CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 40. Kursus kilat


__ADS_3

Acara makan malam, akhirnya terlaksana dengan baik. Setelah, Sarah memasak ulang hidangan. Steak daging berubah menjadi, tumis daging lada hitam. Rebusan sayur wortel dan brokoli dicampur dengan rebusan jagung dan diberi sedikit bumbu. Kentang goreng sudah disiapkan tersendiri dalam mangkuk.


Mereka kembali duduk, dengan senyum yang mengembang. Mencicipi makanan sambil memuji si koki yang menyelamatkan hidangan kali ini.


"Sarah," panggil Alan. "Apa kami bisa menginap? Kami tidak akan menganggumu, begitu juga Ervan. Kami akan mengikatnya, agar tidak bisa pindah di kamarmu."


"Hahahahaa .... Uhuk ... uhuk." Baru saja suara tawa Tirta meledak, Ervan sudah memasukkan potongan daging dalam mulutnya.


Sarah yang melihat itu ikut tertawa, melihat kelakuan mereka. Entah mengapa, sifat mereka yang humoris membuat Sarah selalu tertawa setiap bertemu.


"Baiklah, kalian menginaplah. Tapi, cuma ada satu kamar kosong."


"Tidak apa, kami sudah biasa, tidur bertiga."


Pukul 10 malam, tiga pria berkumpul diruang tengah. Didepan mereka sudah ada cemilan dan botol soda. Mereka mengobrol dengan setengah berbisik, agar tidak mengganggu si pemilik rumah.


"Ervan, apa benar Clarissa ingin menidurimu?"


"Hmm,"


"Hei, katakan apa yang terjadi malam itu?"


"Aku malas membahasnya."


"Kita harus membicarakannya, si polos ini bisa menghasilkan 10 anak dalam semalam."


Ervan melirik Tirta, wajah penuh dengan keseriusan.


"Tirta, kau harus mencari pacar. Agar kepolosanmu bisa memudar."


"Aku harus mencari dimana?"


"Sudah, jangan membahas hal itu. Yang penting sekarang, kita harus memberikannya pelajaran tambahan, tentang ciri-ciri wanita berbahaya. Jadi, ceritakan kejadian malam itu, agar dia bisa belajar."


"Clarissa, wanita yang sangat berbahaya. Dia merayuku, bahkan tidak ragu melepas semua pakaiannya."


Ervan menatap mereka bergantian, Tirta dengan mimik wajah biasa saja, sedangkan Alan dipenuhi wajah penasaran, bahkan menelan saliva. Sepertinya, otak mesumnya, mulai menggambarkan kejadian malam itu.


"Aku masih heran, apa yang berbahaya?"


Keduanya menatap Tirta.


"Jika dia berdiri didepanmu, tanpa busana. Kamu yakin tidak akan menerkamnya, Tirta. Disitulah, letak zona bahaya yang sesungguhnya."


"Aku mengerti, maksud kalian. Jika dia minta ditiduri, aku akan melakukannya dengan ikhlas. Tidak berbahaya, kan?"


"Bagaimana jika dia hamil?"


"Ya, sudah, kami menikah, kasus selesai."


"Tirta, itu jika kamu masih sendiri. Kasus ini menimpa Ervan. Sudah ada Sarah, bersamanya. Sekarang, ada wanita yang menawarkan diri untuk ditiduri. Jika kamu menjadi Ervan, apa yang akan kamu lakukan?"


Tirta terdiam sejenak, berpikir mencari jawaban dengan memposisikan diri sebagai sahabatnya.


"Sepertinya, aku akan melarikan diri."


"Bagaimana jika ia melepas semua pakaiannya didepanmu? Kau yakin tidak tergoda?"


"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat wanita telanjang didepanku."


Haaah! Alan dan Ervan mendadak lesu. Kursus kilat ini, sepertinya tidak akan berhasil.


"Tirta, bagaimana jika aku memperkenalkanmu dengan salah satu dokter ditempatku?"


"Baiklah, terserah saja."

__ADS_1


"Apa tipe wanitamu?"


"Aku tidak tahu, kenalkan saja asal dia seorang wanita."


"Hahaha ... Kenapa kau sama sekali tidak punya tipe ideal? Bagaimana jika wanita itu pendek, gemuk?"


"Apa yang salah, itu artinya hidupnya makmur."


"Buahahaha...." Alan dan Ervan tergelak. "Kau terlalu optimis."


"Sudahlah, ini sudah larut. Aku mau tidur."


Mereka mengakhiri percakapan, berjalan masuk bersama dalam kamar.


"Seperti biasa, aku tidur ditengah. Alan aku mohon padamu, tolong jangan rusak indra penciumanku."


"Memangnya, apa hubungannya hidungmu dengan aku tidur?"


"Kau sering melepaskan awan beracun.," jawab Tirta.


Ketiganya, sudah mengambil posisi, masing-masing memeluk guling dan saling membelakang.


Pukul enam pagi, matahari sudah terbit. Dedaunan masih sedikit basah, karena embun.


Sarah sudah berada di dapur, membuat sarapan dan bubur untuk si kecil.


"Pagi, Sarah."


"Pagi, dokter. Anda cepat bangun."


"Aku harus kerja pagi ini."


Alan meneguk air putih, sampai tandas.


"Aku membuat sandwich."


"Terima kasih."


Sarah melanjutkan memasak bubur dan membuat jus untuk Ervan. Setelah selesai, ia ikut duduk di meja makan.


"Sarah, aku tidak ingin ikut campur. Tapi, sebaiknya kamu kembali bersama Ervan." lanjut mengunyah. "Dia sudah menyesali perbuatannya padamu. Asal kamu tahu, dia kembali mencarimu setelah tiga bulan. Tapi, seseorang mengatakan, kalau kamu sudah mati bunuh diri dalam keadaan hamil. Kamu tahu apa yang terjadi padanya? Dia berubah. Dia menjauhi wanita, menolak dijodohkan dan takut tidur seorang diri."


Sarah tercengang dengan ucapan Alan.


"Dia juga menjadi pemarah, emosi tidak terkontrol dan menjadi pendiam. Kadang ia menangis, saat membicarakanmu."


"Dokter, aku masih butuh waktu."


"Aku tahu perasaanmu Sarah, tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Mulailah hidup baru dan jangan menoleh kebelakang. Kalian memiliki anak yang harus dipertimbangkan." Alan meneguk jus yang dibuat Sarah untuknya.


"Aku mengerti, dokter."


"Ya, sudah pikirkanlah baik-baik. Aku pulang dulu."


Sarah mengantar Alan sampai didepan pintu saja. Ia kembali ke dalam, setelah mendengar suara tangis anaknya.


"Kamu sudah bangun, sayang?"


"Papapapa ...."


"Papa masih tidur."


Sarah menggendongnya, lalu berjalan menuju dapur untuk sarapan.


Di dalam kamar, Ervan dan Tirta masih tertidur pulas, saling memeluk guling.

__ADS_1


Suara dering telepon, membuat mata Ervan mengerjap.


"Hmm."


"Van, ini mama. Kapan kamu akan membawa Sarah pulang?"


"Hari ini."


Benarkah?"


"Hmm."


"Cepat bangun, anak durhaka!"


"Apa sih, ma. Telingaku hampir pecah."


"Bangun dan bawa menantuku pulang."


Sambungan terputus, Ervan kembali menutup mata. Diluar sepertinya masih gelap, jadi ia memutuskan kembali tidur.


Disampingnya, Tirta masih menutup mata. Suara dering telepon, sepertinya tidak mengganggu tidurnya.


Suara dering telepon kembali berbunyi.


"Hmm."


"Tuan muda, cepat kembali. Anda dalam masalah."


"Masalah apa, Daniel? Ini masih pagi dan aku masih mau tidur."


"Nona Clarissa menemui presdir, meminta pertanggung jawaban Anda."


"Tanggung jawab?" Ervan bangkit. "Kenapa aku harus tanggung jawab?"


"Tuan muda, sebaiknya pulang segera. Kita akan membicarakannya di rumah. Tapi, ini harus dirahasikan dari Nyonya dan nona muda."


"Aku tidak bisa pulang, aku masih harus membujuk Sarah. Kamu uruslah, wanita gila itu!"


Ervan memutuskan sambungan telepon. Lalu, menatap Tirta, yang masih berada di alam mimpi.


"Tirta, bangun!"


Masih tidak ada reaksi. Ervan mengambil bantal, mendaratkannya di wajah Tirta.


"Siapa?"


"Bangun, kita harus pulang."


Ervan masuk dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya sebelum keluar menemui sang istri.


"Selamat pagi, sayang."


Sapa Ervan, mencium sang putra yang tengah disuap. Ingin mencium sang istri, tunggu dulu. Dia masih harus bersabar.


"Selamat pagi," balas Sarah.


Ervan sudah duduk di meja, menyantap sandwich sembari melirik sang istri. Tak lama, Tirta ikut bergabung.


"Sarah, ikut aku pulang hari ini. Mama menelpon dan memintaku membawamu."


"Aku belum siap. Bagaimana jika, malam ini? Aku masih harus membereskan pakaian."


"Bukankah, ada pelayan yang membantumu?"


"Aku memintanya untuk tidak datang. Aku butuh sendiri."

__ADS_1


"Baiklah, malam ini. Aku akan menjemputmu."


__ADS_2