
Makan malam yang seharusnya, menjadi romantis dan tak terlupakan, berakhir begitu saja. Itupun, dua orang menikmati makan malam, bukan orang yang seharusnya.
"Ke mana si bodoh itu, kau sudah menelponnya?"
"Dia mematikan ponselnya." Tirta fokus pada lalu lintas didepannya.
"Cih, seperti anak kecil. Padahal, dia dulu, sok dewasa diantara kita, memberi saran ini itu, yang sama buruknya."
Yah, kalian sama-sama, seperti anak kecil. Tapi, kau yang paling parah, jawab Tirta dalam hati. Mana berani, dia bersuara, menambah level kemarahan Ervan, yang tidak jelas.
Mereka sudah tiba, Ervan keluar tanpa menunggu Tirta, membuka pintu mobil untuknya.
"Pulang sana!" usirnya, lalu langsung berlari masuk rumah. Seolah ada sesuatu yang menarik didalam sana.
"Siapa juga, yang mau berlama-lama disini!"
Tirta mundur perlahan, memutar haluan, lalu keluar gerbang.
Didalam rumah, Ervan yang tadi berlari-lari kecil, ternyata hanya ingin mencium dan memeluk sang istri.
"Sayangku, anak kita meminta adik," ujarnya, lalu menoleh pada sang anak. "Iya, kan, sayang?"
"Papapappapa," celoteh si kecil, seolah menjawab pertanyaaan sang ayah.
"Apa sayang? Benarkah? Kamu ingin adik perempuan. Papa akan mengabulkannya. Malam ini, kamu tidur bersama nenek dan kakekmu."
Sarah hanya memutar bola matanya, dengan malas. Modus jaman sekarang, menggunakan anak sebagai perisai.
Dua orang yang dimaksud, muncul entah dari mana. Duduk diatas karpet, mengajak cucu mereka bermain sambil berceloteh dengan absurd.
"Kebetulan, mereka sudah datang. Jadi, sayangku, katakan pada mereka, kamu ingin apa tadi?"
Papa dan Mama, menatap Ervan. Lalu, menundukkan pandangan melohat cucunya.
"Papapapa, mamama, duddu."
"Hah?" Bingung, bicara apa cucu mereka. Sudah lama serumah, tapi belum paham dengan bahasa cucu mereka.
"Dia bilang, akan tidur malam ini, bersama kalian. Karena ibu dan ayahnya, akan membuat bayi perempuan untuknya."
Pletak.
Sarah menjitak dahi suaminya. Mana boleh, berbicara sevulgar itu, dihadapan orang tua. Sarah merasa sangat malu, ingin dia mencelup wajah sang suami diair mendidih.
"Kakak minta adik?" Mama kembali bertanya pada cucunya, padahal jika dijawab sekalipun ia tidak akan mengerti.
Si kecil tertawa, menampilkan dua gigi bawahnya, yang baru tumbuh. Kedua tangannya bertepuk ria.
__ADS_1
"Lihat, kan, Ma. Dia menjawab iya."
"Kamu tahu dari mana?"
"Pa, lihat wajah dan ekspresinya. Dia sudah mengatakannya dengan jelas. Jadi, malam ini, anakku akan tidur bersama kalian."
"Dia hanya sedang tertawa, mana mungkin itu sebuah jawaban," protes Papa yang tidak mau malamnya terganggu, dengan usilnya sang cucu.
"Papa, bagaimana, sih? Itu adalah ekspresi yang menunjukkan bahagia, sebagai jawaban."
"Sudah, sudah. Kalian terus berdebat, Biar dia tidur bersama kami. Tapi, ingat Ervan, bulan depan cucu mama sudah ada diperut Sarah." Mengiyakan, tapi mengumbar ancaman setelahnya.
Keputusan sudah bulat, yang mana sama sekali tidak melibatkan Sarah. Padahal, ini menyangkut dirinya.
"Sayang," rayu Ervan, sengaja bertelanjang dada.
Sarah hanya tersenyum, lalu menutup pintu. Ikut membuka bajunya, menyisakan pakaian dalam. Membuat sang suami, menelan ludah.
"Aku sedang datang bulan."
Jedaarrr.
Suara gemuruh petir, seolah terdengar, bahkan seakan menyambar Ervan, yang sedang tidur terlentang.
"Ap-apa, sayang?" Ervan kembali memastikan pendengarannya, yang mungkin salah.
"Aku sedang datang bulan."
"Kenapa harus hari ini?" terus berguling-guling, sampai akhirmya membuang bantal yang tidak bersalah.
"Aku juga tidak tahu, kenapa harus hari ini," jawab Sarah dengan santai. Karena menurutnya, itu sudah menjadi kodrat perempuan.
"Kenapa kau tidak meminta, untuk menundanya minggu depan?"
Sarah menarik selimut, bersiap untuk tidur. Malas meladeni pertanyaan Ervan yang tidak masuk akal. Mana mungkin, menunda hal yang bukan kuasanya. Apa dia sakit atau bodoh? Pertanyaan apa itu? gumam Sarah.
Ervan memeluk Sarah dari belakang, menggesek-gesek juniornya dibokong sang istri.
"Apa tidak bisa?" Kembali memelas, seperti anak kecil yang meminta permen.
"Tidak. Cepat tdur. Buat adiknya, nanti minggu depan."
"Apa, minggu depan?" teriaknya tidak terima.
"Apa sih. Memang nanti minggu depan, aku datang bulannya lama."
Evan bangkit, memukul-mukul bantal yang menjadi pelampiasan kekecewaan. Kenapa harus hari ini? Dan kenapa aku harus menunggu minggu depan. Tidak adil, bugh, bugh.
__ADS_1
"Sayang, sudah dong. Kamu sebaiknya, pergi mengambil si kakak, tidur bersama kita."
Ervan kembali tidur, memiringkan tubuhnya memeluk sang istri. Biarkan, anakku mengganggu mereka. Agar, mereka tahu, perasaanku seperti apa. Lagi-lagi, menyeret orang lain agar ikut merasakan penderitaannya. Yang padahal, sama sekali tidak tahu apa-apa.
Jika dipikir, ia seperti kena karma, karena membuat makan malam, Alan berantakan.
Tapi, kan, itu bukan salahku. Dia saja yang bodoh. Ervan membatin, yang terus mempertahankan egonya.
Di kamar lantai bawah. Dua orang yang tidak tahu apa-apa, sedang menikmati ketidaktahuan mereka. Dan parahnya, papa yang harus menanggung lebih banyak penderitaan.
"Papa, buat susu."
Sepertinya, sifat sang putra menurun dari sang ibu.
"Baik, Ma."
"Pa, popoknya, penuh. Papa ganti, yah. Mama mau pake krim wajah."
Dan Izzam hanya menurut saja, karena malas berdebat. Terlebih lagi, ini cucu sendiri dan malam semakin larut.
Tapi,
Saat orang-orang sudah menyelam dalam mimpi, mata si kecil masih terbuka lebar. Menghamburkan mainan diatas tempat tidur. Ketika, sang kakek menutup mata, mainan mobil-mobilan mendarat sempurna diwajahnya.
"Ahhhh," teriak Izzam, yang langsung bangun meringis, memegang wajahnya.
Dan lihatlah, wajah tidak merasa bersalah itu. Dia tertawa sambil bertepuk tangan. Sungguh, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitulah, sifat si kecil yang mirip dengan sang ayah dan neneknya.
"Apa sih, Pa. Ini sudah malam, Mama mau tidur."
"Dia memukulku, Ma. Sakit sekali," Merengek minta dikasihani.
"Alaaaah, Papa ini. Tahan sedikit kenapa, cuma mobil-mobilan bukan batu bata. Lagian, dia cucu Papa."
Tahan? Tahan kepalamu! Enak saja, bicara seperti itu, coba dia yang kena. Papa mengomel dalam hati. Papa sudah emosi karen perkataan sang istri, belum lagi rasa kantuk yang menyerang.
Izzam memberikan susu pada si kecil, yang diterima dengan antusias. Sang cucu sudah berbaring, dengan botol susu dijepit menggunakan kedua kakinya.
Gaya macam apa itu? Bukan, menggunakan kedua tangan, tapi kaki. Papa hanya bisa menggeleng, lalu membersihkan tempat tidur dari mainan yang berserakan.
"Habiskan, setelah itu tidur. Opa sudah mengantuk."
Si kecil mengangguk, dengan mulut yang penuh dengan susu. Izzam sudah berbaring miring, menghadap si kecil. Berharap, susu itu segera habis dan dia segera tertidur.
Pandangan Izzam bergeser menatap, sang istri yang sudah terlelap.
"Apa begini rasanya menjaga anak dulu? Ternyata, melelahkan."
__ADS_1
Botol susu sudah jatuh, dan si kecil sudah tertidur. Izzam bernafas lega.
Akhirnya, dia bisa tidur dengan lelap.