
Pagi hari yang tenang. Dua insan masih terlelap dalam selimut, sambil memeluk satu sama lain. Dinginnya udara, membuat keduanya enggan bangun. Apalagi, lelahnya tubuh sisa semalam, membuat kedua mata masih tertutup rapat.
Tok tok tok.
Ketukan pintu berkali-kali, terdengar menuntut. Beriringan suara panggilan yang terus menerus, seolah mendesak.
"Apa sih! Jam berapa ini?" Ervan membuka pintu dengan malas. Matanya masih enggan membuka lebar.
"Bangun! Temani Mama dan Papa."
"Aku sudah bangun. Kita mau kemana?" Menguap beberapa kali.
"Tirta meniduri perempuan."
"APA??" Ervan memekik, lalu kemudian tertawa sumbang. "Tirta meniduri perempuan? Hahahaha, lucu sekali!"
Plak.
Ervan mengelus kepalanya.
"Cepat bersiap!!"
Mama segera pergi.
Pagi tadi, ia dikejutkan dengan telepon yang berasal dari orang tua Alan. Mama dan Izzam yang masih mengumpulkan nyawa, terlonjak bangun.
Ervan kembali menutup pintu. Menyambar ponselnya diatas nakas. Menghubungi Tirta, untuk konfirmasi dengan berita mengejutkan tapi tidak terpercaya.
"Ini masih gelap. Ada apa?" Suara serak menjawab jauh disana.
"Apa benar kau meniduri perempuan?"
"Pagi-pagi buta, kau menelpon hanya untuk menanyakan hal konyol. Sudah, aku mau tidur."
Tut. Ervan menatap ponselnya. Yah, benar, Tirta tidak mungkin melakukan itu. Tapi, ia penasaran, siapa wanita yang sedang mengaku-ngaku itu?
"Kenapa sayang?" Suara lembut, membuyarkan pikiran Ervan.
"Oh, ratuku, tersayang. Tidur lagi, yah. Puk, puk." menepuk lengan Sarah dengan lembut.
"Apa sih!" Sarah bangkit. "Aku dengar suara Mama. Apa terjadi sesuatu?"
"Entah. Mama bilang, Tirta meniduri perempuan."
Sarah terhenyak, lalu tertawa bersama sang suami. Lihatlah, Sarah pun, tidak percaya.
"Kamu mau ikut sayang, mungkin ada pertunjukan, hihihi."
"Ikut, ikut," jawab Sarah antusias. Entah mengapa kasus Tirta, membuat ia heboh dan penasaran.
Keduanya, masuk dalam kamar mandi. Mandi bersama, yang kata Ervan akan mempersingkat waktu. Padahal, sudah jelas, apa yang akan terjadi didalam sana. Bukan mempersingkat waktu, malah menghabiskan waktu.
__ADS_1
Mama dan Papa sudah siap, di meja makan untuk sarapan. Mereka memulai, tanpa menunggu anak dan menantunya. Mereka akan menemui Alinna, meminta penjelasan terlebih dahulu. Karena mereka, tidak bisa serta merta, mempercayainya. Untuk Tirta, mungkin mereka bisa menemui, setelahnya.
Ervan dan sarah, sudah duduk bergabung, untuk sarapan bersama. Sebelum turun, keduanya masuk dalam kamar si kecil, yang ternyata masih tidur, ditemani sang pengasuh.
"Sarah, kamu mau ikut?"
"Iya, Ma."
"Sarah, penasaran. Siapa wanita yang sedang ngaku-ngaku itu? Tirta tidak mungkin, melakukan hal bodoh. Dia tidak tertarik pad perempuan."
"Oh, benarkah?" Mama meletakkan sendok dan garpunya. "Bukankah kalian punya sifat yang sama? Tidak tertarik pada perempuan? Ternyata, cucuku sudah lahir diluar sana!"
Ervan tersedak. Ucapannya, ternyata bumerang untuknya.
"Ma, jangan menyangkut pautkan denganku. Itu tidak ada hubungannya."
"Siapa bilang tidak ada? Kau dulu seperti itu. Dijodohkan kesana kemari, tidak tertarik. Rupanya, kau sudah menanam benih dan tidak mengingatnya. Anak kurang ajar! Cepat makan! Mama akan menjewer Tirta, nanti."
Ervan melirik sang istri yang menahan senyum. Cih! Bukannya tidak ingat. Mana aku tahu, kalau aku hebat dalam mencetak anak. Hohoho, sekali, langsung berhasil! Marah sekaligus memuji diri sendiri.
Ervan duduk dibalik kemudi, pagi ini ia akan menyetir untuk keluarganya. Mama dan papa duduk dikursi belakang.
"Ke apartemen Alan," ujar Papa.
"Kenapa ke sana? Bukannya kita harus menemui Tirta?"
"Sudah, jalan sana, Van. Kenapa kau terus bertanya?" Mama sudah menyela, dengan tidak sabar.
Mereka berjalan beriringan, dengan langkah cepat masuk dalam lift. Mama dan Papa, seolah sudah tidak sabar untuk segera tiba.
Ervan masih terus mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa harus kesini? Apa hubungannya dengan Alan? Bukannya, mendapat jawaban, Mama dan papa, hanya memintanya untuk diam dan tidak banyak bertanya.
"Mereka memperlakukanku, seperti anak kecil," gerutunya, dengan bibir mengerucut. Minta diperhatikan oleh sang istri.
Dilantai atas, apartemen Alan. Pria yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Pagi ini, seperti biasa, ia akan bertelpon ria dengan sang kekasih. Entah apa yang ia sampaikan dan dengarkan, sampai harus berguling-guling dengan senyum tidak jelas.
Brak.
Alan terlonjak, sampai menjatuhkan ponselnya. Ia geram, tapi saat menoleh nyalinya sudah menciut.
"Ibu, ayah. Kalian datang sepagi ini?" tanyanya dengan raut wajah bingung. Orang tuanya datang tiba-tiba dipagi buta, tanpa pemberitahuan.
"Dasar, anak bodoh. Kami menitipkan adikmu, tapi kau tidak bisa menjaganya!"
Ibu Alan sudah memukul putranya, tanpa ampun.
"Ibu. Stop!" Alan menutup wajahnya. "Ada apa ini? Aku tidak mengerti!"
Bel apartemen berbunyi.
"Awas kau, nanti!" Ibu berbalik, untuk membuka pintu.
__ADS_1
Sebenarnya, ada apa ini? Alan masih bingung. Menatap sang ayah, memintah penjelasan. Tapi, ayah hanya menatap penuh kekecewaan.
"Silahkan, masuk presdir, Nyonya."
Alan berlari menuju ruang tengah. Presdir, nyonya, untuk apa sepasang suami istri itu datang. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi dirumahnya? Sebagai pemilik, rumah ia sungguh tidak mengerti.
"Van," panggil Alan. Kenapa juga si gunung es itu datang, membawa istrinya?
Ervan mengangkat bahu, yang berarti ia juga tidak tahu apa-apa.
"Terima kasih, presdir dan Nyonya, sudah mau datang," ujar ayah Alan, yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Tirta sudah seperti putra kami."
Tirta? Alan blank. Kenapa membahas Tirta di rumahnya? Apa hubungannya dengan orang tuanya? Semakin dipikir, ia semakin stress.
"Sekarang, panggil putri kalian. Kami ingin mendengar ceritanya secara langsung."
Tunggu! Alan sudah, mengerti. Si sumber masalah, ternyata adiknya.
"Sebentar. Ibu, ayah, presdir." Alan ikut duduk. Ia harus meluruskan semuanya, sebelum terlambat.
"Tunggu, apa lagi?" bentak Ibu, "Temanmu sudah meniduri adikmu dan kamu masih membela sahabatmu itu."
"Adik?" Ervan membuka suara, dengan nada bingung. "Bukannya, adikmu masih TK?"
Plak.
Izzam menjitak kepala Ervan. "Memangnya, ingatanmu berada ditahun berapa?"
Kacau. Ervan mengacaukan suasana dengan kebingungannya.
Alinna sudah keluar, setelah ibu memanggilnya. Alan menatap sang adik, dengan amarah yang tertahan. Sungguh, ini sangat memalukan. Dia tahu, sifat adiknya yang pendendam dan akan membalas Tirta. Tapi, sungguh, ia tidak terpikir, Alin akan berpikir sejauh ini.
"Apa benar, Tirta melakukan hal buruk padamu?" tanya Izzam dengan tenang.
Alin mengangguk lemah. Wajahnya sembab, seolah terus menangis semalam.
"Wah, kau sudah besar. Padahal, kemarin kau masih TK dan bermain pasir, hahahaha."
Semua menoleh menatap tajam Ervan. Situasi sedang kacau, dia masih sempat-sempatnya, teringat masa lalu yang tidak penting.
"Van," tegur Sarah.
Izzam menoleh menatap Alan, memintanya untuk berbicara. Ia tidak bisa mempercayai, satu pihak saja.
"Tirta, membawa Alin di apartemennya." Ibu dan ayah, tersentak, membelalak menatap putranya yang tidak becus menjaga putri mereka. "Tirta, hanya menyelamatkan Alinna, Bu. Putri ibu, mau ke club dengan baju terbuka."
Semua mata, kini tertuju pada Alinna. Gadis kecil itu, tetap tenang.
"Kak Tirta, meniduriku saat di apartemennya."
__ADS_1
"APA??"