CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 7 Dua Identitas


__ADS_3

Sarah kini sedang menyusui putranya, yang ia beri nama Ersan Anugrah. Ia sengaja memberi nama belakang yang sama dengan nama perusahaan tempatnya bekerja. Anugerah yang berarti pemberian, Akila sangat bersyukur dengan pemberian Tuhan yang diberikan untuknya. Seorang anak yang memberikan semangat dan senyuman, setiap kali ia mulai putus asa.


Yah, putus asa, ia memang sudah sangat berputus asa ketika mengetahui, ia tengah berbadan dua. Hamil tanpa seorang suami, membuat Sarah frustasi dan ingin mengakhiri hidup. Tapi, niatnya terhenti saat memikirkan nasib kakaknya. Ia hanya memilki seorang kakak perempuan, sebagai satu-satunya keluarga dalam hidupnya.


Seorang kakak, yang mengorbankan masa depannya hanya untuk membiayai sekolahnya hingga selesai.


Sarah berperang dengan batinnya, rasa bersalah terus menyerang saat kakaknya terus menasehati agar ia selalu menjaga diri. Ia meneteskan air mata, setiap kali kata itu keluar, bagaimana bisa ia menjaga diri, jika kekuatannya dengan mudah dikalahkan seorang pria yang begitu berhasrat? Bagaimana ia bisa melawan jika pria yang memperkosanya adalah orang paling di segani di kotanya?


Sarah menatap putranya yang masih menyusui. Ia menghapus air matanya yang jatuh begitu saja tanpa permisi. Butuh setahun baginya, untuk mempersiapkan diri, mempersiapkan mentalnya. Kali ini ia tidak akan menangis lagi, ia akan membalas apa yang terjadi kepadanya. Ia pergi meninggalkan makam kakaknya, untuk datang mencari pria yang sudah menghancurkan hidupnya, menghancurkan cita-citanya.


Tekadnya begitu bulat, ia mengganti identitas dengan menggunakan nama Kakaknya Tamara. Gadis dengan ijazah SMA, melamar pekerjaan sebagai cleaning servis di perusaahan Anugerah Grup. Semua terasa lancar, sampai ia bertemu dengan CEO perusahaan yang telah melupakannya.


“Bagaimana perasaanmu sayang, setelah bertemu ayahmu? Dia cukup baik mengurusmu, tapi ibu tidak akan


luluh secepat itu.”


Membaringkan Ersan yang sudah tertidur. Dengan perlahan, ia menutupi tubuh mungil putranya dengan selimut. Lalu membaringkan tubuhnya, menatap-langit-langit kamar sambil menerawang. Kejadian hari ini, datang tanpa Tamara rencanakan sebelumnya. Ia tidak mengira mereka akan bertemu secepat ini, sebelumnya ia hanya akan menemui Ervan seorang diri tanpa melibatkan putranya. Tapi, sepertinya pria itu melupakannya, saat ia membersihkan ruangan CEO.


Sarah tidak bisa melanjutkan tidurnya, karena hari sudah mendekati pagi. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap wajah tampan Ersan yang sama persis dengan ayahnya. Mengelus pipinya yang tembem, lalu mendaratkan kecupan dipucuk kepalanya.


“Rupanya, kau memiliki sisi lembut, saat mengurus putramu. Wajahmu yang dingin dan tidak bersahabat, membuatku mengubah rencanaku,” gumamnya sambil terus menatap wajah putranya.


Saat ia mulai memejamkan mata, terdengar suara pintu yang terbuka diiringi langkah kaki seperti mengendap-endap. Ia membalikkan tubuhnya, menatap tiga orang pria masuk dengan wajah kusut dan kurang tidur. Ia bangkit, seolah mempersilahkan mereka untuk masuk.


“Apa kami mengganggumu?” tanya Tirta.


“Tidak, Pak. Silahkan masuk, saya juga sudah tidak bisa tidur.” Ketiganya pun langsung duduk di sofa.


“Apa dia sudah tidur?” tanya Ervan.


“Sudah, Pak. Em ... Pak, saya minta maaf atas kejadian hari ini. Saya sudah merepotkan Bapak dan semuanya.”


“Hemm, sudahlah. Tidak apa-apa, tapi kenapa kamu membawa putramu di perusahaan?”

__ADS_1


“Maaf, Pak. Saya tidak punya keluarga disini. Jadi, saya terpaksa membawanya. Tapi, Bapak jangan khawatir anak saya tidak mengganggu pekerjaan saya. Tolong, biarkan dia tetap bersama saya.”


“Kamu tidak punya keluarga? Mana suamimu? Lalu, siapa yang menjaganya ketika kamu bekerja?” cecar Ervan mencoba menggali informasi tentang Akila, meski ia pun sudah mengetahui tapi belum sepenuhnya. Karena, yang ia dapatkan hanya informasi umum saja.


“Suami saya sudah meninggal, Pak. Saat anak saya belum lahir dan masalah anak saya di perusahaan, Bapak jangan khawatir, teman-teman saya membantu untuk menjaganya.”


Meninggal?Alasan yang tepat untuk menutup sebuah aib.


“Baiklah, saya tidak akan mempermasalahkannya selama itu tidak mengganggu. Saya akan


menyewa seorang pengasuh, selama kamu berada di rumah sakit.”


“Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak.”


“Hmm, sudahlah. Saya mau tidur.”


Pagi ini, Ervan sudah kembali ke rumah dengan menampilkan senyum cerah di wajahnya saat melewati para pelayan di rumahnya. Tidak seperti biasanya, ia hanya menampilkan wajah acuh tak acuh. Ia menapaki anak tangga, menuju lantai kamarnya, membuka pintu dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk.


“Hahaha.... Lucu sekali.”


Sudah hampri dua tahun, ia tidak merasakan hal seperti ini, bangun pagi dengan wajah cerah dansenyum yang terukir di bibir tipisnya. Sepertinya, anak itu membawa perubahan bagi kehidupannya. Ervan membalikkan tubuhnya, menatap jam dinding lalu bangkit untuk membersihkan tubuhnya.


“Pagi, Ma, Pa,” sapa Ervan.


Kedua orang tuanya saling menatap, seperti menemukan sesuatu yang berbeda dari putranya. Mereka memang tidak mengetahui, tentang masalah yang membuat sikap Ervan berubah drastis.


“Pagi sayang. Apa ada sesuatu yang terjadi?” Selidik Mama.


Ervan menyungingkan senyumnya, mengambil roti tawar dan mengolesnya dengan selai. Lalu mengunyahnya perlahan sambil menahan tawanya. Kejadian semalam, begitu melekat dalam ingatannya.


“Tidak ada, Ma. Hanya Alan dan Tirta saja yang berbuat konyol semalam.”


“Lalu apakah sekarang, kamu bisa memberitahu kami alasan kamu tidak pulang untuk makan malam?”

__ADS_1


“Ma,” Ervan menghela napas.


“Apa karyawanmu begitu penting sampai kamu sendiri yang membawanya ke rumah sakit? Dia hanya cleaning servis, kenapa tidak menelpon ambulan untuk menjemputnya?”


“Mama, stop. Apa salahnya kalau aku melakukannya?” Meletakkan rotinya yang tersisa sepotong.


“Ervan, Mama tahu itu hanya alasanmu saja untuk menghindari pertemuan tadi malam. Apa kamu tidak memikirkan, bagaimana Mama dan Papa menahan rasa malu?”


“Aku tidak pernah meminta Mama melakukan perjodohan dan aku tidak akan mengubah pendirianku.”


“Ervan,” bentak Papa, bangkit dari duduknya, "apa kamu tidak bisa pulang dan bertemu? Hanya bertemu Ervan."


"Pa, Ma, bisakah kalian mengerti posisi Ervan? Aku tidak ingin menikah dengan gadis yang tidak membuat hatiku tergerak. Jadi, tolong hentikan."


"Van, kamu cukup bertemu satu atau dua kali, kalau kamu merasa tidak cocok, kami tidak akan memaksa." Kali ini papa yang membujuk putranya.


Ervan membisu, bujukan papa tidak membuat pendiriannya goyah. Baginya, itu hanyalah alasan, agar ia bersedia menemui setiap gadis yang dipilih orang tuanya. Setelah, mereka bertemu sekali, orang tuanya pasti langsung menentukan tanggal pernikahan tanpa bertanya terlebih dahulu padanya. Apalagi, gadis yang mereka perkenalkan tidak jauh dari hubungan bisnis belaka.


"Aku pergi," pamitnya tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.


Ervan berjalan pergi, perlahan kakinya menapaki di halaman rumah. Dilihatnya, Tirta sudah menunggu dengan setelan jas berwarna coklat.


“Bagaimana keadaan wanita itu?” tanya Ervan yang duduk di belakang supir.


“Dia sudah membaik, Alan sudah mengatur perawat dan pengasuh untuknya.”


“Bagus, beritahu Alan untuk tidak membiarkan dia keluar dari rumah sakit tanpa izinku. Aku harus membuatnya lebih lama berada di sana.”


“Kenapa?”


“Sudah, jangan bertanya. Lebih baik perhatikan jalananmu.”


“Baiklah.”

__ADS_1


__ADS_2