CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 49. Dokter Alan jatuh cinta


__ADS_3

Perang dingin, di kediaman Anugrah sudah berakhir. Meninggalkan keluarga mereka, kita berpindah pada dua jomblo, yang selalu bersama setiap akhir pekan.


Tirta dan Alan, selalu membuat janji untuk menghabiskan akhir pekan. Mulai dari berolahraga dipagi hari, hingga makan malam bersama seperti pasangan. Sebenarnya, dulu mereka sering melakukannya bertiga. Tapi, si pemimpin mereka sekarang, memilih menghabiskan akhir pekan didalam kamar.


Pagi dengan cuaca sedikit dingin. Matahari masih tampak malu-malu diatas sana. Alan dan Tirta, sedang joging ditaman kota. Berlari dua meter, sisanya, mereka berjalan kaki sembari mengobrol.


"Setelah ini, aku mau sarapan!" Tirta menatap Alan yang menghela napas, seolah sedang menghadapi masalah. "Kau kenapa?"


"Jangan bertanya. Aku sedang bad mood!!"


"Baiklah, aku tidak akan bertanya."


Keduanya duduk dibangku, yang banyak dijumpai ditaman kota. Meneguk air, sambil berisitrahat sejenak.


"Masalah pekerjaan?" tanya Tirta lagi. Ia dilanda rasa penasaran. Karena, ini pertama kalinya Alan terlihat galau.


"Bukan. Ini lebih sulit." Alan menghela napas panjang.


Tirta masih menatap sahabatnya. Berpikir, apa sebenarnya hal yang begitu sulit dari pekerjaan? Bagi Tirta, Alan bukan tipe orang yang sering mengeluh. Apalagi, diantara persahabatan mereka, dia yang lebih dewasa dalam menghadapi masalah.


"Bagaimana kalau kita menemui Ervan? Mungkin kamu bisa membicarakan masalahmu padanya?"


"Aku rasa, otakmu sedikit tidak waras. Membicarakan masalahku padanya, bukan mendapatkan solusi. Justru ia akan menertawakanku, menghinaku dan seterusnya, sampai dia puas."


"Memangnya, masalahmu sedikit lucu? Kenapa dia harus menertawakanmu?"


Alan melotot, lengkap sudah penderitaannya. Si polos Tirta, sungguh membuatnya emosi.


Drt, drt, drt.


Tirta tidak langsung mengangkat ponselnya. Ia terlebih dahulu menunjukkan layar ponsel, pada Alan. Memberitahu siapa yang sedang menelponnya.


"Halo."


"Biar aku tebak. Kalian pasti sedang bersama, kan? Hahahaha...." Suara tawa diseberang sana, sungguh membuat emosi.


"Kau mau apa?" Tirta kembali bertanya dengan ketus.


"Sungguh!! Kalian bersama dipagi hari? Hahaha .... Kalian seperti pasangan!!"


Tut.


Tirta mematikan ponselnya. Si gunung everest, mentang-mentang sudah berbahagia sekarang. Kini menertawakan mereka berdua, yang masih jomblo.


"Dia bilang apa?" tanya Alan, yang tidak mendengar percakapan mereka.


"Jangan bertanya. Dia membuatku kesal."


Drt, drt, drt.


Giliran ponsel Alan yang bergetar, dan berasal dari orang yang sedang mereka bicarakan.


"Ada apa??"


"Hahahaha ...." Bukannya menjawab, Ervan langsung tertawa puas.


"Jangan mengangguku!"

__ADS_1


"Aku mau mengajak kalian, ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Datang saja ke rumah. Aku tunggu! Ingat, kalian sebaiknya mandi dan berganti baju!!"


Tut.


Sambungan terputus. Tirta menatap Alan, meminta penjelasan.


"Dia ingin kita menemuinya di rumah. Katanya, mau suatu tempat!"


"Ya, sudah. Ayo!!" Tirta langsung bangkit.


"Dia bilang kita harus mandi dan berganti baju!"


Tirta tidak menjawab, wajahnya sudah berubah menjadi kesal.


"Ya, sudah. Kita sarapan dulu! Biarkan dia menunggu."


Keduanya, berjalan keluar dari taman kota. Menyebrangi jalan raya, menuju sebuah cafe.


Menunggu beberapa menit, makanan dan segelas kopi sudah tersaji diatas meja.


"Kenapa dia mau menemui kita?" Tirta meneguk kopi yang masih beruap.


"Mungkin, mau memperlihatkan kebahagiaannya sekarang. Lalu, menertawakan kita berdua."


Alan menyendok makanan, kunyah-kunyah, sebelum menelannya.


Mereka berdua menghabiskan satu jam hanya untuk sarapan sembari mengobrol.


Pukul sepuluh pagi, dua orang yang ditunggu dari tadi, akhirnya muncul. Keduanya, turun dari mobil yang sama. Tersenyum lebar, karena berhasil membuat wajah didepan sana tampak kesal.


"Jam sepuluh?" teriak Ervan. "Kalian melakukan apa, sampai menghabiskan waktu dua jam?"


Keduanya hanya mengangkat bahu, berpura-pura tidak tahu. Masuk dalam rumah, sebelum diperkenankan.


"Selamat pagi, Sarah," sapa keduanya.


"Pagi," balas Sarah, yang sedang menyuapi si kecil.


Ervan ikut menyusul dalam rumah, menyipitkan mata, dengan tingkah dua sahabatnya.


"Sebenarnya, kau mau mengajak kami kemana?" Alan duduk diatas sofa, menyandarkan punggungnya.


"Ikut aku!" Ervan berjalan menapaki anak tangga, menuju ruangan kerja.


Alan dan Tirta menyusul dengan malas, padahal mereka baru saja duduk.


"Ada apa? Kau membuatku penasaran."


"Tutup pintunya!" perintah Ervan pada Tirta.


Apa sih!!


Mereka bertiga duduk saling berhadapan, diatas sofa, dengan meja sebagai jarak ketiganya.

__ADS_1


"Aku mau ke kampung halaman Sarah. Menebus rumah orang tuanya dan memperbaiki makam mereka."


"Lalu, kenapa kamu harus membicarakannya disini?"


"Aku mau membuat kejutan. Keren, kan?" Ervan tersenyum bangga. Tidak peduli, bagaimana dua jomblo menatapnya, tidak terima.


Cih!!


"Kapan?"


"Hari ini, kita mengecek lokasi dulu. Setelah, itu baru kita pikirkan!"


Alan menghela napas panjang. Sedari tadi, perasaannya sedang memburuk.


"Kalian berdua saja yang kesana. Aku tidak ikut!"


"Kamu kenapa?"


"Dia ada masalah, tapi tidak ingin memberitahuku. Katanya, masalah ini lebih rumit dari pekerjaan." Tirta yang menjawab. Padahal. Alan sudah melotot padanya, agar tidak membicarakannya pada Ervan.


"Masalah apa? Tunggu!!" Ervan menahan senyum. "Kau ditolak? Hahaha...." Ledakan tawa pun pecah, padahal Alan belum menjawab. Tapi, dari raut wajahnya, Ervan bisa menebak dengan mudah.


"Ditolak? Seorang wanita menolakmu?" Tirta seakan tidak percaya. Alan yang katanya playboy dan mengaku banyak memiliki ilmu cinta, tapi ditolak.


Dan benar saja, inilah kenapa, Alan tidak mau membicarakan masalahnya pada Ervan. Ia belum menjawab apa-apa, tapi sudah menertawakannya.


Lihat, si brengsek itu! Tertawa, tertawa sampai puas, sampai kau tersedak dengan air liurmu.


"Katakan, siapa yang sudah menolakmu?" Ervan merangkul bahu Alan, dengan terkikik. Ia merasa lucu dengan masalah yang katanya sangat rumit.


"Kau sudah puas??"


"Hei, ayolah. Siapa dia? Apa dia seorang dokter?"


"Dia dokter pindahan."


Tirta dan Ervan mendekat, mencodongkan tubuh dengan wajah serius, tapi sekaligus menahan tawa.


"Apa dia cantik?" Tirta bertanya, karena lebih mengutamakan visual.


"Cantik, sangat cantik."


"Terus?"


"Dia cerdas, aku menyukainya. Dia benar-benar tipeku. Aku belum mengatakan perasaannku. Aku.baru mendekati, sambil mencari tahu seperti apa dia. Tapi, ...." Alan menghela napas panjang. "Dia mengatakan aku pria brengsek dan jangan mendekatinya."


"Hahahaha ....." Ervan tertawa lepas, memukul bahu Alan. "Tentu saja, kamu brengsek. Kamu merayu semua dokter dan perawat disana. Dia pasti sudah memasang tembok pagar yang tinggi untukmu."


"Lalu, aku harus bagaimana? Aku sangat menyukainya." Alan membenturkan kepalanya ke belakang. "Dia sangat berbeda."


"Begini saja, ...."


"Kau yakin, mau memberi saran?" Tirta memotong ucapan Ervan, yang sudah serius dengan kalimat yang akan dilontarkannya.


"Memangnya, aku kenapa?"


"Karena selama ini, kau juga tidak tahu tentang wanita!"

__ADS_1


Alan yang sedang stress, tertawa terpingkal-pingkal. Ucapan Tirta, seperti panah yang melesat dan tepat sasaran. Si gunung es, mau memberi saran. Padahal, selama ini dia yang selalu meminta saran darinya.


Entah saran, apa yang akan diberikannya. Memikirkannya saja, sudah membuat Alan tertawa lepas.


__ADS_2