
"Aku ingat sekarang. Dia mengatakan padaku, kalau dia menyukai pemandangan dari jembatan gantung, yang berada dikampung halaman Sarah," seru Tirta.
"Terus kenapa?" Ervan mengernyitkan alisnya.
"Mungkin saja dia berada disana."
"Kamu stress, Tirta. Untuk apa, dia kesana melihat jembatan? Kamu pikir dia mau terjun?"
Deg.
Mereka berpandangan, wajah pias dan tangan gemetar. Lidah Ervan kelu, tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara, Tirta sudah menyalakan mesin mobil.
Sepanjang jalan, keduanya terus membisu dengan pikiran yang berkeliaran kemana-mana. Ervan yang duduk dikursi belakang terus mengumpat dan mengatai Alan yang bodoh. Sangat bodoh, jika hanya karena wanita, otakmu jadi kosong! Ervan meninju udara.
Tirta sendiri, mencoba fokus dengan jalanan didepannya. Ia terus menghalau pikiran buruk, yang datang mengganggu konsentrasinya.
Melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak ingin konsentrasinya terpecahkan.
Dua jam berlalu dan akhirnya mereka tiba, lebih cepat. Tirta yang melaju kencang dan tidak berhenti, bahkan sekedar membeli air mineral.
Deg.
Mobil sport berwarna putih, terparkir disana. Mobil yang jarang digunakan Alan, meski ia sudah lama membelinya.
Marah, kecewa dan sedih, bercampur menjadi satu. Ervan dan Tirta mulai menebak, apa yang sudah terjadi diatas sana.
Keduanya langsung mengambil langkah. Jalan setapak, diantara rerumputan. Mereka hanya pernah sekali melihat, jembatan gantung ini. Saat mereka melintas, menuju rumah orang tua Sarah. Tidak ada yang spesial, menurut Ervan. Tapi, kata kedua sahabatnya, pemandangan didalam sana, sangat indah. Padahal, mereka berdua hanya bertanya, pada pemilik warung makan, waktu itu.
Ervan dan Tirta terus berjalan, dalam kebisuan. Hanya terdengar suara kicauan burung dan serangga, dari atas pepohonan.
Berhenti sebentar, untuk mengambil napas. Mereka berjalan bermodalkan nekad dan pikiran yang tidak menentu. Sebotol air mineral pun, tidak ada. Mereka hanya saling bertukar pandang, dengan wajah tersiratkan kelelahan.
Suara air jatuh terdengar, mereka sudah tiba diatas bukit. Sebuah jembatan gantung yang terhubung diatas sungai deras, terlihat lebih kokoh dari dugaan mereka.
"Ke mana dia?"
Ervan dan Tirta, mendeteksi keberadaan Alan disekitar, dengan napas yang tersengal. Haus dan lelah, menyerang tubuh mereka sekaligus.
"Van." Tirta menunjuk seseorang, yang tengah berdiri ditengah jembatan, dengan posisi memandang ke bawah.
Wajahnya tidak terlihat, karena tertutup rambut yang berantakan. Tapi, dari pakaian yang digunakannya, sudah pasti itu Alan.
Ervan dan Tirta, melupakan rasa lelah dan segera berlari, menuju jembatan.
__ADS_1
"Alan, Alan. Sadarkan dirimu!" teriak Ervan, tapi pria yang disana sama sekali tidak mendengarnya.
Satu kaki menapaki jembatan gantung, saat itu, Ervan membeku ditempat. Jembatannya bergoyang. Meski, terbuat dari tali besi dan papan sebagai tempat berpijak. Jembatan ini tetap, bergoyang.
"Ah, sial! Jika mau mati, kenapa memilih tempat seperti ini. Apa tidak ada tempat lain?" kesalnya, tapi masih berusaha melangkah.
Hal yang sama, terjadi pada Tirta. Ia melangkah dengan menatap lurus. Pemandangan dibawah sana, membuat lututnya gemetar.
"Alan, sialan!" teriak Tirta.
Keduanya, tetap melangkah mendekati Alan sambil berteriak, berusaha mengalahkan suara air jatuh.
"Jika aku tiba. Aku akan mendorongmu." Ervan terus mengomel. Seharusnya, dia berada di kantor dengan setelan jasnya. Bukan mendaki gunung, apalagi menyebrangi jembatan gantung, yang bergoyang.
"Alan, Alan," teriak keduanya, saat mereka sudah dekat.
Bugh.
Ervan memberikan bogem mentah pada pria yang sama sekali tidak menoleh, apalagi menyahut. Ia kesal bukan main, dengan keadaannya sekarang.
"Dasar brengsek!" Bugh, bugh. "Jika mau mati, kenapa harus disini? Apa kau tidak bisa memilih tempat yang lebih baik? Aku bisa menyiapkan lahan dan langsung menguburmu."
"Van, Ervan." Tirta menahan lengan sahabatnya.
"Dia bukan Alan."
What??
Sibuk meluapkan kekesalannya, Ervan bahkan tidak memperhatikan, wajah siapa yang sedang menerima pukulannya.
"Kau siapa?" tanya Ervan.
Sungguh bodoh! Sudah salah memukul orang, dia malah bertanya siapa.
"Aku yang harusnya bertanya, brengsek. Kau memukulku, padahal aku tidak mengenalmu." Pria itu berteriak emosi, dengan memegang pipinya.
Ervan tidak menjawab. Masih memperhatikan pria yang sepertinya, masih muda. Hanya saja penampilannya berantakan, dan rambut yang panjang, tidak pernah disisir.
Wajah, ada sedikit wajah Alan disana, Ia juga memakai baju Alan dan sudah pasti mobil sportnya juga.
"Kau siapanya Alan?" tanya Ervan lagi, dengan raut wajah yang sudah berubah seratus persen.
"Aku sepupunya," jawab pria itu, dengan mode waspada.
__ADS_1
"Sepupu?" teriak Tirta, yang merasa tertipu. "Lalu, kemana dia?"
"Kak Alan, keluar kota. Dia ada seminar selama satu minggu."
"Se-seminar?" Ulang Ervan, tidak percaya.
Sepupu Alan mengangguk, lalu memperbaiki bajunya yang berantakan.
Tirta. Jangan tanya lagi. Kedua matanya yang melotot menatap, Ervan sudah hampir keluar dari tempatnya. Ia sudah emosi dan ingin mendorong Ervan jatuh.
Mengingat bagaimana, ia dengan paniknya mengikuti Ervan. Tidak menghabiskan sarapan, bahkan tersandung sana sini dalam rumahnya.
Si gunung salju itu, bukannya merasa bersalah. Justru, masih menyalahkan Alan dan juga sepupunya.
"Kenapa kau berada disini? Memakai baju Alan dan mobilnya. Gara-gara kamu, kami jauh-jauh kesini."
Tirta membeliak. Boss sialan! Memangnya, siapa yng menyuruhmu datang kesini. Kau sendiri yang berpikir aneh-aneh dan ikut menyeretku. Sekarang, masih menyalahkan orang lain. Tirta geram, tangannya gatal ingin memukul kepala Ervan.
"Kak Alan menyuruhku, mengambil gambar ditempat ini. Katanya, dia ingin datang, jika sudah pulang nanti. Aku terpaksa memakai bajunya, karena aku tidak sempat membawa pakaian dari kos."
Pletak.
Ervan menjitak kepala sepupu Alan. Ia sekarang masih dalam mode menyalahkan orang lain, demi menutupi kesalahannya.
"Kau juga minum-minum diapartemen Alan? Apa kau tidak sadar? Gara-gara kamu, kami menjadi salah paham!"
Lihat dia! Masih juga tidak sadar, sebenarnya salah siapa, sekarang.
"Maaf, Kak. Aku lupa membereskannya. Tapi, sebenarnya, kalian siapa?" Dari tadi, ia sibuk disalahkan dan menjawab pertanyaan mereka. Tapi, tidak tahu, mereka ini sebenarnya siapa.
"Aku bossnya!" Nada angkuh, terdengar. Siapa lagi kalau bukan Ervan.
"Maaf, Kak."
"Ya, sudah, pulang sana! Aku sudah berjalan jauh, hanya karena kamu. Alan juga, kenapa dia mematikan ponsel dan tidak menghubungiku? Apa dia masih marah, seperti emak-emak yang tidak mendapat jatah bulanan?" Mengomel tanpa berhenti, yang sebenarnya hanya menyalahkan orang lain.
Tirta sudah malas untuk berkomentar. Ia sudah tahu, jawaban apa, yang akan didapatkannya. Sudah pasti, salah Alan dn sepupunya.
"Ponsel kak Alan rusak. Dia belum sempat memperbaikinya."
"Cih!" Ervan berdecis. "Alasan mati! Jaman sekarang, masih menggunakan alasan itu. Kenapa tidak membeli baru saja? Gara-gara dia, aku sampai meninggalkan pekerjaanku!" Kembali mengomel dengan menyalahkan orang lain.
Tirta terus mengikuti langkah Ervan didepannya. Pria yang terus mengomel dan menyebut-nyebut nama Alan, yang merusak harinya.
__ADS_1
Bolehkah, aku mendorongnya? semua badanku sakit, apalagi telingaku.