CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 62. Serba salah


__ADS_3

Pagi hari, Ervan dan Tirta sudah berada disalah satu cabang perusahaannya. Sudah setahun lebih berlalu, ia baru menginjakkan lagi kakinya. Selama ini, ia hanya meminta bawahannya untuk datang berkunjung, melihat kondisi perusahaan.


Ervan berkeliling, mengecek pabrik dan kantor. Bukan hanya, secara fisik bangunan, tetapi juga data keuangan dan data produksi, selama setahun. Meski, ia menerima laporan, setiap bulannya. Tapi, ia tetap ingin memeriksanya sendiri.


Setelah selesai, keduanya duduk dalam ruangan. Ervan duduk dikursi kebesarannya, Tirta sendiri duduk di sofa, untuk beristirahat.


"Jam berapa?"


Tirta menghela napas. Kenapa Ervan sialan, begitu sulit melihat jam tangannya sendiri? Apa tangannya menjadi berat?


Bukan, Tirta, bukan itu. Kau tidak lihat, dia hanya malas dan mengambil jalan cepat, dengan bertanya padamu. Batin Tirta memberi penjelasan.


"Jam sebelas. Kenapa?"


"Kau sudah memberitahu supir?"


"Sudah. Mereka sedang menunggu kita."


"Baiklah, pesankan aku makan siang. Beritahu, mereka untuk makan siang, sebelum berangkat. Aku tidak mau berhenti, diperjalanan nanti."


"Kamu mau makan, apa?"


"Terserah, yang penting enak."


Tirta mengangguk, sebelum pergi. Ia meraih ponselnya, terlebih dahulu. Memesan menu sesuai seleranya, karena Ervan menjawab terserah. Ia turun menemui supir, yang akan mengangkat barang.


"Kalian makan siang, dulu." Tian memberikan beberapa lembar uang.


"Terima kasih, Pak."


"Jangan lupa, beli air mineral untuk diperjalanan."


"Iya, Pak. Terima kasih."


Tian kembali masuk, ia meminta resepsionis untuk menerima pesanan makanannya dan mengantar diruangan CEO.


"Mana makanannya?" tanya Ervan, yang melihat Tirta datang dengan tangan kosong.


"Hei, aku baru pesan. Mana mungkin, datang secepat itu."


"Biasanya cepat, ketika aku lapar, makanan sudah tersaji diatas meja."


"Kau pikir, ini rumahmu!"


Tirta kembali duduk. Berpura-pura, tidak melihat Ervan yang sudah duduk diatas sofa, depannya.


"Tirta, aku penasaran. Akhir-akhir, kau sangat sensitif. Kau tidak mungkin, datang bulan. Lalu, apa?"

__ADS_1


Tirta mendelik. Apa dia sedang mengujiku? Dialah sumber masalah dan beban dalam hatiku.


Bagai buah simalakama, jujur salah, berbohong pun salah. Jalan satu-satunya, dengan diam, menutup mulutnya rapat-rapat.


Tirta berpura-pura memainkan ponselnya, karena tidak ingin menjawab pertanyaan Ervan, yang dia pun sendiri tidak tahu, apa jawabannya.


"Apa jangan-jangan, kau sudah punya pacar, Tirta? Dan aku mengganggu jadwal kencanmu?"


Entah jin apa, yang merasuki Ervan hari ini. Dia penasaran minta ampun dan dia tidak akan berhenti, sebelum mendapat jawaban.


Tirta sendiri, sudah meletakkan ponselnya. Jika si gunung es ini bertanya terus, sampai malam pun, ia akan terus menunggu jawabannya.


"Kau mau tahu?" Ervan mengangguk, dengan wajah polosnya, yang sok tidak mengerti. "Karena aku lelah."


Hanya itu, jawaban yang paling tepat saat ini. Jika ia bicara jujur, tentu ia tahu bagaimana akhirnya.


"Cih! Kau lelah karena apa? Kau kan hanya menyetir, berkeliling tanpa melakukan apa-apa. " Ervan bersandar dengan melipat kedua tangannya. "Lihat aku! Aku lelah karena memikirkan semuanya, perusahaan, Alan dan tentu saja, istriku tercinta. Hahahaha ..... Ah, aku merindukannya."


Sumpah. Tirta ingin sekali melempar sesuatu diwajah Ervan. Dia pikir menyetir tidak lelah, ditambah ia harus berjalan kesana kemari. Karena, banyaknya perintah yang ia terima. Belum lagi, mendengar omelannya yang menguras emosi.


Andai gajinya, tidak membuatnya berpikir dua kali. Mungkin ia sudah lama mengundurkan diri.


Tok, tok, tok.


"Masuk," teriak Tirta.


Dua orang karyawan wanita, membawa dua bungkus besar makanan dan air mineral.


"Kau memesan makanan kesukaanku, kan?" tanya Ervan yang ikut membuka bungkusan.


Tirta tidak menjawab. Ia masih berpedoman, dengan kata terserah. Kata itu, akan menjadi jawabannya, saat Ervan protes nanti.


Ayam goreng, ikan goreng, plus sambal, nasi putih, tumis kangkung dan ikan asin bumbu pedas, favorit Tirta.


"Mana makananku?" tanya Ervan lagi, karena diatas meja, semua selera Tirta.


"Kau tidak lihat, makanan sebanyak ini." Tirta sudah mengambil ikan asinnya.


"Ini semua adalah seleramu. Aku tidak suka makanan berminyak dan pedas."


"Kau, kan, bilang terserah. Ya, sudah terserah. Yang penting, semuanya enak." Kunyah-kunyah, Tirta menikmati tumis kangkung dan sambal.


"Pesankan aku yang lain." Ervan kembali dikursi miliknya.


"Baik. Tapi, tunggu aku selesai. Ah, aku baru ingat, semua makanan disini, hampir sama rata menunya. Kau mau ayam rebus?"


Ervan kembali bangkit, merebut nasi putih miliknya. Mengambil ayam goreng dan tumis kangkung. Ia menatap Tirta, yang menikmati ikan asin dan ikan bakarnya.

__ADS_1


"Apa enak?" tanya Ervan yang penasaran dan menelan ludahnya.


"Tentu saja, kalau tidak enak, mana mungkin aku memakannya."


Ervan mengambil mengambil satu ikan asin. Mencicipinya diujung lidah. Sedikit asin, pedas tapi manis. Sangat cocok dengan tumis kangkung.


Makan-makan, keduanya fokus, tanpa saling berbicara. Hanya terdengar, suara sendok, dan suara orang mengunyah.


Tirta berhenti sejenak, memperhatikan Ervan yang mengambil ikan asin. Pria itu, meninggalkan ayam gorengnya dan mengambil makanan favorit Tirta.


"Bagaimana? Enak, bukan?"


"Biasa saja."


Lihat dia! Si angkuh ini, sudah menghabiskan dua porsi ikan asin, bahkan bumbunya tidak tersisa. Masih berkata, biasa saja.


Mudah-mudahan, kau hipertensi! Ikan asin itu, akan mengutukmu!


Tirta meminum air mineralnya, lalu bangkit mencuci tangan. Ervan sendiri, masih mencari daging ikan bakar, yang mulai menyisakan tulang. Padahal nasi putihnya sudah habis, begitu juga sayurnya.


"Ikan bakarnya, enak, kan? Apalagi, pakai sambal."


Kenapa kau terus bertanya? Meski, ia menghabiskannya sepanci, dia tidak akan mengaku. Kau tidak percaya? Batin, Tirta yang selalu menginterupsi.


"Aku memakannya, karena tidak ada yang lain."


Benarkan? Kapan kau akan, berhenti menjadi bodoh? Kau sudah tahu, sifatnya, tapi masih saja, melakukan kesalahan.


Tirta juga bingung. Ia sudah tahu, Ervan bagaimana. Tapi, ia masih ingin, mendengar kejujuran pria itu.


Ervan sudah selesai, ia meminum air, lalu bersendawa. Ia bangkit, untuk mencuci tangan.


Tirta membersihkan bungkusab makanan, membuang ditempat sampah. Dua botol air mineral, diambilnya. untuk dibawa diperjalanan.


"Ayo," ajak Ervan, yang sudah memakai jasnya.


"Kemana?"


"Pulang. Kau mau terus tinggal disini?"


"Hei, makananku, bahkan belum sampai ditujuan. Kau sudah mau pergi. Kau mau aku muntah diperjalanan."


"Kau kan bisa duduk, dimobil. Memangnya, apa bedanya, duduk disini? Toh, makanan mu akan tetap sampai ditujuannya." Ervan sudah berjalan pergi, meninggalkan Tirta.


Padahal, baru saja Tirta akan menjawabnya. Kau hanya duduk manis, tapi aku harus menyetir dan menjadi pendengar setiamu.


Lama-lama, aku akan mencari supir untuknya, agar bebanku berkurang.

__ADS_1


Dihalaman, supir dan dua orang anggotanya sudah siap. Mereka pun, bersama-sama berangkat. Dengan mobil Tirta, memimpin jalan.


Alan, entah bagaimana persaanmu nanti, saat pulang. Aku harap, tekanan darahmu tetap normal.


__ADS_2