
Setelah para suami berangkat kerja, giliran para istri untuk menghabiskan uang, menikmati kerja keras yang dilakukan pasangan mereka.
Hanya menggunakan kaos lengan panjang berwarna putih dan jeans, Sarah berjalan bersama mertuanya. Disamping mereka, ada pengasuh dan dibelakang, dua orang pria berbaju hitam.
"Sarah, kamu beli apa lagi, sayang?"
"Tidak, Ma. Aku menemani Mama saja."
Mana mungkin, Sarah harus membeli pakaian lagi, yang kemarin saja, belum semua digunakannya.
"Ya, sudah. Ikut Mama membeli tas."
Jejeran tas mewah terpampang dalam etalase. Berbagai model dan merk tentunya, perempuan mana yang tidak tergoda jika melihat barang-barang mewah.
Tapi, berbeda dengan Sarah. Menurutnya, semua tas sama saja, entah model atau merk. Karena, barang tersebut memiliki kegunaan yang sama, menyimpan dompet dan ponselnya.
Mama mengambil lima buah tas sekaligus, memamerkan pada menantunya.
"Bagus, kan, Sarah."
"Iya, Ma. Bagus."
Menjawab, meski tidak mengerti tentang fashion. Ia hanya bisa menilai barang dari segi model dan warna. Mengenai, kualitas ia tidak peduli.
"Habis belanja, kita ke perusahaan. Kamu pasti sudah mengetahui, tentang pekerjaan Ervan kan.?"
"Iya, Ma."
"Lalu, apa kamu ingin bekerja kembali?"
Deg!
Sarah mengatur perasaannya, yang tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat jantungnya seperti berhenti sesaat.
"Aku belum memikirkannya, Ma."
"Menurut, Mama, kamu tidak usah bekerja. Kamu sudah bersusah payah bekerja selama ini. Biarkan, Ervan menghidupi kalian. Jika perlu, mama akan memberikanmu sebagian saham sebagai jaminan, jika Ervan macam-macam."
"Tidak perlu, Ma. Aku percaya Ervan sudah berubah, apalagi sangat menyayangi si kecil."
Mama tersenyum, menggandeng tangan menantunnya, kembali berkeliling. Pindah dari satu toko, ke toko lain. Sebelum akhirnya, mereka memutuskan ke perusahaan. Mengajak pasangan mereka untuk makan siang bersama.
"Ayo, kita beri mereka kejutan."
Keduanya melangkah masuk, lobi para karyawan menyapa sambil menundukkan kepala kepada Nyonya besar. Tapi, siapa gadis disampingnya? Untuk ukuran seorang cleaning serviis, tentu saja para karyawan tidak ada yang mengenalnya.
"Tamara...."
Sarah dan ibu Ervan menoleh, dilihatnya tiga orang wanita melambaikan tangan.
"Ma, aku kesana sebentar."
Ibu Ervan, mengangguk menatap menantunya pergi menemui tiga orang wanita dengan seragam cleaning servis. Sangat akrab, memeluk seperti sedang melepas rindu. Bahkan ketiganya ikut memeluk cucunya.
"Dari mana ia mengenal mereka?" gumam ibu.
Tak lama menantunya kembali.
__ADS_1
"Siapa mereka?" tanya ibu akhirnya, yang tidak ingin menduga-duga.
"Mereka temanku saat masih kerja."
Bukannya, dulu ia bekerja di kota XX. Kenapa bisa memiliki teman di perusahaan ini, apalagi cleaning servis.
Mama masih bergumam dalam hati, menyamakan langkah dengan Sarah. Sampai masuk dalam lift, ibu Ervan masih terus menerka-nerka sambil melirik menantunya yang terlihat biasa saja.
"Selamat siang, Nyonya."
Ibu Ervan tersenyum pada seorang gadis yang menyambut kedatangannya.
Didalam ruangan, Ervan masih menatap dokumen diatas meja, seorang diri.
"Masih sibuk?"
Ervan mengangkat wajah, tersenyum pada sang ibu.
"Sedikit lagi, Ma."
"Ya, sudah. Mama titip istri kamu disini. Mama mau ke ruangan Papa."
Sarah mengangguk, mengambil posisi duduk disofa. Sementara ibu Ervan, pergi menuju ruangan presiden direktur.
"Pa,"
Izzam mengangkat wajah, saat suara lembut menyapa pendengarannya.
"Kamu datang? Mana Sarah?"
Istrinya duduk disofa, dengan wajah serius menatapnya.
"Ada apa?"
"Apa Papa sudah menyelidiki Sarah sebelumnya?"
"Iya. Memangnya ada apa?"
Izzam berjalan mendekati istrinya duduk bersebelahan diatas sofa.
"Waktu di lobi, ada yang memanggilnya, tapi dengan nama 'Tamara'.. Mereka cleaning servis dan tampak akrab seperti sudah lama saling mengenal."
Izzam menyimak, melipat kedua tangan sambil mencerna informasi dari istrinya.
"Apa Mama tidak salah dengar? Mungkin mereka teman-teman Sarah yang berasal dari kampung yang sama."
"Ah, benar. Mungkin juga, Mama tidak memikirkn itu."
"Sudahlah, Ma. Papa sudah menyelidiki semua tentangnya, dia tidak mungkin menipu kita. Lagi pula, lihat wajah cucu kita, begitu persis dengan Ervan."
Mama memeluk suaminya dengan erat. "Aku hanya takut Pa, kalau Sarah itu menipu kita."
Obrolan terhenti, saat Ervan masuk dalam ruangan bersama Sarah dan sang pengasuh si kecil.
"Kalian sudah datang." Izzam bangkit, memeluk cucunya. "Kakek rindu. Ummaah."
"Papapapapa...."
__ADS_1
"Hahahaha... dia sepertinya mengerti."
Suara tawa memenuhi ruangan, si kecil yang menggemaskan berceloteh tanpa lelah.
"Ayo, kita pergi."
Semuanya berjalan, meninggalkan ruangan. Sang presdir tetap memeluk cucunya. Semua tatapan karyawan tertuju pada keluarga itu.
Anak siapa dalam pelukan presdir mereka? Apa itu cucunya? Pertanyaan yang hanya bisa tersimpan dalam hati.
Bukan hanya hal itu saja, yang menjadi pusat perhatian. Sosok wanita yang berjalan bergandengan tangan dengan CEO mereka. Saling melempar senyum dengan mesra.
"Bukankah itu Tamara?" Suara yang hendak digumamkan tapi suara itu keluar juga, hingga terdengar.
"Ibu Wina, mengenal wanita itu?" tanya seorang karyawan.
"Iya, dia dulu cleaning servis disini."
"Apa?" Terperanjat hingga ternganga karena tidak percaya. "Cleaning servis? Wanita itu cleaning servis? Tapi, kenapa bisa bersama keluarga Presdir?"
Ibu Wina mengangkat bahu, lalu berjalan pergi. Tapi, langkahnya kembali terhenti.
"Ibu, jangan pergi dulu. Aku belum selesai. Jadi, ibu kenal wanita itu? Bagaimana dengan anak yang digendong presdir? Jangan bilang itu cucunya?"
"Kenapa kamu begitu heboh. Anak itu adalah anak Tamara. Sewaktu kerja, para cleaning servis bergantian menjaganya."
Ibu Wina kembali berjalan, tapi langkahnya diikuti karyawan wanita tadi.
"Jadi, dia seorang janda. Wah, berita ini lebih menghebohkan daripada berita selebriti. Tapi, aku melihat anak itu mirip CEO."
"Mereka memang mirip. Waktu dia masih bekerja, kami sering menyamakan keduanya." Sudah, jangan bertanya lagi. Aku harus ke kantin."
Karyawan wanita itu, berjingkrak bahagia, seolah memenangkan pertandingan. Mengambil ponselnya, menulis berita yang baru saja didapatkannya, pada grub obrolan di perusahaan.
"Seharusnya, aku menulis judul. Biar mereka penasaran. CEO KEPINCUT CLEANING SERVIS YANG TERNYATA SEORANG JANDA."
Memposting foto yang baru saja diambilnya.
"Yes. Bakalan heboh."
Dan benar saja, baru semenit berita itu keluar, langsung menjadi trending di perusahaan, terutama para karyawan wanita.
Berita itu, bukan saja menghebohkan para staf melainkan terdengar hingga pada jejeran direksi perusahaan yang ikut tergabung dalam grup chat.
Salah satu yang sudah membaca berita itu tampak pias. Tirta menggenggam erat ponselnya, hendak membanting tapi masih memikirkan harga ponselnya.
"Sialan. Aku yang bisa digantung, karena berita ini."
Tirta berjalan, mencari sosok karyawan yamg telah menyebarkan berita ini. Memasuki ruangan HRD, dengan wajah menakutkan.
"Siapa yang menyebarkannya?"
"Di ... dia Agatha, resepsionist."
Tirta tidak menjawab, langsung berjalan masuk lift, turun menuju lobi. Dari kejauhan, pandangannya terkunci pada seorang wanita yang memainkan ponselnya sambil tertawa bahagia.
"Cari mati, kamu!"
__ADS_1