bawah, pertengkaran dua wanita semakin memanas. Adu mulut yang terjadi sudah melebar kemana-mana. Bukan lagi membahas anak mereka, melainkan masa lalu dua wanita ini.
Sandra dan ibu Clarissa berteman sejak masih SMA hingga kuliah. Sama-sama berasal dari keluarga berada, hingga mereka menjadi sangat akrab.
Dua pria yang tadi sibuk melerai, kini duduk menatap sambil menyilangkan tangan. Mendengarkan istri mereka yang saling melempar kata, dengan sengit.
"Kau dulu sangat genit, pantas saja putrimu mengikuti jejakmu!"
"Jaga mulutmu atau aku remas. Kau wanita tidak laku, selalu mengambil kekasihku."
"Hahaha, apa tidak terbalik? Kau selalu memungut sampah bekasku. Kau teman yang selalu menusuk dari belakang."
Adegan jambak rambut kembali terjadi, sambil memaki satu sama lain.
"Kau perempuan sialan. Kau selalu merebut kekasihku!"
Izzam dan ayah Clarissa, masih duduk tidak peduli. Mangut-mangut, mendengarkan para istri membuka tabir masa lalu.
Ervan yang sudah berada di lantai satu, berhenti sesaat. Menatap dua wanita yang ternyata belum menyelesaikan pertengkaran mereka.
Penampilan keduanya, sudah acak-acakan, rambut yang semula tergerai lembut, berubah menjadi tak berbentuk. Pakaian yang semula begitu halus, menjadi kusut sana sini. Begitu juga dua pria yang sedang duduk, bekas cakaran tercetak jelas di wajah mereka.
"Aku pergi," pamit Ervan.
Ibu Clarissa dengan cepat meraih tangannya.
"Kau mau kabur? Tanggung jawab pada putriku atau kita bertemu dipengadilan."
"Lepaskan putraku!" Sandra menghempaskan tangan ibu Clarissa. "Putraku sudah menikah. Menantuku sangat cantik dan lebih baik dari putrimu."
"Hahaha, si cleaning servis itu? Baik dari mana? Apa yang bisa dibanggakan darinya?"
Emosi membuncah, tangan Sandra terkepal. Ibu Clarisa tertawa dengan nada mengejek.
"Lihat, bagaimana aku menghancurkn mulutmu!" Sandra meremas mulut temannya, dengan kuat. Mau tidak mau, Ervan harus melerai, karena berada ditengah-tengah keduanya.
__ADS_1
"Mama, please! Lepas!"
"Tidak, biar kau menghancurkan mulutnya yang berbisa. Sudah lama, aku menyimpan dendam ini."
"Kau ****** lepaskan aku!"
"Hei, kalian!" Ervan memanggil dua pria yang diam sembari menonton. "Cepat, amankan istri kalian!"
Izzam dan ayah Clarissa, akhirnya bangkit dengan malas. Keduanya, trauma akan mendapat cakaran lagi di wajah mereka.
Dua kucing liar, akhirnya saling melepaskan diri. Tapi, mulut mereka masih saling melempar kata. Bibir ibu Clarissa, mengeluarkan bercak darah, begitu juga wajahnya yang dihiasi bekas cakaran. Tak jauh beda, dengan Sandra.
"Mama, Tante. Kalian apa-apaan, sih." Ervan menatap mereka bergantian.
"Biar Mama, kasih pelajaran dia. Mama sudah lama dendam padanya."
"Dendam apa? Masalah kak Rino, yang lebih memilihku dan meniggalkanmu. Seharusnya, kau berkaca."
"Dia tidak akan memilihmu, jika kau tidak merayunya. Dasar ******, menggunakan tubuh tipis dan rata untuk menangkap mangsa."
"Kau yang tipis dan rata." Ibu Clarissa maju selangkah, menunjuk Sandra sambil melotot.
"Hahaha, mana yang rata?" Sandra membusungkan dada. "Lihat, ukuranmu seperti anak yang baru akan bertunas."
"Kau...." Ibu Clarissa sudah ingin menjambak rambut lagi, tapi tubuhnya dikekang sang suami.
"Ma, hentikan. Kita kesini untuk membahas putri kita. Kenapa malah bertengkar tidak jelas."
Ayah Clarissa membawa sang istri untuk mundur, menjauh dari Sandra yang matanya sudah berkilat-kilat.
"Dia duluan, Pa!" Sang istri menunjuk Sandra.
Izzam yang tengah memegang tubuh Sandra, ikut mundur, bersama Ervan.
"Mama, tenanglah! Kok malah cakar-cakaran, malu-maluin aja."
Izzam mengatur rambut istrinya, yang teracak sana sini. Sambil memperhatikan wajah sang istri. Ia menoleh ke arah pelayan, yang ternyata sedari tadi ikut menonton pertunjukkan. Bahkan, beberapa dari mereka memasang taruhan.
"Bik, ambilkan air hangat. Ambil dua loyang."
"Baik, tuan."
Tak lama, bibik datang membawa dua loyang air hangat dan satu loyang es batu. Ia memberikan satu loyang untuk tamu.
"Mama, diam. Biar papa yang bersihkan lukanya."
__ADS_1
Ayah Clarissa melakukan hal yang sama pada istrinya, sembari mengatur kembali penampilannya.