CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 64. Bulan madu, ala Ervan


__ADS_3

Di tempat berbeda, dengan hari yang sama. Saat Alan tengah dibuat emosi, karena kejutan yang ia dapatkan. Pria yang selalu seenaknya dan tidak memiliki rasa bersalah, sedang berbahagia.


Semalam ia sudah memberi tahu Sarah, akan rencananya hari ini. Pergi berdua, tanpa ada siapapun yang mengganggu.


Sang anak, ia tidak perlu mengkhawatirkan itu, ada nenek dan kakek, yang siap mengurusnya. Ada juga pengasuh yang akan membantu mereka.


Setelah sarapan dan berpakaian rapi. Ervan tampak sumringah. Paginya dihiasi dengan senyum cerah. Tirta yang melihatnya seperti ingin muntah.


"Kenapa kau datang?" tanya Ervan, yang tidak suka dengan kedatangan Tirta.


"Kau tidak ingin, aku antar?"


"Hus, hus, pulang sana. Jangan menggangguku!"


"Kau seriuskan, tidak mau diantar?" Tirta bertanya dengan penuh senyuman.


"Iya, pulang sana."


Mungkin hari ini dan tiga hari kedepan adalah hari terindah buat Tirta. Tidak ada, Ervan yang memerintah sesuka hati dan ia tidak akan mendengar omelannya.


Tirta ingin bersujud syukur, sekarang, saking senangnya. Ia akan tidur lelap dan menghabiskan makanannya. Tidak ada lagi, yang menelpon dipagi-pagi buta dan saat ia akan memejamkan mata.


"Baiklah. Aku akan ke perusahaan. Nikmati liburanmu."


Dan aku mohon. Jangan menelponku!


Tirta segera masuk dalam mobil. Dalam sekejap, ia sudah menghilang dari pandangan Ervan. Yah, Tirta terburu-buru, sebelum Ervan berubah pikiran dan memanggilnya kembali.


Koper dan beberapa barang, sudah masuk dalam bagasi mobil. Sarah masih menggendong si kecil diteras rumah.


"Apa kita tidak membawa si kecil?"


"Nanti saja, sayang. sekarang, adalah quality time untuk kita berdua."


Sarah mendaratkan kecupan, bertubi-tubi diwajah sang putra. Baru kali ini, ia berpisah dengan si kecil. Bahkan dulu, saat bekerja, ia terus membawanya.


"Pergilah, sayang. Mama akan menjaganya." Mama menenangkan Sarah.


Sarah mengangguk. Ia menatap Ervan, yang datang memeluk dan mencium si kecil. Ia bahkan berbisik sesaat, pada sang ibu. Entah apa yang ia katakan, Sarah tidak mendengarnya.


Keduanya, sudah masuk dalam mobil. Melambaikan tangan, sebelum akhirnya, menghilang dari balik pagar.


"Kita mau kemana, Van?"


"Ke tempat yang sangat indah," jawab Ervan dengan senyum merekah dimana-mana.


"Apa kita mau piknik?" tanya Sarah, karena sempat melihat beberapa kotak makanan.


"Mungkin."


Ervan masih tersenyum, dengan jawaban yang membuat sang istri penasaran. Ia terus melaju, dengan kecepatan normal, menyalip kendaraan yang ada didepannya.

__ADS_1


"Oh, ya, sayang. Tamu bulananmu, sudah pulangkan?"


"Sudah."


Dari kursi pengemudi, Ervan terkikik. Dia sedang bahagia, sekarang. Dia bersiul, lalu bersenandung.


"Kapan dia pulang?"


"Dua hari yang lalu."


"Lalu, kenapa tidak memberitahuku?" Senyumnya yang bersinar, sekejap mulai redup. Saat mendengar, jawaban Sarah.


"Karena, kamu tidak bertanya."


Ervan langsung, membisu. Memang benar sih, aku tidak bertanya. Tapi, paling tidak, ia memberitahuku. Kalau perlu, ia memasang pengumuman didepan pintu, agar aku bisa tahu. Ervan hanya bisa.protes dalam hati, mana berani, dia menyuarakan pendapatnya.


Sarah mendengarkan musik, sambil memperhatikan jalanan. Mereka masih berada dalam kota, terlihat dari kendaraan yang padat.


"Apa jauh?"


"Lumayan."


Sarah memicingkan mata, dari tadi sang suami, memberi jawaban yang tidak pasti. Ia kesal sendiri, yang ditanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masih tersenyum, dengan santai memegang kemudi.


Dari pada bertanya, tapi tidak mendapat jawaban. Sarah lebih baik, memejamkan mata, sambil menikmati alunan musik.


Drt, drt, drt.


"Biarkan saja!" ujar Ervan, pada Sarah yang hendak mengambil ponselnya.


"Siapa tahu, penting!"


"Tidak ada yang lebih penting, dari bulan madu kita."


Bulan madu, apanya? Bukannya, ini sudah kadaluarsa.


Ponsel Ervan berhenti bergetar dan Sarah tetap mengambilnya, karena penasaran.


"Siapa?" Tadi dia tidak peduli, tapi masih bertanya siapa yang menelponnya.


"Dokter Alan," jawab Sarah, yang memasukkan ponsel Ervan dalam tas miliknya.


"Dia bilang, apa?"


Sarah melotot. Bilang apa, bilang apa? Teleponnya saja tidak diangkat dan ia masih bertanya, dengan wajah yang seperti tidak tahu, apa yang sedang terjadi.


Ervan tertawa sumbang, lalu menutup mulutnya. Dia lupa, kalau yang duduk disampingnya adalah Sarah, bukan Tirta.


"Apa kau sudah pikun, sayang?"


Sarah menjadi gemas sendiri, dengan Ervan yang menolak menatapnya.

__ADS_1


"Hahahaha, suamimu yang tampan dan penuh pesona ini, mana mungkin sudah pikun."


Sarah baru sadar, jika sifat Ervan seperti berubah 180 derajat. Padahal dulu, dia begitu pemarah dan paling suka memaksa. Didepannya saat ini, pria ini berubah menjadi narsis dan sepertinya lebih banyak bicara.


"Kenapa? Kau sudah terpesona pada suamimu dan ingin menerkamku sekarang?" Ervan mengedipkan mata dengan senyum yang lebar.


Wah, dia memang berubah atau penampilannya di perusahaan selama ini, hanya topeng.


Tak terasa, perjalanan sudah dua jam mereka tempuh. Sarah menyuap Ervan dengan bekal yang mereka bawa. Karena, sang suami, tidak mau berhenti diperjalanan. Yang katanya, akan menghabiskan banyak waktu.


"Minum."


Sarah memberikan botol air mineral, yang diteguk Ervan hampir setengah botol.


"Aaaa ....." Ervan membuka lebar mulutnya, minta disuap lagi.


Sarah dengan telaten, menyuap sang suami tanpa mengeluh. Keduanya, sesekali tertawa, seolah menikmati perjalanan panjang mereka berdua, untuk pertama kali.


Saat melewati gerbang batas kota, pemandangan yang pernah ia lihat sebelumya. Tidak asing dan sepertinya, ia pernah melintasi jalanan ini.


"Kamu sudah bisa menebaknya?" tanya Ervan, yang memperhatikan ekspresi sang istri.


Sarah tidak langsung menjawab. Matanya sedikit basah, ia terharu sekaligus senang.


"Terima kasih," ujarnya, yang langsung menjatuhkan kepala dibahu sang suami.


Cup, cup.


Yang dicium, merasa menang banyak. Belum apa-apa, ia sudah mendapat hadiah ciuman. Bagaimana jika mereka sudh tiba? Hihihi, Ervan tertawa puas dalam hati.


Aku memang pintar. Sedikit lagi, tiba dan aku akan dapat hadiah besar. Hah, Ervan. Kau memang hebat! Apa lagi kekuranganmu? Kau jenius, tampan dan kaya.


Dilihat dari wajahnya, ia sedang memuji diri sendiri, dalam hati.


Sarah tertidur dalam mobil, mungkin karena merasa lelah. Bahkan, saat mereka tiba, ia sama sekali tidak terbangun.


Ervan tidak tega membangunkan, sang istri. Ia membuka pintu mobil dengan pelan. Berjalan menuju rumah dan membuka pintu.


Ia mengangkat tubuh Sarah masuk dalam rumah. Membaringkannya diatas tempat tidur.


"Istirahat yang banyak, sayang. Setelah ini, kau tidak punya alasan lagi." Ervan terkikik.


Semua barang sudah diberada dalam rumah. Ervan mengatur pakaian dalam lemari dan bahan makanan dalam kulkas. Ia meraih ponselnya, untuk memberi kabar pada sang ibu, jika mereka sudah tiba.


Beres! Sekarang, ia perlu membersihkan diri, dan membaringkan tubuhnya. Sambil menunggu, hadiah besarnya yang sedang tidur.


Tunggu!


"Energiku habis, aku perlu tambahan." Mencium bibir sang istri yang masih terlelap. "Sedikit lagi, bateraiku belum penuh." Mencium lagi, dan kini sedikit lebih lama.


Acara cium-ciumman, yang tidak berakhir begitu saja. Lagipula. Ia hanya meminta hadiahnya, tidak salah, kan?

__ADS_1


__ADS_2