
Seperti biasa, Tirta akan menjemput Ervan di rumah. Sekarang pukul 07.30, pria itu sudah keluar bersama sang istri, yang mengantar sampai halaman.
Tirta tidak ingin menyapa.Tapi, ada yang berbeda.
Wajah cerah dan penuh senyuman.Tertawa dengan manja, saat minta dipeluk. Kenapa dia hari ini? Yang kemarin-kemarin, teka-teki belum terpecahkan. Sekarang, dia kembali seperti dulu. Tirta kembali penasaran.
Kapan acara kecup-kecupan, ini selesai? Pipi kanan, kiri, dahi, hidung, mata dan bibir. Sepertinya, Ervan sedang mengabsen satu persatu, indra diwajah sang istri.
Tirta menghela napas, sembari memalingkan wajah. Sok romantis atau sedang pamer?
Sudah duduk manis salam mobil, dia masih melambaikan tangan, belum lagi kiss bye yang memakan waktu.
Haduuh!!
Belum juga, keluar pagar. Ervan meminta berhenti. Katanya, melupakan sesuatu. Tirta menoleh, lalu kembali memutar kepalanya.
Kalau begini, kapan... sampainya? Satu jam, hanya untuk acara perpisahan. Padahal, pisahnya hanya beberapa meter saja. Itupun, tidak sampai sehari. Sore hari, mereka kembali bertemu. Nasib jomblo!
Ervan kembali masuk mobil. Senyum-senyum bahagia.
Baru dua meter, keluar dari pagar. Ia kembali menelpon.
"Aku merindukanmu." Nada manja, tapi terdengar muak dan membuat emosi, orang yang sedang mengemudi.
"Baiklah, sayang."
Telepon berakhir dan Tirta merasa lega. Adegan romantis, yang membuatnya emosi.
"Kau cemburu?" Tertawa tidak jelas. "Makanya, menikah sana. Jodoh sudah didepan mata, tapi kau menolaknya."
"Dia masih dibawah umur."
"Hahahaha... kau suka, kan?"
Tirta memutar bola matanya.Yah, Ervan kembali normal. Ini lebih baik, dari kemarin. Meski, kadang membuatnya naik darah.
"Hari ini, kamu hanya akan briefing." Tirta mengalihkan pembicaraan.
"Selain itu?"
"Tidak ada."
Ervan sibuk dengan tabletnya. Membaca dengan serius, dengan anggukan kepala.
Kembali hening. Tirta terus melaju, menyalip kendaraan didepan.
Ervan berjalan masuk di lobby.Tersenyum sekilas, sebagai balasan sapaan para karyawan. Padahal, kemarin jangankan tersenyum, wajahnya saja sudah membuat orang takut mendekat, apalagi menyapa.
"Kenapa?" tanya Ervan, yang merasa aneh dengan Tirta. "Kau mau bertanya apa?"
"Tidak ada." Tirta menekan tombol angka pada lift.
__ADS_1
"Wajahmu, sudah mengatakan semuanya. Kau penasaran tentang apa?" Masih terus bertanya.
"Aku bilang tidak ada, Van. Aku hanya bingung. Sifatmu aneh dari kemarin."
"Aneh?" Berpikir sejenak. "Tidak ada yang aneh. Aku baik-baik, saja."
Pintu lift terbuka. Ervan berjalan lebih dulu.
Didepan pintu, beberapa orang sedang menunggu. Mereka langsung bangkit dari sofa. Tampak berantakan dengan lingkar hitam dimata. Pakaian mereka pun, sepertinya masih yang kemarin.
"Kalian kenapa? Kurang tidur? sakit?" tanya Ervan, yang merasa aneh dengan mereka.
Kurang asem! Begitulah kira-kira dalam hati mereka. Tapi, tetap tersenyum.
Ervan masuk, setelah Tirta membuka pintu. Langsung duduk, dengan mata memperhatikan karyawannya yang berdiri menunggu.
"Aku tidak memanggil kalian," ujarnya, dengan wajah bingung. Karena, seingatnya, dia memang tidak meminta mereka datang.
"Kami sudah menyelesaikan desain kemasan yang baru." Kepala divisi marketing, menyerahkan tabletnya.
"Desain kemasan?" Pikir-pikir. Ada apa dengan desain kemasan? Ia hanya mengingat Sarah yang mengatakan desainnya sudah bagus dan unik. Tapi, tidak mengingat, sebabnya.
Tirta sendiri, sudah merasa geram ingin membuka suara. Lama-lama, dia ingin memukul kepala bossnya.
Dia ingat, sekarang! Lihat, wajahnya yang sudah tersenyum. Tirta, memperhatikan orang-orang disekitarnya. Mungkin, mereka sedang merinding, karena hari ini sifatnya kembali berbeda. Tersenyum, tapi tampak horor.
"Ah, desain itu. Tidak perlu. Kalian tidak perlu menggantinya. Istriku menyukainya. Katanya, bagus dan unik. Hahahaha.... "
Masih tampak seram, meski Ervan sedang terbahak.
Ada apa, dengan CEO? Kemarin berteriak dengan mata menyala. Sekarang, tertawa dengan bahagia. Mereka saling bertukar pandang.
Yah, jangankan kalian. Sekretarisnya, saja bingung. Mau bertanya, tapi nyawa lebih penting.
"Jadi, bagaimana, pak?" Masih bertanya, kelanjutan hasil lembur mereka. Bagaimanapun, mereka sudah bersusah payah.
"Simpan saja. Kita gunakan untuk produk baru nanti."
Terdengar lega. Paling tidak, usaha mereka semalam, tidak berakhir sia-sia.
"Baik, Pak. Terima kasih. Kami permisi."
"Kalian sebaiknya pulang dan berganti pakaian. Kalian bisa kembali, satu jam sebelum makan siang."
"Terimakasih, Pak." Mereka kembali senang dan tersenyum. Sepertinya, kekecewaan tadi sudah menghilang.
Kini, Ervan dan Tirta, tinggal berdua, diruangan yang luas dengan suasana hening. Si boss sedang sibuk dengan dokumennya. Tirta, berdiri menunggu instruksi.
Drt, drt, drt.
Ponsel Tirta, bergetar. Ia mundur beberapa langkah, agar tidak mengganggu singa jantan, yang sedang fokus.
__ADS_1
Sebuah pesan masuk. Nomor asing yang dari kemarin, terus menerornya.
Kak Tirta. Ingat, yah. Aku akan kembali membalasmu.
Pesan berikutnya.
Sebaiknya, kak Tirta belum menikah, saat aku pulang. Sebab, aku akan menghancurkannya.
Pesan berikutnya.
Kak Tirta, harus tanggung jawab, karena sudah memegang bokongku.
What the hell? Tirta terbatuk-batuk. detik berikutnya, bibirnya sudah membentuk lengkungan ke bawah. Tersenyum, sambil geleng-geleng kepala. Lucu dan gemes, memikirkan gadis kecil, yang kini menaruh dendam padanya.
Akhirnya, ia menaruh no or asing itu dalam kontak ponselnya, dengan nama 'Cabe rawit'. Kecil-kecil, pedas.
"Cabe rawit," baca Ervan.
Tirta tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Sejak kapan, Ervan berdiri disamping dengan dekat, bahkan mengintip ponselnya.
"Kau membuatku jantungan. Apa kau tidak bisa bersuara sedikit?"
"Siapa cabe rawit?" Bukannya, menjawab. Ervan malah balik bertanya.
"Bukan siapa-siapa." Tirta menyimpan ponselnya dalam saku celana.
"Pacarmu?" selidik Ervan.
"Bukan. Apa sih!" Tirta mundur beberapa langkah, ketika Ervan meraba saku celananya.
"Selingkuhanmu?" wajah Ervan mendekat, beberapa senti.
"Sudah. jangan mengangguku! Sebaiknya, kita keluar sekarang. Mereka sudah menunggu!"
Dengan langkah cepat, Tirta membuka pintu. Menghindar lebih baik dari pada terus diberi pertanyaan aneh.
Tidak sampai 30 menit, mereka sudah keluar dari ruang sebelah. Karyawan dibelakangnya, juga berhamburan keluar.
"Siapa cabe rawit itu?" Masih terus bertanya. Rupanya, Ervan masih penasaran dan Tirta tahu, si gunung es ini tidak akan berhenti, sampai mendapatkan jawaban.
"Bukan siapa-siapa." Menjawab tanpa menoleh. Tirta terus berjalan, lalu membuka pintu ruangan CEO.
"Cabe rawit, cabe rawit," gumam, Ervan yang masih terdengar. "Cabe itu kecil dan rawit itu, pedas. Jadi, tubuhnya kecil tapi mulutnya pedas." Ervan mengemukakan analisa, berdasarkan nama yang diberi Tirta.
Tirta masih dalam mode, tidak peduli. Ia meletakkan dokumen yang baru diterimanya, dari divisi keuangan.
"Kecil tapi pedas. Siapa dia?"
"Van, tanda tangan. Kenapa kau sangat penasaran dengan cabe rawit itu?"
"Sebentar. Aku perlu menebaknya, karena kau tidak mau bilang."
__ADS_1
"Dia, Alinna."
"What?" Kaget, tapi selanjutnya dia tertawa sampai bengek.