CEO Maksa Nikah

CEO Maksa Nikah
Bab 31 Sarah Pergi


__ADS_3

"Dia memang memperkosaku!" Sarah berteriak dengan lantang. "Melemparkan cek dan memecatku. Memfitnahku, seolah aku yang merangkak naik diatas tempat tidurnya." Sarah mengepalkan tangan, air matanya sudah tumpah. "Aku dipermalukan sampai seluruh perusahaan, memandangku dengan rendah. Seluruh kota, membicarakanku, bahkan kakakku bunuh diri karenanya."


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Mama mendekati Sarah. "Sebenarnya, kamu ini siapa?"


"Aku?" Sarah berjalan mundur. "Tanyakan pada putramu! Tanyakan tentang gadis bernama Sarah Maharani."


Sarah sudah mengatur kopernya, menyambar tas dan ponselnya. Pergi keluar kamar, tapi mama mencegahnya.


"Jangan pergi! Kamu belum menjawabku!"


"Aku sudah selesai, Nyonya. Bukankah Anda sangat penasaran tentangku. Aku akan beritahu. Aku memang bekerja sebagai cleaning servis di perusahaan, untuk mendekati putramu. Aku seorang sarjana, membersihkan dan mengepel lantai perusahaan, untuk apa? Untuk ini." Sarah menunjukan akte lahir putranya.


Ibu Ervan semakin bingung, tidak mengerti dengan ucapan Sarah. Bukankah dia seorang penipu. Tapi, mengapa berlagak seperti seorang korban.


Sementara, Sarah sudah berada dalam kamar bayinya. Menggendong si kecil yang masih terlelap.


"Nona, dia masih tidur. Anda mau membawanya kemana?"


"Tidak apa, bik. Saya mau pulang kampung, nanti kemalaman di jalan."


Sarah berjalan menuruni anak tangga, ia dibantu bik Sri yang mengangkat kopernya.


"Nona, saya panggilkan supir."


"Tidak perlu, Pak. Tolong, panggilkan saja taksi."


Tak lama, Sarah keluar halaman, di depan sebuah taksi sudah menunggu. Tanpa berpikir panjang, ia segera masuk.


Sarah masih menangis, memeluk putranya yang masih terlelap.


"Maafkan, ibu sayang. Papa sudah pernah membuang kita, jadi biarkan ibu membalasnya."


Sarah masih berderai air mata, terus meminta maaf pada putranya. Maafkan ibu, Nak. Tolong mengertilah! Rasa bersalah karena merenggut kebahagiaan anaknya. Kebahagiaan memiliki keluarga lengkap seperti orang lain.


Memiliki kakek, nenek, ayah dan ibu. Memiliki rumah, yang menjadi tempat berlabuh terakhir mereka.


Taksi yng mereka tumpangi tiba disebuah terminal bus. Sarah turun, mengedarkan pandangan, terlihat orang yang sibuk lalu lalang dihadapannya.


"Terima kasih, Pak," ujarnya, setelah membayar taksi.


Sarah berjalan membeli tiket, tujuannya saat ini hanyalah kampung halaman, tempat ia dilahirkan. Mengunjungi makam orang tua dan kakaknya, memperkenalkan putranya pada mereka.


Setelah, mendapatkan tiket, ia segera naik. Mengambil posisi duduk dekat jendela. Waktu mulai senja, Sarah mengambil ponselnya.


"Aku dalam perjalanan pulang. Kamu dimana?"


Sarah belum menjawab, ia menghapus air mata dan mengatur suaranya yang serak.


"Tamara, ada apa? Apa butuh sesuatu?"

__ADS_1


"Aku harus pergi." Sarah menarik napas. "Maaf, tapi ibumu sudah mengetahui, perjanjian kita."


"Apa?" Suara panik dibalik telpon. "Katakan padaku kamu berada dimana? Aku akan menjemputmu."


"Tidak perlu, urusan kita sudah selesai."


Sarah memutuskan sambungan telepon. Kembali menangis sesegukan.


Jangan menangis. Bukankah sudah seperti ini, jalannya. Bukankah, ini yang aku inginkan. Entah mengapa, air matanya tidak mau berhenti mengalir. Semakin ia menguatkan diri, hatinya semakin terasa sakit.


"Hiks ... hiks ...." Menangis dengan menekan suaranya agar tidak pecah. Hal yang paling menyakitkan baginya, tidak ada bahu untuk bersandar dan menangis dalam diam.


Bus perlahan mulai meninggalkan terminal, Sarah menatap keluar, entah apa yang dia harapkan. Mereka sudah mengusirnya, tapi hatinya masih mengharapkan kedatangan seseorang, untuk mencegah kepergiannya.


"Selamat tinggal. Mari jangan pernah bertemu lagi."


Di tempat lain, seorang pria yang sudah sangat stress, berulang kali meneriaki Tirta agar menambah kecepatan laju kendaraan.


"Kenapa kau sangat lambat, Tirta?"


"Hei, aku sudah menambah kecepatan. Kamu mau aku menabrak mereka."


Tirta juga ikut stres, pria dibelakangnya seperti kambuh dari penyakit lamanya. Padahal, ia sudah sembuh setelah menikah.


Mobil masuk dihalaman rumah, mobil belum berhenti sepenuhnya. Tapi, Ervan sudah melompat keluar dan berlari masuk dalam rumah.


"Sepertinya, penyakitnya lebih parah dari sebelumnya." Tirta keluar dari mobil, membawa tas Ervan yang tertinggal.


"Ada apa, Van? Kenapa teriak-teriak?"


Ervan tidak menjawab, ia masih berjalan berteriak mencari ibunya.


"Mama." Kembali berteriak, saat sang ibu tidak juga menjawab.


"Ervan, ada apa? Kamu membuat Papa panik."


Dari kamar, mama keluar, menatap putranya yang tampak sedang menahan amarah.


"Apa Mama mengusirnya? Katakan padaku!" Menatap tajam dengan nafas naik turun. Papa yang tidak mengerti, ikut bertanya kepada istrinya.


"Ada apa ini, Ma? Siapa yang diusir?"


"Benar, Mama mengusirnya. Mama mengusir penipu itu."


"Apa! Mama," teriak Ervan, bahkan air matanya tiba-tiba menetes jatuh.


Papa semakin bingung, arah pembicaraan ibu dan anak ini. Ia menatap Tirta, meminta penjelasan, tapi pria itu juga tidak tahu apa-apa.


"Kenapa, Ma? Kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa?" Mama melotot, "Kau sudah membohongi Mama dengan membawa seorang penipu. Mengandalkan kemiripan wajah putranya untuk masuk dalam keluarga kita."


"Aku yang memaksanya, aku yang memintanya."


"Kenapa kamu harus memaksanya? Kamu berkata memperkosa seorang gadis, tapi kenapa membawa orang lain."


"Karena dia sudah meninggal. Dia bunuh diri!"


Hati Ervan terasa sesak, bayangan Sarah yang bunuh diri kembali hadir. Bayangan yang sudah lenyap saat ia sudah menikah, kini kembali merasuk ingatannya.


Mama syok, ia membeku menatap putranya. Sementara, Papa yang sudah mengerti terlihat frustasi. Kesalahannya yang terus menyembunyikan fakta. Kenyataan yang ia tutupi, mencari waktu yang tepat untuk memberitahu keluarganya.


Papa meraih ponselnya, cemas terlihat dari raut wajahnya.


"Daniel, cari menantuku."


"Kemana Tuan? Saya akan menjemputnya."


"Bukan itu maksudku. Dia pergi dari rumah, lacak keberadaannya."


"Baik, Tuan."


Papa menatap Ervan dan istrinya bergantian. Ervan masih menahan amarah, tapi wajah dipenuhi kesedihan. Sementara, sang istri tampak memucat.


"Dia sudah bunuh diri. Lalu kenapa membawa orang lain?" Mama terisak. "Kenapa, Van? Mama sudah menganggap mereka, menyayangi mereka."


"Karena kalian yang memaksaku."


Ervan berjalan dengan lungai, masuk dalam kamar yang menyambutnya dengan keheningan. Tidak ada suara anak kecil yang biasa memanggilnya papa. Tidak ada raut wajah Sarah, yang ketakutan saat ia menjahilinya.


Terbiasa dengan kehadiran mereka, Ervan benar-benar merasa kehilangan. Masih mengedarkan pandangan, sosok Sarah tersenyum padanya, begitu juga si kecil yang bertepuk tangan.


Ervan menangis, ini kali kedua ia meneteskan air mata, karena kehilangan seseorang. Ia duduk ditepi tempat tidur, mengambil mobil-mobilan, mainan favorit si kecil.


"Aku tidak tahu, perasaan apa ini. Tapi, aku menginginkan kalian bersamaku."


Mencium mainan itu, anak matanya melihat dua kartu debit diatas nakas. Kartu yang diberikannya pada Sarah.


Ia menghela napas, masih terus menatap kartu itu.


"Kenapa kamu meninggalkannya?"


Ervan meraih ponselnya, menghubungi Tirta yang berada dilantai bawah.


"Tirta, cari mereka di rumah yang aku berikan untuk Tamara."


"Baiklah."


Ervan menatap foto si kecil pada ponselnya. Senyum dengan lesung pipi yang tampak jelas.

__ADS_1


"Papa, akan menemukanmu."


__ADS_2