CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 37. Siasat Clarissa


__ADS_3

"Masuklah dan kunci pintumu."


Ervan beranjak pergi, tapi Clarissa menghadangnya.


"Kak, tinggallah beberapa jam atau beberapa menit saja. Aku akan menghubungi temanku untuk datang. Aku sangat takut, bagaimana jika mereka menobrak pintuku. Aku mohon."


Clarissa bercucuran air mata, memohon agar pria didepannya merasa iba.


"Kamu membuatku muak, Clarissa. Aku tidak memiliki alasan untuk menerima permintaanmu."


"Kak, aku tahu kita tidak punya hubungan apa-apa. Paling tidak tolonglah aku, sebagai adikmu. Aku sangat takut, jika mereka melakukan hal buruk padaku. Hiks ....hikss..."


Ervan masuk dalam apartemen, sebenarnya ia tidak peduli, tapi Clarissa yang menangis mengingatkannya akan Sarah. Mengingat, bagaimana Sarah dulu memohon padanya, untuk bertanggung jawab.


"Telpon temanmu, aku hanya akan menemanimu sepuluh menit."


Clarissa mengangguk, ia meraih ponselnya, entah sedang mengirim pesan atau tidak. Tapi, senyum samar terukir di bibirnya.


Ervan sudah duduk di sofa, bersandar sembari memejamkan mata. Pikirannya berkelana, akan apa yang terjadi esok hari. Apakah Sarah akan memaafkan dan menerimanya kembali atau malah mengusirnya?


Di dalam kamar, Clarissa sudah mengatur siasat dengan baik. Ia harus mendapatkan Ervan, bagaimanapun caranya. Tidak peduli, dengan penolakan pria itu, karena ia memiliki cara yang jitu, untuk membuat kedua kaki Ervan tetap tinggal bersamanya.


Pertama, ia membersihkan tubuhnya dalam kamar mandi. Sengaja membiarkan rambutnya yang basah tergerai jatuh. Clarissa menggunakan baju tidur tipis dan terbuka. Membiarkan dadanya terekspos dan kedua pahanya terlihat.


Aku tidak percaya, kalau kau tidak tergoda! Bergumam sambil, menyemprotkan parfum di tubuhnya. Bukankah kalian, suka perempuan yang berinisiatif. Clarissa tersenyum, setelah memoles wajahnya.


Clarissa membuka pintu kamar, sengaja membiarkan aroma parfumnya menyeruak. Ia berjalan sambil memainkan rambutnya yang basah, bahkan baju tipisnya sudah menampilkan branya didalam sana.


Berbaliklah, Kak! Lihat aku!


Clarissa berhenti sejenak, menatap Ervan yang bersandar dengan mata terpejam. Sial! Umpatnya dalam hati.


Ia kembali berjalan, satu dua langkah, ia berhenti dibelakang Ervan.


Ah, aku ingin sekali memelukmu.


Karena pria didepannya, tidak bergeming, Clarissa akhirnya membuka mulut.


"Kak, teman aku sudah diperjalanan."


"Hmm," jawabnya singkat tanpa membuka mata.


Clarissa tidak kehabisan akal, ia terus mencari cara agar Ervan mau menatapnya.


"Kak Ervan, mau minum sesuatu?"


"Kau punya soda?" Ervan menjawab dengan mata yang sudah terbuka, tapi tetap saja tidak menoleh kebelakang.


"Ada, Kak. Tunggu, aku ambilkan."

__ADS_1


Clarissa berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa botol soda.


"Ini, Kak." Clarissa meletakkannya diatas meja.


Ervan mengambilnya, tanpa memandang Clarissa yang tengah duduk didepannya, dengan kaki sedikit terbuka.


Glek, glek, minuman soda menyisakan setengah botol. Ervan mengambil ponselnya, sengaja mencari kesibukan untuk mengabaikan gadis didepannya.


"Kak." Clarissa berpindah duduk, di sofa sebelah Ervan. "Sudah berapa lama istri, Kak Ervan pergi?"


"Bukan urusanmu."


Clarissa kembali berpindah tempat duduk, kali ini, di sofa tempat Ervan.


"Kak." Menurunkan tali bajunya. "Kita pernah dijodohkan dan aku menyukai kakak." Clarissa menempelkan tubuhnya pada Ervan. "Aku bersedia memberikan kehangatan untuk kak Ervan."


"Benarkah?" Ervan menoleh, meletakkan ponselnya, lalu memegang dagu Clarissa dengan lembut. "


Ah, sudah kuduga. Kamu saja sama, kamu pasti menginginkan tubuhku.


Clarissa mengangguk, tersenyum nakal pada Ervan yang perlahan memajukan bibirnya, seperti akan mendaratkan ciuman.


"Bagaimana caranya menghangatkanku?" Telunjuk Ervan bermain-main di leher Clarissa.


"Sentuh aku, Kak! Aku menyerahkan tubuhku. Sentuh aku!"


"Kamu menginginkan sentuhanku?" Ervan berbisik, salah satu tangannya sudah menurunkan tali baju Clarisa. Jari-jarinya mulai bermain di dada Clarissa, yang masih terbungkus dengan bra.


"Ahh!!" Suara yang dibuat-buat untuk memancing gairah Ervan.


"Jika kamu sangat ingin disentuh, kenapa tidak membiarkan empat pria tadi melakukannya?"


Deg! Ervan menyerigai licik, tangannya sudah membuka pengait bra.


"Sekalipun kamu membuka semua pakaianmu, aku sama sekali tidak tertarik." Ervan membuka bra Clarissa, hingga p******* terlihat. "Jangan menggunakan trik seperti ini, karena membuatku jijik."


"Kau!" Wajah Clarissa memerah karena malu, apalagi Ervan tidak menunjukkan reaksi apa-apa, meski ia sudah setengah bugil.


"Cukup besar, tapi tidak menarik. Mungkin, tetangga depan kamar akan tertarik. Coba tawarkan padanya."


Ervan berdiri, berjalan menunju pintu. Sementara, Clarissa mengepalkan tangan, malu dan marah sudah memenuhi rongga dadanya.


"Tidak usah, sok suci. Aku tahu kamu menginginkannya."


Clarissa melepas baju tidurnya yang sudah menggantung. Untuk apa harga diri, jika bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Ia berjalan tanpa sehelai benang di tubuhnya, mendekati Ervan yang berada didepan pintu.


"Katakan, kau menginginkannya!"

__ADS_1


"Clarissa, melihatmu sekarang menawarkan tubuhmu, aku yakin kau sudah sering melakukannya pada pria lain dan itu membuatku jijik padamu."


Ervan meraih handle pintu, lagi-lagi Clarissa mencegahnya.


"Aku mencintaimu, Kak dan aku melakukan ini semua hanya untukmu. Aku masih suci, aku bisa membuktikannya."


Satu langkah, ia kembali menempelkan tubuhnya.


"Aku tidak berminat. Aku sudah menikah dan punya anak, seharusnya kau memiliki sedikit hati nurani untuk menggoda pria bersuami."


"Aku tidak peduli, aku rela menjadi simpanan atau istri kedua."


"Apa kau sangat tidak laku? Sampai begitu memaksa. Jangan memancingku untuk berbuat kasar, sekarang minggir!!"


Ervan mendorong tubuh Clarissa hingga menepi. Lalu, membuka pintu, keluar sesegera mungkin.


"Siaall," umpatnya dengan napas naik turun.


Clarissa merasa sangat malu, mendapat perlakuan Ervan. Ia sudah sangat merendahkan dirinya, bahkan sudah seperti seorang wanita malam.


Praanggg!!


Botol-botol soda, sidh berserakan diatas lantai. Serpihan kaca bercampur dengan genangan air yang berasal dari botol.


"Tidak tertarik!" Prangg, vas bunga kembali mendarat diatas lantai. "Tidak berminat, meski aku telanjang didepanmu!" Praangg, sebuah guci tak luput dari amukannya.


Napas Clarissa naik turun, amarah yang membuncah tidak bisa ia tahan lagi. Ia berpikir, Ervan akan menghabiskan malam ini dengannya. Apalagi, ia sempat membuka bra miliknya.


"Kamu mau bermain-main, sayang. Baiklah, aku akan menemanimu dan kita lihat siapa yang jadi pemenangnya."


Clarissa mengambil sebuah kamera mini yang sempat ia selipkan diantara vas bunga.


"Kamu memang tidak menyentuhku. Tapi, siapa yang akan percaya."


Clarissa tertawa, melepaskan kekesalannya. Ia memungut baju tidurnya dari atas lantai.


Di luar gedung apartemen, Ervan sudah masuk dalam mobil, setelah meminta Tirta menjemputnya.


"Apa yang terjadi?"


"Jangan tanyakan, dia wanita yang berbahaya."


"Apa?" Tirta mengerem mendadak. "Apa dia akan membunuhmu?"


"Tidak. Dia ingin meniduriku."


"Lalu?" Tirta kembali melaju. "Apa yang berbahaya, jika ia menidurimu?"


Percaya atau tidak, Ervan seperti tersengat listrik dengan pertanyaan Tirta. Sekretarisnya yang bodoh atau terlalu polos. Hal sederhana, tapi membutuhkan waktu lama untuk ia pahami.

__ADS_1


__ADS_2