CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 34 Menolak kembali


__ADS_3

Sarah dan Daniel, kini berada direstoran. Cukup lama, waktu yang dihabiskan Daniel untuk membujuk Sarah pergi dari perkuburan. Janji akan mengantarkannya kembali, membuat Sarah menurut.


"Nona mau makan apa?"


Daniel memberikan buku menu.


"Apa saja."


Daniel mengangguk, lalu memesan apa saja menurut Sarah.


"Tuan besar, sudah menceritakan semuanya pada keluarga." Daniel memberikan mainan pada si kecil yang sempat dibelinya diperjalanan. "Nyonya sangat menyesal dan kini sangat bersedih, ia bahkan tidak makan apapun dari kemarin, sampai tuan tidak tahu harus bagaiamana. Tuan muda sendiri, hanya mengurung diri dalam kamar.


Sarah mendengarkan tanpa berkomentar. Ia sudah memiliki keputusan, meski ia masih ragu, apakag jalan yang dipilihnya sudah benar atau akan membuatnya menyesal suatu hari nanti.


"Nona, kembalilah. Lupakan yang sudah terjadi, setiap manusia punya ujian masing-masing. Saya mengerti perasaan Anda, tapi sebaiknya, Anda tidak menoleh kebelakang."


Daniel masih terus berceramah, sampai pelayan membawa pesanan makanan mereka.


"Aku belum ingin kembali. Biarkan, aku memikirkannya."


Sarah meminum jus dengan sedotan.


"Nona .... "


"Tuan, tolong biarkan aku." Sarah menyela. "Cukup katakan pada presdir, aku masih ingin menyendiri dulu. Lagi pula, aku tahu, kalian selalu mengikutiku."


Daniel tampak berpikir, sembari memperhatikan gerakan Sarah.


"Nona, akan kemana? Setahu saya, Nona tidak memiliki tujuan. Meski, Anda kembali dikampung halaman. Mereka tidak akan menerima Anda."


"Aku tahu."


Matahari sudah berada diatas kepala, begitu terik seperti akan membakar kulit. Daniel kembali mengantar Sarah pulang. Meski, tidak kembali dikediaman Ervan, ia akan tetap berada di kota yang sama.


Tidak ada percakapan yang terjadi, sepanjang perjalanan. Sarah menikmati perjalanannya dengan banyak pikiran, sementara Daniel hanya fokus pada jalanan didepannya.


"Kita sudah sampai, Nona."


Sarah terbangun dari lamunannya, ia memandang keluar.


"Kita dimana?"


"Sekarang, kita diparkiran, Nona. Ini lantai basement, apartemen nona berada dilantai dua."

__ADS_1


"Apartemen?"


"Iya, Nona. Ini apartemen milik presdir, tapi sudah berganti nama milik Anda. Beliau memilih lantai dua, demi keselamatan.


Sarah hanya mengangguk, lalu turun dari mobil mengikuti langkah Daniel.


Pintu terbuka, Sarah masuk dalam apartemen tanpa berkomentar. Ia juga enggan untuk berkeliling didalamnya.


"Semua sudah disiapkan, pengurus rumah akan datang besok. Apa Anda butuh sesuatu lagi?"


"Tidak, terima kasih."


Daniel berpamitan, meninggalkan Sarah dan si kecil dalam apartemen.


Sarah memilih duduk di sofa, sementara si kecil sudah bermain diatas karpet.


Aku harus bagaimana? Sarah bergumam, sambil bersandar. Menghela napas dengan panjang, pikirannya menemui jalan buntu.


Kebingungan melanda hati dan pikirannya. Apa aku harus kembali atau tidak? Apa aku harus melanjutkan hubungan kami atau berhenti sampai disini? Ia tahu dengan pasti, orang tua Ervan, tidak akan membiarkan penerus mereka pergi.


Sarah terus berkubang dalam kebingungan, memijit kepalanya yang terasa berdenyut. Bagi sebagian orang, pasti akan memintanya untuk kembali. Toh, semua sudah terbongkar. Orang tua Ervan pun sudah menerimanya.


Tapi, masa lalu menjadi batu sandungan bagi Sarah. Mengingat Ervan, begitu menghina dan mempermalukannya.


Pagi hari, setelah kejadian malam itu. Sarah kembali ke perusahaan. Para karyawan sudah mengetahui gosip tentangnya. Mereka menatapnya dengan mengejek dan merendahkan, saling berbisik satu sama lain, dengan lirikkan mata kepadanya.


"Sarah, direktur memanggilmu."


"Iya, Kak."


Cih! Karyawan itu berdecis tepat didepannya.


"Perempuan murahan!" Ia kembali menghinanya.


Sarah masuk dalam ruangan, sudah ada direktur yang duduk menunggunya.


"Ada apa, Pak?"


"Ini surat pemecatan dari perusahaan. Kamu juga tidak akan mendapatkan pesangon, begitu juga dengan rekomendasi untuk bekerja di perusahaan lain."


Pria itu, bangkit memberikan surat pemecatan kepada Sarah.


"Ambil dan pergilah."

__ADS_1


Sarah berderai air mata, ia tidak melakukan apa-apa, tapi mendapat penghinaan yang begitu berat. Ia melangkah pergi, dengan menggenggam erat surat itu.


Dilantai bawah, dikejauhan ia menatap Ervan yang berjalan pergi. Pria itu, bersiap meninggalkan kota ini setelah apa yang dilakukan padanya.


Sarah berlari mengejar, tidak peduli dengan harga diri dan pandangan rekan kerjanya.


"Tuan."


Ervan menoleh, matanya dipenuhi amarah dan ketidakpedulian.


"Ada apa lagi?" Ervan melangkah maju.


"Kenapa Anda melakukan ini pada saya?"


"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" Volume suara yang sengaja dinaikkan Ervan, agar terdengar oleh semua staf karyawan yang ada ditempat itu. "Aku mabuk dan kamu sengaja naik ke tempat tidurku, menyerahkan tubuhmu. Sekarang, kamu meminta pertanggung jawaban. Apa kamu begitu ingin naik pangkat menjadi istriku?" Ervan menunjuk tubuh Sarah. "Apa kamu bermimpi menjadi nyonya besar?"


Air mata Sarah semakin mengalir, bersama dengan rasa sakit yang menyayat dalam hatinya. Hinaan Ervan kepadanya, membuat karyawan lain semakin merendahkannya. Yang dari tadi hanya saling berbisik, kini lebih menunjukkannnya secara terang-terangan.


Ervan pergi begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sementara, Sarah harus menanggung semua hinaan yang diberikan padanya. Seluruh perusahaan membicarakannya dan berujung pada hinaan yang bertubi-tubi.


Gosip di perusahaan terdengar, hingga dikampung halamannya, hingga sang kakak yang tidak tahu apa-apa, terkena imbasnya.


Sebulan mereka lalui, dengan menutup telinga. Membiarkan orang-orang terus bergunjing, tanpa tahu kapan akan mereda. Puncak kehancuran hidup Sarah, tatkala ia dinyatakan hamil. Terus menerus menutupinya, akhirnya ketahuan juga. Para tetangga, yang terus memaki mulai membulatkan suara untuk mengusirnya. Tamara masih bertahan, dengan memohon belas kasihan para tetangganya. Berharap mereka akan mengerti keadaan adiknya.


Kembali masa sekarang,


"Hiks ... hiks ... bagaimana aku bisa kembali, jika aku masih memiliki dendam padamu? Aku belum memaafkanmu."


Sarah terisak, mengingat sulitnya hidup yang harus dijalani. Makian dan hinaan, menjadi warna dalam perjalanannya.


Ia bertekad mencari Ervan, hanya untuk mendapatkan pengakuan untuk putranya. Agar kelak, ia tidak mendapatkan hinaan seperti saat ia masih mengandungnya.


Tapi, sekarang ia menjadi bingung dengan perasaannya. Pria itu, sudah berubah. Ia memperlakukannya dengan baik, meski tidak mengenalinya. Rasa nyaman, menyentuh hati Sarah selama mereka tinggal bersama.


Pria itu, tidak mengenali putranya sendiri, tapi begitu menyayangi si kecil. Kadang, ia mengatakan 'anak kita.'


Tapi, perlakuannya sekarang, tidak dapat mengobati masa lalu. Yah, benar! Ujar Sarah. Masa lalunya begitu pahit, tidak akan terobati secepat itu. Dan tidak akan sembuh, hanya karena perasaan nyaman.


Ia belum melakukan apa-apa untuk membalasnya. Tapi, identitasnya sudah diketahui dan sekarang pilihannya hanya satu, yaitu pergi sejauh mungkin.


Tidak peduli, bagaimana menyesalnya orang tua Ervan. Toh, kehidupannya dulu lebih menyakitkan dari keadaan mereka.


"Aku lebih menderita, karena kehilangan segalanya. Tapi, kalian hanya akan kehilangan cucu. Dan aku rasa, putra kalian bisa memberikan keturunan yang lain."

__ADS_1


Dalam keheningan, Sarah mengambil keputusan yang tidak tahu apakah benar atau salah. Baginya, Ervan harus merasakan kehilangan, seperti dirinya dulu.


__ADS_2