CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 61. Sabar, Tirta


__ADS_3

"Berapa jarak dari sini, menuju cabang perusahaan kita?"


Kau bertanya padaku? Memangnya, aku tahu. Kenapa kau tidak lihat ponselmu dan bertanya pada dunia maya.


"Aku tidak tahu, Mungkin, sekitar dua jam perjalanan." Kembali menjawab, dengan profesional.


"Kita ke villa dan menginap disana. Besok, minta mobil perusahaan, untuk mengangkut barang-barang itu dan antar di apartemen Alan."


"APA??" pekik Tirta.


"Kenapa kau berteriak?" Ervan menatap tajam.


"Bukannya tadi, kau sudah menerimanya? Lalu, kenapa kau membawanya di apartemen Alan?" Pertanyaan Tirta seolah tidak terima. Bahkan raut wajahnya, sudah menunjukkan aksi protes.


"Oh, begitu. Jadi, kau keberatan aku membawa di apartemen Alan?" tanya Ervan, yang dijawab dengan anggukan kepala Tirta. "Kalau begitu, bagaimana dengan apartemenmu? Dua meja makan dan sofa, sepertinya cukup untukmu."


Tirta tertawa sumbang, tangannya mengibas sebagai jawaban. Apartemennya sudah penuh, jika ditambah barang-barang itu lagi, maka tidak ada tempat untuk berjalan didalamnya.


"Tidak, tidak, terima kasih. Lebih baik, ke apartemen Alan saja. Dia pasti senang, karena ini hadiah pemberian dari Zia."


Dari pada menderita sendiri, lebih baik mengorbankan sahabatnya, mumpung Alan sedang berada diluar kota.


Alan, jangan salahkan aku. Salahkan, gunung es ini!


Sementara, Ervan tertawa lebar, sambil keluar halaman dan masuk dalam mobil. Ia sepertinya, sangat puas dengan jawaban Tirta yang menyelamatkan diri.


Dasar. Kenapa dia senang sekali menyiksa kami? Tuhan, tolong balas dia untukku, sekali saja. Tirta, ikut melangkah sambil berkomat kamit.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang jaraknya, lumayan jauh. Dan kali ini, Tirta mendapat omelan dari kursi belakang, yang tidak ada habis-habisnya.


"Dua jam. Kau bilang hanya dua jam, aku sudah duduk lebih dari dua jam."


Yah, mereka sudah menempuh perjalanan selama dua jam lewat dua menit. Ervan yang terus memperhatikan jam tangannya, dan menghitung waktu tempuh.


Dari kursi depan, Tirta mulai habis kesabaran. Seperti ada kepulan asap, diatas kepalanya. Dari awal, dia sudah berkata tidak tahu dan hanya memperkirakannya saja. Tapi, Ervan malah menganggapnya seperti perhitungan akurat dan tidak boleh salah, meski lewat beberapa detik saja.


Tahan, Tirta! Tahan! Sabar, sabarlah hati. Aku mohon! Tarik napas, buang. Anggap saja, dibelakangmu, adalah seekor cicak, yang tersedak nyamuk dikerongkongannya.


"Sudah lewat sepuluh menit. Kenapa belum sampai Tirta? Jangan-jangan kamu tersesat, iya, kan?"


Cekiitt.


Tirta berhenti mendadak. Ervan yang dari tadi terus mengomel, menjadi kaget hingga kepalanya mendarat di belakang kursi pengemudi.


"Kau," Ervan emosi. "Kau sengaja, kan?"


"Aku hampir menabrak kucing." Tirta mengelus dadanya, yang kaget.

__ADS_1


"Benarkah?" Ervan memperhatikan keadaan diluar. "Turun dan periksa." Emosinya sudah lenyap, berganti menjadi khawatir.


Tirta sudah diluar, mengecek ban mobil dan kucing yang dimaksud. Ia tertawa sekilas, dengan menutup mulutnya menggunakan tangan, agar tidak terdengar.


"Bagaimana?" tanya Ervan yang masih cemas.


"Tidak apa, dia lari dalam semak-semak." Tirta kembali melaju, tanpa menoleh di kursi belakang.


Rasakan, pembalasanku! Kau mengomel lagi, aku akan membuat, wajahmu bengkak. Hahahaa. Tirta, sebisa mungkin menahan tawa, yang hampir pecah. Ia bisa mati, jika ketahuan, mengerjai Ervan.


Ervan sendiri, sudah berhenti mengomeli Tirta. Ia sibuk dengan ponselnya, dengan bervideo call ria.


"Halo, sayangku. Kamu sudah mandi?"


Tirta seperti ingin muntah, bulu kuduknya merinding, mendengar nada manja dari kursi belakang.


"Sudah. Kamu ada dimana? Kenapa belum pulang?"


"Aku ada diluar kota, aku akan pulang besok. Kenapa kamu rindu padaku? Ooo, kau rindu, kan?"


Cih! Sok, imut. Ingat umur, Tuan. Di kursi depan, Tirta sewot sendiri.


"Tidak. Kenapa aku harus rindu? Kita juga baru berpisah pagi tadi."


"Buahahahaha....." Tawa Tirta meledak, tidak menyadari Ervan sudah menatapnya tajam dan akan memberinya serangan kejutan.


"Sayangku. Jangan seperti itu. Apa kau malu karena ada Tirta?"


Tirta sedang meringis kesakitan, bahunya berdenyut, karena serangan tiba-tiba.


Ervan terus bervideo call, saat mereka sudah masuk dalam halaman villa. Ada petugas keamanan yang menyambut dan membuka pintu mobil. Ervan hanya mengibaskan tangannya, lalu berjalan masuk.


"Bagaimana disini?" tanya Tirta pada petugas keamanan dan kepala pelayan.


"Semua baik-baik saja. Kami hanya kaget, karena tuan muda tiba-tiba datang, setelah setahun."


"Baguslah. Siapkan semua, seperti biasa."


Mereka mengangguk, lalu membubarkan diri, setelah Tirta masuk dalam rumah.


Ervan sendiri, sedang berguling-guling diatas tempat tidur, dengan wajah Sarah dalam ponselnya.


"Apa kamu menginap di hotel? Aku seperti pernah melihat kamar itu."


Deg.


Ervan segera memajukan ponselnya, hingga wajahnya tampil dalam layar penuh. Ia tidak mau merusak suasana, karena sang istri yang teringat tentang masa lalu.

__ADS_1


"Benarkah? Aku dihotel bintang lima. Mungkin, warna catnya, mirip kamar kita."


"Baiklah. Memang sepertinya benar. Ya, sudah istirahatlah. Aku mau berpakaian."


"Sayang. Itu, aku, ...."


"TIDAK "


Tut. Sambungan terputus, Ervan berteriak frustasi. Sepertinya, Sarah sudah tahu maksudnya dan langsung mematikan ponselnya.


Ervan mengedarkan pandangannya. Ingatannya mundur, ke masa lalu. Saat ia bangun, dengan seorang wanita yang duduk menangis, tanpa menggunakan pakaian.


Ia shock, tapi saat ia mengingat malam itu. Ia memukul kepalanya.


Bukannya bertanggung jawab, ia malah melemparkan cek, pada Sarah.


"Ah, sangat bodoh. Kenapa aku sangat bodoh, waktu itu?" Berbicara seorang diri, tanpa malu ketahuan sedang memaki dirinya sendiri.


"Tunggu. Kalau dipikir, aku sangat hebat. Cuma sekali, langsung jadi. Hahahaha....."


Memuji diri sendiri, dengan bangga. Jika ada yang mendengarnya, mungkin akan menyebutnya tidak tahu diri. Karena, dulu tidak mengakui putranya.


Ervan kembali berguling-guling. Suasana hatinya, sedang bagus. Ia lalu, bangkit untuk mandi dan berganti pakaian.


Tiga puluh menit berlalu. Ia sudah tampak segar, dengan pakaian kaos dan celana pendek. Masih senyum-senyum tidak jelas, sembari bersiul.


Ia keluar kamar, masih dengan senyumnya. Menepuk bahu Tirta, yang sedang berdiri di kaca jendela. Terus berlalu, dengan bersenandung ria.


Ooo, sikap narsisnya, kambuh! Gumam, Tirta. Ia terus menatap Ervan, yang duduk didepan sebuah layar tv lebar. Pria itu, dengan santainya mengambil remot.


Lihat, dia! Ada, hal baik apa, yah? Jangan, Tirta. Sebaiknya, kau jangan penasaran. Kau tahu, betul, endingnya seperti apa. Sebaiknya, kau pergi menjauh, sebelum dia memanggilmu.


"Tirta."


Mati, kau!! Batin Tirta, berteriak geram.


"Iya."


"Kau tahu, aku sedang senang dan bahagia. Kau tidak mau bertanya alasannya?"


Tidak, terima kasih. Aku tahu, kau hanya, ingin pamer.


"Memangnya, kenapa? Istrimu mengatakan rindu." Meski, menolak dalam hati, ia tetap bertanya.


"Bukan itu. Ada yang lebih baik. Kau tahu, apa? Aku baru sadar. Kalau aku hebat. Hahahaha." Bertanya sendiri, lalu mnjawabnya sendiri, tertawa dengan bangganya.


Kau sudah tahu, kan, beginilah endingnya! Batin Tirta, seolah menyalahkan Tirta, yang tidak segera pergi, meski sudah diperingatkan.

__ADS_1


__ADS_2