
Malam tiba, tepatnya jam tujuh malam. Alan berada diparkiran sebuah restoran mewah. Jujur saja, tidak tahu kenapa dia berada disini. Pria sialan yang menelpon tiba-tiba, menyuruhnya menemui seseorang, entah siapa. Ervan hanya mengatakan, kalau itu akan membuatnya terbang dan menari-nari. Apa aku gila, harus menari-nari? Gumamnya, yang kemudian masuk.
Sepi, sama sekali tidak ada pengunjung. Sepertinya, si kepala es batu, mereservasi semua tempat. Pelayan yang sudah menunggu, menyambutnya.
"Tuan Ervan?"
"Hmm."
"Silahkan ikut, saya."
Dari jauh, tampak seorang wanita, duduk membelakangi dengan gaun merah berkilauan, rambutnya tergerai lurus, hingga wajahnya tak terlihat. Alan berhenti sesaat, memperhatikan.
"Si sialan itu, menyuruhku menemui wanita? Apa dia menjadikanku tumbal?" umpatnya,
"Tuan?" Si pelayan menatapnya, karena tak kunjung melangkah.
"Kalian siapkan saja. Aku perlu ke toilet."
"Baiklah."
Alan belok kiri, melewati beberapa kursi. Tangannya sudah memegang ponsel, yang menunggu seseorang untuk mengangkat telponnya.
"Kenapa? Kau mau berterima kasih?" gelak tawa, terdengar. Seolah bangga, apa yang sudah dilakukannya.
"Terima kasih, kepalamu! Kau mengirimku hanya untuk menggantikanmu, menjadikanku tumbal," cerocos Alan.
"Hei, hei, kau membicarakan apa?" Suara dibalik telepon, ikut berteriak. "Kalian sudah bertemu? Kenapa kau marah? Seharusnya, kau berterima kasih. Cepat selesaikan, jangan jadi pengecut."
"Pengecut katamu? Apa maksudmu? Halo, halo...."
Sambungan sudah terputus. Alan berdecak kesal. Ya, sudah. Karena sudah terlanjur, ia akan makan malam saja. Menutup telinganya, dari semua ucapan wanita itu nanti.
Perlahan, ia sudah mendekati meja. Wanita itu, menatap jam tangannya. Sepertinya, ia sudah bosan menunggu.
"Maaf, aku terlambat!"
Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Terdiam sesaat. Zia langsung bangkit, dengan sorot mata tajam. Tidak percaya, siapa yang telah mengundangnya makan malam. Pria yang sama sekali tidak diharapkannya.
"Kau!"
"Dokter Zia!"
"Cih!" Zia berdecis, menyambar tasnya, hendak pergi.
"Tunggu!" Alan meraih tangannya. "Dengarkan aku. Aku sama sekali tidak tahu, tentang ini."
"Kau mau berpura-pura?" Menghempaskan tangan Alan dengan kuat. "Aku bukan perempuan, yang haus keromantisan."
__ADS_1
Tidak terima, Alan membiarkan mengendurkan tangannya.
"Benarkah? Lalu, apa yang kamu lakukan disini, jika tidak menyukai keromantisan? Apa kamu mengharapkan pria yang sudah memiliki pemilik?"
Langkah Zia berhenti. Sorot matanya terkunci, dengan tangan yang terkepal erat. Ia memang mengharapkan kedatangan Ervan, bahkan sudah berdandan untuknya. Tapi, entah mengapa, perkataan Alan, sangat membuatnya tersinggung. Ia sama sekali tidak terima, padahal itulah kenyataan.
"Jaga mulutmu!"
"Kenapa? Bukankah itu kenyataannya? Caramu yang berdandan, yang tidak seperti biasa. Membuktikan segalanya. Apa aku salah?"
Zia membisu, perkataan Alan sangat menyakitkan. Dadanya bergemuruh hebat, menahan amarah.
"Aku menyukaimu. Karena, aku pikir, sikap dingin dan cuekmu, membuatmu berbeda, dengan yang lain. Ternyata, kamu sama saja! Bahkan, lebih buruk." Lanjut Alan.
Plak.
Akhirnya, tangan Zia mendarat diwajah Alan. Dari tadi, ia sudah menahannya.
"Sudah cukup!" ujar Zia, "Kamu pikir, kamu pria yang lebih baik dariku. Kamu sama buruknya. Merayu, mengobral cinta dimana-mana dan memberikan harapan palsu."
"Aku memang merayu dan menggombali mereka. Tapi, aku tidak pernah menyatakan cinta pada siapapun. Kecuali, wanita itu mengartikan berbeda dari caraku memperlakukannya."
"Kau pikir, aku akan percaya begitu saja?"
"Terserah. Tanyakan padanya, wanita yang menghasut dan membuatmu membenciku. Apa aku pernah menyatakan perasaan padanya? Jika dia yang menyatakan lebih dulu dan aku menolak, itu baru benar."
Zia diam seribu bahasa. Ia tidak bisa membalas, perkataan Alan yang membuatnya tersudut.
Entah mengapa, hatinya merasa sangat sakit. Bahkan, merasa menjadi wanita yang sangat jahat.
Zia terduduk, menghabiskan segelas jusnya. Sementara, para pelayan yang datang menyajikan hidangan utama, terdiam ditempat. Mereka bingung, karena wanita itu terduduk, dengan air mata yang menetes.
Diparkiran. Alan memukul kemudi mobil, berkali-kali, sambil mengumpat. Sebenarnya, ia sama sekali tidak berniat, menghina Zia. Tapi, entah mengapa, kalimat itu lolos dari mulutnya.
"Selamat malam, dokter Zia."
Zia menoleh, dua sosok datang menghampiri. Salah satunya, adalah pria yang sangat diharapkannya.
"Selamat malam."
"Maaf, kami terlambat, karena ada hal mendesak," jelas Tirta.
Zia tercengang. Ada apa ini? Pikirnya. Sepertinya, ada kesalahpahaman.
Ervan dan Tirta sudah duduk dan pelayan yang tadi sedng bingung. Akhirnya, menghidangkan menu utama.
"Mana Alan? Apa dia tidak datang?" tanya Ervan.
__ADS_1
Sementara, Zia membisu, karena bingung dengan situasi sekarang.
"Dokter Zia," panggil Tirta. "Kami meminta Alan, untuk menemani Anda sebentar. Karena kami mendadak ada urusan."
Zia masih membisu. Jadi, dia telah salah paham, kepada Alan. Bahkan, tidak memberikan kesempatan pada pria itu, untuk berbicara.
"Kemana dia? Apa dia pulang duluan?" ujar Ervan dengan nada tinggi, karena kesal.
"Sudah tidak apa. Kita mulai saja," ujar Tirta. "Dokter Zia, jadi maksud kami adalah untuk menanyakan keputusan Anda."
"Hah!" Karena tidak fokus, Zia sama sekali tidak mendengar ucapan Tirta. "Ah, maaf. Saya sedang memikirkan hal lain. Begini saja, Tuan. Saya benar-benar minta maaf. Bagaimana kalau kita membicarakannya lain kali? Saya akan menemui Anda, nanti. Tolong maafkan saya."
"Baiklah, tidak apa-apa. Kita makan malam saja." Ervan menarik senyum tipis, yang tidak terlihat.
"Tidak perlu, Tuan. Saya permisi dulu. Maaf, saya benar-benar minta maaf."
Ervan hanya mengagguk, membiarkan Zia beranjak, meninggalkan meja.
"Mana si bodoh itu? Aku sudah susah-susah mengatur untuknya. Dia malah mengacaukannya."
Susahnya dimana? Gumam Tirta. Padahal, ia yang melakukannya seorang diri. Sementara, pria yang sendang ngaku-ngaku, hanya memerintah saja.
"Dia masih diparkiran."
"Cih! Telpon dia. Suruh kemari!"
Tirta merogok ponselnya. Sudah tersambung, tapi Alan tidak juga mengangkatnya.
"Tidak diangkat."
"Cih. Dia sedang mogok. Cemberut mencari perhatian seperti anak kecil."
Sadar, Tuan. Tolong sadar diri, sepertinya, Anda sedang memaki diri sendiri. Tirta, terus menjawab Ervan dalam hati.
"Kita makan saja, aku lapar."
"Ya, sudah."
Keduanya, akhirnya menikmati makan malam, yang seharusnya menjadi makan malam romantis milik Alan dan Zia.
Beberapa jam yang lalu, setelah Alan menelpon Ervan. Pris itu, memiliki firasat buruk. Sepertinya, makan malam yang sudah direncanakan akan berantakan. Dan benar saja, saat mereka tiba. Dari kejauhan, sudah tampak pertengkaran keduanya. Bahkan, Ervan yang melihat Alan mendapat tamparan, memaki sahabatnya, yang bodoh karena tidak tahu cara memperlakukan wanita.
Padahal, dia sendiri pernah mengalaminya, tapi tidak mau mengaku. Dan sok, menjadi yang paling tahu tentang wanita.
"Si bodoh itu, mengatakan apa, hingga ditampar?" Potong-potong, lalu menusukknya dengan garpu. Hap!!
"Entahlah," balas Tirta, yang sibuk mengunyah.
__ADS_1
"Benar-benar bodoh. Mau mengungkapkan isi hati saja, sangat sulit. Dasar omong besar!"
Benar-benar, tidak sadar diri. Padahal, dia lebih parah. Sangat parah! Ingin Tirta, memaki pria didepannya. Tidak sadar diri dan angkuh, seolah ia tidak pernah mengalaminya.