
Gosip tentang CEO perusahaan semakin panas saja. Berita yang tadinya hanya seputar tentang CEO mereka, kini merambat kemana-mana.
Berita itu, kini justru semakin menjatuhkan reputasi Sarah. Wanita tidak tahu malu, wanita perayu, dan banyak lagi predikat yang disematkan kepadanya.
Bukan hanya itu, mereka pun mulai membahas status anak Sarah, yang kemungkinan anak orang lain, tapi mengaku anak CEO karena wajah putranya, yang sama persis dengan Ervan.
Gosip yang menyebar, sudah seperti wabah yang tidak terkendali. Dari satu kalimat, bertambah menjadi satu paragraf. Dan dari paragraf itulah, tersusun menjadi berita yang menghebohkan para staf karyawan.
Ada yang tidak terima, karena merasa ditikung seorang cleaning servis. Ada juga yang hanya menggosip, dengan menambahkan beberapa kalimat, sehingga semakin memanas.
"Bagaimana bisa ia menjadi nyonya, lihat aku. Pendidikan dan latar belakangku lebih baik."
"Iya, aku tidak terima, dia menjadi istri CEO kita."
"Aku penasaran, kok bisa ia naik ke atas ranjang CEO. Padahal, wajahnya begitu pas-passan."
Begitulah, obrolan yang terjadi digrup perusahaan. Semuanya tidak terima karena merasa lebih baik.
Tirta yang membaca obrolan itu, wajahnya semakin pias. Kemarahan Ervan, membayangi pikirannya, apalagi pria itu, tidak mengenal wanita, jika emosinya sudah meledak.
Ia keluar ruangan, mencari sosok wanita penyebar gosip. Tirta terus berjalan, pandangannya lurus, menatap tajam. Seorang staf resepsionist, yang masih asyik dengan ponselnya. Cekikikan, setiap membaca komentar dalam grup obrolan.
BRAK!
"Pak, sekretaris."
"Jadi, kau orangnya?"
Ponsel wanita itu terjatuh, kedua matanya menunduk dengan tangan yang gemetar.
"Kau digaji untuk bekerja, menutup mata dan telingamu akan hal yang kau lihat disini."
Wanita itu tidak menjawab, kedua lututnya terasa lemah tidak mampu menopang tubuhnya.
"Apa kau tidak sadar, apa yang sudah kau lakukan?"
"Ma ... Maafkan, saya Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu."
"Simpan alasanmu dan ikut aku," perintah Tirta yang langsung beranjak.
Dibelakangnya wanita itu berjalan menyusul, sambil menunduk ketakutan. Apalagi, terlihat karyawan lain memandang dan saling berbisik.
Di dalam ruangan CEO, Tirta duduk di sofa, masih menatap tajam staf resepsionist yang mematung dengan ketakutan.
"Dari mana, kau mendapat berita ini?"
"Dari ibu Wina. Saya tidak sengaja mendengar, ibu Wina menyebut nama Tamara."
"Tamara?"
PLAK,
"Kau pikir, dia itu temanmu! Hah!"
"Maaf, Pak." Gadis itu meringis, memegang pipinya yang perih.
"Hanya karena kau mendengarnya, kau langsung menyebarkan gosip. Kau tidak sadar, kau sedang membicarakan siapa."
"Maaf, Pak. Saya salah, saya akan memperbaikinya. Saya akan ...."
PLAK.
"Cukup. Saya muak mendengar ocehanmu."
Wanita itu, kembali meringis kesakitan, bahkan air matanya sudah menetes jatuh.
"Tunggu disini! CEO sendiri yang akan menghukummu."
"Pak, tolong maafkan saya." Berlutut sembari terisak. "Saya mohon, tolong maafkan saya."
__ADS_1
"Maaf! Dengan kekacauan yang sudah kamu lakukan. Kamu pikir semua akan selesai, jika kamu minta maaf."
Tirta pergi begitu saja, meninggalkan staf resepsionist itu sendirian dalam ruangan. Jika sekretaris itu hanya menamparnya, mungkin CEO yang terkenal dengan tempramennya itu, akan membunuhnya ditempat.
"Ellyn, jaga ruangan itu. Jangan biarkan, wanita itu pergi!"
"Baik, Pak."
Tirta kembali melangkah, setelah memberikan perintah pada Ellyn sekretaris Ervan.
Di sebuah restoran, keluarga Izzam menikmati makan siang. Sambil bersenda gurau dengan bahagia, ditambah dengan celoteh si kecil yang ikut nimbrung dalam pembicaraan, menghadirkan tawa dalam suasana.
Drt...drt...
Izzam meraih ponselnya dalam saku.
"Ada apa?"
"Presdir, ada masalah."
"Katakan."
Izzam terdengar serius mendengar penjelasasn dari balik telepon. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hanya sesekali menganggukan kepala dan menghela napas panjang.
"Baiklah, tunggu perintah dariku." menjawab singkat, lalu meletakkan ponselnya.
"Ada apa, Pa?" Ibu Ervan bertanya, setelah melihat gelagat aneh sang suami.
"Tidak ada, hanya urusan kantor. Oh ya, Ma. Setelah ini, kalian mau kemana?"
"Pulang, Pa. Capek, Mama keliling."
"Ya, sudah. Setelah makan siang, kalian langsung pulang."
Pukul satu siang, mereka berpisah di restoran. Ervan dan ayahnya kembali ke perusahaan. Sedangkan, Sarah dan Mama pulang ke rumah.
"Ada apa dengan wajahmu?"
Ervan masih melangkah, saat mendapati Tirta menunggunya didepan pintu ruangan.
"Kita dalam masalah."
Ervan menoleh, menerima ponsel yang diberikan Tirta.
"Tolong, jangan banting hpku." pinta Tirta, saat melihat raut wajah Ervan yang sudah berubah.
"Mana dia?"
"Didalam."
Ervan masuk dengan membanting pintu, dilihatnya seorang wanita, duduk bersimpuh.
"Pak, maafkan saya."
Ervan tidak menjawab, tangannya hanya terkepal. Ia menatap tajam si wanita dengan rahang mengeras.
"Tirta, urus dia!"
Ervan berjalan, mengambil posisi duduk, dengan menahan emosi. Ia hanya terus mengepalkan tangannya, menjauh dari wanita itu, sebelum ia kehilangan kendali.
"Baik, aku mengerti."
Tirta keluar ruangan disusul karyawan wanita itu. Sementara, Ervan meraih ponselnya.
"Hallo."
"Kamu sudah sampai?"
"Iya, aku baru saja masuk kamar."
__ADS_1
"Ada masalah di kantor, seseorang mengenalimu dan membuat gosip di perusahaan. Sebentar lagi, orang tuaku akan mengetahuinya."
"Lalu, apa yang harus aku katakan pada mereka?"
"Pikirkanlah sendiri, jangan bertanya padaku. Aku sekarang sedang pusing."
"Baiklah, kalau begitu aku akan bicara jujur pada mereka."
"Jujur? Hei, apa maksudmu? Kau mau mengatakan semuanya?"
"Hahaha.... Kau takut?"
Sialan, wanita ini. Mengancamku, seolah kau bisa lolos.
"Ah, terserah. Kau membuatku semakin pusing saja."
Ervan mematikan sambungan telepon, duduk bersandar menunggu kabar dari Tirta.
Sementara, di ruangan presdir, Izzam mendengarkan penjelasan Daniel.
"Jadi, maksudmu menantuku pernah bekerja disini.?"
"Iya, presdir. Hanya saja, dia menggunakan identitas saudara kembarnya, yang bernama Tamara."
"Sebentar, Daniel. Kau membuatku semakin bingung."
Izzam mengangkat salah satu tangannya.
"Begini, Tuan. Nona Sarah memiliki saudara kembar bernama Tamara, yang sudah meninggal. Ia menggunakan identitas saudarinya, untuk bekerja di perusahaan."
"Tapi, kenapa?"
"Entahlah, Tuan. Saya juga tidak mengerti."
"Lalu, bagaimana dengan putraku? Apa mereka bertemu disini?"
"Iya, Tuan. Mereka bertemu di perusahaan tanpa sengaja."
Izzam menghela napas, masih menatap Daniel yang berdiri didepannya.
"Mana wanita itu?"
"Tirta sudah mengurusnya."
Daniel memberikan ponselnya. Izzam menerima, lalu membaca obrolan dalam grup perusahaan.
"Ternyata anggotanya, kebanyakan karyawan wanita."
Izzam membaca permintaan maaf dan klarifikasi salah seorang karyawan. Ia lalu mengembalikan ponsel sekretarisnya.
"Daniel, aku penasaran. Ervan itu mengenal wanita itu sebagai Tamara atau Sarah?"
"Maksud, Tuan?"
"Jika sebagai Tamara, berarti pernikahan ini hanya pura-pura dan artinya menantuku memiliki tujuan khusus menikahi putraku."
"Maksud Tuan, kemungkinan tuan muda tidak mengetahui Tamara dan Sarah adalah orang yang sama."
"Aku pikir begitu. Jadi, kembali selidiki, apa yang terjadi saat putraku kembali mencari wanita itu."
"Sebenarnya saya sudah menyelidiki semuanya. Hanya saja waktu itu, Anda meminta untuk melewatkannya saja."
"Benarkah? Mana dokumennya?"
"Ada di apartemen saya."
"Bawakan malam ini."
"Baik, tuan."
__ADS_1