
Matahari yang sudah ditunggu-tunggu ibu Ervan, akhirnya diterbit juga. Wanita paruh baya itu, sudah berdandan sejak pagi, merangkai kata-kata yang akan disampaikannya pagi ini.
"Sarah, hari ini kamu ke butik, yah. Kamu pergi mencoba beberapa baju."
"Tapi, Ma. Sarah masih banyak baju di lemari. Itupun, semuanya belum terpakai."
"Mama sudah terlanjur memesan. Kamu coba saja dulu. Baju itu kamu pakai, untuk temani Mama ke arisan minggu depan."
"Minggu depan?" Papa menatap istrinya. "Bukankah mereka harus pergi bulan madu?"
"Tidak. Mama sudah memundurkan waktunya. Ada hal yang penting, jadi mama menundanya dulu."
"Hal penting apa, Ma?" Izzam masih penasaran, istrinya sendiri yang mengusulkan tentang bulan madu anaknya, tapi digagalkan sendiri olehnya.
"Sudah jangan banyak tanya. Papa itu yah, giliran mama bertanya, banyak alasannya."
Ervan dan Sarah, bergirang dalam hati. Tidak perlu lagi mencari alasan untuk menolak. Karena Mama sudah menundanya lebih dulu.
"Mama pergi dulu. Sarah, jangan lupa pesan Mama."
"Memang, Mama mau kemana sepagi ini? Mall saja belum buka, trus kenapa membawa cucu segala."
"Mama mau pergi pamer, kalau Mama sudah punya cucu. Sudah, Papa jangan menggangguku."
Mama masuk dalam mobil ditemani pengasuh, yang menggendong si kecil.
Ervan dan Izzam, berangkat bekerja. Sedangkan, Sarah harus mengganti baju terlebih dahulu.
"Bik Sri, kalau pulang nanti ditanya macam-macam bilang aja, kita pergi jalan-jalan," ujar ibu Ervan saat mereka dalam perjalanan.
"Iya, Nyonya. Tapi, jalan-jalannya kemana?"
"Emm." Mama berpikir, memandang keluar jendela mobil. "Bilang saja, kita pergi ke taman, terus ke rumah teman saya, yang lainnya kamu pikir sendiri."
"Baik, Nyonya."
Mereka pun tiba, Rumah sakit Anugerah Ibu. Begitulah, Bik Sri membaca nama rumah sakit yang terpampang diatas gedung.
"Nyonya sakit?"
"Sudah jangan tanya-tanya. Cepat, ikut saya!"
Ibu Ervan berjalan dengan langkah cepat, di depan ia disambut direktur rumah sakit yang baru saja tiba.
"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Bawa aku ke laboratorium."
"Baik, Nyonya. Silahkan ikut saya."
Mereka berjalan menyusuri koridor, Mama tersenyum saat pada petugas menyapa.
"Dia kepala laboratorium disini, Nyonya."
Mereka duduk dalam ruangan.
"Aku ingin melakukan tes DNA. Tapi, apa kalian bisa menutup mulut?"
"Tentu saja, Nyonya. Data pasien bersifat rahasia."
"Baiklah." Mama memberikan sampel rambut Ervan dan Sarah. "Ini sampelnya, cocokkan DNA nya dengan cucuku."
Kepala laboratorium dan direktur saling memandang. Keluarga Nugrah sudah ternyata sudah memiliki penerus, tapi kenapa kabar pernikahannya tidak tersebar. Dan sekarang, Nyonya besar, seperti sedang meragukan darah dagingnya.
"Kalian memikirkan sesuatu?" Mama memperhatikan mereka yang membisu.
__ADS_1
"Tidak, Nyonya. Maafkan kami. Nyonya tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik."
"Berapa lama?"
"Empat hari, Nyonya. Kami akan mengabari jika hasilnya sudah keluar."
"Ya, sudah. Sekarang, ambil sampel milik cucuku. Aku tidak sempat mengambilnya tadi."
"Baik."
Kepala laboratorium mengambil sampel rambut milik si kecil.
"Aku tunggu."
Ibu Ervan berjalan pergi, kembali diantar Direktur rumah sakit. Masih menyusuri koridor, mereka bertemu dokter Alan.
"Selamat pagi, Nyonya."
Dokter Alan menyapa, tapi sorot matanya tertuju pada arah yang dilalui ibu Ervan.
"Alan." Dia mendekat. "Anggap tidak melihatku. Jika Ervan bertanya, aku yakin berita itu berasal darimu."
"Baik, Nyonya."
Mereka kembali berjalan, meninggalkan Alan yang masih mematung.
"Gawat ... Gawat ... Aku benar-benar mati kali ini! Dasar Ervan, sialan!"
Direktur rumah sakit, masih menemani Mama sampai di lobi.
"Dokter Ron, rahasiakan ini dari siapapun, termaksud suami dan putraku."
"Saya mengerti, Nyonya."
Ibu Ervan berjalan keluar, menatap jam tangan yang melingkar dipergelangannya.
"Pak Dirman, kita ke perusahaan."
"Baik, Nyonya."
Ibu Ervan menjawab ucapan cucunya, mengobrol walau tidak nyambung. Meski, ia ragu tapi tidak dapat membenci si kecil yang sudah seminggu tinggal bersamanya.
Bagaimana jika anak itu bukan cucunya. Bagaimana jika Sarah ternyata menipu mereka. Rentetan pertanyaan menghantui pikiran ibu Ervan, saat itu juga ia tersadar.
Mereka sudah menikah dan tidur bersama. Bagaimana jika wanita itu hamil dan si kecil terbukti bukan cucunya. Ia semakin pusing saja, beban pikirannya kini bertambah banyak.
"Kita sudah sampai, Nyonya."
Supir membuyarkan pikiran ibu Ervan. Wanita itu, menatap gedung pencakar langit sebelum keluar dari mobil.
"Bik Sri, tunggu, aku di mobil," perintahnya sebelum pergi.
"Selamat pagi, Nyonya. Anda mau ke ruang presdir, biar saya antar."
Petugas keamanan menawarkan diri.
"Tidak, antar aku ke ruang HRD."
Petugas keamanan sedikit bingung, biasanya Nyonya besar hanya pergi keruangan suaminya.
"Silahkan masuk, Nyonya." Petugas keamanan, mempersilahkan masuk, saat di depan ruangan.
Para karyawan tampak sibuk dengan layar komputer didepan mereka, hingga tidak menyadari kedatangan nyonya besar, yang entah mengapa berkunjung ke ruangan mereka.
"Kalian sibuk?"
__ADS_1
Mereka menoleh, seketika bangkit dari duduknya, menunduk hormat. Salah satu dari mereka mendekat.
"Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu kepala divisi?"
"Iya, Nyonya. Silahkan, ikut saya ke ruangan."
Para karyawan, menatap ibu Ervan berjalan mengikuti atasan mereka. Saling menatap dan berbisik satu sama lain. Dugaan mereka sama, apalagi kalau bukan masalah gosip yang menyebar.
"Silahkan duduk, Nyonya."
"Katakan, siapa yang menyebarkan gosip tentang menantuku."
"Dia seorang resepsionis dan sudah dipecat. Katanya, dia mendengar ucapan ibu Wina yang mengenal nona muda."
"Panggil dia."
Wanita itu mengangguk, bangkit meraih telepon diatas meja miliknya.
"Dia segera kemari," ujarnya setelah kembali duduk.
Tak lama, ibu Wina muncul dengan wajah gugup dan takut yang bercampur jadi satu.
Wanita itu duduk, setelah dipersilahkan. Kepalanya masih menunduk, tidak berani menatap.
"Kamu." tunjuknya pada kepala divisi. "Tinggalkan kami."
"Baik, Nyonya."
Wanita itu, pergi dengan menutup pintu secara perlahan.
"Kamu mengenal menantuku?"
"Saya tidak mengenalnya, Nyonya. Hanya saja, dia memiliki wajah yang mirip dengan salah seorang cleaning servis yang pernah bekerja disini."
"Siapa namanya?"
"Namanya Tamara, dia memiliki putra yang bernama Ersan."
Mama mengepalkan tangannya, pikirannya seperti sudah mendapatkan jawaban.
"Ceritakan, semua tentangnya!"
"Dia ibu tunggal dan sedikit tertutup. Dia sering membawa putranya untuk bekerja, jadi para cleaning servis bergantian menjaga anaknya, termaksud saya. Kehidupannya memprihatinkan karena tidak punya siapa-siapa."
"Lalu, bagaimana dengan anaknya? Apa benar mirip putraku?"
"Maafkan saya, Nyonya."Ibu Wina takut untuk menjawab.
"Katakan saja, aku tidak memecatmu."
"Putranya memang memiliki wajah yang sama persis dengan CEO. Bahkan, kami sering menyamakan mereka. Salah satu cleaning servis, pernah berkata pada Tamara untuk mendekati CEO."
"Lalu, dimana wanita itu?"
"Dia sudah tidak bekerja. Tidak ada kabar darinya, terakhir ia mengirim pesan padaku, saat ia berada dirumah sakit."
"Rumah sakit?"
"Iya, Nyonya. Saya tidak tahu alasan dia berada di rumah sakit. Tapi, esoknya seorang satpam mengatakan kalau CEO membawa seorang karyawan ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri."
Mama mencoba mengingat, kejadian saat Ervan tidak pulang untuk melakukan perjodohan.
Jadi, mereka bertemu saat itu. Wanita itu, menggunakan putranya untuk menipu anakku. Mama berteriak dalam hati, memendam amarah yang seperti akan meletus saat itu.
__ADS_1
Penipu. Lihat bagaimana aku menghancurkanmu!