CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 71. Makan malam yang gagal


__ADS_3

Alan sudah melaju, dengan perasaan tidak tenang. Sang adik yang tiba-tiba datang, tanpa pemberitahuan. Gelisah dan cemas, meninggalkan gadis kecil sendirian, diapartemen. Meski, diakui adik kecilnya sedikit pemberontak dan keras kepala.


Hah! Alan menghela napas. Pikirannya mulai kacau, karena kegelisahan.


"Sedang apa?"


"Lagi nonton, Kak."


"Jangan kemana-mana, mengerti kamu!"


"Iya, Kak."


Sambungan terputus. Meski, tahu adiknya masih di rumah, perasaan gelisah, masih terus menyelimuti.


"Ah, sial?" umpatnya, yang masih terus melaju, menuju tujuan awal.


Alan memarkir kendaraannya, disebuah restoran jepang. Ia melihat mobil Zia terparkir, tak jauh. Segera, Alan berlari masuk. Biasanya, pria yang akan menunggu kedatangan, wanita. Tapi, ini sebaliknya, membuat Alan kalang kabut.


Disudut ruangan, disamping jendela kaca lebar, dengan tanaman sakura berdiri kokoh. Zia melambaikan tangan.


"Memalukan. Kenapa harus dia yang menungguku?"


Alan mempercepat langkahnya.


"Maaf. Aku benar-benar minta maaf," ujar Alan dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa. Aku baru juga tiba. Mau pesan sekarang?"


"Maaf." Belum sempat Alan menjawab, nada dering ponselnya, mengganggu.


"Kenapa?"


"Pulang sekarang!"


"Aku baru saja, tiba. Kenapa menyuruhku pulang?"


"Adik kecilmu, ternyata gadis liar. Dia mau ke club dengan pakaian kurang bahan."


"APA??" Alan langsung bangkit. Sementara, Zia menatapnya karena tersentak.


"Dia apartemenku, sekarang. Aku mengurungnya disini."


"Oke, oke. Tunggu, aku!"


Sambungan terputus.


"Maaf, aku harus pergi."


"Kenapa?"


"Adikku membuat masalah."


"Adik?"


"Nanti, aku jelaskan!"


"Aku ikut," ujar Zia yang sudah bangkit menyambar tasnya.


Alan mengangguk untuk mengiyakan. Keduanya berjalan beriringan, menuju mobil masing-masing yang sedang terparkir. Mobil Alan melaju lebih dulu, disusul Zia yang mengikuti dari belakang.


Kedatangan Alinna, mulai membuat Alan stress. Orang tuanya, yang sudah pensiun memilih hidup dipinggiran kota, dengan membuka sebuah klinik. Alinna tinggal bersama orang tuanya, setelah lulus sekolah, akan melanjutkan kuliah dengan tinggal bersama kakaknya.


Tapi, baru sehari, Alan sudah stress. Alinna yang terlihat patuh, ternyata berkeliaran dibelakangnya.

__ADS_1


Alan sudah tiba lebih dulu, keluar mobil, sembari menunggu Zia memarkir kendaraannya.


"Ini dimana?" tanya Zia dengan, mensejajarkan langkahnya, mengikuti Alan.


"Apartemen Tirta."


"Hah!"


Zia menahan bibirnya, untuk bertanya lebih jauh. Melihat raut wajah Alan, yang serius dan menahan kesal.


Tirta membuka pintu, saat bel berbunyi. Alan menerobos masuk, bersama Zia.


"Mana?"


"Aku mengurungnya di kamar," jawab Tirta santai.


Zia ikut duduk di sofa, bersama Tirta. Alan melangkah menuju kamar.


Brak.


"Alin." Alan membeku, mendapati adiknya, menangis dengan tubuh tertutup selimut. "Kenapa?" tanya Alan dengan panik.


"Kak Tirta, meniduriku, hiks, hiks." Berurai air mata.


Plak.


"Kakak." Alin meringis, mengelus kepalanya.


"Kau pikir aku percaya padamu? Sekalipun kau telanjang dan menari didepan Tirta. Dia akan membuangmu dijendela. Pakai bajumu!"


Alan bergegas keluar, sambil menggelengkan kepalanya. Kenapa adiknya bertingkah seperti ini untuk membalas Tirta? Untungnya, Alan mengetahui sifat sahabatnya yang cenderung lurus.


"Aku akan membawanya pulang. Terima kasih," ujar Alan yang duduk disamping kekasihnya.


"Kenapa adikmu berada disini?" tanya Zia, yang sepanjang jalan tadi, sudah merasa penasaran.


"Aku memberinya tumpangan. Katanya, mau bertemu teman-temannya di club."


"Hah! Aku pusing, bagaimana akan menjaganya nanti, saat kuliah." Alan mengacak rambutnya. Ia tidak mungkin menjaga adiknya 24 jam. Apalagi, ia harus bekerja.


Alin muncul dengan pakaian lengkap. Matanya masih sembab. Jika harus berakting, maka harus semaksimal mungkin. Ia ingin memberi pelajaran pada sahabat sang kakak, yang sudah mengacaukan rencananya.


"Kakak, kenapa kau tidak percaya padaku?" Alin masih menangis sesegukan.


Tirta menatapnya bingung. Apa yang sedang ditangisi gadis kecil ini? Padahal tadi, ia masih berteriak dan memakinya dalam kamar.


"Kamu kenapa?" tanya Zia, yang merasa kasihan.


"Kak Tirta, meniduriku!"


Uhuk!


Tirta tersedak, dengan ludahnya sendiri. Matanya membeliak menatap gadis kecil, yang menangis, tapi wajahnya seperti sedang mengejeknya.


"Pak sekretaris!" seru Zia tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Zi, jangan percaya padanya. Tirta, mungkin akan membuang adikku dari gedung ini."


"Menidurimu?" Tirta menaikkan volume suaranya. "Gadis ingusan sepertimu? Jangan mimpi. Pulang sana!"


"Kakak. Hiks, hiks, hiks."


"Alin, sudah. Kau membuatku pusing. Aku akan mengirimmu keluar negeri dan meminta paman mengawasimu."

__ADS_1


Sial! Kenapa mereka tidak percaya padaku? Apa mungkin Tirta itu, benaran takut pada perempuan? Tidak bernafsu? Hahaha, dasar sial. Tunggu! Apa dia gay? Makanya, kak Alan tidak percaya padaku.


Aku akan mengadu pada ibu dan ayah. Mereka pasti percaya. Putri kesayangannya ditiduri.


"Kami pulang dulu. Terima kasih." Alan menepuk bahu Tirta.


Alin menjulurkan lidahnya, Isyarat bahwa ini belum selesai. Dia pasti akan membalasnya.


Tirta tidak peduli. Ia segera menutup pintu, agar lekas beristirahat.


"Untuk apa, kamu ke club? Siapa yang mengajakmu?"


"Teman-temanku. Mereka akan kuliah disini, jadi kami janjian."


"Alin. Kakak saja, tidak pernah mengijakkan kaki ditempat itu. Sekarang, kamu mau pergi kesana dengan pakaian seperti itu," bentak Alan.


Alin menunduk, dengan mengerucutkan bibirnya. Dalam hati, terus menyalahkan Tirta dan bersumpah akan membalasnya.


"Lalu, kenapa kamu memfitnah Tirta seperti itu? Kakak lebih mengenalnya, jadi dia mustahil akan melakukan itu padamu."


"Apa dia gay, Kak?"


"Diam!"


Cih! Sudah pasti. Mana mungkin, pria tidak tertarik pada wanita, kecuali dia tidak normal.


Brak.


Alan membanting pintu mobil dengan keras. Sementara, Alin yang nyalinya sudah menciut, turun tanpa bersuara. Mengekor dibelakang, sang kakak yang berjalan lebih dulu.


Mampus! Aku gak mau kuliah diluar. Bagaimana ini?


"Bereskan pakaianmu! Kakak akan mengantarmu pulang."


"Aku tidak mau, Kak. Aku mau kuliah disini."


"Kuliah? Kuliah apa? Kau belum menjadi mahasiswa sudah keliaran dan sudah terpikir untuk ke club. Mau jadi apa, kamu?"


"Kak, aku janji, ini terakhir kalinya. Aku bersumpah."


"Kakak tidak percaya. Sekarang, bereskan pakaianmu, besok kita berangkat."


Alan keluar dari kamar adiknya, dengan gusar. Untung, masih untung, Tirta menyelamatkan adiknya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.


Alinna masih mondar mandir dalam kamar. Tidak, ia tidak mau kembali pulang, apalagi harus keluar negeri, dengan pengawasan ketat sang paman. Ia juga tidak mau kuliah di fakultas kedokteran. Dokter bukanlah cita-citanya, meski keluarga besarnya adalah profesi dokter.


Ia ingin menjadi desaigner terkenal. Dasar, Kak Tirta, sialan! Masih sempat-sempatnya mengumpat, pada saat terdesak.


Alinna meraih ponselnya. Sebelum sang kakak yang memberitahukan situasinya. Dia akan mengadu lebih dulu.


"Halo, sayang. Bagaimana tinggal bersama kakakmu?"


"Bu, hiks, hiks, hiks."


"Kenapa sayang?"


"Teman kak Alan, melecehkanku. Dia meniduriku, tapi kak Alan lebih percaya padanya. Hiks, hiks, hiks."


"APA? Ibu akan menjemputmu!"


Sambungan terputus. Alinna tertawa. Rasakan! Aku akan membalas, sekaligus memanfaatkan kak Tirta sebagai jalan keluarku.


"Menikah dengan pria gay, kebebasanku akan terbuka lebar. Hahaha...."

__ADS_1


__ADS_2