CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 63. Kejutan di apartemen Alan


__ADS_3

Seminggu berlalu, dengan cepat. Seseorang yang berada diluar kota, sudah kembali. Selama seminggu, ponselnya rusak jadi, ia tidak mengetahui kabar tentang dua sahabatnya. Meski, kadang ia penasaran, tapi sama sekali tidak memiliki niat untuk memperbaiki atau membeli ponsel baru. Dengan santainya, Alan memarkir kendaraannya di lantai basement. Pikirannya, sudah dipenuhi banyak rencana. Mulai dari, memberi kejutan Ervan dan Tirta. Hingga, memberikan oleh-oleh pada Sarah dan si kecil.


Ia sudah tiba, didepan pintu apartemen. Sekilas, tidak ada yang mencurigakan. Ia membuka pintu dan disinilah keanehan dimulai.


"Kenapa ini? Apa pintunya rusak?"


Alan mencoba membuka lebar pintunya, tapi sangat susah. Seperti, sesuatu menghalangi dibelakangnya. Lebar pintu hanya terbuka setengah dan ia masuk dengan bersusah payah.


Keduanya mata Alan membola, mulutnya ikut terbuka lebar. Inilah, kenapa pintunya tidak terbuka lebar. Dua set sofa, berada diruangan, begitu juga dengan layar tv. Alan mengusap wajahnya kasar. Perbuatan siapa ini? Menjadikan rumahnya seperti gudang penyimpanan barang.


Keterkejutannya belum selesai, saat ia melengkah ke dapur. Dua set meja makan bersebelan, ditambah kulkas ukuran besar dan peralatan memasak lainnya. Alan tidak tahu harus mengambil langkah, karena tidak ada celah dengan barang-barang yang berdempetan.


Bagaimana ia akan memasak, dengan barang-barang yang penuh didapurnya.


Ervan, sialan! Umpat Alan. Hanya dia, satu-satunya yang berani melakukan ini di rumahnya. Apa dia sudah gila dan meletakkan barang-barang ini dirumahku?


Dengan kesal, Alan meletakkan begitu saja, kopernya. Ia akan pergi memberi pelajaran Ervan. Enak saja! Dia membawa barang-barang sesuka hati, tanpa izin darinya.


Ceklek. Pintu terbuka.


Alan menoleh. Sepupunya baru terbangun, saat matahari sudah meninggi. Rambutnya sudah dipotong dan terlihat lebih rapi.


"Kak Alan, sudah datang?" tanyanya, sambil naik diatas sofa, untuk mencari jalan menuju dapur.


"Siapa yang membawa barang-barang ini? Kenapa kau tidak mencegahnya?"


"Minggu lalu, ada tiga orang yang datang mengantarkannya. Katanya, dari dokter Zia." Sepupu Alan, mengucek kedua matanya, sambil berjalan.


"Dokter Zia?" Alan mengerutkan alisnya. Mana mungkin, Zia melakukan itu? Tidak mungkin! Ini pasti, ulah Ervan! Alan meyakinkan hati dan pikirannya.


"Kau yakin, ini dari dokter Zia?" tanya Alan lagi, meski sudah meyakinkan hatinya, tapi ia masih ingin memastikan.


"Benar, Kak. Orang itu, yang mengatakannya. Katanya, sebagai permintaan maaf."


Konyol sekali! Mana ada orang meminta maaf, dengan memberikan barang sebanyak ini.


"Ah, iya. Dia bilang lagi, kalau kak Alan keberatan. Silahkan, temui dia di apartemen, jangan di rumah sakit." Sepupu Alan mendekat, dengan mengambil secarik kertas yang menempel dipintu kulkas. "Ini alamatnya."


Jadi, benar, ini dari Zia? Tapi, kenapa?


Alan memutar badan. Keluar dari apartemen secepat mungkin. Tadinya, ia ingin menemui Ervan, tapi pikirannya berubah. Ia butuh penjelasan dari Zia.


Sebelum ia berangkat seminar. Alan sudah memutuskan, untuk melupakan dokter Zia. Ia tidak ingin, bersusah payah mengambil hati wanita, yang tidak mencintainya. Ditambah, wanita itu membencinya tanpa sebab. Jadi, untuk apa, dia membuang waktu dan tenaganya, untuk sesuatu yang tidak ada hasilnya.

__ADS_1


Alan sudah melaju, menuju pusat kota. Ia tidak langsung menuju aparteman Zia. Melainkan, untuk memperbaiki ponselnya.


"Berapa lama?"


"Dua hari, Kak. Layarnya pecah."


"Baiklah. Berikan aku ponsel baru!"


Dua hari, waktu yang sangat lama baginya untuk menunggu. Alan memutuskan membeli ponsel baru, sambil menunggu ponsel lamanya diservis.


Selesai, ia kembali melaju, menuju apartemen Zia. Sesuai jadwal, wanita itu, akan shift malam. Kemungkinan, ia masih berada di apartemen.


Tiba ditempat yang dituju. Alan menatap gedung itu, tertawa sumbang setelahnya. Bodoh, sangat bodoh! Ternyata, apartemen Zia berada digedung sebelah apartemennya.


Lantai lima, gumam Alan, yang masih tertawa bodoh. Ia masuk dalam lift, sambil merangkai kalimat pembuka, saat bertemu Zia. Didepan pintu, ia kembali mengulangi kalimatnya.


Jangan, gugup, Alan! Kau sudah melupakannya. Banyak wanita yang lebih cantik darinya."


Ceklek, pintu terbuka. Padahal Alan, baru sekali menekan bel.


Deg, deg, deg, jangan berdetak cepat, sialan! Kau tidak pernah, melihat perempuan yang baru saja keramas.


Alan memalingkan wajah, sementara Zia menatapnya dengan mata membelalak. Wanita itu, berlari masuk dalam kamar.


"Silahkan masuk."


Alan melangkah, tanpa menatap Zia. Ia sibuk memaki jantungnya, yang terus berdegup dengan kencang.


Duduk disofa, Alan mencoba bersikap tenang.


"Kapan kau kembali?" Zia masih terkejut dengan kedatangan Alan yang tiba-tiba. Apalagi, pria itu, telah berhenti mengirim pesan padanya.


"Baru saja dan aku langsung kesini."


Zia tampak merona. Ia menyembunyikan wajahnya. Dia baru pulang dan langsung menemuinya. Apa dia merindukanku? Jadi, selama ini, dia hanya berpura-pura marah padaku.


"Kenapa?" tanyanya pura-pura. Ia ingin, Alan mengungkapkan kata hatinya.


"Aku mau menanyakan barang-barang, yang kamu kirim ke apartemenku. Aku tidak perlu barang-barang seperti itu, untuk permintaan maaf."


"Hah?" Bingung. Tentu saja, Zia bingung. Bukan hanya itu, perasaan yang tadi berbunga-bunga lenyap seketika, seperti tertiup angin. "Barang apa? Aku tidak mengerti."


"Sofa, meja makan, kulkas, dan layar tv. Ah. Satu lagi, perlengkapan memasak. Apartemenku, sudah penuh sekarang. Bahkan, aku tidak bisa menuju dapurku, karena perabotan yang penuh sesak."

__ADS_1


Zia, menautkan alisnya. Sejak kapan, ia mengirim barang pada Alan. Alamat apartemennya saja, ia tidak tahu.


"Maaf, sepertinya, kamu salah orang. Aku tidak pernah mengirim barang untukmu. Lagipula, aku bahkan tidak tahu, kau tinggal dimana."


Alan terkejut. Benar, juga. Zia sama sekali tidak tahu, dimana tempat tinggalnya. Lalu, siapa yang mengirim barang, atas nama Zia?


Ervan! Yah, pasti, si gunung es, itu. Tapi, kenapa? Untuk apa?


"Tapi, mereka meninggalkan alamatmu," ujar Alan lagi, yang belum mendapatkan titik terang.


"Begini saja. Biar aku lihat, barang-barang itu. Aku juga penasaran, siapa yang menggunakan namaku, untuk mengirimnya padamu."


"Baiklah. Ayo!"


Keduanya, melangkah bersama. Masuk dalam lift dan masih membicarakan hal yang sama. Saling menduga-duga, siapa pelaku yang melakukannya.


Alan dan Zia sudah berada dalam mobil. Alan melaju dengan kecepatan normal. Zia hanya mengerutkan alisnya, saat Alan memasuki gedung, disebelah apartemennya.


"Kau tinggal disini?"


"Iya. Kau tahu, tadi aku berkeliling mencari apartemenmu."


Tertawa, lalu keduanya berjalan masuk dalam lift. Pas didepan pintu, Alan meminta Zia untuk mundur.


"Kenapa?"


Alan tidak menjawab. Ia sedang berusaha, membuka pintu agar terbuka lebar.


"Maaf, hanya segini. Kau bisa masuk?"


Zia mengangguk, lalu berusaha mendorong tubuhnya untuk masuk. Disusul, Alan yang menunggu antrian.


"Ini." Zia mengenali sofa dan layar tv ini.


"Kamu sudah lihat? Ini barang-barang yang aku maksud."


Zia tidak menjawab. Ia pergi arah dapur dan melihat meja makan dan kulkas disana. Benar saja, semua barang ini adalah miliknya.


"Ini memang barang-barang milikku."


"Hah? Lalu?"


"Barang-barang ini, aku tinggalkan di rumah milik orang tua istri CEO."

__ADS_1


Dasar, Ervan sialan!


__ADS_2