CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 73. Pendendam


__ADS_3

Pagi yang seharusnya, di hiasi dengan kebersamaan dimeja makan. Sarapan bersama sembari bercengkrama dengan keluarga.


Tapi, tidak disini. Semua orang sedang berkumpul, di apartemen Alan. Satu orang tersangka, yang sama sekali tidak tahu apa-apa, berdiri menunggu hukuman.


Tirta masih tenggelam dalam mimpi, mendadak bangun, setelah presdir memintanya datang. Tidak ada hal aneh, dalam pikirannya. Selain, urusan pekerjaan atau tentang putranya Ervan, yang mungkin membuat masalah.


Kini, ia berdiri mematung, kepala tertunduk. Ia belum sepenuhnya, mengerti. Karena sedari tadi, ia terus mendengarkan wejangan, tanpa tahu inti permasalahannya. Dua sahabat nya, duduk menatap dengan memberikan isyarat, yang tidak ia mengerti.


"Putriku masih 19 tahun dan kau sudah melakukan hal itu padanya?"


Hal apa? Tirta bingung sendiri. Tapi, tidak berani bersuara. Memberikan kesempatan pada orang yang lebih tua menyelesaikan kalimatnya.


"Ibu, dengarkan ucapan Tirta dulu?" Alan membuka suara, membela sahabat nya.


"Ucapan apa lagi, semuanya sudah jelas. Dia sudah melecehkan adikmu!"


"Hah! Ap-apa?" Tirta membelalak kaget. "Tunggu! Tante. Sebenarnya, ini ada apa? Melecehkan?"


"Kak Tirta, mau mengelak? Mau lari dari tanggung jawab?" Alinna, terisak. Sudah terlanjur basah, ia harus berakting sampai akhir. Tidak mungkin, ia mundur dan mengakui segalanya. Itu hanya menggali lubang kuburan nya sendiri.


"Tirta. Kami sudah menganggapmu, seperti anak sendiri. Jadi, kami berharap kamu mau bertanggung jawab."


"Tapi, presdir. Aku tidak menyentuhnya."


"Siapa yang percaya dengan ucapanmu? Hah!" Ayah Alan sudah murka, tampak gurat kemarahan diwajahnya.


Alinna tampak puas, melihat Tirta mematung dan terdiam. Rasakan! Aku akan membalasmu sampai akhir.


"Ada CCTV, dalam apartemenku, termaksud kamarku. kalian, bisa memeriksanya."


"Hah! Ap-apa?" Alinna mulai panik. Wajahnya yang semula terlihat tenang, mulai gelisah.


"Ayo, kita periksa!" Alan sudah bangkit.


Semua yang sedang duduk, bangkit mengikuti Alan. Bukti, mereka butuh bukti. Yang bisa membuat segalanya menjadi jelas.


"Ayah, Ibu. Kalian tidak percaya padaku?" Alinna mulai tegang. Tidak, ia tidak bisa, membiarkan rencana nya, gagal. Kembali menangis, untuk meluluhkan orang tuanya.


"Sayang.Ibu, percaya padamu. Tapi, kita perlu bukti supaya, dia tidak lari dari tanggung jawab."


"Bagaimana jika CCTV itu palsu atau direkayasa?"


Dasar, sial! Kenapa aku tidak lihat, kalau ada CCTV disana. Lagian, kenapa juga ia memasang CCTV, bahkan di kamar.


"Kita bisa melakukan visum," ujar Ervan, yang mulai merasa heran, dengan tingkah gadis kecil didepannya.


Skakmat! Alinna tidak bisa menjawab. Ilmu pengetahuannya terlalu terbatas. Apa ada hal seperti itu? Lalu, sekarang bagaimana? Jujur Salah, berbohong pun pasti akan ketahuan.


Ia menggigit bibirnya. Takut dan malu, jika semuanya terbongkar. Lari? Kemana?


Panik, Alinna mulai pucat. Saat, Alan membuka pintu, untuk semua orang.


Gawat, gawat. Berpikir, Alinna! Pura-pura sakit, mustahil. Ada tiga dokter di depannya.

__ADS_1


"Tunggu!" Semuanya menoleh. "Ib-ibu, Ayah. A-aku, mau mengatakan sesuatu."


"Ada apa, sayang?"


Alinna kembali mengigit bibirnya. Ia tertunduk, karena bingung, jika ia berkata jujur. Apalagi, presdir dan Nyonya ada disini. Ia akan membuat malu kedua orang tuanya dan Tirta, pria itu pasti akan menertawakannya.


"Aku minta maaf."


Hening. Ibu dan ayahnya, saling bertukar pandang. Tanpa dilanjutkan, semuanya mengerti dari kata maaf itu.


"Alin." Suara ayah, dengan nada rendah dan penuh penekanan. Ia menahan amarah, sebab ada orang lain ditempat ini.


"Aku mencintai Kak Tirta dan ingin menikah dengannya."


Alasan yang terdengar masuk akal, untuk menyelamatkannya dari rasa malu yang berlebihan. Menjadi gadis yang jatuh cinta, mungkin bisa dimaklumi, pikirnya.


"Alin." ibu maju satu, dua langkah. Berdiri dihadapan putrinya. "Katakan, apa maksud semua ini? Kau sengaja menjebak teman kakakmu?"


Alinna tertunduk. Tidak ingin menjawab. Biarkan mereka, berpikiran aneh-aneh.


Plak.


Ibu mendaratkan tamparan. Ia terlalu malu, menghadapi presdir dan istrinya. Bayangkan saja, pagi-pagi buta, ia sudah datang dan menelpon presdir, meminta bantuan.


"Kau membuat ibu dan Ayah, malu. Sebenarnya, apa yang kau pikirkan? Hah!" bentak Ibu.


"Bereskan, pakaianmu. Ikut ayah dan ibu pulang. Titik!"


"Menikah? Memangnya, umurmu berapa?" Alan, mulai jengah dengan sikap adiknya.


"Dia mau menikah. Kenapa tidak nikahkan saja?"


Semuanya mendelik. Sorot mata tajam, menatap Ervan, seperti laser. "Kenapa? Apa yang salah dengan menikah muda?"


"Kau gila, menjodohkanku dengan anak ingusan."


"Terus? Kau mau hidup membujang sampai berkarat!"


Izzam akhirnya, melangkah maju. Mencoba membuat suasana menjadi kondusif.


"Alinna. Kami tidak ingin ikut campur, urusan keluarga kalian. Tapi, sebaiknya ikut orang tuamu kembali. Menikah muda, bukan solusi untuk keluar dari masalah yang kamu timbulkan."


Alinna terdiam. Ia menatap tajam Tirta, penuh permusuhan. Ia akan membalas rasa malu ini. Lihat saja!


"Baik, kita pulang!"


Gadis kecil itu, memutar badan menuju kamar. Ia belum kalah, ia akan menghadapi Tirta, saat tiba waktunya.


Presdir dan Mama, meminta izin pulang lebih dulu. Begitu juga Sarah, yang mengikuti mertuanya.


Ayah dan ibu Alan, masih duduk di sofa. Meminta maaf, kepada Tirta.


"Maafkan, kami, Nak. Kami tidak menyangka Alinna tumbuh menjadi gadis seperti ini. Mungkin, kami terlalu memanjakannya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tante, Om."


Setelah, bernasa basi, Ervan dan Tirta pamit pulang. Begitu, jua Alan yang harus bekerja.


"Kau memasang CCTV dikamar mu?" tanya Ervan, saat ketiganya berada dalam lift.


"Iya."


"Kenapa?" tanya Ervan dan Alan dengan sedikit kaget.


"Belajar dari pengalaman seseorang," lirik Tirta pada Ervan.


"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. "Memangnya, aku kenapa?"


"Iya. Karena, kau hampir gila gara-gara Clarissa."


Alan dan Tirta, terbahak.


Pintu lift terbuka. Ketiganya, keluar beriringan.


"Alan. Adikmu, perlu pengawal," saran Tirta.


"Iya.Orang tuaku akan mengurusnya. Dia terlalu manja dan keras kepala."


"Kenapa kau tidak menikah saja dengannya, Tirta? Jodoh sudah didepan mata."


"Kau gila! Dia masih anak-anak dan seperti adikku."


Alan masuk dalam mobilnya. Sementara, Ervan menumpang dimobil Tirta. Mereka berpisah diparkiran.


"Langsung ke perusahaan?"


"Kau tidak lihat pakaianku!" gerutunya.


Ervan menggunakan jeans dan baju kaos. Tirta sendiri sudah rapi, karena pikirannya yang menjurus ke pekerjaan, saat presdir menelponnya.


Tirta merogoh saku kemejanya, saat ponselnya bergetar.


KITA BELUM SELESAI! AKU AKAN MEMBALASMU.


pesan singkat, dengan huruf kapital. Nomor tidak diketahui, tapi Tirta sudah bisa menebak siapa orangnya.


"Kenapa senyum-senyum?" si kepo, yang duduk di kursi belakang. Penasaran dengan Tirta.


"Tidak ada. Aku hanya teringat kejadian tadi," kilahnya. Jujur pada Ervan, adalah masalah besar. Dia seperti ember bocor.


"Kenapa, kau sudah terpikat dengan gadis ingusan itu?"


"Tidak!" tegas Tirta. "Aku hanya merasa heran. Kenapa dia bersikeras membohongi semua orang?"


"Dia pendendam, sejak kecil. Sebaiknya, kau hati-hati. Dia akan terus mengejarmu."


Tirta tertawa sumbang. Memangnya, kenapa dia harus membalasku, hanya karena masalh kecil.

__ADS_1


__ADS_2