CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 78. Perkenalan keluarga


__ADS_3

Tepat, pukul tujuh malam. Dua keluarga, yang sudah membuat janji, duduk berhadapan. Sebuah restoran, dengan konsep ala eropa.


Acara perkenalan, dimulai dari keluarga Alan. Memperkenalkan ayah, ibu dan dirinya. Begitu, juga dengan keluarga Zia.


Ayah yang seorang notaris dan Ibu adalah seorang dosen, disalah satu universitas ternama. Zia anak sulung dari tiga bersaudara. Dua adiknya masih menempuh pendidikan.


Begitulah, Kira-kira Zia memperkenalkan dua orang tuanya.


"Kami sebenarnya, tidak percaya, saat Zia berkata punya kekasih." Ibu Zia menatap putrinya.


"Putra kami juga. Dari minggu, kemarin mengatakan ingin memperkenalkan Zia pada kami."


"Hahahha.... jodoh, kadang memang unik, ketika dipertemukan."


Terasa akrab, begitulah yang terjadi saat ini. Dua orang tua mereka, mengobrol seperti biasa.


"Nak, Zia sangat cantik," puji ibu Alan.


"Mereka sangat cocok," timpal ibu Zia.


Lalu berlanjut, mengutarakan niat Alan yang ingin melamar Zia, sebagai istrinya.


"Kami keluarga, menerima dengan tulus, Nak, Alan yang ingin melamar putri kami," ujar ayah Zia.


"Baguslah. Jika tidak ada masalah. Bagaimana jika dua minggu dari sekarang. Kami datang melamar secara resmi?"


"Baiklah, kami setuju."


Alan dan Zia, tersenyum dengan saling bertukar pandang.


Waitress, datang menyajikan hidangan utama. Mereka masih mengobrol terkait acara pernikahan nanti.


"Setelah, acara lamaran. Kita akan membicarakan acara pernikahan mereka."


"Baiklah. Kami akan menunggu."


Makan malam pun, berjalan dengan baik. Dua keluarga, mengobrol dan tertawa. Dan dua calon pengantin, mulai tersenyum malu, satu sama lain. Memikirkan, apa yang akan mereka lakukan, selanjutnya.


Hampir dua jam, acara pertemuan itu berlangsung. Dua orang tua mereka, pulang dengan kendaraan masing-masing. Sementara, Alan dan Zia, juga saling berpamitan diarea parkir.


"Jangan lupa, telepon aku, kalau sudah sampai."


"Baik."


Zia segera masuk mobil, melambaikan tangan, sebelum pergi.


Alan sudah memasang seat belt. Ia akan menemui Tirta, meski sebelumnya, ia sudah mengatakan tidak bisa.


Ditempat berbeda.


Salah seorang yang masih betah menjomblo dan tidak berniat mencari pasangan. Tirta duduk sendiri, sebuah cafetaria. Memperhatikan, keramaian dari jendela kaca.


Ponselnya bergetar. Pesan singkat, yang kadang membuatnya tersenyum.


Kak Tirta, belum punya pacar, kan?


Pesan selanjutnya.


Ingat, kak Tirta, masih harus tanggung jawab. Aku akan pulang, menagih janji nanti.


Tirta geleng-geleng kepala. Sebenarnya, anak ini kenapa, terus menerornya? Dekat tidak, bertemu pun hanya sekali.


Tirta meletakkan ponselnya. Meminum jus, melalui sedotan. Ia kembali menatap keluar.


Hah! Apa aku harus menikah? Gumamnya. Tapi, dengan siapa?


Dengan siapa? Itulah, inti permasalahan dari pikiran Tirta. Tidak mungkin, ia harus menculik seorang gadis, untuk dijadikan pengantin.

__ADS_1


Jatuh cinta!! Bagaimana rasanya jatuh cinta? Selama ini, tidak ada yang membuatnya tertarik. Ia juga tidak merasa kesepian, karena memiliki dua sahabat yang senasib dengannya. Tapi, perlahan semua mulai berubah, ia sendirian sekarang. Meski, masih berkomunikasi dan bertemu, tapi semua sudah tidak sama lagi.


Bahkan, saat ini, ia duduk sendirian, bertemankan keramaian diluar sana.


Siang tadi, ia sudah berencana, mengajak Alan dan Ervan, untuk makan bersama.


Namun,


"Aku sudah ada janji. Malam ini, aku akan memperkenalkan Zia pada ayah dan ibuku," tutur Alan.


"Aku sedang sibuk. Nanti saja!" jelas Ervan.


Mungkin, Alan bisa dimengerti. Tapi, manusia yang satu itu, entah sibuk apa. Setiap hari, mengatakan sibuk. Bermain ponsel pun, ia mengatakan sibuk.


Tirta segera, menghabiskan jusnya. Ia ingin berjalan sebentar, sebelum pulang. Tapi, ponselnya berdering. Kali ini, bukan pesan melainkan video call.


Yah, gadis kecil itu, punya keberanian untuk melihat wajahnya dari jarak jauh.


"Kenapa?"


"Kak Tirta, dimana?"


"Bukan urusanmu!"


"Kakak pacaran, ya?" Tampak wajah Alinna dipenuhi kekesalan.


"Jangan mengangguku. Sebenarnya, kamu itu kenapa? Dendam?"


"Iya.Karena, Kak Tirta, cita-citaku, tidak terwujud dari yang seharusnya."


"Apa hubungannya denganku?"


"Jika aku pulang, aku akan membalasnya."


"Terserah!"


Lucu dan gemas, melihatnya, marah, bergumam sendirian.


Sudah hampir pukul sepuluh malam, sudah saatnya Tirta pulang. Ia butuh tidur dan istirahat panjang. Besok, ia harus bekerja dan menjadi pendengar untuk Ervan. Yah, si boss yang kadang-kadang, moodnya seperti cuaca. Tidak bisa ditebak, kadang mendung yang dipikir akan hujan, ternyata tiba-tiba bersinar karena sesuatu hal.


"Kau sudah mau pulang?"


"Kenapa kau ada disini?" Bukannya menjawab, Tirta kembali bertanya.


"Aku sudah selesai. Jadi, aku segera datang."


Tirta sedikit terharu.


Alan mengambil kursi depan sahabatnya. Memanggil waiter untuk memesan.


"Latte dan roti bakar."


Waiternya pergi setelah, mencatat pesanan Alan.


"Aku pikir, kalian akan lanjut berkencan."


"Itu akan membosankan, Tirta. Kami sudah setiap hari bertemu, dirumah sakit. Jadi, baiknya kami mengambil jeda, agar tidak sering bertemu."


Keduanya,. membisu, menatap keluar. Hanya, terdengar helaan napas. Tapi, sorot mata keduanya, terkunci pada sosok yang tiba-tiba muncul.


Dia melambaikan tangan pada mereka, tersenyum penuh keanehan.


"Ada angin, apa dia datang?" ujar Alan.


Sosok yang dimaksud, sudah duduk bergabung. Merapikan rambutnya, sebelum bersuara.


"Pesankan, aku teh madu." Seperti biasa, ia akan memerintah.

__ADS_1


Alan kembali memanggil waiter, hanya dengan isyarat tangan.


"Teh madu, satu."


"Ada lagi, Pak?"


Alan dan Tirta, melirik Ervan. Yang dilirik, tidak peduli. Ia sedang sibuk, menulis pesan pada ponselnya.


"Roti bakar saja, yang sama denganku."


"Baik, Pak."


Ervan meletakkan ponselnya.


"Mana tehku?" tanyanya.


"Hei, kau baru pesan satu detik yang lalu."


"Begitu, ya?"


Alan tidak menjawab.


"Kenapa kau datang? Bukannya kau sibuk?" tanya Tirta.


"Urusanku sudah selesai. Tinggal menunggu hasilnya. Hehehe...."


Dari tawanya, Alan dan Tirta, sudah bisa menebak.Urusan, apa itu? Urusan yang sangat penting dan perlu usaha ekstra.


"Kau sendiri?" Pertanyaan Ervan, ditujukan pada Alan. "Kenapa kau ada disini? Bukannya, kalian ada pertemuan keluarga?"


"Sudah selesai."


"Orang tuamu, setuju?"


"Iya. Memangnya sepertimu, yang banyak drama."


Tirta terkekeh. Lalu, sorot mata Ervan, berpindah padanya.


"Kapan kau menikah Tirta? Kau tidak bosan sendirian dan terus menelpon, meminta kami menemanimu. Untung, kau laki-laki!"


"Memangnya, kalau aku perempuan kenapa?"


"Kau tidak pikir? Kau ditemani dua pria, setiap malam. Masih, untung kau laki-laki." Ervan kembali mengulang kalimat terakhirnya.


Pembicaraan mereka terhenti. Waiter datang, membawa pesanan Alan dan Ervan.


Baru saja, Ervan menggigit rotinya dan Alan menyesap kopinya. Ponsel Tirta berdering.


"Siapa?" tanya Ervan.


Tirta tidak menjawab, langsung memberikan ponselnya pada Alan. Dia ingin menunjukkan, perilaku adiknya, yang selalu menerornya.


"Siapa?" tanya Alan yang menerima ponsel Tirta.


"Video Call?"


Ervan langsung merapatkan kursinya.


Dan, wajah Alina langsung tampak disana. Alan hendak marah, tapi lenyap karena suara sumbang disampingnya.


"Uuuu.... Kau menelpon Tirta, Video call? Hahahaha.... Jadi, ini pacaran jarak jauh?" Ervan kembali tertawa.


"Alinna, kau.... "


Tut. Layar ponsel langsung gelap. Seketika, tawa Ervan kembali pecah.


"Kalian pacaran? Hahaha...., Alan akan menjadi kakak iparmu. Bagaimana ceritanya, jika kalian berdua tinggal serumah? Hahahahaaa..."

__ADS_1


Alan dan Tirta saling bertukar pandang. Mungkin, perkataan Ervan, membuat otak mereka mengarah ke arah sana.


__ADS_2