
Ervan merebahkan tubuhnya, membawa mainan mobilh-mobilan dalam dekapan.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Tuan muda. Tuan besar meminta Anda turun."
"Katakan padanya, aku sedang tidak ingin berdebat."
"Beliau berkata ini tentang Nona Sarah dan Tamara."
Ervan membisu, bukankah mereka orang yang sama, gumamnya dalam hati. Ia memutar tubuh, masih enggan untuk bangkit. Dibalik pintu, pelayan rumah masih menunggu.
"Tuan muda," panggilnya lagi.
Praang, entah apa yang dilempar Ervan, sampai membuat pelayan rumah terlonjak.
"Jangan menggangguku!"
Suara langkah kaki terdengar, mulai menjauh pergi. Ervan bangkit membuka lemari, pakaian Sarah masih ada didalam. Semuanya masih ada, dia tidak membawa pakaian yang dibelikan untuknya.
Sorot mata Ervan tertuju diatas lantai. Potongan-potongan kertas berhamburan. Ia baru menyadari, padahal ia sudah berada didalam cukup lama.
"Apa ini?"
Mengumpulkan beberapa potongan kertas yang masih berukuran besar.
Deg! Jadi, ini yang ditemukan mama. Gumam Ervan, mengumpulkan semua potongan kertas itu.
Dilantai bawah, Papa sudah mendapat laporan dari pelayan rumah. Ervan mengamuk, seperti dulu, sebelum ia menikah. Emosi yang meledak-ledak dan membanting apa saja didepannya.
Papa menghela napas, meminta istrinya untuk ikut bersama, bertemu putra mereka.
"Ma, ayo, ikut papa temui Ervan. Papa akan menceritakan semuanya."
"Tidak perlu. Papa, mau membela wanita itu. Dia seorang penipu, Mama menemukan isi perjanjian kontrak mereka. Pernikahan mereka palsu."
"Ma, tolong! Jangan seperti ini. Papa yang salah karena menyembunyikan dari kalian."
Mama yang masih menangis, akhirnya mengalah juga. Mengikuti langkah suaminya, menapaki anak tangga.
Pintu kamar terbuka, mereka melihat Ervan terduduk diatas lantai. Bersandar ditepi tempat tidur dengan mata terpejam. Di tangannya, masih memegang mainan mobil-mobilan.
"Van," Papa menekuk salah satu kakinya, menghampiri putranya yang tampak sangat terpukul.
"Apa kalian tidak bisa menerimanya? Apa salahnya, jika ia bekeja sebagai cleaning servis?" Mata Ervan masih terpejam, tidak ingin menatap orang tuanya. "Apa nama baik keluarga begitu penting? Dia bukan seorang kriminal. Dia hanya mencari nafkah, dengan jalannya." Air matanya sudah jatuh, dengan mata yang masih terpejam.
"Van, maafkan Papa. Seharusnya, Papa mengatakan semuanya pada kalian. Papa hanya mencari waktu yang tepat, agar kamu tidak merasa syok."
Ervan membisu, membuka mata, menatap sang ayah disampingnya.
__ADS_1
"Maksud Papa?"
Izzam meraih tangan putranya, menarik duduk diatas tempat tidur. Mama juga ikut bergabung, meski perasaannya masih sangat kesal.
"Lihat ini." Papa memberikan sebuah foto, mama ikut melihatnya. "Mereka orang yang berbeda."
"Apa maksudnya ini, Pa?"
"Yang berambut panjang adalah Sarah istrimu, yang satunya saudara kembarnya bernama Tamara."
Mama menutup mulutnya, terkesiap. Papa belum menceritakan semuanya, tapi ia sudah mengerti, apa yang sudah terjadi.
"Sebentar, Pa. Jelaskan padaku." Suara Ervan terbata.
"Sarah masih hidup, Ervan. Dia menggunakan identitas saudara kembarnya, untuk bekerja di perusahaan. Entah dia bertujuan mencarimu, Papa tidak tahu. Yang pasti, selama ini Tamara dan Sarah, yang kita ketahui adalah orang yang sama."
Deg, jantung Ervan seperti berhenti berdetak. Tubuhnya seakan mati rasa.
"Kenapa baru sekarang, Papa mengatakannya. Kenapa?"
Ervan bangkit, berjalan menjauhi sang ayah. Ia mengusap wajah dengan kasar. Wanita itu masih hidup dan selama ini berada disampingnya. Ingatan Ervan berjalan mundur, saat mereka baru bertemu. Ia menghina dan merendahkannya, memaki darah dagingnya sendiri, sebagai anak haram.
Bukan itu saja, ia kembali mengingat bagaimana gadis itu memohon meminta pertanggung jawaban darinya. Saat itu, Ervan malah memfitnahnya. Gadis rendahan, apa kau sangat ingin naik pangkat, hingga membuatku mabuk. Begitulah kalimat yang keluar dari mulutnya.
Ervan juga memecatnya, dengan alasan mencoreng nama perusahaan, padahal saat itu dialah yang melakukan pemaksaan pada Sarah.
"Van, maafkan Papa."
Mama tak kalah syok, wajahnya kian memucat. Mengangkat kedua tangannya, menatap. Apa yang sudah aku lakukan, batinnya menangis.
"Papa sudah meminta Daniel untuk mencarinya." Izzam menatap istrinya. "Mama, tenangkan pikiranmu. Jangan terbebani, karena semua ini salah Papa."
"Bagaimana aku bisa tenang, Pa. Mama menampar dan mengusirnya. Dia pergi tanpa membawa apa-apa, Sarah pergi dengan kebencian terhadap kita."
Mama terisak, rasa bersalah menusuk hatinya.
Ervan kembali menatap foto Sarah, membelalak tak percaya, saat kepingan ingatannya muncul.
Saat itu, setelah kejadian, Ervan kembali mencari Sarah setelah tiga bulan berlalu. Pria itu, berniat bertanggung jawab.
Kendaraannya berhenti didepan sebuah rumah, yang cukup sederhana.
Tok ... Tok ... Tok ...
Seorang wanita paruh baya, keluar menyambutnya.
"Cari siapa?"
"Maaf, bu. Saya mencari pemilik rumah."
__ADS_1
"Pemilik rumah!" Wanita itu memperhatikan Ervan. "Siapa?"
"Saya mencari Sarah."
"Wanita itu sudah meninggal," jawabnya dengan nada kesal. "Dia sudah mati bunuh diri tertimpa truk."
"Ap ... apa?" Ervan tersentak. "Bunuh diri, kenapa?"
"Tentu saja, karena malu. Dia hamil tanpa suami. Membawa sial seluruh kampung."
Ervan syok, petir seakan menyambar diatas kepalanya. Tubuhnya, mendadak hilang keseimbangan. Dia hamil! Tuhan, apa yang sudah aku lakukan. Aku sudah membunuh anakku, aku sudah membunuh mereka. Kenapa tidak datang mencariku. Kenapa harus bunuh diri. Batin Ervan menjerit penyesalan kian menusuk batinnya.
"Kamu, baik-baik saja?" Wanita itu masih memperhatikan Ervan, menduga-duga dalam hati.
"Saya baik-baik, saja. Kalau boleh tahu, dimana kuburannya?"
"Dia tidak dikuburkan disini, tapi ditempat lain. Disini, hanya ada makam saudaranya."
"Terima kasih, bu."
Wanita itu, mengangguk lalu menutup pintu. Sementara, Ervan berjalan dengan lungai, lalu berdiam diri dalam kendaraannya.
Saat itulah, rasa bersalah dan penyesalan mulai tertanam dan perlahan mengakar dalam hati dan pikirannya. Waktu itu, ia sempat berjalan menuju makam saudara Sarah, tapi langkah kakinya terhenti ditengah jalan. Ia tidak sanggup, menghadapinya.
Kembali masa sekarang.
"Papa, aku mohon. Temukan mereka! Aku tidak mau kehilangan mereka kedua kali."
"Van, Ervan. Tenangkan dirimu! Papa berjanji akan membawa mereka pulang."
Suara dering telepon, memecah kesedihan diantara mereka.
"Katakan, apa kau sudah menemukannya?"
"Dia tidak ada dirumah ini. Bahkan, rumah ini masih sama, saat ia pindah ke tempatmu."
"Cari dia, Tirta!"
"Aku akan menemukannya, kamu tenanglah!"
Ervan kembali terduduk diatas lantai dengan lemah. Mama menghampiri putranya, sambil terisak penuh penyesalan.
"Maafkan, Mama, Van. Jika saja Mama tidak mengusirnya, dia tidak akan pergi. Tolong, maafkan Mama."
Ervan terus membisu, tubuhnya yang sudah seperti mati rasa, tidak memiliki tenaga, bahkan sekedar menjawab sang ibu.
Ia menagis tanpa bersuara, air mata yang mengalir jatuh, menjadi bukti penyesalan dan kebodohannya selama ini.
"Maafkan aku, Sarah! Maaf."
__ADS_1
Kalimat yang biasa ia katakan, saat bermimpi buruk. Kini diucapkannya kembali.