CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 21 Drama dilarut malam


__ADS_3

Sarah yang akhirnya menyerah, dengan sikap Ervan, memilih tidur. Saling berhadapan, dengan bayi mereka sebagai pembatas.


Di tengah malam....


BUGH,


Kaki kecil mendarat di wajah Ervan, membuatnya mengerjapkan mata. Ia menarik jari kaki kecil, mengangkat, lalu menatap putranya.


"Kenapa kau tidur seperti gasing?"


Ervan, membenarkan posisi tidur bayinya, lalu kembali memejamkan mata.


Tak lama, Ervan yang sudah tertidur, terus menggeser tubuhnya ke belakang, setiap ada sentuhan yang menempel ditubuhnya.


BRUKK.


"Ah, sial." umpatnya, setelah terjatuh dari atas tempat tidur.


Ervan bangkit, menoleh kiri, kanan, mencari pelaku yang sudah menganggu tidurnya. Lalu, menatap bayinya, yang tidur dengan posisi melintang. Kaki kecilnya, mengarah pada ibunya, dan kepalanya pada Ervan.


Ervan menggeleng, lalu tersenyum. Tempat tidur dengan ukuran king size, kenapa tidak cukup untuk mereka bertiga. Ia perlahan bangkit, membenarkan posisi tidur putranya untuk kedua kali..


"Jika kau masih tidur seperti gasing, aku akan menurunkanmu dilantai!"


Seperti mendengar ancaman ayahnya, anak itu terbangun, menatap Ervan dengan alis mengkerut..


"Kenapa kau bangun? Apa kau marah?"


Anak itu masih menatap, dengan bibir yang mulai tertarik kebawah hingga....


"Huaaaa...... Mamamama....."


"Diam, ini sudah malam."


Ervan memperingatkan, tapi suara tangis anak itu, semakin memenuhi udara dalam kamar. Sampai, akhirnya Sarah terbangun.


"Hemm ..."


Sarah menggeliat, dengan mata yang begitu terasa berat, ia mengambil posisi menyusui, berbaring miring ke arah putranya. Mengangkat baju tidurnya, hingga salah satu p*******nya menyembul.


Ervan membulatkan kedua matanya, entah wanita itu sengaja atau tidak sadar. Apalagi, Sarah seperti kembali tidur, dengan posisi yang membuat Ervan menelan ludahnya.


Bagaimana ini? Aku lanjut tidur, nanti dia tersadar. Kalau aku pergi, nanti ketahuan. Aarrgghhh**h.....


Bingung, Ervan naik ke tempat tidur, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara dan perlahan membaringkan tubuhnya dengan. membelakangi ibu dan anak.


Baru saja akan memejamkan mata, sebuah tangan kecil meraih tubuh Ervan. Ternyata, anak itu, tidak kembali tidur. Matanya terbuka sempurna dan tersenyum seolah meminta menemaninya bermain.


"Pa....pa...papa...."


"Tidak. Aku mau tidur."


Telapak tangannya yang mungil, menepuk-nepuk wajah ayahnya. Ervan, memutar tubuhnya, lalu kembali menoleh.


"****!" umpatnya.


"Bangunkan ibumu atau kau saja, rapikan baju nya."


Seolah mengerti, anak itu merangkak menuju ibunya. Wanita itu, tertidur dengan posisi menyusui dan baju yang masih terangkat.


"Pa...pa....papapa."


"Kau sudah selesai?"


Anak itu hanya tertawa, lalu menoleh ke arah ibunya, diikuti anak mata Ervan yang kemudian membelalak, kedua matanya seperti akan keluar.


"Kau sengaja? Aku menyuruhmu, merapikan bajunya, kenapa kau malah mengangkat semuanya."

__ADS_1


"Bababababa...."


Anak itu menjawab, seolah sedang memprotes atau entahlah, Ervan juga tidak mengerti.


Ervan menarik napas, mengambil selimut, menutup tubuh Sarah sampai batas leher.


"Kau puas?"


Anak itu bertepuk tangan, sambil tertawa dengan gemesnya. Lalu, merentangkan kedua tangannya, meminta digendong.


"Kau mau ke mana?"


Jari kecilnya menunjuk arah pintu, menggoyangkan tubuhnya, memerintah agar Ervan segera melangkah.


"Baiklah. Kita pergi, setelah itu kau harus kembali tidur. Mengerti."


Ersan mengangguk, karena gemes ayahnya mencium pipinya.


"Kau beruntung, karena tampan sepertiku."


Keduanya menuruni anak tangga, sepi tidak siapapun. Semuanya sudah terbuai dalam mimpi.


Anak itu kembali menunjuk sebuah pintu, yang berada depan ruang tengah.


"Hoooo, kau jahil rupanya. Hihihi....!"


Ervan terkikik, sedangkan anak itu bertepuk tangan, tertawa dengan suara menggema. Seolah, keduanya memiliki pemikiran yang sama.


"Baiklah, ayo kita masuk. Tapi, sebelum itu, buka popokmu. Hihihi." Kembali terkikik.


Ervan meraih handel pintu, membuka perlahan.


"Shuutt, jangan ribut." bisiknya dengan menempelkan telunjuknya di bibir.


Keduanya disambut dengan ruangan gelap dan sepi, karena penghuni didalamnya sudah terlelap. Ervan mengendap-endap, mendekati dua orang yang tubuhnya tertutup selimut.


Kembali berbisik, meletakkan putranya diantara dua orang yang sudah tertidur.


Ervan kembali menutup pintu. Kembali melanjutkan tidurnya, di kamar Sarah.


Di dalam kamar, anak itu mengedarkan pandangannya yang gelap, hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari lampu balkon kamar.


"Pa...pa...papapa."


Merangkak, lalu naik diatas kepala sang kakek yang masih bermimpi indah.


PUK...PUK...PUK


Menepuk kepala sang kakek, perlahan mendaratkan giginya yang tajam.


Aaaaahhhh!! Teriakan Papa memenuhi seluruh rumah. Suara yang memekik, membangunkan seluruh penghuni yang sedang terlelap.


"Papa, ada apa?"


Mama bangkit, menyalakan lampu meja di sebelahnya. Matanya mengerjap, melihat cucunya yang sedang bertepuk tangan.


"Ada yang mengigit hidungku?"


"Hahahaha...." Mama tertawa lepas, menatap suaminya yang memegang hidungnya.


Dari depan pintu kamar, terdengar ketukan dari kepala pelayan rumah.


"Tuan, Anda baik-baik saja."


"Ya, aku baik-baik saja. Kembalilah, tidur."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Sementara di kamar yang berada dilantai dua, Ervan sedang tertawa puas, setelah mendengar teriakan sang ayah.


"Bagus ... Bagus, anakku memang pintar. Hahahaha...."


Papa menatap cucunya, rasa perih sepertinya langsung hilang seketika.


"Siapa yang membawamu kesini sayang?"


"Papapapapa..."


"Oh, jadi kalian menjahili kakek, yah?"


Mama kembali tertawa, memeluk cucunya yang sudah mengganggu tidur mereka. Papa menantap jam dinding yang menggantung.


"Masih jam 2, Ma. Ayo, kita kembali tidur."


"Tidur? Papa, tidak lihat cucu kita mau bermain."


"Baiklah, kita temani dia satu jam."


Esok pagi,


Matahari masih tampak malu-malu, dedaunan pun masih basah karena embun. Sarah mulai mengerjapkan matanya.


"Ukh, apa ini? Kenapa berat sekali?"


DEG, Kaki!


Sarah menoleh, pria yang bertelanjang dada memeluknya seperti guling. Terdengar dengkuran halus, helaan napas yang yang teratur.


Apa ini? Tunggu! Kemana anakku? Kenapa kami hanya berdua?


Sarah, melepaskan tangan Ervan yang melilit di pinggangnya. Langsung bangkit, keluar kamar, menuruni anak tangga setengah berlari.


"Ada apa, Nona?"


Kepala pelayan, bertanya setelah melihat Sarah yang begitu panik.


"Aku mencari anakku. Semalam, kami tidur bersama. Tapi, pagi ini dia menghilang."


"Tuan muda kecil, sepertinya tidur di kamar tuan besar."


"Hah?"


Sarah menautkan alisnya.


"Tuan muda, yang membawanya semalam."


Kepala pelayan tampak tersenyum, seperti mengetahui kekacauan yang terjadi semalam.


"Baiklah, terimakasih."


Sarah kembali naik, ke kamarnya. Di dalam, Ervan sudah terbangun duduk bersandar, di tepi tempat tidur. Pria itu, tersenyum kecil.


"Apa yang lucu? Kamu membawa anakku, pindah dikamar lain, tanpa sepengetahuanku."


"Bagaimana kamu bisa tahu, jika tidurmu seperti babi? Bahkan kamu menyusui dengan mata tertutup."


"Apa? Kau melihatnya?"


Aduh, salah ngomong. Bagaimana ini? Kenapa dia mendekat, dengan wajah seperti itu?


"Aku tidak bermaksud melihatnya. Kau langsung mengangkat bajumu tanpa aba-aba. Bagaimana aku bisa menghindar?"


"Aku kan, sudah mengatakannya, jangan tidur bersama kami."


"Kau seharusnya berterima kasih, karena aku tidur bersama kalian. Anak kita terbangun, bagaimana kalau dia terjatuh. Lagi pula, kenapa kau begitu marah hanya karena aku melihat ..." Ervan membuang pandangannya. "Ah, sudahlah. Aku mau mandi."

__ADS_1


Sarah hanya menganga, tidak percaya. Di mana CEO dingin dan acuh yang dilihatnya di perusahaan. Kenapa dia menjadi orang yng berbeda setelah tinggal serumah dengannya.


__ADS_2